
Episode #21
Lama Sania menunggu Rudi, hingga akhirnya suara Rudi membuatnya tersenyum.
" Makanannya sudah siap, nona Sania, mari, biarkan hamba melayani nona,"ucap Rudi, seraya meletakkan nampan yang dia bawa.
Ada Caramalized butter prawns, ada teritaki Salmond, nasi, serta Air putih.
" Rudi!" ucap Sania tidak percaya.
" Ini makanan kesukaanmu, makanlah, dan juga, Aku sudah memblokir cek itu, sesuai dengan keinginanmu," ucap Rudi tersenyum.
" Apakah aku jahat, Rud?" tanya Sania.
" Tidak, kau sangat baik, hanya, mereka saja yang tidak tahu berterima kasih padamu!" ucap Rudi, seraya merapikan rambut Sania dan menyelipkannya di belakang telinga.
" Kau sudah mengambil jalan yang tepat, Beny tidak tahu kata menghargai dan kata terima kasih, kau sudah terlalu baik padanya, tapi dia malah ngelunjak, sekarang, makanlah, Aku Sudah susah susah terjun ke dapur, dan membuat makanan ini" ucap Rudi dengan tersenyum ramah.
" Baiklah, kita makan bareng!" ucap Sania yang kini sudah bisa tersenyum.
Beberapa pesan dari Dirga Sania abaikan, entah mengapa, Sania merasa tidak nyaman dengan kedekatannya bersama Dirga.
( Nia, Apa kau baik baik saja? Kenapa kau tidak membalas pesanku sama sekali)
Bunyi pesan itu, entah itu pesan yang keberapa kali.
__ADS_1
( Maaf mas, tadi aku istirahat) Sania membalas pesan dengan singkat, dan kembali meletakkan ponselnya.
Rudi sudah datang dari dapur, dia membereskan sendiri piring kotor bekas makan tadi tanpa melibatkan ART.
" Baiklah, seharusnya kau sudah baik baik saja, Aku akan kembali ke kantor, " Sania menoleh ke arah Rudi yang sedang berdiri di dekat pintu, dia menghampirinya.
" Terima kasih, Kau bahkan tak punya waktu untuk beristirahat, Aku akan mencarikan mu asisten pribadi, jadi kau bisa beristirahat jika kau merasa lelah!" usul Sania untuk Rudi.
" Tidak perlu, Aku bisa melakukannya sendiri, Yang terpenting sekarang kau, Kau tenangkan saja pikiranku, jangan banyak berpikir, percayakan semuanya padaku, ok?" ucap Rudi.
Sania menganggukkan kepalanya, saat ini dia merasa lelah, bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya.
Setelah kepergian Rudi, Sania kembali ke kamarnya, dia segera ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Sania pun langsung berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya.
***
" Apa? Cek ini tidak dapat di cairkan? Kenapa bisa begitu, pak?" tanya Arumi yang sedikit cemas.
" Ceknya sudah tidak berfungsi, nyonya, jadi, maaf, kami tidak bisa mencairkannya!" ucap petugas bank itu dengan ramah.
Arumi yang sudah rela pergi dan mengantri untuk mencairkan uang itu, kini menjadi kesal sendiri, tanpa berpikir panjang, Arumi pun segera keluar dari bank tersebut dan segera memanggil ojek, dengan tujuan datang ke rumah Sania.
" Sialan kamu Sania, kamu ingin membohongi kami, kau sudah mendapatkan tanda tangan mas Beny, tapi kau malah menipu kami!" omelnya sepanjang jalan.
__ADS_1
Beberapa panggilan masuk dari beny di ponselnya dia abaikan, dia terus saja merutuki Sania, dia mengabaikan tukang ojek yang mendengar rutukannya.
" Kemana Arumi, kenapa jam segini gak ada di rumah," ucap Beny, seraya terus menghubungi Arumi.
" Ah, sial,..!" rutuk Beny, yang kini duduk di depan kontrakannya, karena Arumi mengunci pintunya.
Beberapa saat kemudian, dering ponsel beny terdengar.
Tanpa melihat siapa yang menelpon, Beny terus ngerock, ngomel ngomel.
" Halo Arumi, kemana saja kamu, kenapa pintu rumah di kunci, ada di mana sekarang kamu, kenapa pergi gak bilang bilang!"
" Beny, Ini ibu!" ucap suara dari seberang telepon yang ternyata sang ibu.
" Memangnya Arumi kemana, kenapa kau di kunciin, Emang ya, dasar gak tau diri banget istrimu itu!" omel sang ibu membuat Beny termenung sesaat.
" Mama, Bukan ma, Arumi hanya pergi ke supermarket, membeli persediaan makanan yang sudah habis!" elak Beny, tak ingin membuat mamanya semakin mengomel.
" Ada apa mama menelpon? kalau untuk meminta uang, Beny gak punya ma!" ucap Beny jujur.
Mamanya berdecak," Ckk! mama sudah tahu, kamu kere sekarang, ini tentang adikmu, bagaimana dengan dia, jika Sania tidak mengirimkannya uang, bagaimana nasibnya di negeri orang!" ucap sang mama dengan kecemasannya.
Ucapan sang mama di benarkan dengan Beny, Bagaimana nasib adiknya sekarang di negeri orang, sungguh dia sangat sedih memikirkannya, jika bukan karena ulahnya, semua ini tidak akan terjadi, kasihan adiknya.
" Oh tuhan, kesalahanku malah berimbas ke banyak orang orang yang aku sayang, Bagaimana nasib adikku sekarang, dia pasti kesulitan untuk punya uang," Batin Beny, seraya mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
****