
Episode #23
Rudi adalah seorang kepercayaan kedua orang tua Sania, dia adalah anak dari supir papanya Sania, hingga Sania dan Rudi bisa begitu dekat.
Rudi di sekolahkan dengan papanya Sania agar dia dapat membantu Sania suatu hari nanti.
Karena kedekatannya tersebut membuat Rudi mencintai Sania, namun dia sadar, statusnya dengan Sania bagaikan langit dan bumi.
Rudi juga berteman dengan Dirga, karena sewaktu Sania bersama Dirga dan di tinggalkannya, Rudi tahu semua, itu sebabnya Dirga meminta Rudi selalu menjaga Sania.
" Tanpa tuan pinta pun, saya akan menjaga Nona Sania, karena bagi saya melihat nona Sania bahagia bersama siapapun adalah suatu kebahagiaan juga untukku!" kata kata itulah yang di ucapkan Rudi ketika Dirga memintanya menjaga Sania pada saat ingin meninggalkannya karena perjodohan dari keluarganya.
Bagi Rudi, mengharapkan Sania dalam hidupnya bagaikan mimpi yang tak pernah terwujud,
Ketika melihat sania di khianati, hati Rudi terasa sakit, dan kini Dirga datang kembali, dan mengatakan ingin membahagiakan Sania setelah meninggalkannya.
" Rud! Kau tahu bukan, bagaimana Aku, Cintaku pada Sania tak akan pernah berubah, bahkan sampai istriku meninggal, aku masih mencintainya, bantu aku untuk memilikinya lagi, Rud!" ucap Dirga saat itu.
" Tuan, saat ini nona Sania sedang tidak baik baik saja, saya tahu jika tuan masih mencintai Nona Sania, asalkan tuan bisa membahagiakan nona Sania, saya pasti akan mendukung tuan, tapi tolong mengertilah, untuk saat ini, nona sania sedang terpuruk, tolong jangan paksa dia jika dia tidak mau!" ucap Rudi Saat itu.
***
Sementara itu di tempat tinggal Beny.
" Mas, mas, bangun, kenapa kau malah tidur di sini?" Arumi membangunkan Beny, dengan terus mengguncang guncangkan tubuhnya.
__ADS_1
Rudi terbangun, karena guncangan tersebut, saat dia membuka matanya dia melihat Arumi sedang membuka pintu, dengan mengambil kunci yang ada di bawah keset depan pintu.
" Ksu dari mana saja, kenapa jam segini baru pulang?" tanya Beny.
" Nih!" ucap Arumi, seraya melemparkan cek ke wajah Beny. lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
" Apa yang mas lakukan?" tanya Arumi saat sudah berada di ruang tamu.
" Kenapa ceknya di kembalikan lagi, bukankah kau mengatakan ingin mencairkan uangnya!" tanya Beny.
" Uang Apa? Sebenarnya mas buat ulah apalagi sih, sampai mbak Sania memblokir ceknya?" tanya Arumi penasaran.
Beny sedikit terkejut.
" Tadi Rudi yang mengatakan itu, sekarang mas katakan, Apa yang sudah mas lakukan,Kenapa perceraianmu masih harus di bawa ke pengadilan, bukankah kau bilang perceraian kamu cukup hanya dengan tanda tangan itu!" ucap Arumi dengan tatapan tajam ke Beny.
Beny, gugup, dia segera mencari alasan.
" Itu,.. Itu karena aku salah meletakkan tanda tangan, sayang, jadi Sania mengira kalau aku sudah membohonginya, ya, mau bagaimana lagi, sekarang Aku sudah tidak punya apa apa lagi, hanya uang di tabungan rahasia yang ada, dan itu juga untuk biaya persalinan kamu, apakah kau tidak punya BPJS, sayang? bagaimana kalau kita buat BPJS saja, kan lebih meringankan beban kita, sayang!" usul Beny.
" BPJS?" tanya Arumi kebingungan.
" Iya, BPJS, kau pilih yang gratis atau yang bayar, tapi kelas tiga aja, sayang, biar gak mahal bayarnya!" ucap Beny berharap.
" Oh tuhan, mas, apakah segitu melaratnya kamu, sampai kita harus mengurus BPJS untuk lahiran?"ucap Arumi tak habis pikir, Diapun segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. diapun tiduran di ruang tamu dengan memiringkan tubuhnya.
__ADS_1
" Kau tidak jujur padaku, mas! mbak Sania tidak akan memblokir cek itu jika hanya salah tanda tangan, Aku lelah denganmu mas, kau seperti bukan mas Beny yang aku kenal, kau sudah banyak berbohong padaku!" ucap Arumi seraya mengelus perutnya.
" Aku gak berbohong Arumi, itu yang benar, jadi kita tidak usah meminta apapun lagi pada Sania, cukup sudah, kita terlihat rendah di mata Sania,!" ucap Beny seraya mengelus elus kening Arumi yang tidur tiduran.
" Aku memilihmu, agar Aku bisa hidup nyaman, mas, tapi kenapa, malah jadi begini, dan juga anak ini, Apa yang akan kita kasih untuknya!" ucapnya seraya terus mengusap usap perutnya.
" Kau yang sabar, ya? Aku janji, akan mencari pekerjaan yang baik, agar bisa membahagiakan mu dan anak kita nantinya!" ucap Beny yang menyadari kesalahannya.
Jika bukan karena rasa cemburu yang berlebihan, mungkin sekarang dia sudah bisa menikmati uang pemberian Sania, namun dia tidak mungkin mengatakannya pada Arumi, tentang apa yang terjadi di rumah Sania.
***
Sementara itu di tempat tinggal Dirga.
" AIDA, malam ini, terakhir kau ikut Aku dan Sania pergi, setelah itu, kau cukup jaga rumah saja," ucap Dirga yang kini sudah rapi dengan pakaiannya.
" Tapi tuan, Siapa yang akan menjaga nona Sania nantinya?" tanya AIDA dengan wajah tertunduk.
" Akan ada Sania yang menjaga mereka!" jawab Dirga tanpa melihat ke arah AIDA yang sedang mengepalkan tangannya kesal..
" Sania, kau sudah siap, sayang? kita harus cepat, atau Tante Sania akan menunggu kita lama di sana!" teriak Dari bawahkamar Sania kecil.
" Sania Sudah siap papa!" balas Sania, seraya membuka pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Dirga anak kecil itu pun turun sambil tersenyum dan mendekati papanya, terlihat AIDA yang juga sudah terlihat cantik, berada di belakang Dirga dan Sania kecil, mereka berjalan dengan AIDA yang berjalan mengekori Dirga dan putrinya, menuju mobil yang terparkir di halaman depan,
****
__ADS_1