
Seharian ini Rumi berhasil mencuci otaknya agar bersih dari kotoran yang dibuat oleh sang suami, wanita itu dapat menikmati hidup tanpa memikirkan nasib rumah tangga seumur jagung itu.
Namun, yang namanya berusaha melarikan diri pasti ujung-ujungnya tetap kembali. Rumi harus menerima keadaan bahwa ketika ia pulang dari toko roti miliknya, beban kehidupan menunggu di rumah.
Menarik napas, Rumi mengais tasnya yang teronggok di kursi sisi kemudi, tepat saat itu bisa ia lihat ada satu mobil terparkir di belakang mobilnya, itu milik Lian, sang suami.
Merotasi bola mata, Rumi segera menuruni kendaraan beroda empat itu. Malam ini, Rumi memiliki rencana untuk dua manusia sialan yang berada satu atap dengannya.
"Sayang, kamu juga baru balik?" Terdengar suara Lian bertanya, pria itu mengikis jarak dengan Rumi sambil menyipan kunci mobil ke dalam saku.
Jangan harap Rumi akan menyahut dengan lantunan manis penuh aura positif, terlalu mustahil sebab yang ada wanita itu berbuat durhaka, tidak abai pada suami sambil terus melangkah menuju pintu rumah.
Sialnya, pintu itu terbuka dan memperlihatkan wajah yang sangat Rumi benci. Wanita itu, istri kedua sang suami sekaligus madunya.
Jika ditanya nama, sekali lagi Rumi tegaskan, ia tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi, rasanya tidak mungkin ia tidak tahu, karena dengan sendirinya informasi wanita itu hadir untuk Rumi, lewat mana? Mulut sang mertua.
Kata mama Lian, nama wanita itu adalah Sofi Nirania Lubis, berumur dua puluh dua tahun, empat tahun lebih muda dari Rumi, tapi, memang umur tak bisa menjadi tolak ukur kelakuan seseorang.
Menatap Sofi dengan dingin, Rumi memasuki rumah, sudah jelas dengan aura dan gestur yang sangat elegan.
"Rumi." Lian mengejarnya, pria itu sudah bak pengemis di mata Rumi, dan biarkan saja, biar Lian tahu, bahwa harga dari menyakiti hati seorang istri adalah kebencian yang mendalam. "Kita harus bicara," ujar Lian tegas, pun memasuki rumah.
"Mas." Suara Sofi terdengar, agaknya Lian ditahan.
Rumi tidak ambil peduli, hanya saja ia bersyukur tidak pernah memanggil Lian dengan panggilan yang sama seperti Sofi. Membayangkan hal itu membut Rumi bergidik ngeri.
Terus melangkah menaiki anak tangga, Rumi ingin tuli sebab ia muak mendengar pembicaraan Lian dan Sofi.
"Mas, nanti saja. Mas, 'kan baru pulang."
"Tidak, aku harus segera bicara dengannya."
"Jam makan malam saja."
"Tidak, Sofi. Sebentar."
Lalu, suara langkah mengejar Rumi kembali terdengar. Cih, Rumi sungguh tak sudi membicarakan apapun lagi, ia hanya perlu waktu untuk memberikan pelajaran pada Sofi lantas enyah dari rumah ini.
Bercerai bukan berarti ia melarat, Rumi wanita yang punya persiapan hidup, ia sangat berani meninggalkan Lian.
Tiba-tiba lengan Rumi ditarik, tubuh pun dipaksa berbalik. "Kita harus berbicara!" Lian menatap begitu tegas.
"Apalagi?" tanya Rumi malas. Rasa sayangnya lenyap, apalagi rasa hormatnya.
"Kamu memberikan aku izin menikahinya, Rumi."
"Terus?"
"Terus kenapa kamu jadi seperti ini?!"
Bolehkah Rumi terbahak? Suaminya memang tidak waras. "Dengar ya, Lian Abimana. Saya wanita, saya bisa tahu apa yang akan wanita itu rasakan jika Anda tidak bertanggung jawab menikahinya, itu yang pertama. Lalu, yang kedua saya tidak mau ada korban lainnya dari kelakuan setan kalian, janin itu tidak bersalah, dia berhak hidup dengan bahagia, bukannya ditelantarkan." Rumi menepis tangan Lian. "Saya mengizinkan bukan berarti saya menerima. Sudah saya katakan, dari semua kelakuan bejat seorang pria, satu yang tidak akan pernah bisa saya terima, perselingkuhan. Paham?"
Lian terdiam, menatap Rumi dengan tatapan terkejut, lantas berubah kalut. "Jadi apa mau kamu, Sayang? Tolong jangan bersikap seperti ini."
"Masih bertanya?" Rumi tertawa jenaka, tapi terdengar bak iblis dengan pedang tajamnya. "Tentu membalaskan rasa sakit ini, contohnya melemparkan surat cerai kepada Anda."
Kedua mata Lian langsung membulat. "Jaga omongan kamu, Rumi! Sampai kapan pun kita tidak akan berpisah!"
Rumi mengedikan bahu, terlalu tidak ambil peduli. Apa kata Lian saja, toh mereka punya hak masing-masing untuk menggugat.
__ADS_1
Kembali membalikan tubuh, Rumi membuka pintu kamar, tapi, tak langsung masuk, ia sempatkan kembali menatap Lian. "Oh iya, saya mau mandi, setelah itu ingin makan malam. Tolong sampaikan pada simpananmu itu, siapkan makan malam saya. Setidaknya di rumah ini ia berguna, jangan taunya mengangkang saja."
Brak!
Pintu kamar dibanting kuat oleh Rumi.
Lian memejamkan mata, mengusap wajah kasar, dan Sofi yang sedari tadi berdiri di ambang anak tangga langsung menggempalkan kedua tangan, kalimat Rumi berhasil memancing kemarahannya.
...*****...
Barra, pria itu berusia tiga puluh tahun, memiliki nama lengkap Barra Mahardika.
"Nih, bonus dong, Bang. Pelit amat."
Kepala Barra menggeleng kecil, ia keluarkan dompet yang tersimpan di dalam saku celana. "Lo kurir atau adek gua?" tanya Barra kepada sang adik yang mengantarkan peket pesanannya.
Si adik yang memakai seragam salah satu ekspedisi cengengesan, itu pria berusia dua puluh tujuh tahun, bernama Wira Mahardika. "Ya masa sama adek sendiri pelit, dokter hewan kan kaya-kaya."
Tanpa segan Barra menepuk dua lembar uang seratus ribu rupiah ke dahi Wira.
"Eits, kurang tebel. Tambahin lagi, Bang, biar berasa sakitnya."
Hah ..., Barra tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat, adik laki-lakinya ini sungguh tak tahu diri. Umur saja tua, kelakuan masih seperti bocah SMP. "Pulang nanti temui gua di sini, bunda ngajak makan malam di luar, motor lo parkirin di sini aja."
Langsung saja Wira memberikan hormat. "Siap, Bos! Yaudah gua jalan." Lalu, Wira menyimpan uang pemberian sang abang, setelah itu menaiki motor kesayangannya.
"Ati-ati," ujar Barra menepuk bahu Wira.
Tak lama Wira pun pergi, dan Barra menghembuskan napas pelan. Bisa-bisanya ia memiliki adik yang sangat keras kepala. Sudah memiliki gelar sarjana tapi tak digunakan, Wira lebih memilih menjadi kurir daripada mencari lapangan kerja sesuai sarjana yang ia miliki, alasannya? Tanya saja pada Wira, yang jelas ayah dan bunda mereka sampai antuk kepala sangkin keras kepalanya si anak.
Well, lupakan tentang itu. Barra memasuki klinik sederhana yang baru ia buka, tentu belum ramai, hanya ada beberapa kucing yang tadi pagi diantar untuk grooming.
Melewati kandang-kandang yang tersedia, ekor mata Barra tak sengaja mendapati bungkusan produk yang ia beli di pet shop lain.
Tersenyum kecil, dalam hati Barra melantunkan satu doa, berharap bisa kembali bertemu dengan kaum hawa cantik itu.
...*****...
Begitu selesai mandi, Rumi keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga bersama dress selutut berwarna merah, tak lupa rambut yang ia gerai indah dengan aroma penghibur indera penciuman setiap orang.
Akan Rumi buktikan, ia wanita berkelas yang tak pantas diselingkuhi dengan wanita tak punya malu, bukan hanya itu, pun wanita tak punya empati untuk sesama wanita.
Menuruni anak tangga tersakhir, Rumi berbelok ke kanan, ia temui ruang makan yang sudah berisi dua manusia, itu Sofi dan pelayan rumah.
Rumi pasang mimik datar dan tatapan dingin, tanpa basa-basi mengambil duduk di kursi favoritenya.
Sofi sendiri yang baru meletakan mangkuk berisi tumis kangkung ke atas meja makan kini melirik Rumi. Ia akui, Rumi begitu cantik, pun memiliki aura ibu ratu bak penguasa negeri dogeng. Berwibawa, bisa marah, bisa juga manis. "Aku panggil Mas Lian dulu, Mbak," ujarnya berusaha bersikap baik.
Rumi tak memberi respon, yang ada gesit mengisi piring dengan nasi dan lauk.
Dalam hati Sofi mengumpat, pantas saja Lian menyelingkuhi Rumi, sikap wanita itu saja tak tahu sopan santun, kira-kira begitulah yang ada di dalam pikiran Sofi. Dan, baru saja ia ingin melangkah, Lian sudah datang saja ke ruang makan. Dengan harapan membuat si suami kian mencintainya, Sofi memberikan senyum manis. "Mas, ayo duduk, semua aku yang masak," ujar Sofi bersemangat.
Lian memberikan senyum sama manis. "Terima kasih," katanya tanpa suara.
Sofi mengangguk.
Rumi? Tentu ia tak ambil peduli akan sekitar, kedua tangannya sudah diisi oleh sendok dan garpu.
"Sayang, wangi banget," ujar Lian mencium pelipis Rumi.
__ADS_1
Prang!
Sendok yang baru ingin menghantarkan sesuap nasi pun terbanting kuat ke atas piring. Rumi menatap Lian yang dengan santainya mendudukkan diri ke kursi utama, yang berada tepat di kepala meja makan.
"Jangan pernah menyentuh saya!" tegas Rumi menatap Lian tajam.
Pria itu tersenyum geli. "Kamu istri aku, Rumi."
Rumi berdecih, melirik Sofi. "Jaga suamimu atau dia kembali menghamili wanita tak tahu malu lainnya."
"Rumi!" Lian memperingati, dan Rumi tak ambil peduli, ia kembali menjangkau sendok, melanjutkan kegiatan yang terhenti, yaitu mencicipi masakan Sofi.
"Aku ambilin ya, Mas," ujar Sofi kepada Lian.
"Terima kasih, Sayang."
Sofi mengangguk manis, mulai mengisi piring Lian. Ugh, kalau boleh jujur, Rumi ingin mengeluarkan isi perutnya melihat interaksi itu.
Rumi pun mulai mengunyah makanan, hanya lima detik ia memuntahkan yang baru masuk ke dalam mulut. "Anda yakin bisa memasak?" tanyanya menatap Sofi dengan tatapan kesal.
Sofi mengerutkan dahi. "Tentu, semua aku yang masak, Mbak."
Rumi tersenyum mengejek. "Cicipi dulu masakan Anda sebelum menyajikan untuk orang lain, saya rasa, saya bisa masuk UGD karena makanan ini."
Melototlah mata Sofi. "Apa maksud, Mbak Rumi? Mbak, Mbak boleh nggak suka sama aku, tapi ini keterlaluan."
"Tersinggung?" tanya Rumi berdiri dari duduk, memperlihatkan kuasa yang ia miliki.
"Ya, aku tersinggung, dengan semua sikap Mbak Rumi yang kekanakan!" jawab Sofi.
"Sofi," tegur Lian.
Rumi kembali mengumandangkan tawa jenakanya di hari ini, bertepuk tangan bangga akan kalimat Sofi. "Pintar, Anda sangat pintar memahami perasaan Anda." Melipat tangan di bawah dada. "Jika masih seperti ini saja Anda sudah tersinggung, bagaimana saya? Sadar diri, Tuan Putri. Siapa yang kekanakan."
"Mbak! Mbak yang kekanakan! Kalau emang Mbak nggak terima dengan kehadiran saya, lebih baik Mbak yang pergi dari Mas Lian! Mbak belum hamil, Mbak nggak ada sopannya dengan suami sendiri, bahkan Mbak nggak tau caranya menjadi istri yang baik, maka dari itu Mas Lian berpaling dari Mbak!"
Brak!
Lian menggebrak meja makan, menatap Sofi tajam.
Sedang Rumi merotasi bola mata, menekan sakit hati dari wanita sialan di depannya. "Saya tidak ambil peduli penilaian Anda terhadap saya, tapi terima kasih karena sudah seperhatian itu kepada saya." Tetap tenang, Rumi menjatuhkan satu telapak tangan ke atas meja makan, menjadikan tumpuan tubuh yang membungkuk. "Pergi dari bajingan ini? Oh tidak perlu Anda ajarkan, saya tahu mana yang pantas saya pertahankan dan mana yang tidak. Satu pesan saya," jeda, Rumi menyeringai. "Karma itu ada." Selesai, Rumi beranjak dari posisi, tapi, Lian menahannya dengan menggenggam pergelangan tangan.

Dalam hitungan detik Rumi menepis kasar, tanpa melirik apalagi menatap ia berujar, "Ajarkan selingkuhan Anda dengan baik, takutnya ia menjadi sekekanakan saya." Kemudian Rumi benar-benar pergi dari ruang makan.
Persetan! Sofi benar-benar setan betina yang harus Rumi berikan pembalasan, oh ini belum selesai. Ia suka melihat wanita hamil itu meledak-ledak dan merasa sok sempurna dan baik. Walau emosi dan kesal, tapi, Rumi merasa puas. Tahu karena apa? "Si bodoh yang malang," gumam Rumi menaiki anak tangga.
Semua karena rencana Rumi berhasil, membuat Sofi mempermalukan diri sendiri di depan Lian dan pelayan, tunggu hasilnya.
Benar saja, Lian berdiri dari duduk, menatap Sofi dengan tatapan begitu marah. "Kamu salah besar ngomong kayak gitu sama dia!"
"Mas belain dia?!"
"Bukan itu!" Lian mengusap wajah kasar. "Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri, Sofi."
"Di mana letak aku mempermalukan diriku?! Semua yang aku katakan memang benar, kalau Mas cinta sama dia, Mas nggak akan punya aku!"
Lian menarik napas. "Kamu cerita fakta? Sofi, Rumi bukan sembarang wanita, kamu sudah terjebak dengan permainannya."
"Apa maksud, Mas?"
__ADS_1
Lian melirik pelayan rumah yang sedari tadi memasang mimik malas, lebih ke arah jijik untuk Sofi.
"Sadar posisi kamu saat ini, semua orang menilai kamu wanita perebut suami orang," bisik Lian, dan itu kenyataan. "Tahan emosi kamu dan jangan pernah membahas perpisahan atau kemiskinan ada di depan mata kita," lanjut Lian tetap berbisik.