
Rafa menarik nafasnya dalam-dalam. "Baik kalau begitu. Kami akan pergi." meski jelas ia tidak tau mau kemana.
Rafa menarik Lidia beserta putri mereka ke mobil. Lidia mengerutkan dahi. "Mas! Kenapa kita malah pergi dari sini. Mereka udah memperlakuin aku dan anak kamu buruk banget loh! Masa kamu secemen itu sama MANTAN ISTRIMU?!!" teriak Lidia marah.
Rafa menggeleng, dia memijat bahu Istrinya saat di mobil. "Tenang, Lid. Jangan marah-marah gini. Mau gimana pun, nyatanya rumah ini milik dia. Bukan milik kita. Jadi untuk sementara ini kita harus pindah," ucap Rafa berusaha menenangkan otak dan pikiran Istrinya. Sementara kepalanya, sudah pusing dengan apa yang harus dilakukannya pada keluarga kecilnya itu.
Setelah berbicara pada Lidia, Rafa mengambil semua barang dan meletakkannya di bagasi mobil.
Rafa melihat bingkai foto pernikahannya dan Lidia retak, juga ada foto pernikahan Rafa dan Dena yang tersimpan sejak awal menikah, itupun memiliki bentuk yang cukup memperihatinkan. Kacanya setengah pecah, bingkai hampir lepas dari tempatnya, gambar wajah Rafa sepertinya sudah diinjak-injak, karena ada bekas injakan di fotonya.
Rafa lebih lama memandangi foto pernikahannya dan Dena.
Jujur, Rafa masih dan sangat mencintai Dena. Namun hasutan dari ibunya sendiri sungguh menggoda untuk dilakukan, membuat Rafa membuang permata demi sebiji biji jagung yang dikira emas.
Sedang Dena masih di luar. Dia memperhatikan segala yang tengah dilakukan Rafa di sana.
Dena tersenyum miring. Dena tidak merasa bersalah telah memperlakukan Rafa dan keluarga barunya dengan buruk.
Karena Dena sekarang, bukan Dena yang dulu. Dena yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasihan.
Sekarang Dena adalah wanita pendendam yang akan tetap menyimpan kemarahannya pada orang-orang yang telah menggoreskan luka di hatinya.
Apalagi posisinya saat ini, dia merasa segala keberuntungan sedang berpihak padanya.
Setelah melihat Rafa pergi dari halaman rumah megahnya, tempat dahulu kala dia diperlakukan lebih buruk dari budak… bunyi dering ponsel miliknya membuat Dena segera mengangkatnya. Dia melihat siapa penelepon di sana. 'trust' itu lah yang tertera di sana.
"Semua sudah kami jalankan sesuai perintah nyonya," suara lelaki yang muncul secara singkat padat dan jelas.
__ADS_1
Dena mengangguk. "Ambil lima puluh juta dari rekening itu sebagai imbalanmu."
"Baik."
Sekarang Dena adalah wanita berkuasa. Dia punya kenalan yang cukup membantu dalam urusan balas dendam.
Sedang yang barusan adalah Dom, dia pria yang sangat mahir dalam urusan sadap menyadap.
Menggunakan keahliannya untuk mengambil segala informasi bank Rafa, Lidia dan Maya sekaligus kartunya untuk mengambil semua uang milik kedua orang itu hingga habis tak tersisa.
Lima puluh juta untuk dom. Sedang 2 miliar lainnya, diserahkan ke panti asuhan seluruh dunia.
Kejahatan?
Tentu, Dena tau itu kejahatan tapi dia sudah terlanjur marah dengan keadaan. Dulu, sewaktu dia tinggal di rumah Rafa sebagai istri, semua uang yang dimiliki maupun diberi ayah Rafa diambil Maya. Hatinya disakiti berkali-kali. Tidak anggap sebagai menantu menjadi makanan sehari-harinya.
Dena sudah tidak sabar melihat bagaimana menderitanya dua orang itu setelah segala milik mereka diambil tanpa sisa.
***
"Mau mogok ya?" suara jutek Lidia yang kesal karena masa tinggal di rumah mewah yang diimpikannya seperti kontrak yang tidak dapat diperpanjang lagi.
"Iya nih. Kita isi bensin dulu ya," jawab Rafa sabar.
Mengisi bensin seratus ribu. Setelahnya
mobil dapat berjalan dengan lancar.
__ADS_1
"Pap pha makh kan…" suara Ayunda yang sangat menggemaskan membuat Rafa tersenyum senang. Bayi perempuan itu sangat pintar berbicara.
Rafa berhenti di sebuah mini market. Dia mengambil kartu miliknya serta mengajak Lidia serta Ayunda ke luar dari mobil.
"Ayo kita istirahat sejenak," ajak Rafa.
Sementara Lidia dan Ayunda berbelanja, Rafa mengambil uang dari ATM.
Namun berkali-kali ia memasukkan kartu hitamnya ke ATM, ia tidak kunjung berhasil. Mesin itu menolaknya membuat Rafa semakin emosi.
Lidia sedang berbelanja saat melihat suaminya pusing dan hanya berdiri di sana terus menerus.
"Kenapa?" tanya Lidia dengan berbisik agar tidak kedengaran orang lain.
"ATMku sulit dimasukkan," keluh Rafa.
"Sini biar aku bantu," tawar Lidia.
Rafa memberi kartu ATMnya namun sama seperti perjuangan sia-sia Rafa, Lidia juga merasakan hal sama.
Lidia menyerah. "Mungkin bisa pakai kartuku," tawar Lidia.
Rafa mengizinkan saja. Karena tidak mungkin mereka keluar tanpa membawa apapun di sini.
Kartu Lidia juga bermasalah. Membuat Rafa maupn Lidja pusing.
"Apa yan terjadi?" gumam keduanya hampir bersamaan.
__ADS_1