
Episode #17
" Beny! Mama tidak betah di sini, tidak ada AC!" ucap mama Beny, di seberang telepon.
" Sabar saja ma, kan ada kipas angin?" jawab Beny.
" Kipasnya mati, Beny, masa kau tega sama mama,sih, lagian ini semua kan, ulahmu, hingga membuat mama begini, coba saja seandainya kau tidak selingkuh, Apa iya, Sania akan menarik semuanya? dan, Apa yang terjadi dengan adikmu, siapa yang akan membiayai dia di sana? ucap mamanya Beny, dia ingat dengan anaknya yang kuliah di luar negeri.
" Mah, ini sudah malam, Tidak bisakah kita membahas ini Besok, Beny capek ma, ingin istirahat!" setelah mengatakan itu, Beny memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
" Kenapa, mas? Mamanya mengeluh lagi, ya? ya udah, sabar aja, Emang begitu kalau orang tua, sangat cerewet!" ucap Arumi, seraya memeluk Beny dari belakang.
" Mas, kita sudah lama tidak melakukannya, yuk, kita main, mumpung mood ku Bagus," celoteh Arumi, seraya mengelus dada bidang Beny, Namun entah mengapa, Beny tidak punya selera sama sekali saat ini.
Dia menarik tangan Arumi, dan membuat Arumi berada di hadapannya.
" Aku capek, Aku mau istirahat!" ucap Beny, membuat Arumi kesal, padahal sebelumnya, Beny Sangat suka, jika Arumi duluan yang mengajaknya, namun, semenjak hubungan mereka di ketahui oleh Sania, Beny tidak pernah menyentuhnya lagi.
" Mas, Aku Hamil anakmu, loh, dia juga butuh kunjungan dari papanya," ucap Arumi, selalu memakai alasan kehamilannya. dia tak ingin keinginannya tidak terpenuhi.
" Aku, benar benar capek hari ini!" ucap beny seraya menjauhkan tangan Arumi dari dadanya.
__ADS_1
***
Tak terasa, Dua hari telah berlalu.
Surat cerai itu sudah Beny serahkan kepada Sania.
Sepi, Aku duduk sendiri, mengingat Bagaimana bahagianya, ketika bersamamu, aku merasa seakan keluargaku adalah keluarga paling bahagia, tapi kini, semua hancur berkeping keping, Hanya karena orang ketiga, hancur hatiku mengenang semua ini.
Sepenggal ucapan terlintas di pikiran Sania, ketika dia menatap surat perceraian itu, yang sudah di bubuhi tanda tangan dari kedua belah pihak.
" Sudah berakhir, sekarang sudah berakhir mas, kini kita sudah bukan suami istri lagi, Aku berharap,. Kau tidak pernah melupakan kenangan indah kita, mas, semoga kau bahagia,.. maaf, jika aku tak sempurna menjadi istrimu!"gumam Sania ketika menatap surat perceraian itu.
Kemudian Sania meletakkan surat itu, Dia tersenyum seraya mengusap air matanya.
Sania menikmati cahaya matahari yang kini menerpa ruangannya, angin yang berhembus kini menyapu rambutnya, dia menikmati sejuknya udara pagi.
" Aku harus bangkit, sudah cukup aku terpuruk, aku tidak boleh terus membayangkan akan cinta palsu mas Beny, bukan aku yang salah, bukan cintaku yang salah, karena memang pada dasarnya perselingkuhan itu terjadi, karena mereka tak punya hati!"Sania bergumam.
" Di mana salahku? selama ini, aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, Aku sudah mencurahkan semua perhatianku untuk suami, Aku selalu menomor satukan, penampilanku, perhatianku untuk suami, apapun kebutuhannya selalu aku penuhi, tapi apa? rasanya semua pengorbananku sia sia, mungkin ini sudah takdirku, tuhan menunjukkan semua, yang terjadi bukan salahku, ini hanyalah sebuah penyakit hati, karena sejatinya tidak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Setelah lelah berpikir akhirnya Sania memutuskan untuk membersihkan tubuhnya , dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dan membasuh tubuhnya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan ritual mandi paginya, dengan memakai bathrobe Sania melangkah ke kamar putrinya.
Dia ingin mengatakan dengan putrinya segera bersiap-siap, karena hari ini akan mengajak Sania kecil berjalan jalan.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Keyla tidak mendatanginya, jadi dia berpikir Keyla masih tertidur, karena biasanya Keyla akan mendatanginya jika ada keinginan.
" BI, apakah Keyla sudah bangun? tanyanya kepada ART.
" Sudah nyonya, bahkan Nona Keyla sudah sangat cantik!" jawab ART tersebut, seraya menunjuk kearah Keyla di bawah, dengan penampilan yang sudah sangat cantik, meskipun saat ini Keyla belum di nyatakan sembuh total.
.
" Mama, kok, mama belum siap juga? Sania kecil sudah telpon dari tadi!" ucap Keyla saat melihat sang Mama.
" Mama kira, Keyla belum bangun, tumben gak ke kamar mama?" tanya Sania.
" Tadinya Keyla mau ke kamar mama, eh, Sania kecil telpon, eh, mama malah kesini!" ucap Keyla.
" Baiklah, mama mau bersiap siap dulu ya!" ucap Sania, seraya melangkah ke kamarnya, dia memilih baju yang cocok untuk dia kenakan, Sania memang tipikal orang yang tak suka dengan baju yang sangat terbuka.
Dari sebelum menikah pakaian Sania terbilang sopan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Sania keluar dengan memakai style yang sangat cocok menurut Keyla. mamanya sangat cantik mengenakan pakaian tersebut.
****