
"Sah!"
Mendengar satu kata itu air mata Rumi menetes penuh rasa sakit, alih-alih mengamuk untuk melenyapkan sesak yang tak tertandingi selama hidupnya, Rumi memilih menunduk, menggempalkan kedua tangan guna melampiaskan emosi.
Sebagai seorang istri ia harus rela datang, mengantarkan sang suami menikahi wanita lain, wanita yang lebih muda dari Rumi, wanita yang tak pernah masuk ke dalam dugaan akan menjadi orang ketiga tak diundang.
Gema doa dari mulut penghulu pun tak berhasil membuat kedua tangan Rumi mengadah, wanita itu hanya terus menunduk menggempalkan kedua tangan. Tidak tahu lagi bagaimana menahan desakan air yang terus mengalir dari matanya, memperlihatkan pada orang-orang bahwa ia wanita menyedihkan, istri yang paling menyedihkan.
Lalu, tak lama dari doa yang diamikan banyak orang, ada satu pelukan untuk Rumi dari tangan wanita paruh baya. "Kamu pasti bisa melewati ini, Sayang." Ibu mertuanya, mama sang suami. Suami yang di mata Rumi tinggal seonggok daging menjijikan.
Menarik napas, Rumi menghapus air mata, mengangkat kepala guna menatap sang mertua. Ia pasang senyum terbaik. "Doakan saja, Ma," bisiknya menjadi awal kehidupan yang tak ia inginkan.
...*****...
Rumi meninggalkan pesta pernikahan itu, perayaan yang merupakan cambuk untuk hatinya. Baru empat bulan ia menikah dengan Lian, baru empat bulan mereka sah di mata agama dan hukum. Namun, dengan tidak tahu dirinya Lian sudah menghamili wanita lain, hal termenjijikan adalah, usia kehamilan wanita itu sudah menginjak tiga bulan, oh lelucon kehidupan memang tidak ada yang lucu.
"Hah!" Menghembuskan napas kasar, Rumi dengan gaun hijau daun dan rambut tergerai indah akhirnya memarkirkan mobilnya di depan pet shop. Demi kelangsungan kewarasan, Rumi lebih memilih berbelanja keperluan peliharaannya, kucing kesayangan yang mungkin detik ini tengah tertidur di rumah.
Menarik rem tangan, Rumi mematikan mesin mobil hasil keringatnya sendiri. Lalu, ia melepaskan sabuk pengaman, membuka pintu kendaraan beroda empat tersebut.
Sekali lagi menghembuskan napas, Rumi mengulum bibir yang terasa kering, ia genggam erat kunci mobil dan dompet. Langkahnya pun tercipta memasuki pet shop.
"Mbak Rumi, duh cantik banget, ini pasti abis kondangan hihi."
Rumi langsung disambut oleh karyawan pet shop, dan ia tersenyum lembut. "Iya," jawabnya singkat. Mana mungkin juga Rumi mengatakan yang sebenarnya, bahwa iya, dia baru undangan, undangan ke pernikahan suaminya sendiri.
"Mau beli apa nih buat Leo sama Lili? Cemilan? Atau makanannya udah abis?" Si karyawan itu kembali bertanya, namanya Siska, gadis remaja baru lulus SMA.
"Mau beli pasirnya, Sis. Terus mau liat-liat yang lain juga, siapa tau tertarik beli." Rumi melangkah mendekati rak makanan kucing, ia tatap merk-merk yang tersedia. Jujur, makanan kucingnya masih banyak, hanya saja ini pengalihan agar beban di kepala sedikit keluar.
"Pasir berapa liter nih, Mbak? Biar Siska ambilin."
"Yang dua puluh ya, Sis."
"Oke siap, Mbak, bentar ya Siska ambilin." Siska beranjak dari posisinya, melangkah menuju tumpukan kemasan pasir pup kucing.
Rumi tak membalas, ia memilih beranjak menuju rak vitamin dan obat-obatan.
"Sis, cat lysine plus ada nggak ya? Mbak, nggak liat," tanya Rumi mengambil salah satu vitamin kucing yang berfungsi menambah nafsu makan.
"Ini, Mbak." Tiba-tiba ada suara berat yang menyapa gendang telinga Rumi, menarik perhatian agar diberikan kepada si empun suara itu.
Rumi menoleh ke sisi kanannya, posisi asal suara berada. Di sana ia dapati seorang pria tinggi dengan balutan kemeja abu rokok yang satu kancing teratasnya tak tersemat.
"Mbak?" tegur pria itu sebab barang yang ia sodorkan tak juga diterima.
Detik itu juga Rumi sigap menerima barang yang disodorkan ke arahnya. "Terima kasih."
"Sama-sama, ini Mbak berniat membeli vitamin untuk apa?" tanya pria itu, Barra, namanya.
Rumi tidak langsung menjawab, ia kembali menatap tumpukan botol vitamin di depan mata. "Vitamin yang bisa mengurangi bulu rontok, meningkat nafsu makan, menguatkan tulang, intinya satu banyak manfaat," jawab Rumi dengan nada malas-malasan.
Kepala Barra mengangguk paham, kemudian pria berperawakan dewasa itu menatap objek yang sama seperti yang tengah Rumi tatap.
"Ini yang paling recommended," ujar Barra mengambil satu bungkus vitamin dengan merk Fluffy, itu adalah Fluffy Magic Collagen. "Tapi, harganya lumayan," bisik Barra tersenyum sederhana, ramah.
Rumi menghela napas pelan, lagi-lagi untuk kedua kalinya menerima apa yang Barra sodorkan.
"Terima kasih," katanya singkat tak minat beramah tamah pada pria asing.
Barra mengangguk, beranjak melihat rak lain.
"Mbak Rum, nih pasirnya, terus cari apalagi toh?" Siska datang dengan mendorong trolli berisi satu karung pasir pup dua puluh liter.
Rumi langsung melangkah menuju kasir. "Nggak ada, itung gih," ujarnya meletakan semua yang ia ambil.
Bagi Rumi, saat ini pet shop menjadi sangat tidak nyaman karena kehadiran Barra, lebih tepatnya Barra Mahardika.
...*****...
Baru juga membuka pintu rumah, Rumi langsung disambut pemandangan menjijikkan, di mana suaminya tengah mencium perut si istri kedua yang demi Tuhan tak minat Rumi ketahui siapa namanya.
__ADS_1
"Eh, Sayang!" Lian terkejut, sigap dari membungkuk kini berdiri tegak, bahkan mengambil langkah mendekati Rumi.
Rumi tak membalas, justru langsung mengambil langkah menuju anak tangga yang menuju lantai dua.
Dia muak, dia benar-benar muak! Ini tidak akan bisa, dia tidak bisa berada di posisi ini, tidak akan bisa berbagi apapun alasannya.
"Rumi." Lian -suami Rumi- mengikuti langkah si istri, mengikis jarak yang dibentang luas oleh wanita itu.
Begitu sampai di depan kamarnya, Rumi membuka pintu, membalikan tubuh saat Lian ingin ikut masuk ke dalam. "Jangan masuk ke dalam kamar saya," tegas Rumi.
"Ini kamar kita, Rumi."
"Kita? Kita Anda bilang? Haha!" Rumi tertawa mengejek, menatap Lian dengan sorot dingin yang menusuk. "Sejak Anda mengkhianati saya, saat itu juga tidak ada kata kita. Di mata saya, Anda hanya bajingan menjijikan."
Brak!
Pintu ditutup kuat.
"Rumi, dengerin aku dulu!" tegas Lian menggedor pintu kamar.
Persetan dengan itu, Rumi mengkunci pintu kamar, ia bisa gila jika terus-terusan melihat wajah Lian, membayangkan suami yang sangat ia cintai menyentuh wanita lain, mencumbu hingga membuahkan nyawa baru di belakangnya, itu hal tergila yang menyakiti jiwa, mengoyak hingga tak berbentuk.
Melempar tas selempangnya ke atas ranjang, Rumi menggempalkan kedua tangan, juga memejamkan kedua mata. Di detik itu lah air mata penuh rasa sakit menetes keluar, membasahi pipi yang memerah marah.
Tidak, Rumi langsung menyeka air tanda lemah itu, perlahan kedua matanya terbuka dan tatapan terpasang datar.
Lian Abimana, suami tak tahu diri tak pantas ia tangisi, tapi, sangat pantas ia berikan pelajaran.
"Setidaknya sebelum bercerai, dia juga harus merasakan rasa sakit ini."
...*****...
Tepat pukul setengah delapan pagi Rumi menuruni anak tangga, ia sudah rapih dan siap berangkat bekerja, lebih baik menyibukkan diri daripada terus mengumpati dua anak manusia tak tahu diri yang tinggal satu atap dengannya.
Menuruni anak tangga terakhir.
"Rumi."
"Kamu nggak sarapan?" tanya Lian. Benar, pemilik suara itu suami Rumi.
Memilih tak menjawab, Rumi melanjutkan langkah, melewati ruang tengah, kini mengambil salah satu flat shoesnya.
Ternyata Lian mendekati Rumi, meraih pergelangan tangan si istri agar wanita itu menatapnya.
Rumi memenuhi kemauan Lian, menatap tapi dengan sorot tajam penuh kebencian. "Jangan sentuh saya!" ujarnya sama seperti tatapan, penuh kebencian.
"Sayang, kenapa kamu jadi kayak gini sama aku?"
Rasanya Rumi sangat ingin terbahak mendengar pertanyaan konyol dari mulut Lian, pria ini yakin masih waras? Agaknya tidak, pasti sudah gila maka dari itu menghamili wanita lain padahal memiliki istri.
Tanpa menjawab Rumi membalikan tubuh, ia sudah selesai memakai flat shoesnya, siap pergi dari rumah bak neraka ini.
"Rumi!" Lian kembali memanggil, sedikit membentak yang berakhir menyentak lengan Rumi hingga tubuh si istri berbalik seutuhnya. "Sarapan sama aku, jangan seperti ini!"
Rumi mendengkus, melirik ke arah kaum hawa lain yang saat ini berdiri di belakang tubuh Lian. "Maaf, saya tidak akan bisa menelan makanan jika disekitar saya ada sampah menjijikan."
...*****...
Mood Rumi hancur di pagi hari, demi apapun ia sangat ingin menyodorkan surat cerai, hubungan dengan orang ketiga adalah hubungan tak sehat, dan lagi, wanita mana yang mau memiliki madu? Rumi bukan salah satunya.
Menambah dalamnya pijakan gas, kedua tangan Rumi meremat stiur, membuat warna kemerahan menguasai jari-jari tangannya.
Menarik napas, Rumi memutar stiur, ia lebih memilih kembali mengincar pet shop langganan daripada bekerja. Memang cara Rumi menghalau penat sungguh sederhana. Masa bodoh dengan pertanyaan Siska kenapa ia kembali ke sana, karena yang terpenting adalah suasana hati kembali membaik.
Menghabiskan belasan sampai puluhan menit di perjalanan, Rumi berusaha menyimpan air mata yang tak boleh menetes untuk kedua kalinya hanya karena suami sialan.
Begitu sampai di depan pet shop, Rumi memarkirkan mobil dengan benar. Puji syukur toko langganannya ini sudah buka, tapi, Rumi tak langsung keluar dari dalam mobil, beberapa saat ia berdiam diri sana, pun memeluk stiur dan menenggelamkan wajah. Ya Tuhan ..., pantaskah Rumi bertanya, kenapa harus dia yang merasakan ada di posisi ini? Kenapa harus dia? Kenapa ..., dia?
"Hah!" hembus napas kasar, Rumi mengusap wajah, tak ingin lebih lama di dalam mobil yang berpotensi membuatnya terlihat bak wanita bodoh.
Membuka pintu mobil, Rumi keluar sambil membawa dompetnya.
__ADS_1
"Loh, Mbak Rumi?! Ih pagi-pagi udah isi absen aja, mau beli apaan lagi nih?" Siska yang sedang menyapu langsung menyambut Rumi dengan nada riang bertanya.
Rumi berusaha tersenyum. "Makanannya, Sis, ternyata udah abis aja," jawaban berbohong kesekian kali. "Ini udah bisa masuk, 'kan?"
"Oh ya udah toh, Mbak. Masuk aja, ambil apa yang dibutuhkan, tapi, inget kudu bayar hehe."
Kepala Rumi menggeleng kecil, langkah pun membawa diri masuk ke dalam pet shop. Melihat-lihat semua perlengkapan yang tersedia di sini sungguh membuat otak Rumi sibuk memikirkan apa yang harus ia beli untuk kucing-kucing manisnya. Dan itu menyehatkan mental.
"Ini anabul siapa, Sis? Bos?" tanya Rumi sesaat matanya mendapati kandang yang biasa kosong sudah terisi satu kucing persia berbulu abu-abu.
"Punya pelanggan, Mbak. Dianya pulang kampung naik pesawat, jadi deh si dedek dititipin, paling cuma dua hari," jawab Siska masih terus menyapu.
Rumi angguk-angguk paham, memilih berjongkok di depan kandang dan tersenyum tulus kepada kucing manis itu. "Jantan atau betina nih?"
"Betina, Mbak. Katanya sih lagi birahi hahaha. Entar si abang mau digabungin ke situ pas ibuk bos dateng."
"Ih kacian, mau kawin iya? Sini elus dulu." Rumi memasukan jari telunjuknya dari celah-celah kandang, dan hal mengejutkan sebab kucing itu mendekati jari Rumi, menerima belaian jarinya. "Ya ampun, pengen diajak main ini, Sis. Kasian tau dikandangin terus."
"Ya, 'kan Siska baru sampek, Mbak. Lagian, entar juga Siska jaga toko, nggak mungkin main sama dia."
Rumi hela napas lesuh. "Aku ajak main boleh?"
Siska menoleh, menatap Rumi. "Boleh! Tapi, emangnya Mbak nggak ke toko?"
"Entaran aja itu, main bentar sama bayi bulu." Dengan sigap Rumi membuka kunci kandang, mengeluarkan kucing yang langsung melompat ke atas pangkuannya. Kontan saja hal itu membuat Rumi tartawa pelan, tapi, tak lama si cantik berbulu justru meronta dan berlari mengincar pintu keluar toko. "Sis! Dianya mau kabur!" panik Rumi berdiri dari posisi, siap mengejar.
Namun, baru mengambil dua langkah, anabul sudah ditangkap oleh tangan besar yang masih Rumi kenali bentuknya. Itu ..., Barra.
"Kalau dia sering dikandangin terus dikeluarin, lebih baik lakukan di ruangan tertutup, Mbak," ujar Barra memasuki pet shop.
Rumi mengerjap, kebetulan macam apa ini? Kenapa ia bisa bertemu lagi dengan orang yang sama dan di tempat yang sama pula?!
"Ini." Barra memberikan anabul kepada Rumi.
"Terima kasih," ujar Rumi menerima, menggendong erat, matanya pun tak lepas dari menatap Barra.
"Sama-sama," balasan ramah, Barra menjulurkan tangan kanannya, mengusap kepala kucing itu. "Punya Mbak?" tanyanya.
"Hm? Oh bukan, punya pelanggan pet shop sini."
Kepala Barra mengangguk paham.
Tiba-tiba Siska datang. "Aduh ampun deh Mbak Rum, untung bisa ketangkep, kalau nggak bisa digorok aku sama ibuk bos," ujarnya heboh, membuat Rumi meringis kecil dalam hati sambil melirik Barra yang tersenyum geli.
Sialan, kenapa jadi seperti ini? Tapi ..., satu hal Rumi sadari, ia berhasil melupakan sakit di hatinya, sakit di batinnya.
"Maaf, Siska yang cantik. Niat Mbak baik kok, nggak mungkin biarin kamu susah."
"Iya aku tahu, tapi udah deh, masukin-masukin, serem, Mbak! Kalau kabur terus ilang gimana?"
Sekarang Rumi merotasi bola mata, tak ayal tetap mematuhi kalimat Siska. Sedang Barra, sedari tadi ia hanya menatap, menjadi penonton tanpa bayaran.
Lalu, Siska beralih menatap Barra. "Masnya mau ambil barang semalem ya?"
"Iya," jawab Barra menatap Siska.
"Tunggu sebentar ya, bos saya belum dateng, Mas. Kayaknya sekitar sepuluh sampai lima belas menitan, it's oke?" tanya Siska ingin memastikan.
"Iya, tidak apa-apa, saya tunggu," jawab Barra kembali menatap ke arah Rumi yang sudah kembali memasukan kucing tadi ke dalam kandang.
"Oke!" Siska beralih pada Rumi. "Mbak Rum," panggilnya.
Rumi menoleh. "Iya?"
"Aku ngepel bentar ya, Mbak Rum kalau udah kelar belanjanya, letakin aja di meja kasir, entar kelar ngepel langsung kita itung," ujar Siska meminta pengertian. Siapa suruh juga dua pelanggannya itu datang pagi-pagi sekali, Siska masih repot.
"Aman, lanjut kerja aja," jawab Rumi memberikan ibu jari.
"Sip!" Siska pun auto bergerak cepat enyah dari hadapan Rumi dan Barra, ia melangkah menuju kamar mandi toko.
Yang ditinggalkan sama-sama diam, Rumi lah yang bergerak menjauh, melihat ke area rak makanan. Alasannya adalah ingin membeli ini, tak mungkin tak jadi ia beli.
__ADS_1
Sedang Barra, pria berusia tiga puluh tahun itu mengikuti ke mana punggung Rumi bergerak. Dia ..., merasa ditarik oleh magnet tak kasat mata oleh Rumi. Dan ini kali pertama ada seorang wanita yang berhasil membuat Barra merasakan hal tersebut, hal hebatnya, perasaan itu datang di pertemuan kedua mereka, pertemuan tak sengaja.