Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Drama Lian


__ADS_3

Lian melepas tangan Sofi, menatap ke arah Rumi dan Barra bergantian. Perlahan-lahan wajah pria itu memerah, bersama tangan yang mengepal, Lian melangkah mendekati Rumi. Gerakannya begitu kilat hingga si wanita tak sempat mengelak. "Pulang!" tegas Lian menggenggam erat pergelangan tangan Rumi.


"Lepas!" sahut si empun tangan sama tegasnya.


"Aku masih suami kamu, Rumi!"


"Suami di atas kertas? Dan, suami yang sudah saya gugat cerai!" Rumi menghempaskan tangan Lian, ia bawa tubuhnya mundur sedikit menjauh dari pria yang beberapa bulan lalu masih sangat ia hormati. Perasaan sakit ini sungguh membuat Rumi berubah, dan kalau ada yang menghakiminya, maka ia tidak akan ambil peduli. Setan saja tak suka dikhianati, apalagi manusia, Rumi, seorang wanita yang merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri.


"Berhenti mengatakan cerai, aku nggak akan pernah mengabulkan itu, Rumi," bisik Lian sedikit menggeram, rahangnya mengeras.


Alih-alih takut, Rumi justru tersenyum mengejek. "Saya peduli?" tanyanya pada Lian. "Tentu tidak," jawabnya sendiri.


Rahang Lian semakin mengeras, sedang Barra dan Sofi menatap dari tempat masing-masing. Keduanya masih memberikan waktu untuk suami istri itu berbicara, walau sebenarnya berbicara pun tak ada gunanya.


"Kamu punya hubungan sama laki-laki itu? Kamu bermain di belakangku?" tanya Lian dengan nada menuduh.


Dahi Rumi mengerut, ia cerna pertanyaan Lian, laki-laki? Siapa?


"Aku akan mengatakan ini kepada mama dan papa, mereka harus tau kelakuan menantu kesayangan mereka," bisik Lian merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan mengutak-atik benda itu.


Rumi belum mengatakan apa-apa, ia hanya menatap dan mencerna. Tidak terlalu paham akan maksud Lian.


"Mama di mana?" tanya Lian menatap Rumi datar. "Aku cuma mau bilang, kelakuan menantu kesayangan Mama ini. Sudah pergi dari rumah selama tiga hari dua malam, dan pagi ini dia satu mobil dengan pria asing."


Sekarang kedua mata Rumi membulat lebar, baru paham akan maksud kalimat Lian tentang laki-laki lain yang dimaksud, itu Barra.


"Hm, silakan ke toko roti kebanggaannya, laki-laki itu juga ada di sini," ujar Lian memutuskan sambungan.


Rumi kagum, ingin sekali terbahak dan bertepuk tangan sekuat yang ia mau. Demi apapun! Rumi malu, sangat amat malu pada dirinya sendiri yang sungguh bodoh mau-mau 'an menikah dengan pria seperti di hadapannya. Itu adalah keputusan paling gila yang ia lakukan.

__ADS_1


"Anda kira saya takut? Saya tidak ambil peduli lagi dengan penilaian orang, saya yang tahu diri saya, dan Anda, bukan karena Anda menghamili wanita lain di belakang saya, lantas saya melakukan hal yang sama. Orang gila seperti Anda tidak mungkin menjadi panutan saya."


Bukan Lian yang terkejut mendengar kalimat Rumi, melainkan Barra. Pria itu diserang rasa terkejut bukan main, benar-benar tak menyangka dengan apa yang ia dengar.


...*****...


Rumi duduk diam di salah satu meja kosong toko rotinya, wanita itu menyatukan kedua tangan, dan yang ada di dekatnya hanyalah Barra. Pria itu duduk diam tanpa menatap Rumi, sekedar memberikan kesadaran untuk wanita itu, bahwa di sini ada Barra, dia tidak sendirian.


Mungkin, mereka sudah menghabiskan lima belas menit hanya untuk sekadar duduk diam, dan Barra sama sekali tidak keberatan, akan ia jabani sekalipun itu satu dua atau sepuluh jam. Dia tahu Rumi pasti syok, dan dia sendiri pun merasakan perasaan itu, syok sendiri.


Ternyata Rumi dikhianati? Diselingkuhi? Ya Tuhan, pantas saja wanita itu terlihat tegas di hadapan Lian, pasti untuk menyembunyikan luka.


Belum lagi Rumi selesai menenangkan diri, tiba-tiba pintu toko roti terbuka, Barra temukan Lian yang sedari tadi berdiri di luar toko melangkah masuk bersama satu wanita paruh baya, pun bersama wanita berperut buncit tadi.


"Rumi." Wanita paruh baya itu memanggil Rumi.


Yang dipanggil menoleh, menatap dengan tatapan dibuat lembut. "Mama." Rumi berdiri dari duduk, menyalim tangan kanan mertuanya, lalu, berpelukan singkat.


Rumi mengangguk jujur. "Aku mau pisah sama Lian," ujarnya tak kalah lebih jujur dari sekadar anggukan.


"Pisah?" Mertua Rumi terkejut.


"Iya, maafin aku ya, Ma. Aku ...." Menarik napas. "Aku nggak bisa lagi sama Lian," lanjutnya sedikit menunduk.


"Kenapa, Sayang? Kamu inget janji papa sama Mama, 'kan? Kita nggak mungkin nyakitin kamu." Mama meraih kedua tangan Rumi, menggenggamnya dengan erat.


"Aku yakin, aku percaya sama papa dan Mama, tapi ...," jeda, Rumi mengulum bibir, membasahi yang kering. Dan hal itu tak lepas dari tatapan Barra. Demi Tuhan! Barra sangat ingin memberikan pelajaran untuk Lian, rasanya begitu emosi mengetahui fakta ini.


"Tapi?" tanya mama menatap Rumi harap-harap cemas.

__ADS_1


"Tapi aku udah nggak bisa sama Lian, Ma," bisik Rumi tak mungkin mengatakan ia sudah muak, ia sudah jijik dengan suaminya sendiri.


"Kenapa? Karna ada Sofi di rumah itu? Kalau karena itu, Sofi akan keluar dari rumah kalian."


Jangan heran jika kedua mata Sofi membulat lebar, melotot ingin keluar dari sarang. Telinganya tidak salah dengar? Ia yang mengandung cucu sang mertua, tapi, kenapa ia diperlakukan seperti menantu tak diinginkan?!


"Bukan, Ma. Aku hanya ..., udah nggak bisa sama Lian," ujar Rumi lembut.


"Karna kamu punya laki-laki itu bukan?!" Akhirnya Lian membuka suara, menatap ke arah Barra yang tak bersalah.


"Tutup mulut kamu, Lian!" Mama memperingati anaknya.


Rumi sendiri mengeraskan rahang, menahan makian di ujung lidah yang siap meludahi wajah Lian. "Kalau Anda selingkuh, bukan berarti saya juga akan selingkuh," ujar Rumi tajam. "Jangan samakan saya dengan Anda!"


"Jadi dia siapanya Mbak? Mbak nggak perlu sok suci, kalau emang selingkuh, ya ngaku aja!" Sofi ikut-ikutan, bahkan memakai nada tinggi yang tentu menarik perhatian karyawan Rumi, pun pelanggan toko.


Barra berdiri dari duduk, ia tatap Lian dan Sofi bergantian, tak lama dari itu baru beralih menatap mama Lian. "Saya Barra Mahardika, Bu," ujar Barra sopan, menyodorkan tangan guna berjabat dengan mama. "Saya dokter kucing Mbak Rumi yang sedang opname di klinik saya."


"Bohong! Katakan saja kalau kalian memiliki hubungan!" Sofi bersikeras.


Barra kembali menatap wanita itu. "Atas dasar apa perempuan yang baru dikhianati, yang tau rasanya dikhianati, melakukan hal yang sama?"


"Balas dendam!" Sofi tak mau kalah.


"Dendam bukan dibalas dengan kembali berselingkuh, jika saya selingkuhan Mbak Rumi, Anda pasti sudah tidak ada di sini, bisa saja dibawa badarawuhi."


Semua terkejut, baik itu mama, Lian, Sofi bahkan juga Rumi sendiri.


"Maksud lo apa?!" Lian terpancing, pria itu mendekati Barra yang dengan sigapnya mendapatkan perlindungan dari mama dan Rumi.

__ADS_1


"Stop, Lian! Jangan membuat malu di khalayak ramai!"


__ADS_2