
Rumi menutup pintu toko roti, akhirnya hari ini terlewati dengan baik setelah banyak drama tak jelas yang menghampiri.
"Hah ...." Rumi menghela napas, memutar tubuh setelah mengunci pintu. Ia tatap toko roti ini, bayang adegan tadi siang menghampiri ingatan, bagaimana marahnya Lian, bagaiamana baiknya Barra.
Barra ..., bisa Rumi tebak usia pria itu pasti lebih tua dari dirinya, tapi, dikarenakan baru mengenal, tentu menanyakan umur bukan lah hal yang sopan. Mungkin, lain kali jika mereka kembali bertemu di pet shop langganan, Rumi akan memanggilnya lebih sopan, entah pak, mas, atau abang, mana pun jadi.
Menghela napas sekali lagi, Rumi melangkah lebih dalam memasuki toko. Ia rapikan beberapa yang bisa ia rapikan. Mungkin, Rumi membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya ia mendekati kandang dua kucing kesayangan, melihat makanan peliharaannya itu. Rumi menemukan satu tempat makanan yang isinya sama sekali tak tersentuh.
Dahi Rumi mengerut, ia jongkokkan tubuhnya, ia lihat keadaan kedua kucing kesayangan.
"Loh, Leo?! Kenapa kok lemes banget!" panik Rumi membuka kandang, mengambil kucing jantannya yang sangat lemas. "Leo!" Tapi, Rumi semakin panik, air liur Leo sudah keluar ke mana-mana, bahkan kucing jantan Rumi itu tak bisa menopang tubuh sangkin lemasnya.
"Hei, Sayang kenapa?! Ya Tuhan Leo sakit apa?" Tubuh Rumi bergetar, tangannya menyaka liur yang keluar dari mulut Leo. "Kita harus ke dokter, harus!" monolog Rumi meraih pet cargo, memasukkan Leo ke dalam sana lantas berdiri dari posisi berjongkok, ia angkat pert cargonya, meninggalkan Lili si kucing betina sendirian di dalam kandang.
Secepat mungking Rumi harus sampai ke klinik hewan, apalagi ini sudah pukul sembilan malam, kecil kemungkinan klinik tempat ia biasa grooming masih buka.
"Sabar ya, Nak, ya. Aku usahakan cepat sampai," ujar Rumi membuka pintu toko, sendirian memang penuh pengalaman.
...*****...
Barra baru saja selesai menginfus satu kucing yang menginap di kliniknya karena sakit, kucing itu mengalami radang gusi sehingga penurunan nafsu makannya begitu terlihat.
Lalu, sekarang Barra akan bersiap-siap pulang, kasir juga sudah pada pulang, hanya tersisa Barra dan satu staffnya yang akan berjaga malam kalau-kalau ada peliharaan orang yang emergency, perlu segera ditangani.
Well, setelah menghabiskan beberapa menit, akhirnya Barra sudah berganti pakaian, lantas sekarang merapikan tas kerja dan meraih ponsel dari atas meja kerja.
Barra keluar dari ruang prakterknya, melangkah mendekati staf pria yang berhajaga malam. "Saya pulang dulu, kalau ada emergency dan kamu tida bisa menanganinya, segera hubungin saya, pasti saya usakan untuk datang," ujar Barra pamit pada stafnya.
"Oke siap, Dok!" balas si staf bernama Panji.
Barra mengangguk, ia rogoh saku celananya guna mengeluarkan kunci mobil.
Baru lagi Barra ingin melangkah, tiba-tiba pingu klinik terbuka.
"Permisi."
Barra mengenal suara itu, beberapa detik kemudian tatapannya bertemu dengan pemilik suara.
"Rumi?"
"Loh, Barra?!"
Sama-sama terkejut, keduanya berhasil membuat Panji terdiam melirik mereka berdua.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rumi memasuki area klinik.
"Aku? Aku dokter hewan di sini," jawab Barra jujur.
__ADS_1
"Sekaligus pemilik klinik," sambung Panji menambahkan kalimat Barra.
Rumi terkejut, matanya membulat dan mengerjap. Dia sungguh tidak menyangka klinik tempat biasa ia memandikan kedua kucingnya adalah milik Barra. "Wow," gumam Rumi, masih tetap terkejut sendiri.
Melihat reaksi berlebihan itu, Barra berdeham membersihkan tenggorokan. "Hkm! Kamu mau ke sini?" tanyanya berharap segera bekerja.
"Oh! Astaga, aku kelupaan! Ini, tolong periksa kucing aku, Leo mulutnya terus berair dan dia lemes nggak selera makan," jawab Rumi menjelaskan, mengangkat pet cargo yang ia bawa guna diperlihatkan kepada Barra.
"Ayo masuk ke ruangan aku," ajak Barra tanpa pikir panjang. "Panji, ikut saya juga," lanjutnya.
Sigap Rumi dan Panji mengikuti Barra yang kembali membuka ruang praktek pria itu.
"Kucingnya dikeluarkan dari pet cargo, Rumi," titah Barra lembut.
...*****...
Kedua mata Rumi tak henti-hentinya menatap Barra penuh kagum saat pria itu memeriksa Leo, terlihat sangat serius dan berbeda, hanya saja aura lembutnya masih sama, bahkan lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena Barra tengah menangani hewan.
"Siapa tadi namanya, Rum?" tanga Barra melepas masker yang ia kenakan.
"Leo!" jawab Rumi cepat, berdiri dari duduk sebab melihat Barra melepas masker.
Barra menatap si wanita. "Dari hasil pemeriksaa luar yang aku lakuin, Leo terkena radang gusi, kamu kemari, lihat dulu," ujar Barra meminta Rumi mendekat.
Wanita itu patuh, mendekati Barra dan Panji di ranjang pasien khusus hewan, saat itulah Barra membuka mulut Leo, memperlihatkan radang gusi yang dialimi si kucing.
"Dia? Lima atau enam bulan gitu."
"Hm, pantas, memang sedang memasuki masa pertumbuhan gigi."
Rumi mengangguk paham. "Terus, kenapa mulutnya berair banget? Dia juga nggak selera makan."
"Iya, untuk berairnya sendiri, ini karna Leo juga lagi sariawan, ini sariawannya." Barra kembali membuka mulut Leo yang ditahan oleh Panji, ia memperlihatkan ujung lidah kucing jantan itu, dan terlihat jelas sariawan yang Leo alami. "Kalau sariawan ini banyak penyebabnya, bisa aja karna terlalu banyak mengkonsumsi makanan basah, atau karena serangga, atau beberapa hal lainnya."
Kepala Rumi mengangguk paham. "Terus tadi aku lihat makanan keringnya sama sekali nggak kesentuh, Bar," adunya khawatir.
"Panji, ambilkan royal canin recovery," titah Barra pada bawahannya.
Panji pun mengangguk, lantas Barra mengambil alih Leo seutuhnya. "Sama seperti manusia, Leo nggak punya selera makan karna sakit gusi dan sakit sariwan di lidah. Kalau udah kayak gini, kita wajib maksa masukin makanan pakai spuit, Rumi. Dia lemas karna tidak makan-makan."
"Ah ..., i see," gumam Rumi mengangguk kecil.
"Kita periksa darah aja juga ya, hasilnya keluar hari ini juga, setelah itu nanti aku jelasin tindakan yang harus diambil biar dia sembuh."
Rumi mengangguk semangat. "Deal!" katanya mengundang senyum kecil Barra.
Bertepatan dengan itu Panji kembali, membukakan kaleng makanan yang ia ambil, pun mengambilkan spuit untuk Barra menyuapi Leo.
__ADS_1
Lengkap semunya, Panji memberikan kepada Barra yang menerima baik.
"Kita ambil darah dia, Panji. Siapin alat-alatnya," titah Barra lagi, kini pria itu sibuk menyuapi Leo agar lebih bertenaga.
Dan demi apapun, Rumi melongo melihatnya, kenapa Barra begitu mudah menyuapi Leo dengan alat itu? Kalau Rumi yang melakukan, bisa-bisa makanan tidak masuk, Rumi pun ditinggalkan oleh Leo karena kucing itu meronta tak jelas.
"Leo udah vaksin, Rumi?"
"Vaksi? Oh! Belum, aku belum sempat ngevaksin dia, waktunya selalu nggak ketemu," jawab Rumi meringis dalam hati, semua ini karena ia terlalu sibuk dengan kebejatan Lian.
"Baiklah, nanti saat dia sehat seutuhnya, aku vaksinkan, semoga Leo segera sembuh," ujar Barra masih terus menyuapi Leo yang terlihat lumayan segar dari sebelumnya. "Leo rawat inap saja kamu keberatan?" tanya Barra memastikan.
...*****...
Pada akhirnya Leo rawat inap di klinik Barra, dan pria itu langsung yang merawat Leo dengan mengambil keputusan untuk tidak pulang dari klinik.
Well, Rumi masih berada di klinik Barra, menunggu pria itu menginfus Leo, memberikan vitamin dan beberapa yang dipelukan.
Mungkin butuh sekitar lima belas menit lebih sampai akhirnya Panji keluar dari ruangan Barra sambil menggendong Leo, membawa kucing Rumi itu ke dalam kandang yang sangat nyaman.
Lalu, dilanjutkan keluarnya Barra. "Kenapa belum pulang? Ini udah jam sebelas malam, Rumi."
"Aku cuma mau mastiin Leo aman, 'kan?"
Barra mengangguk. "Aman, dia akan diinfus makan dan vitamin. Besok sore kamu udah bisa menjemput Leo."
Rumi lega. "Hah ..., syukurlah, rasanya jantung aku mau copot karna khawatir," adu Rumi menatap Barra lemas.
Barra tersenyum. "Kamu tau klinik ini dari siapa?" tanyanya cukup penasaran.
"Ini klinik langganan aku mandiin Leo! Aku suka sama kinerja klinik sini, kalau abis mandi pasti Leo sama Lili luar biasa wangi, dan mandi di sini terbilang murah dari yang lain, jadi deh aku milih langganan aja."
Kepala Barra mengangguk paham.
"Jadi kamu dokter hewa? Dan kamu juga pemilik klinik ini?" tanya Rumi cukup penasaran.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Barra tersenyum kecil.
"Nggak nyangka bisa kebetulan gini, mana pas banget kita yang ketemu!"
Barra mengangguk setuju. "Takdirnya lucu," ujarnya.
Rumi tertawa pelan. "Well, jujur sama aku kamu ke pet shop tempat kita pertama kali ketemu tuh ngapain? Aku lihat-lihat, kamu juga jualan pangan," ujar Rumi mencium bau mencurigakan.
Barra tertawa kecil, menyaku satu tangan sembari menatap Rumi geli. "Aku sedang melihat harga pasaran yang pet shop ia pasang, menyelinap ke kandang lawan untuk bersaing harga."
"Hei!" Rumi terkejut. "Ganteng-ganteng Pak Dokter licik!" lanjutnya sukses membuat Barra tertawa, sama halnya Rumi yang juga terpancing tertawa.
__ADS_1
Dalam hati, Barra menahan diri, menahan dari girangnya permaian takdir yang terus mempertemukan mereka. Jika memang ada kejutan dan harapan untuk Barra melangkah mendekati Rumi, Barra harap, wanita ini segera menyelesaikan masalahnya, dan apabila Rumi bersedia, Barra tidak keberatan menemani proses itu.