
Episode #8
Rudi yang menyaksikan itu hanya tersenyum tanpa mau ikut campur, karena baginya keputusan Sania adalah yang terbaik.
" Yang sabar ya Bu Sania, semoga Bu Sania bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada Beny, saya sebagai wanita hanya ikut prihatin," ucap Bu RT.
" Terima kasih Bu RT, Alhamdulillah Allah masih menyayangi aku Bu, dan membuka kebenaran tentang suami aku, sekali lagi terima kasih Bu RT, sampaikan Maaf saya kepada para tetangga di sini," ucap Sania tulus, seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
" Baik Bu, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Bu RT sambil menatap sinis kepada Beny dan Arumi.
Setelah kepergian Bu RT, Sania kembali menatap pasangan laknat itu yang mana terlihat ibu mertuanya belum sadarkan diri dari pingsannya.
" Apakah kau sudah puas sekarang, melihat ibuku seperti ini, Sania?" teriak Beny dengan tidak malunya.
" Sangat puas, mas!" jawab Sania lalu kembali berucap," Baiklah, Saya beri warna dua hari, untuk ibu segera meninggalkan rumah ini, bukankah ibu sudah merenovasi rumahnya yang dulu, seharusnya sudah bagus rumah itu, kalau Aku jahat, sudah pasti Aku akan meminta dana perbaikannya, kalian paham!" ucap Sania dengan penuh penekanan, lalu melangkahkan kakinya pergi dari rumah kediaman yang membuat dadanya sesak,.
Berpura-pura kuat itu menambah sakit, menyaksikan suaminya lebih memilih pelakor, setidaknya, dia ingin Beny bicara baik baik atau setidaknya berpura-pura lah menyesal, demi menjaga perasaan Sania, tapi apa yang Beny lakukan sudah membuktikan bahwa Beny sudah tidak mencintainya lagi.
" Tidak, mas Beny bukan tidak mencintaiku lagi, tapi memang dia tak pernah mencintaiku, oh tuhan, Sania, kenapa kau sebodoh ini, kenapa kau tak bisa merasakan itu, kenapa kau jatuh cinta pada pria yang tidak mencintaimu, kenapa Sania,.. kenapa?" Jerit hati Sania, bersamaan dengan tumpahnya air mata dari kedua kelopak matanya, tangannya memegang dadanya, Rudi menarik tubuh Sania untuk menenangkannya.
" Menangis lah, jika itu bisa membuat hatimu lega, Sania, .. Aku diam bukan berarti Aku tidak ingin membantumu, tapi Aku ingin kau melampiaskan semuanya, jangan di tahan, luapkan semuanya, agar sesak di dadamu berkurang!"ucap Rudi menghibur Sania seraya menepuk punggung Sania.
" Mengapa Aku sebodoh ini Rud, kenapa aku tak bisa mencium kebusukan mereka, kenapa sampai selama ini Aku bersama orang orang yang hanya memanfaatkan aku, kenapa Rud?" tanya Sania dalam isak tangisnya.
" Itu karena hatimu terlalu baik, Nia, kau terlalu mencintai Beny, hingga kau tak sadar jika selama ini kau hanya di manfaatkan nya, percayalah, Beny akan menyesal, karena sudah membuang berlian demi batu kerikil, kau jangan menangis lagi, ingat, ada Keyla yang masih membutuhkan dirimu, dia butuh kasih sayang seorang ibu, ibu yang kuat dan tegar!"ucapan Rudi telah membuat Sania sadar, Rudi benar, masih ada Keyla saat ini, jangan sampai kesedihannya membuat hati putrinya hancur.
__ADS_1
" Dia juga pasti hancur, Rud, kau lihat sendiri, bagaimana Keyla begitu dekat dengan ayahnya, tapi semenjak Keyla sakit, dan melihat ayahnya selalu sibuk, kedekatan itu semakin merenggang, Apa itu artinya pertanda akan adanya kejadian seperti ini?" tanya Sania seraya menghapus Air matanya.
" Kemungkinan besar, ya, jadi kau jangan memperlihatkan air mata di hadapan Keyla," ucap Rudi.
" Terima kasih, karena kau selalu ada untukku Rud!"ucap Sania, seraya menjauhkan dirinya dari Rudi.
" Kau sudah aku Anggap saudara, Nia, Sekarang, fokuslah untuk menata hati, masalah perusahaan, biar Aku yang handle semua,!" hibur Rudi seraya mengusap kepala Sania.
Merekapun melanjutkan perjalanannya.
***
" Oh, tidak Beny, kenapa bisa jadi seperti ini, Sania tidak akan main main dengan ucapannya, Lebih baik, kalian pergilah dari rumah itu, dan kembali ke rumah kalian, daripada nanti kalian akan bertambah malu lagi!" ucap Karina, sahabat Sania yang kini sedang berbicara dengan Beny melalui telepon.
" Kelemahan seorang ibu, ya, anaknya, tapi kamu yakin mau menggunakan Keyla untuk membujuk ibunya? jangan menambah masalah, bisa di hukum seumur hidup kau nanti, kau tidak akan menang melawan orang yang beruang, mana si Sania menyuruh orang untuk menagih hutangnya ke gue, Semua ini karena ulah kalian, jadi Aku yang kena getahnya!" omel Karina.
" Keyla, mungkin aku bisa membujuk Sania agar tidak menceraikan Aku melalui Keyla, ok,.. thanks Karina!" Beny segera memutuskan sambungan telepon tersebut.
" Gimana mas?" tanya Arumi.
" Kau tunggulah di sini, dan temanin ibu! Aku harus pulang dan menemui Keyla, hanya dia harapanku!" ucap Beny pada Arumi dengan harapan dapat berhasil membujuk putrinya agar sang ibu mengurungkan niatnya.
"Aku ikut, Aku ingin ke kontrakan saja mas, di sini gak nyaman, lihatlah,..! banyak tetangga yang sudah tahu mas!" pinta Arumi.
" Tapi ibu belum sadarkan diri, Arumi, masa ia kamu tega meninggalkan mertua kamu dalam keadaan seperti ini, semua ini juga aku lakukan demi kamu, kalau Aku bercerai dari Sania, kita pasti tidak punya apa-apa, susah mencari pekerjaan di jaman sekarang, kau juga tidak mau kan, di bawa hidup susah?" ucap Beny panjang lebar, memberikan pengertian pada Arumi.
__ADS_1
Mau tidak mau Arumi pun menemani mertuanya yang masih belum siuman.
Melihat Beny sudah keluar, Arumi gegas mengunci pintu rumah, dia takut para tetangga datang menerobos dan menyerang dirinya.
" Eh, Beny, gak nyangka ya, Aku kira kamu suami yang setia, ternyata,...!"
" Benar.., Beny,..Beny! kurang apa coba bu Sania, sudah cantik, baik, kaya, dan gak sombong pula, matamu gak katarak kan Beny?"
Beny sedikit kesal dengan mulut para tetangganya itu, Diapun berucap," Eh, ibu ibu, jangan suka ikut campur dengan urusan orang lain, urus saja urusan ibu ibu sendiri, belum tentu kehidupan ibu ibu itu lebih baik dari saya, jadi jangan suka ikut campur!" ucapnya kesal, seraya menaiki motor matic milik Arumi.
" Ha ha ha ha ha! Dari mobil mewah sekarang ganti motor bebek, Beny,..Beny,.. kalau mau selingkuh itu, mbok ya cari yang lebih dari istri pertama dong! dari wajah saja, jauh lebih cantik ibu sania,..harta, apa lagi, jauh banget,.. sopan santun, yang sekarang gak ada sopan santunnya, Beny, apa kau katarak, cepatlah obati matamu biar terbuka, Ben!" ucap seorang ibu, tetangganya.
Mendengar ucapan para tetangganya itu tak akan ada habisnya, dia tak akan pernah sampai ke rumah Sania, dengan tidak memperdulikan ucapan ucapan yang terus memojokkan nya Beny melajukan motornya menuju rumah Sania dengan harapan dapat bertemu dengan Keyla dan membujuknya.
Dalam perjalanan menuju rumah Sania, Beny berpikir, semua yang para ibu ibu itu ucapkan, terngiang ngiang di telinga beny, Dia berpikir jika apa yang mereka katakan itu memang sebuah kebenaran, Arumi jauh di bawah Sania, yang selalu memprioritaskan dirinya dalam segala hal, Sania selalu menyiapkan keperluan dirinya, namun Arumi justru sebaliknya, Beny lah yang selalu menyiapkan semua keperluan Arumi, dengan alasan dia sedang mengandung saat ini.
" Sayang, papa berharap, kau bisa memaafkan papa, dan membujuk mama untuk kembali bersama papa, bukankah Keyla juga menyukai bunda Arumi, papa yakin, bunda Arumi bisa menjadi ibu dan guru terbaik untuk Keyla," batin Beny.
Dalam bayangan Beny, dia akan di sambut hangat oleh putrinya, seperti hari hari sebelumnya, mengingat itu, bibir Beny tersenyum, dia begitu merindukan putrinya tersebut, meski baru dua hari yang lalu dia bertemu dengan putrinya, namun rasa rindu itu kini dia rasakan.
" Papa menyayangi Keyla, papa juga yakin, jika Keyla merasakan kasih sayang papa kan, maafkan papa, karena tidak ada di saat Keyla membutuhkan papa!" Beny terus membatin sepanjang perjalanan menuju rumah Sania.
Sepeda motor terus melaju membelah jalanan.
****
__ADS_1