Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Keputusan


__ADS_3

Rumi menyelesaikan makan malamnya dengan tenang, wanita itu menulikan telinga dari dua manusia yang sesekali mengeluarkan suara, tentu Lian dan Sofi.


Untuk malam ini Rumi terlalu malas mengeluarkan tenaganya, ia ingin tenang lalu terlelap, begitu saja pasti menyegarkan.


"Malam ini aku boleh tidur sama kamu, Rumi?" Lian kembali mengulang pertanyaan yang tadi tak Rumi berikan jawaban.


Namun, sayangnya Rumi tetap memilih tak menjawab. Ia hanya merasa pertanyaan itu tidak perlua ia jawab, biarkan Lian berpikir sendiri dari sikap bungkamnya ini.


Meraih gelas, Rumi meneguk minuman.


"Istri tidak sopan," gumam Sofi sinis. Tapi, telinga Rumi terlalu peka untuk tidak mendengar gumaman tersebut.


Byur!


Ia siram air yang tersisa di gelasnya ke wajah Sofi.


"Rumi!" tegur Lian.


"Mbak Rumi apa-apaan?!" bentak Sofi.


Rumi mengedikan bahu ringan. "Saya tidak punya sopan santun, jadi, wajar hal seperti ini terjadi," ujarnya santai, berdiri dari duduk, dan pergi dari meja makan dengan gerakan elegan.


Sofi dibuat kesal, sangat amat kesa! Kaum hawa yang tengah mengandung itu menggempalkan kedua tangannya. Cukup, ia merasa benar-benar cukup sudah diperlakukan begini oleh Rumi, setelah ini, jangan heran jika ada pembalasan dari Sofi.


...*****...


Barra menggelengkan kepala kecil saat mendengar jawaban adiknya kepada sang mama yang lagi-lagi kembali berusaha membujuk si anak.


"Bundaku sayang yang paling cantik sedunia, aku kerjanya halal ini, bukan ngepet," ujar Wira santai.


Bunda pun cemberut sendiri, beda hal ayah, beliau menghela napas, topik ini tak ada habis-habisnya. Sang istri tak kenal lelah membujuk anak bungsu.


"Bunda juga tau itu halal! Tapi, 'kan-"


"Gini aja deh, malam ini aku yang bayarin dinner ini biar Bunda nggak khawatir sama keuangan aku, gimana?" Wira memotong ucapan Bunda dengan begitu lembut, lalu, langsung mengangkat tangan kanan guna memanggil waiters.


"Kamu emang keras kepala, kayak batu!" ujar bunda semakin cemberut.


Wira hanya tersenyum geli, memberikan ciuman jarak jauh yang sukses membuat ayah dan Barra mendengus. "Lebih bagus kita bahas Bang Barra, Bun. Lama bener kawinnya, suruh cari pasangan tuh. Kucing aja ada pasangannya, masa Bang Barra enggak."


****! Barra auto menoleh menatap si adik yang meliriknya penuh rencana, seperti menjadikan tumbal proyek. Sedikit melotot pada Wira, Barra yakin, sebentar lagi ia akan kebal telinga mendengar ocehan bunda mereka.

__ADS_1


Wira memang paling jago membuat makan malam keluarga menjadi makan malam sesi ceramah keluarga dari sang bunda.


"Bener, kamu juga Bang! Kapan kasih Bunda menantu?! Perasaan ngasihnya kucing mulu, sampek-sampek udah ada empat ekor di rumah." Bunda terpancing.


Spontan Barra menghela napas kecil.


"Sayang, sudah jangan tekan anak-anak, mereka pasti punya alasan masing-masing dengan pilihan hidup mereka." Ayah buka suara.


"Ayah licik ya, giliran Bang Barra langsung dibantuin," celetuk Wira mengelurkan dompet dari saku celana ketika ia melihat waiters berjalan menuju mereka sambari membawa struk makan malam ini.


"Kebetulan aja Ayah juga udah capek dengerin Bunda," balas ayah kepada Wira.


Jangan heran bunda mencubit perut suaminya hingga pria paruh baya itu mengaduh kecil.


Waiters hanya bisa tersenyum manis melihat pemandangan di depannya, penampakan satu keluarga harmonis tanpa menantu.


"Aku lagi ketiban apes, Bun," ujar Barra jujur sembari mengingat wajah Rumi.


"Apes gimana? Abang ketemu cewek jadi-jadian?" tanya bunda kembali menatap anaknya.


"Yang penampilannya cewek tapi ternyata cowok ya, Bang?" tambah Wira.


Ini kali pertama Barra menanggapi ocehan bunda, dan semua menjadi begitu penasaran.


Barra menggeleng kecil, ia raih gelas yang tinggal berisi setengah minumannya. "Aku ketemu perempuan cantik." Barra meneguk minum.


"Terus? Dia nggak mau sama Abang banyak duit?" tanya Wira menanggapi.


Barra menggeleng kecil, dengan santainya berkata, "Dia istri orang."


"Astaga, Abang!" panik lah bunda mendengar berita tersebut.


*****


Padahal, istri orang yang dimaksud Barra itu tengah mengisi formulir perceraian secara online.


Rumi sudah yakin, mengurus perceraian juga tak sebentar, dan setelah ia renungkan, Rumi memilih membalaskan rasa sakitnya sambil mengurus perpisahan, agar si Sofi-sofian itu tahu, bahwa suami yang sangat Sofi hormati hanyalah barang bekas dari Rumi.


Tok, tok.


Pintu kamar Rumi diketuk, ia lirik daun pintu tersebut. Belum memberikan respon positif dengan suara.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


Namun, pintu kembali diketuk.


Baiklah, tidak pakai bercakap-cakap, Rumi bangkit dari duduk, melangkah mendekati daun pintu yang menjadi pusat keributan.


Cklek.


Rumi buka pintu itu.


Byur!


Dan betapa terkejut dirinya mendapati siraman air tak terduga.


"Itu balesan dari aku," bisik Sofi tersenyum puas menatap wajah basah Rumi yang memejamkan mata.


Dengan gerakan lambat-lambat Rumi membuka kedua matanya yang terpejam. Dada cukup bergemuruh, wajah basah itu cukup memerah, hingga akhirnya.


Plak!


Satu tamparan tak bisa Rumi tahan untuk ia layangkan ke pipi Sofi. "****** sialan!" balasnya juga berbisik.


Keadaan terbalik, sekarang Sofi yang terkejut, bukan karena tamparan Rumi, tapi karena bisikan wanita itu.


Sofi menggempalkan kedua tangannya, menatap Rumi yang pun menatapnya. Tak berapa lama dari itu, dengan beraninya Sofi menjambak rambut Rumi. Oh tidak bisa, jangan harap Rumi diam saja, ia balas jambakan itu dengan jambakan juga. Dan hebat, jambakan Sofi tidak ada apa-apanya dibanding milik Rumi.


Sehingga ketika Rumi melangkah maju keluar dari kamar, Sofi dibuat mundur dengan teriakan kesakitan.


"Kalau kau sudah menjadi pelakor, jangan menambahi gelarmu menjadi wanita tidak tau diri!" bisik Rumi semakin kuat menjambak rambut Sofi, membuat si empun rambut tidak bisa menahan tangan yang menjambak rambut lawannya, maka, jambakan Sofi terlepas. "Urus saja suamimu yang gatal itu agar tidak menyebar spermanya ke rahim wanita lain, lebih tepatnya wanita sepertimu!" lanjut Rumi melepas jambakannya dengan hentakan lumayan kuat. Kemudian, ia berbalik kembali memasuki kamar, menutup pintu sekuat mungkin sampai-sampai menyentuh gendang telinga setiap penghuni rumah, termasuk Lian.


Jika di luar Sofi kian memarakkan dendam, maka di dalam kamar Rumi merosot lemas di balik pintu yang sudah ia kunci.


Tubuh Rumi bergetar, keseluruhan bergetar. Kenapa hidupnya jadi sekacau ini? Kenapa dia dipaksa tampak kuat padahal begitu lemah dan rapuh.


Memejamkan mata dan meneteskan cairan bening, Rumi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, menahan isakan dan teriakan lelah, marah, frustasi.


Rumi ..., menyerah. Ia benar-benar menyerah untuk tetap tinggal di rumah jni. Jadi, ia pun menyeka air mata yang menetes, bangkit dari duduk dan menarik oksigen sebanyak mungkin.


Membawa langkah menuju lemari, Rumi mengeluarkan koper besar miliknya. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kepulihan mentalnya, yaitu pergi dari rumah ini dan melemparkan surat perceraian kepada Lian.


Waktu Rumi terlalu berharga jika digunakan untuk hal seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2