Barra Untuk Rumi

Barra Untuk Rumi
Berhenti


__ADS_3

Rumi menghela napas kecil sesaat ia mengantarkan Barra ke mobil pria itu, kenapa selalu ada drama saat Barra di dekatnya? Seperti, semua aib yang coba ia tutup terbuka dengan sendirinya. Barra pasti ilfeel, atau, Barra pasti mengasihaninya.


"Besok Leo biar aku yang mengantar ke sini, kamu fokus buat roti saja," ujar Barra dari dalam mobil yang kacanya sudah turun terbuka, kini kaum adam itu tengah memasang sabuk pengaman.


"Nggak perlu repot-repot, aku masih bisa menjemput Leo sendiri," balas Rumi meremat ujung pakaiannya sendiri, tak menatap Barra.


Barra menoleh, menatap Rumi yang memasang mimik datar, lebih tepatnya mimik menutupi banyak rasa, entah itu luka, sedih, sepi, hanya Rumi yang tahu.


"Aku tidak merasa repot, dan aku tahu kamu bisa melakukannya sendiri. Tapi, besok aku sekalian ingin membeli roti di sini," sahut Barra menghela napas tipis, berharap Rumi tak menyadari itu. Ia tahu sekali wanita di samping mobilnya ini adalah wanita tangguh, bisa berdiri di atas kaki sendiri dan mengerjakan semuanya sendiri, tapi, sekuat-kuatnya wanita, setiap manusia pasti memiliki titik lemah dan lelah bukan? Rumi baru diserang oleh konflik berkesinambungan, itu sesuatu yang sangat menguras emosi.


"Dokter Barra," panggil Rumi menatap Barra serius. "Sebelumnya maaf dengan semua yang Anda lihat hari ini, atau kemarin," lanjutnya.


Perasaan Barra sudah tidak enak, dari bahasa formal yang keterlaluan itu ia akan menebak, pasti ada hal buruk yang siap menerjang diri.


"Saya rasa, pertemuan kita cukup sampai hari ini saja, saya mohon, ketika Anda melihat saya, atau kita bertemu di belahan bumi manapun, anggap Anda tidak mengenal saya," ujar Rumi menatap tepat ke mata Barra, menatap luar biasa serius.


"Rumi." Barra pun sama, membalas tatapan itu dengan serius. "Kita tidak pernah berencana untuk bertemu, kalau kita tetap bertemu, kamu jangan berharap banyak sama aku." Barra menghidupkan mesin mobilnya. "Aku bukan tipe orang yang bisa melupakan seseorang, permisi, besok aku tetap akan ke sini."


Obrolan selesai, Barra memundurkan mobil dan Rumi hanya diam menatap kepergian pria itu, tapi, seiring kepergian mobil Barra, air mata Rumi menetes, jatuh sesuka hati padahal empunnya tak menginginkan itu. Ia pun bergumam tanya, "Kenapa Tuhan mempertemukan kita, Barra?"


Di dalam mobil sendiri, Barra menggenggam stiur begitu erat, ia lirik spion guna melihat kecil wajah Rumi. "Takdir yang bekerja, Rumi."


...*****...


Khaira mendorong pintu toko roti sahabatnya, gadis berkulit lebih gelap dari gadis kebanyakan itu melangkah masuk, mendekati kasir dan bertanya, "Rumi di mana?"


"Mbak Rumi di ruangannya, Mbak. Dari kejadian siang tadi nggak keluar-keluar lagi," jawab kasir itu.


Khaira mengangguk paham. "Yaudah, gue masuk ya," pamit Khaira melambaikan tangan, melangkah menuju pintu ruangan Rumi di sini. Bisa dibilang sekarang itu juga kamar Rumi.


Cklek.


Ia buka tanpa mengetuk, Khaira menemukan penampakan yang mengundang helaan napasnya. Rumi, wanita berumur dua puluh enam tahun itu tengah duduk melamun di atas sofa sambil mengusap-usap kepala kucing betina alias Lili.


Melanjutkan langkah, Khaira masuk, mendekati sofa. Bisa ia lihat, Rumi tidak menyadari kedatangannya, seberapa banyak isi kepala si sahabat sampai tidak menyadari yang terjadi di sekitar?


"Oi! Melamun aja lo, kayak kambing congek," ujar Khaira mendudukkan diri tepat di samping Lili, naas, kucing itu justru melompat pergi, mungkin tahu Rumi sudah ada yang menemani, atau, mungkin takut dengan Khaira.


Rumi menoleh terkejut. "Sejak kapan lo masuk ke sini?" tanyanya.


"Sejak lahir dari perut emak gue!"


"Ra, gue serius."


Khaira mengedikkan bahu ringan. "Udah idup cuma sekali, malah terus lo bawa serius, bisa-bisa gila." Khaira menyandarkan punggung ke badan sofa. "Healing lah yuk, gue liat-liat muka lu kusut, perlu disetrika biar balik mulus."


"Gue mulai sibuk ngurusin cere, pengen cepet-cepet selesai," jawab Rumi menghembuskan napas, ikut menyandarkan punggung ke badan sofa.


"Jadi tadi lo ngelamunin itu? Oalah Rum, Rum." Kepala Khaira menoleh, menatap Rumi yang menatap langit-langit ruangannya.


"Bukan," jawab Rumi memangku kaki kanan ke atas kaki kiri. "Gue nggak mikirin soal itu, gue cuma lagi bingung, malu, kesel, semuanya campur aduk."


"Oke, gue dengerin, ngomong." Secepat mungkin Khaira mencondongkan tubuhnya menghadap Rumi.


Wanita itu tak langsung menjawab, yang ada kembali melamun, dan yang muncul di kepalanya adalah Barra. Bukan tanpa sebab, tapi karena ia bingung saja, bagaimana bisa pria asing, yang baru hadir dalam kehidupannya ditakdirkan menjadi saksi segala kesakitan yang Rumi alami. Bahkan dari hari pertama, saat hari pernikahan Lian dengan Sofi.

__ADS_1


"Anjim, malah ngelamun. Sadar woi! Gue nungguin ini." Khaira memukul lengan Rumi, menyadarkan sahabatnya yang sudah terlihat bak orang aneh.


Rumi mendengus, ia lirik Khaira dengan malas. "Gue lagi malu, bisa-bisanya aib gue kebuka kayak buku ketiup angin di depan orang asing."


"Ha?" Khaira pasang mimik bingung, dahinya mengerut. "Lo ngomong apaan? Nggak jelas, coba diperjelas."


Rumi langsung menegakkan duduk, membawa naik kedua kakinya. "Gue punya kenalan baru, cowok, dokter hewan klinik langganan gue."


"Apaan nih? Lo belum cere udah kenalan sama cowok aja."


"Cuma kenalan, nggak lebih!" tegas Rumi memasang mimik kesal. "Lo jangan kayak Lian yang otak ************ itu! Gue cukup waras untuk nggak berurusan sama cowok lagi."


Dahi Khaira tambah mengerut. "Wait-wait, anak bunda tadi ngomong apa? Cukup waras untuk nggak berurusan sama cowok lagi, maksud lo, lo nggak mau nikah lagi?" tanyanya memastikan.


"Ya, pinter."


"Anjing!" Khaira memaki, ia rangkum wajah Rumi. "Sadar, Rum, sadar! Masa iya lo nggak mau kawin lagi, entar gue dapet ponakan dari siapa?!" Heboh sendiri.


Rumi menghembuskan napas kasar, ia tarik kedua tangan Khaira dari pipinya. "Gue juga nggak tau, Ra, gue cuma takut, di mata gue semua laki-laki udah sama kayak Lian, otaknya nggak lebih dari nafsu."


Sekarang Khaira ikut menghembuskan napas, tapi pelan. "Oke, lupain dulu soal itu, lo aja belum cere. Tapi, gue harap lo bisa buka diri lagi sama cowok lain, karna yang bakal nemenin elo nanti pas tua ya suami lo, bukan siapa-siapa."


"Iya, gue tau, mungkin bukan Lian orangnya, gue salah pilih." Rasa sesak langsung menghampiri dada Rumi saat menyuarakan kalimat barusan.


"Pilih pala lo, dijodohin tuh bukan lo yang milih," celetuk Khaira. "Jadi apa kata mertua lo soal perceraian ini? Terus, lo udah ngomong sama nyokap lo soal semua masalah yang ada ini? Ck, lo beneran gila, Rum. Bayangin reaksi nyokap lo, bisa-bisa si Lian kena mutilasi." Khaira tahu pasti bagaimana sayangnya mommy Rumi kepada si anak, Rumi itu sudah seperti tuan putri karena merupakan anak satu-satunya, belum lagi, perjuangan mendapatkan Rumi tidak lah mudah, butuh sepuluh tahun sampai akhirnya mommy Rumi bisa hamil, dan tentu saja hamil Rumi.


"Jangan banyak tanyak, Ra, otak gue sakit, please ya."


Khaira tidak mungkin mengatakan tidak walau ia sangat penasaran, pun ingin memberikan saran. Tapi, bisa ia tebak seberapa ruwet perasaan dan isi kepala Rumi. Jadi, ia sanggupi, Khaira mengangguk. "Cerita yang tadi aja dah, dokter hewan itu. Kenapa sama dia?"


Kepala Rumi mengangguk, ia jabani jika soal ini, sebab Rumi juga butuh saran dari Khaira. Minimal tutorial bodo amat dengan semua isi kepala yang mengkhawatirkan pandangan Barra kepadanya.


...*****...


Barra baru selesai memberikan vitamin kepada Leo saat Wira datang.


"Nggak pulang, Bos? Dicariin ibu ratu noh," ujar Wira meletakan tas bekal dari bunda ke atas meja kerja Barra sambil melihat kegiatan saudaranya.


"Ada pasien dadakan, nih," jawab Barra mengangkat Leo yang sudah jauh lebih segar dari kemarin malam, tentu karena jam makannya Barra kontrol.


"Hm, ya ya, bolehlah, entar gua sampein sama ibu ratu," balas Wira mendudukan diri ke kursi.


"Terus ngapain lo duduk di situ?" tanya Barra menurunkan Leo, membiarkan kucing itu bekeliling di ruangannya.


"Lah, ya suka-suka gua dong, ini klinik abang gua."


Barra merotasi bola mata, mendekati meja kerja dan mendudukan diri ke kursi kerja. "Malam ini gua nggak pulang lagi, titip pesan buat bunda."


"Alasannya? Gua nggak mau digorok karna nggak nanyak perihal itu."


Barra tak langsung menjawab, yang ada meraih tas bekal dari sang bunda, ia buka dan ia lihat isinya. Makan malam yang lumayan berat tapi jangan ragukan kelezatannya, Barra tak pernah merasa kecewa dengan masakan sang bunda.


"Jawab bos, gua buru-buru nih."


"Bilang aja gua sibuk," jawab Barra asal.

__ADS_1


"Sibuk apaan? Karyawan lo itu nggak ada guna, Bang, kalo ujung-ujungnya semua lo yang ngerjain." Wira mencomot tempe goreng dari tempat bekal makan malam Barra. Hanya mereka lah pria berkepala tiga dan dua yang masih sering dibawakan bekal oleh sang bunda, dan sungguh keduanya tak merasa keberatan, justru senang.


"Yang lagi di kaki lo itu pasien prioritas, besok harus sehat total," balas Barra beralih meraih sendok yang ada di dalam tas bekal itu.


Wira langsung menunduk, menatap kucing jantang yang lumayan gembul di dekat kakinya, sedang sibuk menciumi lantai, tentu sikap biasa kucing saat di tempat baru. "Siapa nih? Anak presiden? Pakek prioritas segala."


Barra menatap Wira. "Anak istri orang," jawabnya asal.


"Wedehhh, ini anak yang bikin ati empedu abang gua cenat-cenut?" Wira membungkuk, menangkap Leo dan memangku. "Kok bisa, Bang? Dia ke sini? Anjir, masih temuan aja, nyebut, Bang, dia istri orang."


"Istri orang yang sedang proses bercerai."


"Surga dunia!" respon Wira cepat, melepas Leo hingga kucing itu turun dari pangkuannya hanya untuk satu hal, bertepuk tangan. "Abang gua dapet janda cute, eh, emang cute, Bang?"


"Manis, seksi juga."


Wira langsung bersiul menggoda. "Jadi, gerak nih?" tanyanya.


Untuk pertanyaan yang satu itu tak bisa Barra jawab dengan cepat, ia tatap makanan dalam bekal, dan ingatan bermain di adegan tadi siang saat Rumi mengatakan hal yang bisa Barra lupakan sampai sekarang.


"Bau-bau pengecut," ujar Wira.


"Lo buru-buru 'kan? Pigi gih," usir Barra.


"Mendadak lo jadi prioritas, Bang. Bagi lah dikit, cerita sama gua, masalah kerjaan bisa gua atur." Wira menyandarkan punggungnya. Bukan apa, ini kali pertama Barra mengaku memiliki rasa tertarik pada kaum hawa, ternyata abang Wira itu masih normal, padahal ia sudah takut bukan main, sungguh tidak lucu jika Barra belok dan sudah menjebol perjaka ting-ting. Begini saja, siapa juga yang percaya pria tiga puluh tahun masih suci tanpa dosa zina? Hello, pria kota, gudangnya dosa, tapi masih bersih dari sentuhan betina liar. Barra hanya sibuk dengan kucing dan kucing.


Barra menghela napas. "Pelan-pelan gua tau kenapa dia mutusin pisah sama suaminya, dan beberapa hal lainnya." Dalam hati Barra menyeletukkan tentang Rumi yang ternyata sudah tidak tinggal satu atap dengan Lian. "Karna itu, tadi dia minta sama gua buat stop bertemu, padahal semua pertemuan gua sama dia nggak ada yang direncanai."


"Tunggu, dia minta kayak gitu karna apaan?"


"Mungkin malu karna gua tau semuanya tanpa perlu dia bagi."


Kepala Wira mengangguk-angguk, paham dengan dugaan Barra. "Terus, rencana lo apaan, Bang?" Wira ingin tahu sebab juga ingin memberikan saran.


Barra mengedikan bahu, benar-benar tidak tahu. Dia bukan tipe pria yang bisa berencana, inginnya langsung melamar Rumi, tapi bisa-bisa ia dibunuh saat baru menyodorkan cincin.


"Bang, gua yakin tuh cewek nggak akan mudah lo dapetin."


"Maksud lo?" Barra menghentikan kegiatan makannya.


"Ya, secara dia baru cere, mana mungkin mau langsung buka ati, kalo pun mau, lo cuma jadi pelampiasan," ujar Wira. "Gua peringatin aja, jangan main cepet sama dia, lo santai aja, anut kepercayaan jodoh nggak akan kemana," lanjutnya bernada sok bijak.


Barra menungkikkan satu alis, agak setuju tapi juga agak heran.


Wira pun melanjutkan kalimatnya. "Saran gua, jadi temennya selama setahun!"


Damn! Kedua mata Barra membulat, saran apa yang baru ia dengar?!


"Tenang-tenang, mukanya jangan horror gitu, dengerin dulu lanjutannya."


"Yaudah cepet apaan?" Barra bisa terjebak friendzone jika mengikuti saran Wira.


"Lo temenan sama dia itu sekalian pdkt, tapi tipis-tipis aja, kayak ttm gitu, temen tapi mesra." Sekali lagi Wira mencomot tempe goreng milik Barra. "Nanti lama-lama dia pasti kerasa kok, gua yakin dia yang bakal ngerasa lo friendzone-nin."


Demi apapun Barra tidak yakin dengan saran Wira ini.

__ADS_1


"Percaya sama gua, Bang. Walau musyrik, tapi, pasti berhasil." Lagi dan lagi ia mengambil tempe goreng. "Nikah umur tiga satu nggak akan bikin lo keliatan tua kok, jadi santai aja. Ok, Bos, gua cabut, inget saran gua, selo atau lo jadi pelampiasan." Wira pun bangkit dari duduk, ia curi tempe goreng terakhir yang ada di dalam tempat bekal Barra. "Titip salam ya sama istri orang, kapan-kapan gua mau ketemu." Dan akhirnya Wira melangkah mendekati pintu ruangan Barra, keluar meninggalkan sang abang yang diam mencerna sarannya.


Apakah saran Wira harus Barra jalankan? Tapi, itu terlalu lama, apa mungkin Barra bisa bertahan tidak bergerak sat set pada Rumi? Apalagi melihat kepedihan yang wanita itu alami, rasanya Barra ingin membawakan surga dunia untuk kaum hawa satu itu. Tapi, perkataan Wira memang ada benarnya. Mustahil Rumi mau membuka hati saat ia baru dipatahkan begitu dalam. Jadi, haruskah Barra menerima saran adik satu-satunya itu?


__ADS_2