
"Terimakasih atas kemurahan hatinya! Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin supaya Ibu saya selamat!" tolak Rafa sangat sopan dan kata-katanya terdengar resmi.
Jujur, Dena sedikit kesal. Tapi keputusan, ya tetap keputusan. Dena harus mampu menghormati setiap keputusan yang dibuat orang.
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku ingin menjenguk beliau, apa boleh?"
Rafa mengangguk setuju. "Silahkan, itu hak anda nyonya."
"Aku kira sampai nanti sore aku ada rapat tapi setelahnya tidak. aku bisa memakai waktu itu untuk menjenguk Nyonya Maya," ucap Dena mengiyakan.
Rafa segera membuka ponselnya untuk melihat jadwal Dena hari ini. Dan benar saja, Rafa melihat jadwal Dena hanya sampai sore setelahnya tidak.
"Benar kan. Ya sudah. Ayo kita mulai bekerja supaya nanti malam bisa menjenguk Nyonya Maya!" Dena sangat semangat.
Namun, semangat yang ditunjukkan Dena membuat perasaan Rafa tidak tenang. Kenapa hari ini nyonya aneh ya? Apa dia merencanakan sesuatu?
****
Malam hari tepat pukul delapan, mereka sampai ke rumah sakit. Rafa menemani Dena, keduanya bahkan masih memakai seragam kantor hingga keduanya tampak resmi.
Dena dengan hati bahagianya, akhirnya dia akan melihat apa yang terjadi pada Maya. Wanita sejahat itu harus diberi hukuman!
__ADS_1
Enak saja hidup sebaik dan semewah itu sementara hidupnya sengsara selama di rumah mereka.
"Di mana ruangannya?" tanya Dena pada Rafa setelah pria itu kembali dari meja resepsionis.
"Ternyata sudah dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Operasinya berjalan lancar?"
Rafa mengangguk mengiyakan. "Sudah nyonya. Ayo saya tunjukkan." Rafa berjalan di belakang Dena.
Sedang ikut berjalan, Dena dalam hati kesal. Kenapa tidak mati sekalian saja sih!
Rafa membuka pintu ruangan yang ditempati Maya.
Dena melihat wanita lemah itu dengan sinis. Tapi wajahnya kembali diubah karena kalau wajahnya sempat dilihat Rafa, mungkin semua rencana yang disusunnya baik-baik dalam pikiran bisa hancur keseketika. Jadi harus hati-hati.
"Ibu, aku ga sempat melihatmu. Tapi sekarang aku datang," ucapan Rafa terdengar romantis namun justru itu yang membuat Dena kesal.
Beberapa tahun lalu, Rafa memang terlalu sayang pada Maya. Dan tidak disangka sayang yang keterlaluan itu masih bertahan hingga detik ini.
Menyebalkan!
__ADS_1
Dena melihat tangan Rafa terulur menyentuh tangan Maya yang berbalut infus. Dia menangis. Dan Dena tau itu bukan air mata sandiwara, Rafa benar-benar mencinyai Ibunya melebihi apapun.
"Ibu, ini Dena Aulia. Dia ingin menjenguk Ibu."
Wanita yang mungkin sudah sedaritadi sadar itu perlahan membuka matanya.
Maya melihat Dena dan tangannya terulur seolah ingin menyentuh Dena.
Rafa kebingungan, dia tidak mengerti kenapa ibunya justru mengulurkan tangannya ke arah Dena bukan dirinya.
"Ibu kenapa? Apa perlu sesuatu?" tanya Rafa penasaran.
Setetes air mata keluar dari sudut mata Maya. "De–na…" ucapnya pelan hampir tidak terdengar. Masker oksigen diletakkan di mulutnya membuat Maya kesusahan berbicara.
Dena tidak menjawab. Membuat Rafa melihat ke arahnya. Rafa melihat wajah Dena yang menatap ibunya dengan kebencian. Dena sendiri, tidak sadar akan tatapan tidak sukanya itu.
Beberapa detik berikutnya Dena sadar, karena Rafa yang menatapnya.
"Kamu masih benci Ibuku?" tanya Rafa tidak suka.
Dena mengangguk. "Hm, memang benar. Aku tidak suka melihatnya!"
__ADS_1