
Rumi tidak menyangka keributan ini akan terjadi, dia juga tidak menyangka Barra akan datang ke toko roti miliknya. Entah memang sebuah kebetulan atau bukan, Rumi benar-benar tidak tahu.
Yang pasti, saat ini ia tengah berusaha mengusir suaminya sendiri, katakan saja mantan suami, Rumi terlalu malu mengakui memiliki suami yang ..., sudahlah, semua orang juga tahu tanpa perlu diberitahu.
"Rum, kamu nggak bisa mutusin sepihak gini! Ayo kita bicara baik-baik dulu, kita cari jalan keluarnya."
"Pergi!" Rumi tak ambil peduli, yang ada di kepalanya hanya mengusir Lian dan segera memeriksa kondiri Barra.
"Kamu udah nggak cinta sama aku, Rumi?"
Gerakan tangan Rumi yang mendorong dada Lian terhenti, pertanyaan macam apa yang baru ia dengar? Sudah Rumi katakan, detik Lian mengkhianatinya, detik itulah Rumi muak, jijik, benci, dan segala buntut perasaan negatif lainnya. Lantas, bagaimana bisa ia masih mencintai laki-laki yang sudah melemparkan semua perasaan negatif itu kepada Rumi? Perasaan sakit tak terjabarkan. "Anda tahu jawabannya," ujar Rumi akhirnya berhasil mendorong Lian keluar dari toko roti, selanjutnya, ia kunci pintu toko roti, dan ia putar tanda buka menjadi tutup.
Rumi memutar tubuh, ia tatap beberapa pelanggan yang duduk menikmati roti dan segelas kopi, atau teh, atau apa saja yang mereka pesan. "Mohon maaf atas keributannya," ujar Rumi membungkuk hormat, setelah itu ia beralih menatap Barra yang duduk di salah satu meja, tengah menatap ke arahnya juga.
Rumi melangkah, mendekati pria baru dalam hidupnya itu, mendudukan diri ke kursi di hadapan Barra. Dalam hati ia meringis malu, bisa-bisanya Lian membogem Barra, memberikan memar biru di sudut bibir pria itu. "Maaf ya, biar aku ambil kompresan," ujar Rumi berniat berdiri dari duduk.
"Nggak usah, duduk, Rumi." Tapi, Barra menahan meminta Rumi untuk kembali duduk.
Wanita itu patuh, sangat terlihat masih shock, hanya berusaha tidak ia perlihatkan.
Barra meraih satu botol mineral yang tersedia di setiap meja, ia bukakan tutup botolnya dan ia dorong botol itu ke hadapan Rumi. "Minum, tenangkan diri kamu dulu," ujar Barra lembut.
Rumi menatap pria itu, alih-alih protes atau patuh, ia justru meneteskan air mata saat melihat betapa lembut mimik yang Barra perlihatkan untuknya.
Tubuh Rumi bergetar, isak terpendam tapi, air mata mulai menganak sungai.
Barra tak mengatakan satu kata apa pun, ia hanya akan menatap dan meyakinkan Rumi, bahwa wanita itu tak sendirian, ada Barra di sini, entah sebagai apa, terserah. Yang pasti Rumi tidak sendirian.
Butuh beberapa menit untuk Rumi menenangkan diri yang tadi bergetar. Ia terus menghembuskan napas kecil, mengeluarkan sesak dari sana, tak lupa mensuges otak bahwa semua sudah baik-baik saja, dan besok sampai seterusnya akan baik-baik saja.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku bener-bener nggak nyangka itu bakal terjadi," bisik Rumi sangat amat pelan.
Barra menggeleng kecil. "It's oke, Rumi, everything is fine."
"Tapi, sudut bibir kamu memar," lirih.
"Ketampanan saya tidak berkurang bukan?" tanya Barra percaya diri.
__ADS_1
Rumi terkekeh dibuatnya, wanita itu menggeleng sembari menyeka air mata yang tersisa. "Aku ambilin kompres ya, tunggu sebentar." Kali ini Rumi benar-benar bangkit dari duduk, melangkah menuju dapur dan ia berhasil meninggalkan pertanyaan di kepala Barra, seperti, Rumi siapa di toko roti ini? Kenapa bisa bergerak seleluasa itu memasuki area terlarang bagi orang luar.
Tak mengalihkan tatapan dari tempat terakhir punggung Rumi terlihat, Barra menyandarkan tubuh ke badan kursi. Jadi, sebenarnya tadi ia baru mengantarkan Rara pulang, dan saat di perjalanan ingin balik ke kliniknya, Barra dihubungin oleh bunda, wanita tersayang Barra meminta bolu pisang, katanya sedang menginginkan bolu itu. Kebetulan ia melihat toko roti ini, dan tidak menyangka justru diperlihatkan pemandangan menguras emosi.
Baiklah, lupakan itu, Rumi sudah kembali dengan mangkuk berisi es batu dan, handuk kecil.
Wanita itu kembali mendudukan diri ke kursi tadi.
"Kamu kenal dengan pemilik toko roti ini?" tanya Barra.
Rumi tersenyum, ia bentang handuk kecil ke atas meja, lalu, ia letakan beberapa es batu di atas sana. "Ini toko roti punya aku," jawabnya pelan, sedikit malu sebab toko roti ini tak terlalu besar untuk dibanggakan.
"Seriously?" terkejut Barra.
"Iya, tapi ya, gini aja, aku juga belum bisa buka cabang."
Barra menegakkan tubuh, menatap Rumi tidak percaya. "Gini aja? Maksud kamu dari gini aja itu apa?" tanya Barra.
Rumi membungkus es batu dengan handuk, kemudian, ia meminta Barra mendekatkan wajah padanya. "Toko ini biasa saja, masih kecil."
"Merendah untuk meninggi tidak salah bukan?" tanya wanita itu menempelkan handuk ke ujung bibir Barra.
"Ah ..., itu tujuannya? Bagus, berhasil."
Rumi tertawa kecil. "Makasih ya udah nolongin aku," ujarnya tulus, kalau tadi tidak ada Barra, ia yakin sudah digeret paksa oleh Lian.
Barra mengangguk singkat. "Bungkuskan saja bolu pisang, aku ke sini untuk membeli itu."
"Oke, selesai mengompres akan aku bungkuskan."
"Dan ini dingin, Rumi, bisa singkirkan dulu." Barra meringis.
"Eh, maaf haha." Sigap Rumi menyingkirkan kompresan dari sudut bibir Barra dengan tawa kecilnya.
Demi apapun, di dekat Rumi, Barra selalu merasakan perasaan nano-nano. Bagaimana bisa tadi ia ingin murka melihat Rumi digeret-geret paksa, tapi, sekarang ia senang melihat senyum, kekehan dan, tawa kecil dari bibir wanita itu.
"Boleh aku bertanya?" Barra kembali terlihat serius, meraih tisu guna menyeka sisa air dari es batu yang tersisa di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Jika aku bisa menjawab, silakan," balas Rumi meletakan kompresan ke dalam mangkuk.
"Pria tadi suami kamu?" tanya Barra padahal sudah tahu jawabannya, telinga Barra terlalu peka untuk tidak mendengar percakapan antara Rumi dan Lian.
Terlihat Rumi menghela napas pelan, mau tak mau mengangguk kecil. "Iya." Singkat Rumi tanpa menatap Barra.
Merasa wanita di hadapannya tak ingin membahas hal tersebut, Barra mengangguk kecil, berdiri dari duduk. Kontan saja gerakan itu membuat Rumi mendunga menatapnya. Barra berujar, "Aku ingin memesan minuman, pemilik toko roti ini terlihat tidak peka."
Rumi melotot. "Kamu nggak ada bilang, Barra!"
Sekarang Barra yang terkekeh, pria itu menyaku kedua tangan. "Ayo, bantu saya memilih minuman best seller di sini."
Dengan semangat Rumi mengangguk. "Aku yang akan membuatkan!" ujarnya melangkah duluan dari Barra.
...*****...
Lian pulang ke rumah, membuka pintu bangunan itu dengan kasar, ia mencari keberadaan Sofi, istri keduanya.
"Sofi!!!" teriak Lian melangkah memasuki rumah. "Sofi!!!" teriaknya lagi.
"Kenapa sih, Mas?! Teriak-teriak segela!" Sofi datang, mendekati Lian yang juga mendekatinya.
Hanya dalam hitungan detik, Lian meraih lengan Sofi, menggenggamnya erat. "Kamu ada ngomong apa sama Rumi? Kenapa dia pergi dari rumah ini dan menggugat cerai?!" geram Lian marah.
Sofi meringis sakit. "Aku nggak ada ngomong apa-apa, Mas! Mbak Rumi sendiri yang nggak jelas!"
"Dia nggak akan pergi kalau tidak kamu pancing, Sofi," bisik Lian semakin erat menggenggam lengan Sofi.
"Mas, sakit!" ujar wanita yang tengah mengandung itu.
Bersama emosi memaraknya, Lian menghempas lengan Sofi, membuat wanita itu mundur dua langkah karena goyah.
"Lagian kenapa sih, Mas? Aku udah hamil, apa lagi yang Mas harapkan dari mbak Rumi?! Mas, cinta sama dia?!"
"Diam! Kamu nggak tau apa-apa, Sofi. Jadi, kamu cukup diam dan jangan pernah ganggu Rumi!" Setelah mengatakan ini, Lian pergi menaiki anak tangga, meninggalkan istri keduanya yang ikut terpancing emosi.
Sofi memegang lengan yang tadi Lian genggam, ia remat lengannya itu. "Rumi sialan," gumamnya penuh dendam. "Rasa sakit ini harus kamu bayar, Rumi!" lanjutnya mengeraskan rahang, menggempalkan tangan yang lain, lalu, bergerak melangkah menyusul Lian. Lebih baik sekarang, ia menyusul sang suami untuk membujuk agar pria itu tak marah-marah. Setelah itu, barulah ia berurusan dengan Rumi.
__ADS_1