
Barra tidak pulang, ia menjaga kucing Rumi satu malaman, memastikan Leo aman dan sehat dipagi hari. Pria itu pun memilih tidur ayam, yang sebentar-sebentar tersentak dari lelap, jangan heran jika pagi ini ia terlihat kurang segar.
Barra baru keluar dari ruangan, meregangkan tubuh dan, tidak menyangka kliniknya sudah ramai saja, rata-rata antrian grooming.
"Dok, tadi ada yang mau pemeriksaan, tapi saya bilang Dokter belum dateng, soalnya Dokter belum keluar-keluar dari ruangan," ujar Panji sudah terlihat menyandang ranselnya, pasti mau pulang, shifnya habis.
"Baik, konfirmasi sama Haris, saya terima konsul setelah jam makan siang," balas Barra mengacak rambutnya yang terasa membuat kepala bertambah berat.
"Oke, bentar ya, Dok," pamit Panji berjalan ke ruanganan memandikan kucing.
Barra menghela napas, melihat-lihat anak bulu di sekitarnya. Klinik Barra memang terkenal bagus dalam hal memandikan kucing, harga ekonomis, hasil memuaskan. Tak heran banyak pelanggan yang terus kembali, menjadi langganan tetap, termasuk Rumi.
"Barra?" Tiba-tiba ada yang memanggil nama Barra.
Pria itu menoleh, menatap ke arah pintu masuk klinik. "Rumi?" terkejur Barra. "Pagi-pagi mau melihat Leo?" tanyanya sambil menyugar rambut, merapikan.
Rumi mengangguk tegas, setelah itu ia melangkah memasuki klinik. "Sambil bawain Pak Dokter sarapan ala orang barat," ujarnya mengangkat bungkusan yang bisa Barra tebak berisi sekotak roti.
Barra tersenyum geli. "Ternyata menjadi dokternya Leo memiliki hak istimewa sendiri."
"Hahaha, off cours!" sahut Rumi tertawa.
Barra pun tak kuasa menahan senyum lebar. "Ayo ke ruangan aku aja," ajaknya melangkah mendekati pintu ruangan.
Rumi mengikuti, tak sempat mengangguk sebab Barra sudah melangkah meninggalkannya.
Cklek.
Pintu ruangan kembali Barra buka, ia pun masuk yang diikuti oleh Rumi. "Kamu pagi-pagi ke sini, memang tidak ada kesibukan?" tanya Barra sekadar berbasa-basi.
"Semua kesibukan pagi udah selesai, nanti selesai jam makan siang baru kembali sibuk," jawab Rumi mendekati kursi yang tersedia.
Barra mengangguk-angguk paham, juga mendudukan diri. Ia tatap Rumi yang mengeluarkan kotak dari dalam bungkusan, lantas terlihatlah gambar toko roti milik Rumi.
"Aku bawain roti resep baru, kamu orang pertama yang nyobain ini. Kasih ulasan super jujur tanpa tipuan sedikit pun, karna niatnya mau aku jadiin menu utama besok pagi," ujar Rumi membuka kotak, memperlihatkan pada Barra beberapa roti bakar mengkilau dengan bijik wijen di atasnya
"Aku kelinci percobaan?" tanya Barra berniat menggoda saja.
"Bisa jadi, karna kita baru kenal."
__ADS_1
"Oh, haruskah aku percaya roti ini tidak ada apa-apanya?" Barra meraih satu roti dengan tangan kanan.
"Jangan pernah percaya pada siapapun selain dirimu sendiri, Barra. Well, boleh aku tau umurmu? Aku rasa aku sudah bersikap tidak sopan."
Barra tertawa pelan, ia melirik Rumi. "Umur? Ada apa dengan umur?" balasnya balik bertanya.
"Jujur saja, tidak perlu malu," sajut Rumi memicimgkan mata. "Kamu dua puluh tujuh? Atau dua puluh delapan?"
Satu alis Barra menungkik, ia memasukkan roti buatan Rumi ke dalam mulut, mengunyah terlebih dulu sebelun menyahuti. "Wajah ini terlihat muda?"
"Ha? Lebih dari dua puluh delapan?!" terkejut Rumi mengerjap. "Kamu empat puluh tahun?!"
"Apa wajah ini terlihat tua?" Lagi Barra bertanya, ia menikmati wajah Rumi yang terlihat kebingungan.
"Jangan main-main ya, Barra!"
Barra mengedikan bahu, dan sumpah Rumi merasa pria di depannya mulai terlihat menyebalkan, dokter menyebalkan.
"Ck," decak Rumi menyandarkan punggung ke badan kursi, ia lipat kedua tangannya di bawah dada. "Terserah lah, intinya aku manggil nama saja."
"Hm." Barra mengangguk. "Itu lebih baik," ujarnya.
"Anyway, rotinya enak, perfect, jadikan saja menu utama," lanjut Barra meraih air mineral gelas, menusuk sedotan dan, menyirami tenggorokan.
"Hm," sahut Rumi singkat.
Barra geleng kepala kecil, tahu ngambek juga wanita itu, tapi, Barra suka, bukankah artinya Rumi mulai nyaman di dekatnya?
"Aku tiga puluh tahun," info Barra menatap Rumi lembut.
Lambat-lambat wanita itu melirik Barra, rasa kesalnya menyurut. "Aku panggil nama aja?" tanya Rumi sudah kembali menatap lawan bicara.
"Senyaman kamu, well, boleh aku bertanya?" Barra ikut menyandarkan punggung ke badan kursi.
"Tentang apa?" tanya Rumi.
"Kamu, tentang kamu."
Dahi Rumi mengerut. "Aku kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamu masih tinggal dengan suami kamu?" Barra hanya ingin tahu kenapa kemarin malam Rumi datang sendirian ke kliniknya, dan Barra sangat ingin tahu sebenarnya bagaimana kehidupan seorang Rumi, walau berhatap, setidak ya sedikit demi sedikit Barra mulai mengetahui.
"Kenapa menanyakan itu?" tanya Rumi balik.
Diam-diam Barra hela napas kecil. "Memastikan saja."
"Kenapa memastikan?"
"Rumi, aku terlalu peduli untuk tidak ambil peduli pada wanita yang malam-malam datang ke klinikku seorang diri untuk mengantar seekor kucing, padahal dia memiliki suami."
Rumi tidak langsung menjawab, matanya menerawang, menatap lurus ke arah roti di dalam kotak. "Aku sudah keluar dari rumah suamiku," jawabnya datar.
...*****...
Pagi-pagi sekali Lian sudah datang ke toko roti Rumi, mencari sang istri yang batang hidungnya benar-benar tak terlihat. Awal mula Lian kira Rumi bersembunyi darinya, tapi, setelah Lian pikir-pikr, ia memang tak mendapati mobil Rumi di parkiran.
Memilih menunggu di toko roti, Lian tak bisa tenang, ia sangat ingin segera bertemu Rumi, membujuk wanita itu untuk pulang dan membatalkan niat untuk bercerai.
"Mas!" Tiba-tiba suara Sofi terdengar, membuat Lian yang sedari tadi melamun dengan kepanikan di dalam kepalanya, terkejut batin.
"Sofi? Kamu ngapain ke sini?" tanya Lian menatap terkejut istri keduanya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Mas, ngapain di sini? Tadi Mas pamitnya pergi ke cafe!" Sofi terlihat kesal, marah.
Lian mengumpat dalam hati, ia berbohong juga demi kebaikan, itu menjaga perasaan Sofi, menghindari perdebatan, bahkan keributan di antara mereka.
"Mas, bohong?! Demi bertemu mbak Rumi, Mas, berbohong?!"
"Duduk, Sofi."
Kepala Sofi menggeleng, ia tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Rumi. "Aku nggak tau apa tujuan Mas ke sini, yang pasti sebagai istri Mas juga, aku nggak ikhlas dibohongin."
Lian langsung menggusap wajah kasar, berdiri dari duduknya, meraih tangan Sofi untuk dibimbing keluar sari toko roti. Bukannya apa, Lian hanya tidak mau mereka menjadi bahan tontonan pelanggan Rumi, ujung-ujungnya toko Rumi juga yang terkena dampak negatifnya.
Namun, sesaat mereka baru keluar dari cafe dan ingin melangkah menuju parkiran, mata keduanya mendepati Rumi keluar dari mobil yang tak mereka kenali.
Tatapan Rumi dan Lian bertemu, pun tatapan Rumi dengan Sofi.
Dari dalam mobil, Barra keluar, mendapati tangan Lian yang menggenggam tangan Sofi tepat di depan Rumi.
__ADS_1
Ternyata kehidupan wanita penarik hati Barra tak semudah yang terlihat. Kira-kira apalagi yang akan Barra ketahui pagi ini?