
"Kamu sudah senang kan di ajak bicara sama tante? Ayo kita pulang ke Ayah kamu. Dia pasti cariin kamu sekarang," ajak Dena setelah melihat ice cream yang di makan Ayunda habis.
Ayunda menggeleng. "Yah yah pasci malahin Yunda ladi. Yah yah uda ndak cayang cama Yuda!"
Dena menghela nafas. Dia melihat raut kekhawatiran dalam diri gadis kecil di sampingnya ini.
"Perlu Yunda tau, tidak ada satu pun orangtua yang marah pada anak-anak terlampau larut. Apalagi wajah Yunda yang cantik dan imut seperti ini. Tante senang liat wajah kamu, kalau bayi tante lahir, tante mau deh, wajahnya secantik dan seimut kamu kalau perempuan," ucap Dena senang.
Yunda tidak berbicara dan hanya melihat perut Dena yang membuncit.
"Di cini ada bai, ante?" tunjuk Ayunda bingung.
"Iya, ada bayi. Tepatnya janin. Dia masih lima bulan di perut tante, nah, lihat dia bergerak! Sini tangan kamu, Yunda!" terlihat sangat semangat Dena mengambil tangan Yunda tepat di permukaan perutnya.
"Adya yan belgelak, ante!" ucap Ayunda terkejut. "Iny bai ya ante? Bai itu apa? Kenaypa dia bica belgelak?"
Dena tersenyum kecil melihat kepolosan Ayunda. Namun maklum, Ayunda mungkin berusia setara dengan putranya Rama.
__ADS_1
"Bayi itu anak. Semacam kamu juga, tapi dia masih dibentuk di perut tante," terang Dena.
Namun Yunda tidak mengerti. Membuat Dena kembali berbicara lagi. "Nanti setelah tante lahiran kita bertemu dia ya?"
"Oke!" asal menjawab padahal tidak tau beberapa bagian yang tidak diketahuinya.
"Kita temui ayah kamu ya, tante temani pun," bujuk Dena.
Ayunda terpaksa mengangguk. Yunda menunjukkan lokasi awal dia meninggalkan sang ayah karena kesal.
"Yah yah!" teriak Yunda di tengah kerumunan.
Dia menelebarkan tangannya dan berlari mendekati Ayunda. Rafa melihat Dena di samping Yunda. Dia bertanya dalam hati dalam kebingungan. Mengapa Yunda bisa di samping Dena? Pertemuan yang tidak disangka.
"Yunda, kenapa kamu ada sama tante itu?"
"Ante na baik, kok Yah Yah! Memangna kenapa?"
__ADS_1
Rafa menarik tangan Yunda dan mengambil alih Yunda dari Dena.
"Dia itu orang kejam!" jawab Rafa seraya pergi dari sana. Rafa ingat benar, siapa yang menghancurkan hidupnya dalam semalam hanya karena mengaku 'dendam'.
Dena, entah mengapa kesal saat disebut sebagai perempuan 'kejam'.
Dia mengikuti kemana Rafa pergi. "Kalau aku kejam, kenapa kubiarkan Ibumu di rawat di rumah sakit selama berbulan-bulan?" tanya Dena menantang Rafa.
Rafa tidak menjawab. Ia tau Dena sudah berbaik hati menyetorkan dana untuk merawat Ibunya di rumah sakit selama berbulan-bulan.
Namun kemana Ibunya setelah itu, Rafa tidak tau. Nomornya tidak bisa dihubungi. Apalagi Rafa tidak bisa membayar orang untuk melacak sang Ibu. Untuk berhasil kenyang sehari saja sudah bersyukur.
"Rafa, jawab aku!"
Rafa berhenti dan menunjukkan wajah dinginnya. Dia melihat Dena dengan kemarahan. Namun, ia tidak bisa menunjukkan kemarahan itu karena ia tau Dena sedang hamil.
"Apa yang perlu kujawab? Sudah puas kan, mengambil alih seluruh hartaku?–"
__ADS_1
"Harta warisanku lebih tepatnya," potong Dena.
"Tapi… ah sudahlah. Percuma berbicara padamu. Semua adalah milikmu, dan aku hanya sekedar pengganti sementara selama ini. Juga bukan orang yang pantas berbicara denganmu nyonya Dena Aulia. Terimakasih karena sudah menemukan putriku. Aku harap kita takkan pernah bertemu lagi."