Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Teman?


__ADS_3

Dari bangun tidur Rumi sudah sangat sibuk di dapur toko, ia terus membuat adonan bahkan saat karyawannya sudah datang, Rumi tetap di dapur. Sesekali ia memerintah, dan sesekali melihat hasil menu baru yang ia buat. Sampai-sampai Rumi tidak menyadari jarum jam terus bergerak dengan santainya, menunjukkan pukul sebelas tanpa Rumi isi dengan sarapan, wanita itu hanya mengisi perut dengan mencicipi adonan, dan yang terakhir mencicipi saat bolu sudah jadi.


Tok, tok.


Pintu dapur diketuk.


"Mbak Rum, ada temen Mbak Rumi yang dateng nyariin di depan," ujar salah satu karyawan.


Rumi menoleh, menatap ke arah pintu dengan dahi mengerut. "Siapa? Khaira? Suruh masuk ke sini saja."


"Oh bukan, Mbak. Dia cowok yang dua hari ini bareng Mbak Rumi."


Tanpa perlu berpikir jauh, Rumi sudah tahu siapa yang dimaksud, pasti Barra. "Tolong minta dia menunggu sebentar," ujar Rumi langsung menghilangkan kerutan di dahi, tapi memasang mimik tegang, gugup tak menentu. Oh jangan berprasangka baik terlebih dulu, Rumi gugup bukan karena sesuatu yang special, justru ia gugup karena sesuatu yang buruk, merasa sangat tidak punya muka untuk bertemu dengan Barra. Perasaan yang ia rasakan ini sama seperti bertemu teman setelah menunggak bayaran hutang, sangat malu.


Menghembuskan napas pelan, Rumi melepas sarung tangan plastik yang ia kenakan, membuang ke dalam tong sampah lantas melangkah mendekati wastafel, ia butuh membasuh wajah yang pasti bertepung. Minimal jangan menambah rasa malu.


Sembari membasuh tangan, Rumi berpikir. "Sikap seperti apa yang harus aku perlihatkan? Nada bicara bagaimana yang harus aku gunakan? Ck, udah dibilang jangan dateng juga nggak guna, ternyata otaknya keras." Rumi mendengus kasar, ia keringkan wajahnya dengan tisu kering yang tersedia, setelah itu barulah sedikit merapikan rambut. Oh Tuhan, rasanya Rumi sangat tidak ingin bertemu dengan Barra, tapi, apakah itu bukan sikap kekanakan? Jelas kekanakan.


Bersama jantung yang bergetar bak bertemu penagih hutang, Rumi membuka pintu dapur, sial sungguh sial matanya langsung bertemu dengan mata Barra yang ternyata menatap ke arah pintu.


"Leo is home," ujar Barra mengangkat pet cargo yang sedari tadi ia tenteng.


Rumi membulatkan matanya, melotot girang sampai-sampai lupa dengan perasaan gugup yang tadi menerpa dirinya.


Dengan gerakan cepat kaki melangkah, keluar dari area terlarang bagi pelanggan. Ia kikis jarak dengan Barra yang tersenyum lembut, sedikit lega akan reaksi yang Rumi perlihatkan.


Begitu jarak mereka sudah dekat, Barra menurunkan pet cargo milik Leo, ia buka pintunya hingga kucing jantan itu keluar dari dalam sana.


"Leo!" girang Rumi auto menggendong si anabul, melihat segarnya mata yang kucing itu perlihatkan.


Senyum Barra semakin melebar. "Ini aku bawakan obat yang harus kamu kasih rutin sama dia, nafsu makan udah bertambah tapi radang sama sariawannya belum sembuh total, hanya mereda."


"Jadi Leo belum sembuh total?" tanya Rumi menatap Barra.


"Belum, kamu bisa memberikan obatnya bukan?"


Rumi meringis kecil, ia tatap Barra dengan tatapan tak meyakinkan, lantas akhirnya menggeleng kecil.


"So? Mau aku ajarkan atau aku yang setiap hari ke sini?" tanya Barra lembut.


Mata Rumi melotot, Barra setiap hari ke sini? Bisa gila dirinya! Segera menggeleng, Rumi berkata, "Coba ajarkan aku, nggak mungkin kamu setiap hari ke sini."


"Kenapa nggak mungkin?" tanya Barra menutup pintu pet cargo, lalu, berdiri tegak yang berakhir melangkah menuju salah satu meja kosong.


Tentu Rumi mengikuti. "Ya nggak mungkin, just nggak mungkin."


Barra hela napas, ia sudah tahu jawabannya, tak pala perlu Rumi sembunyikan. Ternyata benar yang Wira katakan, Rumi pasti sulit digapai.


Menarik napas, Barra tak mengatakan apapun, ia lebih memilih mengeluarkan obat-obatan yang ia bawa dari dalam kresek.


Rumi mendudukan diri, melepas Leo dari gendongan agar fokus mendengarkan Barra.


"Jangan dilepaskan, kamu mau belajar jadi lihat cara aku memberikan obatnya."


"Oh! Maaf, aku nggak tau kalau Leo juga dibutuhin." Rumi panik sendiri, ia pun bangkit guna mengejar Leo yang sudah berlari mendekati Lili.


Barra tersenyum geli. "Nggak mungkin aku praktekkan ke kamu," ujarnya.


Rumi auto menekuk wajah, sekali lagi ia mempermalukan dirinya di depan dokter hewan itu.

__ADS_1


Tidka butuh waktu lama Rumi sudah kembali dengan Barra, ia letakan Leo di atas meja, dan Barra meraih si kucing. Anehnya saat dipegang oleh Barra, Leo diam saja, tidak memberontak seperti saat dipegang oleh Khaira atau orang asing lainnya.


Menarik napas, Rumi diam memperhatikan kegiatan yang Barra lakukan, pria itu menyusun obat-obatan di depan Rumi, lebih tepatnya juga di depan Leo.


"Ini untuk menambah nafsu makannya," ujar Barra memulai, menunjuk satu wadah kecil berisi obat sirup. "Ini untuk gusi, ini untuk sariawan dan, ini untuk vitamin bulu," lanjut Barra menunjuk satu persatu obat yang ada.


Kepala Rumi mengangguk ragu, firasatnya tidak enak soal ini.


"Sudah hapal?" tanya Barra, "Jangan sampai obat gusi kamu berikan ke sariawannya."


"Hapal, kamu nganggep aku bego ya?!"


"Kenapa kesal? Aku bertanya Rumi, memastikan."


Rumi juga tidak tahu, entah kenapa ia gugup, menjadi sensitif dan berkelakuan kurang ajar. "Maaf ...," katanya berbisik pelan.


Barra tak langsung menjawab, hanya menatap Rumi dengan tatapan yang sulit dibaca, bahkan oleh Rumi sendiri.


Sama-sama diam, satu menatap lawan sedang satu menatap kucing yang pun menatapnya.


"Hah ...." Lagi dan lagi menghela napas, Barra meraih spuit untuk memberikan obat kepada Leo. "Dia sudah mau makan sendiri, tapi berikan makanan basah dulu," ujar Barra mulai meraih salah satu obat.


Dari sana barulah Rumi berani menatap Barra, memerhatikan setiap sudut wajah pria itu yang terlihat banyak pikiran.


"Perhatikan dengan baik," ujar Barra melirik Rumi, memergoki wanita itu tengah menatapnya.


Dan Rumi terkejut, langsung mengangguk, beralih menatap tangan Barra.


Ah ..., wanita satu ini, bisa tidak bersikap seperti itu tidak? Barra bisa dibuat gila dengan sikap Rumi yang begitu labil.


...*****...


"Dicoba, nanti sekitar jam delapan malam beri ia obat lagi."


"Barra, yang ada dia tambah sakit karna gusinya ketusuk ujung spit." Rumi menggeleng, yakin seribu persen ia tak akan bisa, tidak mungkin bisa.


Barra melepaskan Leo terlebih dulu, lalu, ia sandarkan punggungnya ke badan kursi. "Jadi, kamu mau bagaimana?" tanya Barra.


"Mending rawat di tempat kamu dulu sampai Leo sembuh total, perihal biaya langsung katakan saja, pasti aku lunasi di muka."


"Ini bukan perkara biaya, Rumi. Aku tahu kamu mampu, dan lagipula, aku tidak akan menerima uangmu." Barra kembali menegakkan duduk, ia lipat kedua tangannya di atas meja. "Bukankah kamu yang mengatakan tak ingin bertemu lagi denganku?"


Damn! Rumi langsung memejamkan mata beberapa detik. Barra mengingat itu, mungkinkah tersinggung?


"Barra, kamu mengerti posisi aku, bukan?" tanya Rumi. "Bahkan kamu mengetahui semua yang sedang aku alami saat ini, tanpa perlu aku beritahu."


Barra tak merespon apapun selain menatap.


"Aku terlalu malu untuk kembali bersitatap denganmu," aku Rumi menunduk, menarik dan menghembuskan napas.


Tebakan Barra benar adanya. "Boleh aku berbicara?" tanya Barra lembut.


Rumi mengangkat kepala, menatap pria yang duduk di hadapannya, ia berikan anggukan untuk pria itu.


"Aku hanya ingin berteman, Rumi," ujar Barra ketara kaku, sialan, dia berumur tiga puluh tahun, dan masih harus bersikap seperti ini, sungguh rasanya Barra ingin tenggalam saja. Sabar, tolong berikan Barra kesabaran. "Walau kita belum lama mengenal satu sama lain, tidak ada salahnya berteman, right?"


Benar, Rumi akui memang tidak ada salahnya berteman, tapi juga, ia tidak salah merasakan perasaan malu pada Barra 'kan?


"Kita jalani saja hari seperti biasa, tanpa rencana apapun selain mengejar hal baik."

__ADS_1


Memang itu yang sedang Rumi incar, perasaan tenang tanpa rencana apapun selain bersikap baik. Tapi, rasanya Rumi masih jauh dari sana.


"Maaf udah ngomong seperti kemarin, aku benar-benar panik dan emosional." Rumi menunduk, ia mengaku bersalah pada Barra.


Belum sempat Barra merespon, tiba-tiba pintu toko roti terbuka.


"Rumi!" Ada yang memanggil Rumi dari sana, dan tanpa perlu membalikan tubuh atau sekadar menolehkan kepala, Rumi tahu itu siapa. Itu ..., mommynya.


Benar, itu mommy Rumi yang datang bersama Khaira, si hitam manis yang tengah diserang panik, percaya tidak percaya, Khaira pasti terkena semburan dari Rumi, dan yang paling parah, sekali lagi salah satu adegan penting dalam hidup wanita itu akan ditonton oleh Barra, Barra Mahardika.


...*****...


Barra pulang dengan isi kepala yang lagi-lagi terasa penuh, dan isinya masih sama, Rumi, Rumi dan, Rumi.


Tadi, saat wanita paruh baya yang datang ke toko roti Rumi itu menyuarakan perintah agar si pemilik toko mengikutinya, Rumi langsung meminta maaf pada Barra, permisi dengan meninggalkan perintah kepada karyawannya guna membungkuskan bolu gulung untuk Barra bawa pulang.


Jadi, di sini lah Barra sekarang, akhirnya bisa berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar.


Cklek.


Pintu kamar terbuka, satu kepala menyembul, dan saat Barra menoleh, ia menemukan wajah dan senyum manis bundanya.


"Bun?"


"Akhirnya tau pulang ya, Bang," ujar bunda membuka pintu kamar lebih lebar.


Barra mendudukan diri, menatap sang bunda, wanita paruh baya itu tengah melangkah masuk ke dalam kamarnya, mendekati ranjang dan duduk tepat di samping Barra.


"Ke mana aja sampek lupa pulang? Mentang-mentang udah kepala tiga dikira bisa bebas gitu?"


Barra langsung menggelengkan kepala. "Ya nggak gitu, Bun. Aku kebanjiran pasien."


"Oh ya?! Wih klinik anak Bunda tambah laris."


Langsung saja Barra tertawa pelan, yang ada-ada saja kalimat bundanya, dikira Barra dagang jajanan pakai kata laris segala.


Tidak menyahuti, Barra memilih mencium pelipis bunda, menghantarkan rindu dan maaf sebab tidak pulang sampai dua malam.


"Jadi, semuanya udah baik-baik aja?" tanya Bunda mendunga guna menatap wajah Barra.


Si anak mengangguk. "Sudah, semua sudah baik-baik saja," ujarnya tersenyum lembut, tidak ingin membuat bunda khawatir dengan keadaannya.


Bunda pun mengangguk, ia bawa tubuhnya sedikit mencodong ke arah Barra, lantas ia rapikan rambut anak yang sudah tua itu dengan kedua tangan sendiri.


"Jangan sering nggak pulang ya, Bang. Kalau kamu nggak pulang tapi ada yang ngurusin ya Bunda nggak masalah, minimal punya istri deh."


Sudah, Barra tahu ke mana arah kalimat itu, jadi ia usap lengan bundanya. "Jangan diburu-buru, Bunda."


"Loh, ya wajar dong, kamu udah kepala tiga tapi nggak pernah bawa perawan cantik ke rumah."


Barra tertawa pelan, itu memang benar. Mungkin bunda mulai resah, atau apa, entahlah. "Ini lagi usaha, jadi Bunda tenang aja. Kalau pun aku masih sendiri sampai kepala empat, rasanya tidak masalah"


"Heh! Mulutnya mau Bunda jait? Asal buka aja! Mana boleh kayak gitu!"


"Kenapa nggak boleh?" tanya Barra mengerutkan dahi, ingin protes. Bukannya apa, hidup seorang anak tidak bisa ditentukan dengan aturan orangtua, atua pilihan, sebab apa? Yang menjalani anak itu sendiri. Seperti halnya menikah. Andai bunda memaksakan Barra menikah disaat ia belum siap atau belum menemukan orang yang tepat, bisa saja rumah tangga Barra hanyalah ajang memenuhi kebutuhan sosial alias agar tak dibicarakan oleh orang-orang, tapi! Dampak negatifnya pasti sangat banyak, salah satunya Barra tak menikmati kehidupan yang ia punya.


"Abang, kalau nanti Bunda udah nggak ada, siapa yang ngurusin Abang kalau bukan pasangan?" tanya bunda menepuk paha Barra dua kali. "Bisa-bisa Bunda jadi arwah nggak tenang karna mikirin baju kotor anak yang suka ketumpuk kalau nggak dikutip, atau perut anak yang suka kosong sampai satu harian."


Barra hela napas, obrolan ini sudah merambat entah ke mana-mana. "Bunda, daripada kita ngelantur ke mana-mana, lebih bagus aku mandi dulu terus nanti aku ceritain semuanya sama Bunda."

__ADS_1


"Cerita apa? Sekarang aja!" Semangat bunda mengundang senyum Barra. Kalau sudah ibu ratu yang meminta dan bisa Barra kabulkan, maka semua terbongkar dari mulutnya. Harapan Barra ia mendapatkan saran berbeda, tidak sama seperti saran Wira yang membuatnya terlihat bak anak sekolah menengah atas sedang pdkt.


__ADS_2