
Episode #20
Awalnya, Sania sudah sepakat dengan pengacaranya, agar proses perceraian ini selesai dengan cepat, dengan alasan Beny tidak mau datang, sehingga keputusan bisa di ambil dengan jalur Verstek, mereka tidak usah datang ke pengadilan, tapi sekarang, surat itu sudah Beny sobek, dan Sania tidak memiliki salinannya, tentu Sania begitu marah, dan merasa tertipu oleh beny.
" Halo, pak, bawa kasus ini ke pengadilan, dan berikan semua bukti perselingkuhan itu!"ucap Sania kepada seseorang yang berada di balik telepon.
Tak terasa Sania sudah sampai di depan rumahnya, dia melihat ada sepeda motor Beny terparkir di sana
Sania segera berlari kedalam setelah keluar dari mobilnya, di pintu gerbang tak ada yang berjaga, pantas saja Beny dengan mudah masuk kedalam rumah.
" Apa yang kau lakukan, mas, kenapa kau merobek surat itu, hah!" teriak Sania dengan nafas yang memburu.
Terlihat Beny yang menatap ke arah Sania.
" Apa yang kau inginkan, kenapa masih terus saja menggangguku, apakah uang yang aku berikan masih kurang?" tanya Sania dengan penuh emosi.
" Sania, Aku tidak akan melepaskan mu hanya karena ingin bersama si gembel itu, apakah menyenangkan jalan jalan dengan Pria lain, apa yang kau katakan tadi, bajingan? Kau yang murahan Sania, kita baru saja tanda tangan surat itu, dan kau sudah jalan dengan pria lain, silahkan kau bawa ke rana hukum kasus ini, Aku Sudah mempunyai bukti, dan pengajuan ceraimu tidak akan pernah di setujui!" ucap Beny dengan tertawa senang.
Sania melongo, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan beny.
" Kau jangan memutar balikkan fakta, mas, Apa kau tidak lelah melewati semua ini, Aku lelah, mas, Aku hanya ingin ketenangan, jadi, stop mempersulit perceraian ini," ucap Sania dengan wajah yang sudah memerah karena emosi yang di tahan.
__ADS_1
" Kau dan Aku tidak akan pernah cerai, dan kau, tidak akan bisa menikah dengan siapapun!" hardik beny.
"Plak!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Beny, yang masih tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan.
" Apa yang ada dalam otakmu mas! Kenapa kau bodoh sekali jadi laki laki, Apa kau pikir, setelah kau merobek berkas itu, aku akan kalah? akan aku buat kau menyesal mas, Aku sudah berbaik hati memberikan mu uang, agar kau dan istrimu bisa hidup, tapi nyatanya, Jangan salahkan aku, mas, jika Aku tega padamu dan Arumi, kalian tidak akan menikmati uangku sepersen pun dariku!" ucap Sania dengan amarah yang bergemuruh, bahkan terlihat, sobekan berkas itu berhamburan di kamarnya.
Beny mematung seketika, dia teringat dengan cek yang Sania berikan, dia lupa, belum mencairkan uang itu ke bank, dan ucapan Sania tentu saja tertuju pada cek itu.
" Apakah kau berpikir, tanpa tanda tangan itu, kita tidak bisa bercerai? kau salah mas, Bukti perselingkuhan mu dan kehamilan Arumi, sudah bisa membuat perceraian ini berjalan lancar, sekarang, kau pergilah dari sini, kita akan bertemu di pengadilan!" ucap Sania pelan tetapi penuh penekanan.
Ucapan Sania membuat beny sadar, dengan apa yang dia lakukan, Dia hanya mengambil foto Sania dan Dirga, awalnya, dia bermaksud ingin memberatkan Sania , namun, rasa cemburunya terhadap Sania dan Dirga, telah membuat Beny tak berpikir jernih.
Saat Sania masih menahan tangisnya, samar dia mendengar suara orang berkelahi, dia berlari keluar dari kamarnya, ternyata benar, Rudi dan Beny sedang berkelahi, dia melihat Rudi sedang menghajar Beny.
" Ini yang pantas kau terima, Beny, Apakah kau berpikir, dengan tidak adanya surat itu, kalian tidak bisa bercerai? Kau salah Beny, dan Aku pastikan, kau akan mendekam di penjara!" ucap Rudi dengan emosi tingkat tinggi setelah menghajar Beny.
" Aku juga akan membawamu ke rana hukum, karena sudah menganiaya aku sampai seperti ini, dan kita akan mendekam bersama di dalam penjara," ucap Beny dengan senyum liciknya.
Beny melenggang pergi dari kediaman Sania dengan wajah yang sudah babak belur.
__ADS_1
Saat Beny sudah pergi dengan mengendarai sepeda motornya, Rudi mencoba untuk membesarkan hati Sania, Dengan tulus dia berkata," Kau jangan khawatir, Aku pastikan kau akan menang dalam persidangan ini, Lanjutkan saja niat berlibur mu bersama Keyla, Aku yang akan mengurus semuanya di sini, jangan cemas!" ucap Rudi seraya membelai kepala Sania.
" Aku hanya tidak mengerti dengan mas beny, Rud! kenapa seolah olah dia sengaja, selalu membuat masalah!" ucap Sania.
" Dia cemburu, dan dia belum bisa move on dari mu, dia sengaja mengulur waktu, agar dia masih bisa dekat denganmu, tapi, percayalah, kau akan segera bebas darinya, Aku pastikan itu!" ucap Rudi dengan serius.
Ini sudah dua Minggu dari kejadian di klinik itu, di mana Beny ketahuan berselingkuh, dengan Arumi. Sania merasa sangat lelah dengan semua ini, dia ingin segera mengakhiri ini semua dan terbebas dari suami yang tidak tahu diri itu, dia hanya ingin bahagia bersama dengan putri semata wayangnya, tanpa bayang bayang Beny.
" Keyla ada di mana?" tanya Rudi.
" Di rumah Tante, Aku tidak mau Keyla menyaksikan ini, cukup sudah dia menyaksikan semua kejadian beberapa hari ini, Aku takut akan mempengaruhi mentalnya, apalagi kau tahu sendiri, fisik Keyla sangat lemah, Aku tidak ingin anakku trauma dengan kejadian ini, Aku Hanya ingin fokus pada Keyla, tapi, apa yang sudah mas Beny sungguh benar benar keterlaluan!" Sania merasa lelah, lelah hati.
" Dia tidak mau cerai dariku, tapi dia juga tidak mau meninggalkan Arumi, apa dia pikir hatiku ini terbuat dari batu, Sakit, Rud!" ucap Sania seraya menundukkan kepalanya.
" Begitulah lelaki, egois, Sudah, kau jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang!" Goda Rudi.
" Aku berharap kau bahagia Nia, Aku pikir dengan kembali' Dirga, kau bisa melupakan Beny, meskipun,.. itu akan membuat hati ini terluka, Rudi, sadar dirilah, Sania bukan wanita yang bisa kau raih, apalagi ada Dirga saat ini, yang juga menginginkan Sania kembali!" gumam batin Rudi dalam hatinya, seraya menatap Sania.
" Tunggu sebentar, Aku akan membuatkan sesuatu," ucap Rudi, dia meninggalkan Sania dan segera menuju ke dapur.
Sania tersenyum, dia melihat Rudi bertingkah seperti dulu, semenjak Sania menikah, Rudi dan Sania benar benar menjaga jarak, karena Rudi selalu berpikir, Dengan siapapun Sania asal dia bahagia, itu sudah membuat Rudi juga bahagia.
__ADS_1
Sania masih melihat tumpukan robekan kertas yang tadi sudah di rapihkan oleh Rudi, dia berpikir, sungguh bodoh dirinya, sampai dia memberikan uang sebanyak itu kepada Beny.
****