Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Istri Orang


__ADS_3

Saat pertamakali Lian mengakui kebejatannya, detik itu juga kata berpisah sudah terlintas di dalam kepala Rumi, mustahil istri yang dikhianati sampai menghamili wanita lain tak meminta perceraian. Jika pun ada, mungkin para istri yang sudah memiliki anak, tapi Rumi? Dia masih sendiri, menjadi janda tanpa anak bukan hal menyulitkan.


Kalau pun boleh, ia merasa luka dari Lian sangat membekas, membuat diri ragu untuk kembali memulai, tapi, semua kembali pada Tuhan bukan? Gerakan hati Rumi dalam kendali Sang Kuasa.


Lantas, hal yang tengah Rumi lakukan di siang ini adalah duduk di toko roti miliknya, toko roti yang ia bangun sebelum mengenal Lian. Dan laptop di atas meja yang menemani Rumi menampilkan dokumen-dokumen penting untuk mengurus perceraian.


Hei, jangan harap Rumi akan bertahan, andai itu ia lakukan, maka itu sebuah pilihan tergila sepanjang hidupnya.


"Woi!" Ada yang menepuk punggung Rumi. Itu seorang gadis pendek berkulit hitam, namanya Khaira Vania. "Langsung aja, lah, Rum. Ngapain lagi lo cari tau? Gitu daftar pasti semua yang dibutuhin diminta." Khaira adalah sahabat satu-satunya yang Rumi miliki, wanita itu berumur dua puluh lima tahun, hanya seorang boba rista yang sampai saat ini masih betah sendirian, semua karena satu hal, rasa insecurenya dengan warna kulit.


"Lo nggak kerja?" tanya Rumi tak merespon kalimat Khaira.


"Off, capek cari duit mulu, mana duitnya nggak seberapa."


"Mangkanya lo buka usaha sendiri, atau kerja di sini aja, gue masih bisa kalau nampung satu karyawan lagi."


Khaira mengambil satu potong bolu yang ada di atas meja Rumi. "Gue masih betah di sana, biar gaji nggak seberapa, tapi bisa cuci mata," balas Khaira sambil mengunyah.


"Lo udah dua lima, Ra."


"Wes jangan bawa-bawa umur, gue paling anti nih masalah umur."


Langsung saja Rumi mendengus, ia bukan ingin membahas umur, hanya saja, mau sampai kapan Khaira terus menjadi boba rista dengan gaji UMR? Memangnya tidak minat menjadi bos? Atau menikah?


"Tenang aja, Rum. Gue masih bisa nabung, yang harusnya sekarang kita bahas bukan tentang gue, tapi elo!" Khaira menelan bolunya, beralih meraih segelas air minum miliik Rumi.


"Gue nggak perlu dibahas, gue udah siap end." Rumi menutup laptop, bergerak menyandarkan punggung ke badan kursi, dan kini tangan terlipat di depan perut.


"Bagus, harusnya dari kemarin-kemarin, biar lo nggak kayak cewek sinting yang mau-mau aja dateng ke nikahan suami sendiri. Ck, nggak abis pikir gue sama jalan otak lo," oceh Khaira ikut menyandarkan punggung, tapi masih menikmati minuman milik Rumi.


Pemeran utama dari ocehan Khaira memilih diam, Rumi memejamkan mata, ingin menenangkan diri yang selalu panas jika memikirkan hal ini.

__ADS_1


Jangankan Khaira, Rumi saja tidak habis pikir dengan kebodohannya sendiri.


...*****...


Barra kembali ke pet shop itu, jika kemarin dengan alasan membeli sesuatu yang berujung bertemu Rumi, maka hari ini dengan alasan mengantarkan kucing peliharaannya yang bernama Moli untuk dimandikan.


Kelakuan bak anak remaja bukan? Barra juga tidak tahu kenapa ia bertindak sejauh ini. Awalnya iseng-iseng ke sini dengan tujuan tertentu, sekarang menjadi serius dengan tujuan bertemu Rumi.


Sembari menunggu bon grooming Moli ditulis, Barra celingak-celinguk, tatap kanan dan kiri. Sudah pasti mencari satu wajah yang menyejukkan hatinya, itu wajah Rumi.


"Cari apa, Bang?" tanya Siska menyadari gelagat Barra.


Tersentaklah pria itu. "Hm? Oh, tidak ada," jawab Barra tersenyum kaku.


Mata Siska memicing curiga. "Atau, cari siapa hayooo?" tebak Siska kembali bertanya sembari menyodorkan bos grooming.


Barra menerima bon itu dengan sedikit meringis akan tebakan Siska yang benar pula.


"Cari bos saya ya? Beliau mah jarang ke sini, Bang."


Dahi Siska mengerut, berusaha mengingat siapa yang Barra maksud. Butuh sekitar sepuluh sampai beberapa belas detik sampai akhirnya Siska mengingat. "Ah! Mbak Rumi ya?!" Semangat gadis itu memetik jari.


Barra mengangguk, mungki benar, jadi, Rum itu Rumi?


Well, Siska kembali memicingkan mata. "Ngapain nih nyariin mbak Rumi?" tanyanya.


Barra berdeham gugup, ini kali pertama ia mempertanyakan seorang kaum hawa kepada orang lain. Tiga puluh tahun hidup, Barra tak pernah sekali pun merasa tertarik pada kaum hawa, yang ada ia dikejar-kejar. "Tidak ada, hanya ingin bertema."


"Eleh, mana ada cowok sama cewek asing mau kenalan buat temenan. Abang, suka ya sama mbak Rumi? Jangan Bang, salah itu, soalnya mbak Rumi udah punya suami."


Damn! Merosot sudah jantung Barra mendengar kalimat Siska. Rumi ..., sudah menikah? Istri orang? Hah ....

__ADS_1


"Hm, begitu. Ya sudah, nanti Moli saya jemput."


"Iya, Bang. Jangan sedih ya, sama Siska aja sini!"


Barra langsung meringis terang-terangan, tapi, berujung tertawa pelan. "Kamu jadi adek saya saja."


"Boleh! Dari adek-adek 'an bisa jadi adek teman kehidupan," sahut Siska menggerling menggoda. "Hahaha, maaf ya Bang, aku aja geli!" Lalu langsung terbahak akan kelakuannya sendiri.


Kepala Barra menggeleng. "Kalau begitu saya permisi."


"Sip! Entar aku hubungin kalau Moli udah selesai mandi."


Barra pun mengangguk, memutar tubuh dan beranjak dari posisi sambil menyimpa bon grooming.


Terus melangkah menuju pintu masuk pet shop, Barra langsung keluar, mengincar mobilnya yang terparkir di depan pet shop.


Memasuki mobil, sejenak Barra diam di dalam sana, pria itu menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah pet shop.


Bagaimana bisa setelah kesendirian yang ia tempuh selama tiga puluh tahun, ia berakhir merasa tertarik pada istri orang? Sial atau malang?


"Hah!" Barra menghembuskan napas kasar, kenyataan ini menyebalkan. Tapi, mau tak mau harus Barra terima, dan ini ..., akan menjadi kali terakhir ia ke pet shop ini, mungkin nanti Barra akan menyuruh Wira menjemput Moli, keluarkan dua tiga lembar uang, Wira tak akan menolak.


Mulai menghidup mobil, Barra memundurkan kendaraan itu, lantas siap pergi dari pet shop yang berisi beberapa perjalanan hidupnya.


Namun, belum lagi mobil bergerak, indera penglihat mendapati wajah yang tadi ia cari-cari di dalam pet shop.



Rumi ..., wanita itu baru turun dari mobilnya, lalu beralih membuka pintu sisi kemudi, ternyata mengeluarkan dua pet cargo.


Barra terdiam, terus menatap gerak-gerik Rumi, menikmati setiap belai rambut panjang wanita itu yang lumayan nakal mengganggu tuannya, meminta perhatian besar.


Sekarang terlihat Rumi menutup pintu mobil, langsung mengangkut dua pet cargo dan ingin memulai langkah. Tapi, ternyata tatapan Barra ketahuan oleh objeknya, Rumi menyadari hingga membalas tatapan Barra.

__ADS_1


Satu hal terlintas dalam benak pria itu, bagaimana mungkin ia sempat mengira wanita secantik Rumi masih sendiri? Hal terbodoh dalam tiga puluh tahun terakhirnya.


Menarik napas, Barra mengangguk kecil bersikap sopan, setelah itu berakhir memutar stiur dan mobil melaju. Dari bertemu Rumi, Barra mendapatkan satu pelajaran, bahwa tidak semua perasaan suka harus diperjuangkan, salah satunya suka dengan istri orang.


__ADS_2