
Indera penglihatan Barra tak henti-hentinya menghunus Rumi yang duduk sendirian sembari menunduk menatap nomor antrian, perlahan rasa berdosa menghampiri Barra sebab bisa-bisanya ia senang di atas kesedihan Rumi.
Namun, kalau boleh jujur, semua itu ya karena disetiap manusia ada yang namanya sifat egois, perasaan ingin menang walau itu menyakiti orang lain.
Barra memang tidak tahu apa-apa tentang Rumi, tapi, ia ingin menjadi apa-apa bagi wanita itu. Entah debu yang menempeli pakaian Rumi, atau sekedar daun yang hinggap pun tidak masalah.
Menarik napas, Barra menatap Rara yang sudah kembali menghampiri dirinya. "Udah yuk balik, Bang," ujar sepupu Barra itu.
"Kamu duluan ke mobil, Abang pamit dulu sama temen Abang," balasnya memberikan kunci mobil kepada Rara, setelah itu kembali melangkah mendekati Rumi.
"Temen? Dih, tinggal bilang demen aja susah. Ck, selera Abang aku kenapa cantik banget ya? Insecure deh jadinya," gumam Rara jujur tak bisa berbohong, Rumi memang terlihat sangat cantik, sayang saja auranya meredup. "Tapi, kenapa temen Abang itu ada di sini? Jangan bilang istri orang yang baru mau cere? Astaga, Abang seleranya istri orang!" Dan berlanjut terus lah gumaman Rara itu, bahkan saat ia sudah melangkah menuju parkiran mobil.
Di sisi lain, Barra menghela napas berulang, menyiapkan mental tempe yang baru kali pertama mendekati seorang kaum hawa. "Rumi," panggilnya lembut.
Rumi menoleh. "Iya?" sahutnya.
"Aku pulang duluan, kalau kamu ada apa-apa yang mau dibantu." Barra mengeluarkan dompetnya dari saku celana, berniat memberikan kartu namanya, tapi sungguh disayangkan kartu nama Barra habis. Cerdiknya ia mengeluarkan kartu nama Wira yang ia dapatkan dari si adik. "Hubungin nomor ini saja." Barra putuskan memberikan kartu nama itu kepada Rumi. "Katakan kamu kenalan saya."
Rumi mengerjap, tak langsung menerima sodoran Barra. Ia terlalu terkejut akan tawaran yang diberikan oleh pria baru ia kenal ini. "Maaf, tidak perlu seperti ini," ujar Rumi menggeleng kecil, menolak kartu nama dari Barra adalah bisikan otaknya.
"Terima saja, Rumi. Siapa yang tahu ban mobil kamu bocor di jalan, atau apalah kondisi kamu yang memerlukan bantuan," ujar Barra meyakinkan. "Atau, anggap saja ini kartu nama jasa bantuan," lanjutnya mengajari Rumi mensuges otak.
Rumi tersenyum kecil, tak menyangka Barra adalah salah satu pria pemaksa. Jadi, mau tak mau ia terima kartu nama itu, ia baca dan dahinya mengerut mendapati nama yang berbeda, bukannya Barra tapi malah Wira.
"Itu kartu nama adik aku, semoga kamu segera menghubunginya. Aku permisi." Barra pun pamit pergi dari hadapan Rumi, ia angkat ponselnya yang bergetar dan, mau tak mau melangkah sembari menerima panggilan adalah kegiatan Barra.
Rumi sendiri masih menatap punggung pria berperawakan dewasa itu, masih tak menyangka akhirnya berkenalan dengan pria yang ia kenal wajahnya di pet shop, sedang ia kenal namanya di pengadilan agama.
...*****...
"Di mana Rumi?" tanya Lian kepada kasir toko roti milik sang istri. Ia yakin Rumi ada di sini, dulu sebelum menikah dengannya pun Rumi tinggal di sini.
"Itu, Mbak Ruminya lagi keluar, Pak."
__ADS_1
"Dia bersembunyi?" tanya Lian yang kedua kali, tapi, nada tanya ini penuh fitnah.
"Untuk apa saya bersembunyi dari Anda?" Tiba-tiba terdengar suara Rumi dari arah pintu masuk toko.
Otomatis Lian menoleh, menatap ke arah sana. Rumi melangkah mendekatinya, begitu mereka berdiri saling berhadapan Rumi menyodorkan surat gugatannya kepada Lian.
"Apa ini?" tanya Lian menerima, membuka amplop pelindung berita keputusan Rumi
Si wanita pun memilih tak menjawab, ia biarkan saja suaminya itu mencari tahu sendiri.
Untuk hal itu Lian tak memerlukan banyak waktu, ia tatap Rumi setajam mungkin. "Siapa yang menyetujui ini? Jangan harap aku mau menandatanganinya!" Dengan kasar Lian membuang kertas pemberian Rumi.
Namun, wanita itu tak minat terpancing, ia mengangkat tinggi dagunya, melangkah melewati Lian yang tentu saja langsung menahan lengan Rumi. "Pulang!" titah pria itu dibalas seringai mengejek istri pertamanya.
Tanpa minat menjawab, Rumi menghempas kasar tangan Lian. "Saya persilakan Anda yang pergi dari sini."
"Rumi!" bentak Lian berhasil menarik semua tatapan ke arah mereka.
"Pulang atau kamu mau aku memaksa?" bisik Lian menggeram.
"Permisi, maaf, ada apa ya Mba ribut-ribut?" tanya salah satu pelanggan yang dengan beraninya mendekati Rumi dan Lian.
"Bukan urusan lo, cabut dari sini!" amuk Lian menatap pelanggan Rumi dengan tajam.
Namun, Rumi yang menahan. "Masnya, dia mantan suami saya dan dia meminta saya untuk pulang ke rumahnya, padahal kita sudah bercerai."
"Shut up! Tidak ada perceraian di sini!" bisik Lian dengan wajah memerahnya.
Rumi ambil peduli? Jangan harap. "Tolong bantu saya untuk mengusirnya ya Mas," mohon wanita itu terus menghempas tangan Lian yang meraih tangannya, hal itu sudah dilakukan berulang-ulang.
Tanpa diduga-duga pintu toko roti kembali terbuka, dan betapa terkejutnya Rumi mendapati wajah yang sangat ia kenali kini pun tengah menatapnya.
"Pulang!" Lian juga kembali melayangkan titah.
__ADS_1
Mau tak mau perhatian Rumi untuk Barra tertuju kepada Lian lagi. "Anda tuli? Saya katakan saya tidak mau!" Sekuat tenaga Rumi mendorong tubuh Lian, setelahnya ia melangkah pergi dari keributan yang ada.
Sayang, Lian juga bukan tipe pria yang bisa berperilaku baik saat dalam keadaan emosi. Ia raih lagi tangan Rumi, kali ini ia seret paksa tubuh wanita itu.
Rumi berontak, mustahil tidak. Tapi, saat mereka melewati Barra yang sedari tadi hanya diam menyimak, pria itu dengan mudahnya menarik Rumi dari Lian, menyembunyikan wanita itu ke balik tubuhnya.
Barra tak membuka mulut, ia dan Lian saling menatap tajam.
"Lo siapa lagi?! Lepasin istri gue!"
"Dia bilang dia tidak mau, Anda tidak punya hak memaksanya."
"Dia istri gue!
"Mantan?" tanya Barra bernada mengkoreksi.
"Gue sama dia belum bercerai, dan nggak akan pernah bercerai. Lepasin istri gue!" jawab Lian meraih kerah kemeja Barra.
Rumi lumayan panik, tapi, tangan Barra yang menggenggam pergelangan tangannya kian mengerat, tanda larangan dari pria itu untuk Rumi bergerak.
Sedang Barra menungkikkan satu aliasnya, sama sekali tidak takut akan gerakan Lian yang menurutnya sangat kekanakan. Dilihat dari wajah, pria di hadapan Barra memang masih anak-anak.
"Lo bukan siapa-siapa, lepasin istri gue atau lo tau akibatnya," bisik Lian sangat menggeram.
Barra tersenyum kecil. "Lalukan, apapun yang mau lo lakukan, silakan lalukan," balas Barra juga berbisik.
Dalam hitungan detik tiba-tiba.
Bugh!
Lian nekat menonjok rahang Barra.
"Barra!" panik Rumi sedikit berteriak.
__ADS_1