
Episode #7
Sementara itu di rumah orang tua Beny.
" Apa? kau jangan bercanda Beny!" teriak sang mama.
" Beny tidak bercanda ma, Sania sudah tahu semuanya!"ucap Beny dengan suara lesu.
" Kau bisa membujuknya, dengan alasan Keyla, bilang anak itu butuh seorang ayah, begitu!" ucap sang mama memberikan ide.
" Tapi, yang melihat pertama kali Aku dan Arumi adalah Keyla, ma, anak itu sekarang membenciku!" jawab Beny putus asa.
" Oh, tuhan, Beny, kenapa kau membuat keluarga kita mati, kita akan kembali seperti dulu lagi, hidup susah!" ucap sang mama seraya memijat pelipisnya.
" Deg!"
Jantung Sania seakan berhenti berdetak, kala mendengar penuturan sang mertua, Dia sengaja bersembunyi ketika melihat perdebatan antara ibu dan anak tersebut.
" Ternyata mereka sudah tahu tentang perselingkuhan mas Beny," pikir Sania.
Rudi memegang pundak Sania, agar jangan gegabah, dia meminta Sania untuk mendengarkan semuanya terlebih dahulu.
" Tapi mereka sangat keterlaluan Rud!" ucap kesal Sania dengan suara pelan.
" Ssstt!" Rudi menutup bibir Sania dengan jari telunjuknya.
" Dengarkan dulu apa yang mereka bicarakan, Aku sudah merekam semua pembicaraan mereka, jadi bersabarlah, mungkin suatu saat nanti kita membutuhkan rekaman suara ini, Oke?" ucap Rudi memberitahu Sania dengan lembut.
__ADS_1
" Kalau begitu, siapa yang akan memberikan kita uang, Ben! kenapa kalian terlalu bodoh!" omel mamanya Beny seraya menatap Arumi dan berkata," Dan kau, kenapa kau manja sekali, sampai minta antar ke klinik segala, kau bisa kan, jalan sendiri, kandunganmu baru lima bulan, jadi buat apa kau ngajak Beny segala!" seraya menatap tajam Arumi.
" Ma, Arumi juga Istri mas Beny, jadi wajar dong Arumi minta perhatian dari mas Beny, ini anaknya mas beny, loh!" jawab Arumi tanpa tahu malu.
" CK! Lihatlah Beny, bagaimana dia berani terhadap mama, sangat berbeda dengan Sania, yang tak pernah menyahut jika mama bicara, pantas saja tadi mama minta transfer uang tidak Sania balas hanya di baca saja, ya sudahlah, Kalau begitu mau bagaimana lagi, mama minta uangnya sama kamu saja deh, gak banyak kok, cuma Lima juta!" seraya menengadahkan tangannya ke Beny.
" Uang lagi ma? Kemarin dua juta, Sekarang Lima juta, untuk apa mah, Beny tidak punya uang sama sekali sekarang, Sania menutup semua ATM Beny!" seru Beny, dan nyaris membuat mata mamanya melotot hingga mau jatuh.
" Apa! Kau juga tidak punya uang sama sekali, Beny? Bagaimana bisa, kau juga kan ikut andil dalam perusahaannya, kau jangan bodoh Beny?" umpat mamanya.
" Benar tuh mah, masa mbak Sania main blokir ATM nya mas Beny saja, emangnya dia pikir kerja di perusahaannya gak pake otak dan tenaga!" Arumi menimpali.
" Biar bagaimanapun kau sudah berjasa di perusahaan itu mas, dia tak bisa main pecat begitu saja!" sambungnya.
" Prok! Prok! Prok!"
sebuah tepukan tangan menggema dari arah pintu yang terbuka, ketiganya serempak menoleh ke suara tersebut.
" Rudi, benarkah mas Beny sangat berjasa! coba kau jelaskan, apa saja yang mas Beny lakukan selama bekerja di perusahaan!" ucap Sania pada mertua dan Arumi, sedangkan Beny hanya tertunduk malu.
" Tuan Beny tidak pernah menghadiri rapat penting perusahaan, dia selalu meninggalkan pekerjaannya pada saya, dia hanya mempunyai pekerjaan memberikan tanda tangan saja dan,.."
" Cukup Rudi!" Sania menghentikan ucapan Roni. " Kalian lihat sendiri kan, mama mertua? Aku tidak menyangka, jika ternyata Aku hidup dengan orang orang semacam kalian, Dimana kekurangan ku mas? Kau memintaku mengirimkan uang bulanan untuk mamamu, oke, aku kirim, kau juga memintaku untuk membiayai adikmu kuliah, oke, Aku biayain! hingga saat ini dia berada di luar negeri itu semua karena uang Aku mas, dan saat ini kalian berkumpul di sini, seharusnya aku melaporkanmu mas," ucap Sania menahan emosinya.
" Sania, jaga ucapanmu, biar bagaimanapun Beny masih suamimu, hormati dia!"bentak mama mertuanya. namun Sania hanya tersenyum mendengarnya.
" Menghormati suami? Tapi suami yang bagaimana yang harus di hormati, ma? suami yang berkhianat, mertua yang berkhianat, Begitu?"ucap Sania.
__ADS_1
" Cukup, Nia, kamu tidak usah membesar besarkan masalah, seandainya kamu bersikap biasa saja, tidak mungkin masalah ini akan seperti ini, kita masih bisa hidup bersama, dan perselisihan itu tak pernah ada, cobalah kau kontrol emosimu, bukankah Sania adalah seorang wanita yang penyabar? jadilah Sania yang Aku cintai dulu!"ucap Beny seraya berdiri menatap Sania.
" Waw, hebat kau ya, mas! hidup bersama, katamu? Aku bahkan sudah jijik melihatmu, jika kau cepat menandatangani surat perceraian kita, itu baru akan membuat hidup Aku damai, dan apa tadi kau bilang? Aku harus sabar dan mengontrol emosiku? Seharusnya itu kau mas, kau yang seharusnya bisa mengontrol nafsumu, agar tidak sembarang celup ************ wanita murahan ini!"ucap Sania dengan emosi yang meluap seraya menunjuk Arumi.
Dengan tidak tahu malunya, Arumi berdiri dan menatap tajam Sania seraya berkata," Aku bukan wanita murahan ya, mbak!"
" Cukup Sania, jangan membuat onar di rumah mama, malu sama tetangga, lihatlah, karena ulahmu banyak tetangga yang dengar!" ucap mertuanya menyalahkan Sania.
" Oh, Rudi, Tadinya Aku ingin berbaik hati, dengan membiarkan mereka hidup dengan aman, tetapi aku salah, seharusnya Aku tidak membiarkan hatiku tergerak karena wajahnya, Rud!" ucap Sania dengan senyuman sinisnya, Beny mengerti akan arti senyuman dari Sania tersebut, senyum itu sama ketika Sania ingin mengambil mobil dan juga memblokir semua ATM miliknya.
" Ada apa ini Bu, Irma, kenapa Sania bisa marah marah seperti ini?" tanya ibu RT ketika mendengar Sania memarahi keluarga toxis tersebut.
Sang ibu mertua menjawab" tidak ada Bu, Sania hanya salah paham saja!"
" Maaf Bu, telah membuat keributan di sini, saya janji Bu, ini kali keributan yang pertama dan terakhir kalinya di sini, saya hanya tersulut emosi ketika mengetahui, suami dan mertua saya melakukan pengkhianatan terhadap saya, Suami saya Beny, sudah melakukan nikah siri dengan wanita ini Bu, dan ternyata ibu mertua saya mendukungnya, apakah salah jika saya tersulut emosi? Sania berkata lembut dengan ibu RT, seraya menunjuk pada Arumi.
" Ya, Allah, Bu Irma, tega sekali Bu Irma melakukan hal ini dengan Sania, kau juga Beny, kenapa kau berselingkuh, seharusnya kau berpikir panjang sebelum berselingkuh, siapa kalian, jika bukan karena Sania kalian itu bukan siapa siapa!" ucap bu RT, menyalahkan Beny.
" Eh, kau bu RT jangan ikut campur, jika seorang suami berselingkuh, itu sudah pasti karena si istri tidak becus mengurus suaminya, jadi jangan salahkan suami, istrinya saja yang tidak tahu diri!" Arumi berkata tanpa bercermin, membuat bu RT geleng geleng kepala.
" Beny,..Beny! kenapa seleramu turun drastis, dari bidadari menjadi wanita seperti ini, tidak punya rasa malu dan sopan santun, Sania, yang sabar ya sayang, Allah pasti bersama dengan orang yang sabar!" ucap bu RT seraya mengelus bahu Sania.
" Bukankah lelaki boleh menikah lebih dari satu kali, kenapa kau tidak menerima saja pernikahan ini nia, dan semuanya akan aman!" ucap Beny yang membuat bu RT semakin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Bu RT menyela," Itu jika si suami bisa menafkahi istri, lah, kamu, hidup saja masih bergantung pada usaha istri, mana bisa kau berpegang pada dalil itu!" bu RT geleng kepala, seraya berpikir, kok ada ya orang orang seperti ini? Sania hanya tersenyum.
__ADS_1
" Terima kasih bu RT, maaf sudah membuat keributan di sini, dan buat mama mertuaku, silahkan kembalilah ke rumahmu karena rumah ini akan segera saya jual!" Sania berkata lembut, namun mampu membuat mama mertuanya jatuh pingsan.
****