Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Berkenalan


__ADS_3

Pergi malam itu juga, Rumi tidak minat pamit atau sekedar berbasa-basi pada Lian. Masa bodoh dengan kodratnya sebagai seorang istri, toh, Lian sendiri lupa dengan kodratnya sebagai seorang suami.


Pilihan Rumi jatuh pada toko roti miliknya sendiri, ia bawa semua barang dan dua kucingnya untuk sementara waktu tidur di sana, lalu, besok pagi akan ia lemparkan surat gugatan kepada Lian.


Membuka pintu toko, Rumi memasukan semua barang bawaan. Di tengah malam begini Rumi berjuang untuk pergi dari rasa sakit, ia benar-benar muak dengan semua yang sudah Lian berikan pada hidupnya.


Butuh beberapa menit sampai akhirnya Rumi bisa mengunci pintu toko, kemudian, ia bawa dua pet cargo yang berisi kucing-kucingnya. Memang, terkadang hewan peliharaan lebih setia dibanding manusia, bahkan hewan lebih peka akan keadaan Rumi. Dua kucingnya yang biasa tidak mengerti kata diam, menjadi begitu tenang, menemani Rumi dengan baik.


Rumi pun mengeluarkan kedua kucingnya dari pet cargo, membiarkan si anak bulu berkeliaran di toko rotinya.


Namun, hal tak terduga terjadi, kedua kucing Rumi tak pergi berkeliaran, yang ada mendekati Rumi, mengusel kan kepala ke lutut wanita itu.


Rumi terdiam, kepalanya menunduk melihat perlakuan yang ia dapatkan. Seketika deru napas Rumi meningkat, mata pun mulai berkaca dan, pecah lah isak yang selama ini ia tahan-tahan.


Sendirian ..., Rumi merasakan itu, tapi, dengan baik hatinya Tuhan membuat kedua kucing ini seakan-akan ingin Rumi menyadari satu hal, bahwa Rumi tidak sendirian, mereka ada untuk menemani.


...*****...


Masih pagi tapi Barra sudah dibuat menghela napas kecil, ia fokus melangkah dengan gendang telinga yang dibuat pengang oleh suara kaum hawa berkepala dua di sampingnya.


"Gimana nggak minta cere coba, Bang? Kelakuannya aja kayak gitu," ujar kaum hawa itu, namanya Rara, adik sepupu Barra yang saat ini masih menginjak umur dua puluh dua tahun, tapi, sudah ingin bercerai dengan suaminya yang berumur dua puluh tiga tahun.


"Sebenarnya kalian menikah karena apa?" tanya Barra masih terus melangkah memasuki area pengadilan agama.


"Ya karna cinta, Bang. Jadi, karna sekarang udah nggak cinta, mending cere."


Langsung saja Barra menghela napas berat, merasa benar-benar kasihan dengan otak Rara yang ada di kepala tapi tak berfungsi.


"Lebih baik kamu jangan menikah lagi jika pikiran kamu masih seperti itu," ujar Barra lembut. Ia pun mendekati satpam yang berjaga. "Pak, kita mau daftar perceraian." Barra meminta nomor antrian untuk mendaftarkan perceraian.


Satpam sigap memberikan, Barra melanjutkan langkah yang diikutin oleh Rara. "Kan bener sih Bang, nikah tuh karna saling cinta, kalo nggak cinta ya nggak akan nikah."

__ADS_1


Barra melirik Rara, yang ada-ada saja prinsip adik sepupunya ini. "Terus kalau kamu terus terusan merasakan perasaan seperti itu bagaimana?"


"Perasaan seperti itu gimana?"


"Jatuh cinta dan beberapa tahun kemudian tidak cinta lagi."


"Ya cari cinta sejati Bang."


"Cara menemukannya?"


Dahi Rara mengerut, dalam hati ia bingung sendiri, kenapa Barra jadi seperti wartawan dadakan?


"Abang nggak bermaksud apa-apa, cuma, kalau kamu terus menikah karena cinta dan bercerai karena sudah tidak cinta lagi, pernikahan kamu nggak akan bisa bertahan lama," ujar Barra tahu pasti Rara terlihat tidak senang.


"Kok gitu?" tanya Rara.


"Begini, Ra."


Rara mengambil duduk sedikit menyerong ke arah Barra. "Bang, perasaan yang udah nikah 'kan aku, kenapa seakan-akan Abang paling tau soal cinta? Padahal punya pacar aja nggak pernah."


Damn! Barra dilempar bom tepat ke depan wajah, haruskah ia balas melempar bom yang sama ke depan wajah Rara? "Kamu udah nikah tapi ujungnya cerai."


Perfect! Rara menganga bodoh, ucapan Barra memang bom. "Ck." Jadi berdecaklah dirinya. "Yaudah deh yang paling suhu."


"Bukan seperti it-" ucapan Barra terhenti, tiba-tiba kedua matanya melotot lebar mendapati wajah yang masih melekat diingatan. Itu ..., Rumi! "Tunggu sebentar, kamu pegang ini." Barra langsung berdiri dari duduknya, memberikan kertas nomor antrian kepada Rara lalu, ia melangkah mendekati Rumi yang baru mendudukan diri ke salah satu kursi tunggu di seberang kursi Barra.


Memberanikan diri adalah tekad yang menghampiri Barra, ia mendekati Rumi yang kemudian mendudukan diri tepat di samping wanita itu.


Sudah pasti Rumi menoleh, cukup terkejut mendapati senyum Barra yang terpampang manis.


"Loh, kamu?" ujar Rumi spontanitas.

__ADS_1


"Barra Mardika." Barra menjulurkan tangan kanannya, berniat resmi berkenalan dengan Rumi yang terlihat sedikit mengerjap.


"Oh, Rumi," balasnya menyambut uluran tangan Barra.


"Kebetulan tak terduga bertemu di sini ya, Mbak," ujar pria itu berbasa-basi.


"Panggil Rumi aja, well ya, aku lagi ada urusan di sini. Kamu?" Rumi menyambut basa-basi Barra dengan baik.


"Same, lagi nganterin adik sepupu yang mengerus perceraian."


"Ah ..., ya." Kepala Rumi mengangguk-angguk, selanjutnya ia tidak tahu mau berkata apa.


"Sebelumnya maaf, kamu sendiri sedang apa ke sini?" tanya Barra sesopan mungkin. Katakan saja ia jahat, tapi, jujur dari hati yang paling dalam, Barra punya harapan.


Rumi tidak langsung menjawab, ia tundukkan kepalanya guna menatap map berkas yang ia bawa dari rumah. "Mengurus perceraian aku dan suami," jawab Rumi sangat amat pelan.


Kutuk saja Barra, kutuk ia secepat mungkin sebab ia benar-benar tidak percaya kalau hatinya bisa terlojak riang mendengar pernyataan Rumi. Artinya ..., wanita ini akan segera tidak terikat dengan pria mana pun lagi right?


Oh bantu Barra untuk memiliki rasa empati, lagi pula mana mungkin ia akan mudah mendekati wanita yang baru bercerai, mustahil sekali.


"Mau aku temani? Sekalian dengan adik sepupuku," ujar Barra lembut, masih berusaha sopan dan ramah.


Rumi mendunga, menatap Barra untuk memberikan jawaban, yaitu gelengen ringan. "Nggak perlu, terima kasih atas niat baiknya."


See? Barra yakin seribu persen ia akan berjuang dengan keringat dan darah jika masih nekad menginginkan Rumi. Tapi, tidak ada salahnya berjuang keras kaum hawa pertama yang menyentuh hatinya, bukan?


"Baiklah, kalau butuh sesuatu aku duduk di sana." Barra menunjuk kursi yang berisi sosok Rara aneh bin ajaib.


"Iya," respon Rumi menganggukan kepala untuk kesekian kalinya.


Jika sudah mendapatkan penolakan seperti tadi, mau tak mau Barra bangkit dari duduknya, sesi berkenalan yang sedikit memakai basa-basi itu selesai, Barra hanya perlu berdoa pada takdir. Berdoa untuk satu hal, kembali dipertemukan pada Rumi yang mau menerima baik kehadiran Barra, entah sebagai apa.

__ADS_1


__ADS_2