
"Maaf, tapi kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi racun dalam tubuh putri bapak dan ibu sudah menyebar sangat cepat dan nyawa pasien sudah tidak ada."
"Yun-Yunda mati? I-itu ga mungkin, kan?" Rafa syok bukan main. Tubuhnya seperti tidak memiliki tulang. Dia jatuh tersungkur dan air matanya menetes keluar sebanyak mungkin.
"Itu benar, Pak. Tabah ya. Mungkin Tuhan lebih sayang putri bapak," ucap Dokter menenangkan. "Pasien akan dipindahkan ke ruang mayat. Tapi sebelum itu bapak dan Ibu bisa menjuumpainya untuk terakhir kali." kemudian Dokter pergi dari sana.
Dena prihatin melihat keadaan Rafa. Ia juga menyimpan rasa bersalah. Jika bukan karena dia yang terlalu 'kejam', maka Rafa mungkin tidak akan mengalami kemalangan seperti ini.
"Jangan menangis seperti itu, Ayunda akan sedih kalau melihatmu menangis."
Rafa mengerutkan kening. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menyingkirkan Dena dari sisinya. "Jangan sok-sok baik, bisa tidak?! Aku tau orang kaya seperti mu hanya mau mengambil kesempatan saja!" tuduh Rafa dengan kejamnya.
Dena jatuh dan punggungnya mengenai sudut kursi dempet di depan kamar rumah sakit tempat Ayunda menghembuskan nafas terakhir.
Dena meringis karena benturan di punggung dan bokongnya. Segera ia pingsan karena kurang tidur. Rafa melihat Dena yang pingsan, mulai merasa bersalah. Ia mengangkat tubuh Dena dan memanggil dokter.
Dokter yang lewat kebetulan adalah Ray. Dia mengerutkan kening. Kenapa bisa istriku digendong mantan suaminya yang ga guna itu? pikirnya.
__ADS_1
"Dokter…tolong dia dok. Dia pingsan," ucap Rafa panik.
Ray kesal, segera mengambil alih gendong ala bridal style Rafa.
"Kenapa anda bisa bersama istri saya?" tanya Ray marah. Namun suaranya masih bisa dikondisikan. Ia bekerja di rumah sakit yang dikunjungi Rafa dan Dena.
"Dia yang membawa saya dan almarhum putri saya kemari," jawab Rafa sedih.
Degh!
Entah mengapa hati kecil Ray menangis. Tanpa sadar kakinya melangkah dan memasuki ruangan Ayunda.
Dia melihat Ayunda dengan rasa bersalah. Namun egonya kembali muncul membuatnya menyangkal. Dia bukan putriku, untuk apa aku sedih.
Rafa yang melihat tingkah Ray, penasaran kenapa suami mantan istrinya ini melihat Putrinya dengan perasaan 'hangat' dan 'sedih'.
Kalau dilihat-lihat pun, Ray dan Ayunda ada kemiripan.
__ADS_1
Tapi Rafa menyangkal. Ayunda itu putriku. Dia adalah hidupku sampai dia meninggal seperti ini. Aku ayahnya.
Ray menyadari posisinya yang terbawa suasana, segera pergi tanpa berbicara.
Ia menahan hatinya untuk tidak rindu dan merasa bersalah.
Ayunda adalah putri mantan suami istrinya. Ray hanya bermain-main bersama Lidia untuk beberapa saat, namun ia tidak ingin mengakui kalau Ayunda adalah darah dagingnya.
Anak dalam kandungan istri kayanya yang sekarang, justru itu yang dianggapnya anak. Karena selama Ayunda ada, hidupnya tidak pernah semenderita ini.
Harta adalah segalanya baginya…
Sepeninggal Ray, Rafa terus menangis histeris. "Kembali hiduplah, Yunda … Ayah sayang kamu. Maafkan ayah karna lalai." Harta satu-satunya yang adalah putrinya meninggal. Rafa sangat menyayangi Ayunda melebihi hidupnya. Itu sebabnya ia memutuskan membawa Ayunda bersamanya meski dengan kehidupan tidak sebaik masa itu.
Rafa tidak tau. Apa waktu di rumah orang asing yanh memberi mereka penginapan adalah orang yang memberikan racun tikus pada putrinya.
"Kenapa bukan Ayah aja yang mati, Ayunda!! Ayah rela kalau nyawa ayah yang melayang dari pada kehidupanmu yang masih panjang?!"
__ADS_1