
Episode #14
Setelah acara selesai, Sania pun menghampiri Keyla yang masih bersama Beny.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sania kecil bersama papanya,
" " Tante!" sapa Sania kecil.
" Hai, sayang, sudah mau pulang?" tanya Sania.
" Iya, Tante, kak Keyla mana?" tanya Sania kecil.
" Tuh, sama papanya," tunjuk Sania ke tempat dimana Keyla bersama Beny.
" Hmmm! kalau ada waktu, mainlah ke rumah, ok, sayang?" ucap Sania.
" Memangnya, tidak apa apa Tante, kalau Keyla main ke rumah kak Keyla?" ucap Sania kecil, polos.
" Tentu saja tidak apa apa Sayang!" seraya mengusap lembut pucuk kepala Sania kecil.
" Baiklah mas, Aku pamit dulu!" ucap Sania kepada Dirga, yang sedari tadi memandang wajah Sania.
" Hati hati!" hanya kata itu yang terlontar dari mulut Dirga.
" Mas, juga Sania,.. Tante pulang dulu ya! bye," ucap sania seraya melambaikan tangannya.
Dirga menatap langkah demi langkah Sania, sosok yang dia cintai, dan dia tinggalkan demi perjodohan, sang istri, yang saat itu sudah tahu, jika di hati suaminya sudah ada wanita lain, hanya meminta, satu permintaan, yaitu, Anak, setelah itu dia berjanji akan meninggalkan Dirga, setelah melahirkan, Namun, yang di maksud meninggalkan adalah, dia meninggal dunia, setelah berjuang untuk mengeluarkan anak pertama mereka.
Perjuangan Dirga saat itu, begitu luar biasa,
hingga bertahun-tahun, karena Dirga ingin melepaskan diri dari pernikahannya.
Saat itu, Dirga sangat ingat dengan ucapan sang istri.
" Mas, terima kasih atas kesabaran mu saat bersamaku, kau laki laki yang hebat dan setia, bisa bertahan dengan orang yang tidak kau cintai, dan kau begitu sabar menghadapi aku, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi seorang ibu, kejarlah Sania, dia hanya untuk mu, maafkan aku, karena keegoisan ku kau terpisah dengan Sania, salamkan permintaan maafku padanya, dan ku titip sania kecil padamu, kau tahu, kenapa aku memberinya nama Sania? Karena aku ingin kau mencintainya seperti kau mencintai saniamu mas!" ucap istri Dirga saat itu.
Dirga tidak mengatakan apapun saat itu, hanya menggenggam tangan sang istri, Sampai menghembuskan nafas terakhirnya.
Hingga saat ini, Dirga masih terus mengingat semua itu, meskipun sudah berjalan tujuh tahun berlalu, merawat seorang anak tanpa seorang ibu, bagi Dirga adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, berharap waktu segera berakhir dan mengajak sania kecil ketempat kelahirannya.
***
__ADS_1
Sementara di rumah Sania.
" Masuklah mas, jangan jadikan aku orang yang jahat di hadapan anakku!" ucap sania menyuruh Beny masuk ke dalam rumahnya.
Tentu saja Beny mengikutinya dari sekolah putrinya hanya karena demi uang semata.
" Terima kasih Sania!"ucap Beny, seraya ikut masuk dan duduk di ruang tamu, rumah mewah yang dulu selalu dia nikmati, kini serasa malu saat masuk.
Sania berjalan ke arah dapur dan menyuruh ART nya untuk menyiapkan minuman untuk tamunya, ya, kini Beny serasa bagai tamu, di rumah mewah itu, akibat dari ulahnya sendiri.
" BI, tolong buatkan minuman untuk tuan Beny di depan!" perintahnya.
" Baik Nyonya!" jawab sang ART.
Sania kembali ke ruang tamu," Keyla, sayang, kamu bisa kan, ganti baju sendiri, sayang, Ada yang ingin mama bicarakan dengan papamu, sebentar!" ucap Sania meminta pengertian putrinya.
" Baik mama!" ucap Keyla meninggalkan kedua orang tuanya dan segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
" Katakan mas?"tanya Sania kepada Beny.
" Begini Sania, Aku akan tanda tangani surat cerai itu, tapi dengan satu syarat!" ucap Beny dengan wajah yang sumringah.
" Katakan, apa syaratnya!" ucap sania yang sudah muak dengan kelakuan pria yang tak berperasaan ini.
Sakit rasa hati Sania, melihat kelakuan suaminya ini, yang tidak pernah memikirkan perasaannya sama sekali, namun Sania mencoba untuk tersenyum, senyum keterpaksaan.
" Seratus juta! Baiklah!" ucap Sania seraya mengeluarkan lembaran cek kosong dari dalam tasnya.
Kemudian Sania menuliskan nominal uang yang Beny pinta.
Lalu Sania menyerahkan lembaran cek yang sudah dia tanda tangani tersebut kepada Beny.
Ini!" Mata Beny terbelalak, saat dia melihat jumlah nominal uang yang Sania tuliskan di lembaran cek tersebut.
" Anggap itu sebagai bayaran selama kau bersamaku mas!" ucap Sania, meskipun hatinya terasa teriris.
" Wah, Sania, kau baik sekali!" Tanpa Beny sadari, ucapan itu semakin membuat hati sania terluka.
" Jika Beny mencintai Sania, dia tidak akan meminta dan menerima uang yang Sania berikan, namun, apa,..?" terlihat dari reaksi yang Beny lakukan, semakin jelas jika Beny tidak pernah mencintainya, semua semata mata hanya karena uang.
" Pergilah mas, Arumi pasti sudah menunggumu!" usir Sania, karena dia tak tahan melihat semua ini, sakit terlalu sakit.
__ADS_1
" Baiklah, sekali lagi, terima kasih Sania, Arumi pasti akan senang, Aku janji, tidak akan pernah mengganggumu lagi, suratnya akan aku tanda tangani dan akan aku serahkan pada pengacara," ucap beny yang segera berlalu, setelah menerima cek tersebut.
Sania terduduk lesu, dia begitu menahan rasa sakit di hatinya, terlebih ketika melihat kepergian Beny yang terlihat begitu bahagia.
" Loh, tuan mana, nyonya?" tanya ART yang datang membawakan secangkir teh untuk Beny.
" Dia sudah pergi, Bi, itu untuk bibi saja!" ucapnya seraya berlalu pergi ke kamarnya.
Tanpa mereka sadari, Keyla menyaksikan semua itu, Keyla begitu kesal dengan papanya, dia sangat mengerti, jika saat ini mananya pasti sangat terluka, oleh kelakuan papanya.
" Kenapa papa, jahat banget sama mama, kenapa papa lebih memilih uang daripada memikirkan perasaan mama," Batin Keyla, seraya melangkahkan kakinya dan masuk kedalam kamarnya.
Keyla membaringkan tubuhnya dengan tengkurap, hatinya begitu sakit melihat perlakuan sang papa terhadap mamanya, air matanya menetes.
" Keyla, rindu papa dan mama, Keyla rindu kebersamaan kita, pa, kenapa papa jahat sama mama dan Keyla?" dalam isak tangisnya, ternyata Sania sudah berdiri di depan pintu kamar Keyla.
Sania berjalan mendekati Keyla
" Sayang, kenapa tidurnya tengkurap, seperti ini, nak? seraya mengusap lembut rambut Keyla.
" Mah, Kita jalan jalan yang jauh yuk, Lusa kan Keyla sudah liburan semester,!" ucap Keyla seraya membalikan badannya setelah mengusap Air mata di pipinya.
Sania melihat mata putrinya sembab seperti habis menangis.
" Keyla menangis? kenapa sayang?" tanyanya.
Keyla menunduk seraya berkata, " Kita lupakan papa, mah, Keyla mohon, mama jangan meminta Keyla untuk baik lagi sama papa, karena Papa kesini hanya untuk uang, bukan untuk Keyla, jika papa datang karena Keyla, pasti papa akan menunggu Keyla, tapi, dia pergi setelah mama memberikan uang padanya. papa hanya butuh uang, ma, bukan Keyla ataupun mama!" tangis Keyla pecah, dia memeluk mamanya erat.
Sejenak Sania terdiam, hanya satu yang dia sadari, Keyla menyaksikan semua yang terjadi tadi
" Maafkan mama ya, sayang, karena mama, Keyla jadi menyaksikan hal yang seharusnya tidak Keyla lihat, mama minta maaf, karena mama Keyla jadi jauh sama papa!" ucap Sania seraya menghapus air mata Keyla di pipinya.
" Mama tidak salah, papa yang selingkuh, papa yang sudah menjauh dari kita, maka dari itu, kita lupakan papa, ma, Keyla baik baik saja hidup bersama mama, kita akan bahagia tanpa papa," ucap Keyla.
Sania menatap wajah Keyla, sekali lagi dia menghapus Air mata putrinya.
" Iya, sayang, kita akan bahagia tanpa papa, kita akan liburan nanti, ok? Nah, sekarang, Keyla jangan menangis lagi, ya, sayang!
Keyla memeluk mamanya seraya berucap, Keyla sangat sayang sama Mama!"
Sania pun membalas pelukan putrinya dengan hangat, Mama juga sangat sayang sama Keyla!"
__ADS_1
****