
Beberapa minggu kemudian, genap sudah enam bulan sejak pertemuan pertama Argeas dan Evangeline. Dan karena sudah memasuki tahun ajaran baru Akademi, maka Evangeline yang sudah memenuhi syarat usia pun mengikutinya.
Namun sebelum itu Evangeline diundang ke kediaman keluarga Danae untuk beberapa hari.
Disamping karena memang sudah menjadi sebuah tradisi bahwa calon tunangan harus setidaknya pernah bertandang sekali ke kediaman masing-masing sebelum meresmikan pertunangan mereka, maka karena Evangeline akan memasuki Akademi dan tinggal di asramanya sampai acara pertunangan mereka diadakan, jadilah kesempatan ini adalah kesempatan terakhir bagi putri keluarga Lavis tersebut untuk bertamu ke kedimanan Danae.
.
"Selamat datang, Eve," sapa Argeas ketika Evangeline baru turun dari kereta kudanya di pintu depan kediaman Danae.
"Hampir enam bulan setelah kita saling bertemu muka," jawab Evangeline dengan senyum manis meraih tangan kanan Argeas yang diulurkan untuk menyambutnya.
"Aku selalu saja lupa kau setinggi ini," tambah gadis itu kemudian saat kepalanya sedikit mendongak menatap wajah Argeas.
"Oh, Evangeline," sahut ibu Argeas menyapa.
"Selamat siang, nyonya Danae. Saya akan merepotkan anda sekalian beberapa hari kedepan," jawab putri Marquis itu dengan sopan.
"Tak perlu sungkan. Panggil aku 'ibu'," ucap sang ibu seraya mengusap lengan Evangeline dengan penuh sayang.
"Baiklah, bu..." Evangeline menjawab dengan sedikit ragu.
Yang dibalas dengan tawa bahagian dari sang ibu. "Ayo segera masuk. Kau pasti lelah setelah melalui perjalan panjang," ajak perempuan setengah baya itu kemudian.
Mereka pun memasuki kediaman Argeas diikuti beberapa pelayan yang terlihat mengangkat barang bawaan Evangeline keluar dari kereta kuda.
.
Evangeline disambut dengan baik dan hangat di kediaman Argeas. Mengingat ia adalah calon menantu perempuan pertama dalam keluarga Danae.
Hal itu disebabkan karena sampai saat ini baru kakak perempuan Argeas yang memiliki tunangan. Sedang Maximus dan Raynold belum punya.
Umumnya memang perjodohan di usia muda terjadi lebih karena peran keluarga. Jadi untuk anak-anak bangsawan yang tidak memiliki peran penting dalam keluarga, dan belum memiliki prestasi apapun, akan jarang untuk dijodohkan. Termasuk Raynold.
Mereka akan mencari pasangan mereka sendiri secara umum tanpa perjodohan.
Sedang untuk Maximus, karena dia adalah penerus keluarga Danae, jadi akan ada syarat khusus untuknya dalam memilih pasangan nantinya.
.
Dan selama 4 hari 3 malam Evangeline berada di kediaman Danae itu, ia dan Argeas jadi semakin akrab.
Evangeline benar-benar telah jatuh hati kepada Argeas. Sementara Argeas sendiri hanya menganggap Evangeline sebagai seorang adik yang harus ia jaga.
"Jadi kau akan berangkat ke Akademi minggu depan?" tanya Argeas saat ia berada di kamar tamu tempat Evangeline tinggal selama berada di kediamannya tersebut.
"Ya, tapi kita masih tetap bisa berkirim surat," ujar Evangeline yang tampak sedang mengemas barang-barangnya. Karena besok siangnya ia akan kembali pulang ke kediamannya di perbatasan Timur.
"Dan setengah tahun lagi kita akan bertunangan, lalu kau akan memasuki Akademi. Jadi kita bisa bertemu setiap saat," lanjut gadis itu setelah mendapati wajah Argeas yang terlihat cukup serius.
"Ya, aku tahu itu. Aku tidak kuatir kita tidak akan bertemu lagi," balas Argeas sembari sibuk mengeluarkan sesuatu dari Spatial Storage nya.
"Lalu ada apa dengan wajah serius itu?" lanjut Evangeline yang kini sudah selesai dengan kegiatannya dan duduk di atas tempat tidur menatap Argeas.
"Aku hanya kuartir tentang keselamatanmu saat berada di Akademi nanti," jawab Argeas jujur.
"Kau kuatir akan keselamatanku? Seperti aku anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa saja. Aku sudah 16 tahun lebih, Ar. Sudah sewajarnya aku keluar dari kediaman keluarga ku dan hidup sendiri." Evangeline menjawab dengan tatapan tidak mengerti menanggapi ucapan dari bakal calon suaminya itu.
"Ya, aku juga tahu itu." Argeas menjawab seraya berjalan mendekat ke tempat Evangeline berada. "Dan karenanya aku ingin memberikan ini padamu. Setidaknya ini akan menjaga mu saat berada di Akademi nanti."
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kalung dari kantongnya. Dengan liontin yang terbuat dari kristal bening berbentuk limas tak beraturan.
"Ah... manis sekali. Jadi ini ujung dari pertanyaan anehmu itu? Kau bisa saja, Ar. Aku jadi terharu." Evangeline terlihat benar-benar terkejut dan tersentuh dengan hadiah tersebut.
"Ingat untuk selalu memakainya. Kalung ini memiliki efek [Auto-Barrier]. Yang akan melindungimu dari serangan mendadak," ucap Argeas seraya memasangkannya pada leher Evangeline.
"Kau punya cara yang tidak romantis untuk memintaku mengenakan kalung ini sepanjang waktu." Evangeline terlihat tersipu menyentuh liontin kristal di lehernya itu setelah Argeas selesai memasangkannya.
"Aku berkata jujur. [Briliant Pendant] ini memiliki efek [Auto Barrier]." Argeas mengulang ucapannya dengan bersungguh-sungguh.
"Iya-iya aku tahu. Aku tidak akan merusak apa yang sudah kau rencanakan. Aku akan mengenakan kalung ini sampai aku mati nanti," balas Evangeline seraya tersenyum simpul.
"Ya tidak perlu selama itu. Setidaknya sampai aku memberikan kalung yang baru lagi," balas Argeas yang kini sudah duduk di sofa di hadapan calon tunangannya itu.
"Ar, apa kau sengaja melakukan ini agar aku tidak jadi pergi ke Akademi? Kau membuatku ingin segera menikahimu," ucap Evangeline dengan nada sedikit menggoda.
"Ap-apa yang kau katakan Eve? Kau harus ke Akademi. Lagi pula kita masih terlalu kecil untuk menikah. Setidaknya tunggu sampai kita di atas usia 20 tahun," sahut Argeas menanggapi ucapan Evangeline dengan serius.
"Iya-iya aku tahu itu. Habis semua hal yang kau lakukan ini membuatku sangat bahagia," lanjut gadis itu dengan sedikit tertawa.
"Aku hanya menghawatirkanmu saja." Argeas menjawab jujur.
"Tapi bukankah ini terlalu berlebih? Kau bahkan lebih kuatir dari ibuku sendiri," balas Evangeline masih dengan terawa kecil.
Itu semua karena Argeas tidak tahu apa yang akan terjadi pada calon tuangannya selama berada di Akademi nanti. Tidak ada catatan sama sekali tentang Evangeline dalam game.
Argeas kuatir gadis itu tidak sempat memasuki Akademi karena alasan yang buruk. Meski bisa saja itu karena Evangeline adalah karakter yang tidak cukup penting hingga tidak masuk narasi alur cerita dalam gamenya.
Tapi tetap Argeas merasa kuatir.
"Dan apa kotak-kotak yang lain itu? Apa masih ada hadiah yang akan kau berikan padaku?" Evangeline kembali bertanya saat melihat susunan kotak seukuran Peti Harta yang ditumpuk oleh Argeas di ujung ruangan dekat pintu masuk sebelumnya.
"Kau sudah memiliki Storage, kan? Masukan semua kotak-kotak itu ke dalamnya. Dan buka saja nanti saat kau sudah berada di Akademi." Argeas menjawab.
Disamping liontin Argeas memang telah mempersiapkan beberapa hal lain untuk Evangeline. Seperti Perlengkapan Sihir dan beberapa material penting sebagai bahan dasar pembuatan tertentu yang ia peroleh dari penjelajahannya di berbagai reruntuhan selama ini.
"Oh, beruntungnya aku memiliki calon tunangan yang keren dan sangat baik sepertimu. Aku jadi tidak sabar untuk segera membukanya." Evangeline terlihat benar-benar gembira seraya berjalan mendekati Argeas.
"Apapun yang ada di dalam kotak-kotak itu, semuanya akan berguna untuk mu. Jadi pastikan untuk menggunakannya," balas Argeas kemudian.
"Bagaimana mungkin aku tidak menggunakan pemberianmu, Ar?" Dan Evangeline pun memeluk tubuh calon tunangannya itu dengan erat.
__ADS_1
'Entah kenapa rasanya seperti melepas adik pergi kuliah merantau ke kota lain,' batin Argeas seraya menepuk punggung Evangeline yang berada dalam pelukannya itu.
-
-
Keesokan siangnya kereta kuda Evangeline pun bertolak meninggalkan kediaman Danae.
Dan setelah itu Argeas mulai melakukan leveling ke sisi lain dari Hutan Terlarang dengan bantuan Ascian. Fairy yang telah melakukan kontrak dengannya.
Karena Ascian dapat memindah Argeas kemana pun selama tidak melewati lautan dan memiliki banyak pepohonan meski tidak harus selebat hutan. Yang berarti tidak dapat ke tempat seperti kota atau pulau lain.
Namun Ascian sendiri bisa ke tempat dimanapun Argeas berada karena ikatan Aura Pact nya.
Tak ketinggalan Argeas juga mulai mempelajari dan meningkatkan beberapa [Combat Move] untuk mendapatkan beberapa [Special Move] dan [Special Ability] yang ia butuhkan di kedepannya.
-
-
Tengah tahun kemudian, di libur musim panas Evangeline dari Akademi, giliran Argeas yang kali ini berkunjung ke kediaman keluarga Lavis di Perbatasan Timur.
Hal yang harus ia lakukan sebelum meresmikan pertunangannya yang tidak lama lagi. Karena kini Argeas sudah berusia 16 tahun.
Dan berbeda dengan Evangeline yang hanya tinggal beberapa hari saja di kediaman Danae, kini Argeas akan tinggal di kediaman Lavis selama 2 minggu. Selama liburan musim panas Akademi berlangsung.
-
"Pas sekali. Dengan begini aku bisa melakukan penjelajahan dan leveling di reruntuhan baru di sekitar wilayah Marquis," ujar Argeas ketika kereta kudanya sudah memasuki wilayah Marquis di timur laut Kerajaan Pusat.
Butuh waktu 3 hari perjalanan dengan 2 kali singgah di 2 kota dari kediaman Argeas sebelum tiba di wilayah tersebut.
"Di sisi utara ini ada Hutan Terlarang. Lalu dibawah sini.. Oh benar, seingatku disini ada Gua Labirin {El-Vana}. Ada [Elemental Sword] tersimpan di salah satu ujung dari jalur labirinnya," lanjut pemuda itu seraya menunjuk ke arah peta hologram di hadapannya.
"Kurasa keberuntungan menyertaiku." Terlihat Argeas sangat gembira dengan rencana yang akan ia lakukan di wilayah keluarga calon tunangannya itu.
.
Kediaman keluarga Lavis itu adalah sebuah kastil lama yang berdiri kokoh di sebuah dataran tinggi di sisi utara dari 2 kota besar dan beberapa desa di wilayah tersebut. Seperti sebuah benteng pertahanan yang melindungi dari wilayah kegelapan di sisi timur lautnya.
Dan setelah melewati sebuah kota, Argeas pun dapat melihat bangunan kastil tersebut dari jendela keretanya. Meski jaraknya masih cukup jauh, namun sudah dapat dilihat karena ukurannya.
"Wah, terlihat angker," sahut pemuda itu kagum.
Kasti itu terlihat tebal, suram, dan kokoh. Bertolak belakang dengan istana kerajaan di wilayah pusat yang terlihat ramping, berkilau, dan artistik.
-
Argeas disambut oleh Marquis dan beberapa keluarga Evangeline yang lain saat ia turun dari kereta kudanya.
Dan malam harinya ia pun dijamu dengan makan malam yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga besar Lavis.
Selain Evangeline, Marquis dan istrinya, hadir pula putra sulung bakal penerus keluarga Lavis yang bernama Julius. Hadir bersama istri dan juga putranya yang baru berusia 1 tahun.
Dan yang terakhir anak ketiga yang merupakan putri kedua keluarga Lavis, Stephany, bersama tunangannya, Galant, dari keluarga Viscount Sabin yang juga ikut hadir.
Makan malam itu jauh lebih ramai dibanding makan malam keluarga Argeas. Namun meski merasa senang, tetap ada perasaan takut dan kuatir dari Argeas untuk menghadapi keluarga calon tunangannya itu.
.
"Bagaimana Ar, apa kau masih memiliki minat dengan situasi yang terjadi di Kerajaan Pusat sekarang ini?" tanya sang Marquis di sela-sela makan mereka.
Terlihat pria bertubuh kekar itu tidak menutupi kalau ia sangat menyukai Argeas.
"Masih, Marquis." Argeas menjawab jujur.
"Oh, benar-benar. Dari yang kudengar kau tertarik dengan politik dan militer, Ar?" Kali ini Louise, Duke muda suami kakak ipar Argeas yang bertanya.
"Itu hal yang sangat langka mengingat usiamu saat ini," lanjutnya lagi yang tampak penuh minat.
"Saya hanya ingin lebih mengenal kerajaan ini saja," jawab Argeas kemudian masih dengan jujur.
"Kalau begitu aku ingin bertanya padamu tentang permasalah yang sedang marak akhir-akhir ini dalam kerajaan. Apakah boleh?" lanjut Duke Benedict masih terlihat penuh minat.
'Apa ini sebuah ujian?' batin Argeas. 'Ya, seperti ini memang bayanganku tentang bertemu keluarga calon istri. Meski ini baru tunangan saja," tambahnya kemudian.
"Duke, jangan memberi ujian yang terlalu susah ke calon tunangan adik iparmu." Kali ini Christina, istri sang Duke yang berucap. Yang kemudian dibalas dengan tawa oleh semua orang.
"Saya akan coba untuk menjawab sebisa yang saya mampun, Duke Louise," balas Argeas mencoba untuk bersikap sopan.
'Karena ini adalah kesempatan untuk mencari simpati dan koneksi ke bangsawan lain demi kemudahanku kedepannya, maka aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk membuat semua orang terkesan,' lanjut Argeas dalam hati.
"Aku hanya ingin bertanya tentang tanggapanmu mengenai perbudakan Beastman yang terjadi di era kita sekarang ini?" Louise bertanya tanpa ragu.
'Hah? Pertanyaan tentang perbudakan? Yang benar saja? Apa Duke Benedict sedang mencoba untuk mempermalukanku?' batin Argeas sedikit tidak terima dengan pertanyaan yang menurutnya terlalu berlebih untuk anak seumurannya.
'Ya, meski itu bukan pertanyaan sulit untukku, tapi tetap saja rasanya seperti sedang dipermainkan. Apa anak berusia 16 tahun di dunia ini wajar mengetahui tentang masalah seperti itu?' pikirnya lagi.
"Apa kau serius bertanya hal seperti itu kepada bocah usia 16 tahun, Lu?" ucap Christina yang sedikit protes dengan pertanyaan suaminya itu.
"Benar. Apa anda mencoba mempermalukannya, Duke?" Kali ini Julius yang ikut melayangkan ketidak terimaannya.
'Ah, rasanya senang juga melihat kakak-kakak Eve membelaku,' batin Argeas yang sudah tidak lagi merasa kesal.
"Jangan kuatir Julius, Tina, Argeas sangat mengerti tentang permasalahan seperti itu." Tiba-tiba sang Marquis menyela. "Coba utarakan saja pendapatmu, Ar," lanjutnya kemudian.
'Oh, Marquis tidak membantu sama sekali,' batin Argeas seraya menghebuskan nafas. 'Apa boleh buat. Aku tetap harus membuat Duke Benedict terkesan. Sekaligus memenuhi ekspektasi Marquis yang sudah percaya padaku.'
Sedang terlihat Evangeline hanya tersenyum kecut menatap Argeas. Seolah berkata kalau dia juga tidak dapat membantu.
"Mungkin pendapat saya akan terdengar konyol karena kurangnya saya akan pengalaman," ucap Argeas kemudian.
__ADS_1
"Jangan kuatir. Aku hanya ingin mendengar dari sudut pandang pribadimu," balas sang Duke menjawab.
'Perbudakan Beastman ini memang nantinya akan memanas dan berujung pada sebuah konflik yang mempengaruhi alur cerita game dan pertumbuhan karakter tokoh utamanya,' batin Argeas mencoba menyakinkan ingatannya.
"Menurut saya, perbudakan ini akan membawa dampak buruk bagi kerajaan pusat," ucapnya kemudian.
"Karena bila hal ini terus dilakukan, maka fraksi-fraksi pemberontakan akan memiliki alasan untuk bergabung dan melawan balik Kerajaan Pusat. Terutama kerajaan bagian Sandaria di ujung barat tempat mayoritas para Beastman tinggal, juga Serikat Aristokrasi di tenggara. Yang menjunjung tinggi persamaan derajat semua mahluk hidup," lanjut Argeas menjelaskan dasaran dari jawabnya sebelum ini.
Terlihat banyak wajah-wajah yang tampak terkejut mendengar jawaban dari Argeas tersebut.
"Oh.. aku tidak berharap jawaban dalam seperti ini." Terlihat sang Duke yang tadinya terkejut mulai memasang senyum puas.
"Dan apa menurutmu Kerajaan Bagian itu dapat menjatuhkan Kerajaan Pusat meskipun mereka bekerjasama, Ar?" Kali ini Marquis yang menyambungkan pertanyaan.
"Secara perhitungan di atas kertas, itu hal yang mustahil, Marquis. Karena kekuatan Kerajaan Pusat hampir 3 kali lebih besar dari kekuatan yang dimiliki wilayah bagian." Argeas menjawab.
"Jadi menurutmu hal itu mungkin di kenyataannya?" Sang Marquis kembali bertanya untuk memastikan.
"Saya tidak berharap itu terjadi, tapi saya merasa kemungkinan itu besar," jawab Argeas membenarkan dugaan Marquis.
Mendengar jawaban dari Argeas itu membuat sang Duke tidak kuasa untuk tidak bertanya. "Kenapa kau merasa seperti itu?"
"Masalah terbesar yang dihadapi kerajaan pusat saat ini adalah wilayah kegelapan yang mulai menunjukan tanda-tanda pergerakan di beberapa tahun terakhir."
Argeas menjedah.
"Dan bila suatu saat nanti para monster dari wilayah kegelapan itu bergerak, maka kerajaan pusat harus mengirim pasukan terkuatnya untuk menghadang. Dan hal itu jelas akan mempengaruhi pertahanan wilayah pusat."
Semua orang terlihat serius mendengarkan jawaban Argeas tanpa menyela sama sekali. Bahkan para perempuan pun juga terlihat ikut menyimak.
"Dan bila saya adalah pemimpin kerajaan bagian, maka saya akan melakukan serangan begitu ada tanda-tanda wilayah pusat mengirimkan pasukannya ke perbatasan ini," lanjutnya menutup jawaban.
"Kau memang seperti yang diceritakan Marquis, Ar. Kau benar-benar tahu apa yang sedang terjadi dan paham akan kemungkinan yang bakal terjadi," ucap Duke Benedict setelah terlihat kagum akan jawaban dari calon adik ipar jauhnya itu.
"Aku salut padamu. Di usia semuda ini kau sudah memiliki banyak pengetahuan," tambahnya lagi terlihat sangat puas.
"Terima kasih, Duke." Argeas tersenyum seraya mengangguk kecil.
'Yes!' serunya dalam batin.
"Tidak hanya itu. Dia juga seorang [Arcmage] yang ingin menjadi [Battlemage] nantinya." Seolah belum puas membanggakan bakal calon menantunya itu, Marquis kembali membahas tentang kelebihan Argeas yang lain.
"Oh, benar. Aku sampai lupa kau terlahir dengan class langka itu."
'Ah... akhirnya tema pembicaraan ini datang juga,' batin Argeas dengan sedikit malas.
"Sepertinya kau mendapat keberuntungan besar, Eve," sahut kakak perempuan kedua Evangeline.
"Sudahlah kalian semua. Semakin kalian memuji, akan membuatnya semakin gugup dan tertekan," ucap Evangeline kemudian.
"Argeas bukan orang yang hanya bangga bila dipuji. Dia akan mencoba untuk memenuhi standar pujian itu. Jadi biarkan dia menjalani hidupnya seperti bocah 16 tahun biasa," lanjutnya lagi.
"Bicaramu itu seolah kau jauh lebih tua darinya," balas Christina.
"Benar. Bukan malah kau yang harusnya mencoba mengimbangi standar dari calon suamimu itu?" sahut Stephany kakak perempuannya yang lain menimpali.
"Oh, kalian tidak tahu saja," balas Evangeline tidak mau kalah.
Dan kemudian topik pembicaraan pun mulai berubah ke hal-hal yang jauh lebih ringan.
-
Selesai makan malam Argeas pun diantar Evangeline menuju ke kamar tamu tempatnya tinggal selama berada di kastil tersebut.
Mereka berjalan berdua melewati lorong dengan jendela-jendela berbingkai tinggi di sisi kanannya. Menampakan bentangan langit malam dengan bulan yang tengah tertutup awan.
"Bagaimana? Setelah bertemu dengan mereka, kau tidak berniat mengurungkan diri menjadi tunanganku, kan?" tanya Evangeline memulai percakapan ringannya dengan Argeas.
"Apa kau kuatir?" Argeas tertawa kecil.
"Hanya ingin menegaskan saja bahwa aku tidak sama dengan mereka," balas Evangeline dengan nada sedikit sombong.
"Kau itu sama seperti kakak-kakakmu," sahut Argeas.
"Apa? Dari mana kau bisa menilaiku sama seperti mereka?" Evangeline terdengar tidak terima. Wajahnya sengaja dibuat-buat kesal.
"Ya mungkin bedanya kau jauh lebih cantik," balas Argeas memuji.
"Meski kau puji, aku tetap tidak terima disamakan dengan mereka." Evangeline melipatkan tangan ke depan dada dengan gerakan kesal. Meski terlihat ia mulai tersenyum kecil.
"Baiklah, aku sudah sampai di kamarku dengan selamat," ucap Argeas kemudian saat mereka tiba di depan pintu kamarnya.
"Kalau begitu istrirahatlah. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh kemari," balas Evangeline.
"Jangan kuatir. Kalau begitu selamat malam," ucap Argeas kemudian.
"Malam," ucap Evangeline sebelum kemudian mencium pipi Argeas dengan tiba-tiba.
Argeas tampak terkejut dengan ciuman mendadak itu. Namun tak sempat bereaksi karena gadis yang memberinya ciuman itu sudah kabur dengan cepat.
"Gadis itu." Argeas menggeleng kecil menatap calon tunangannya berlari menjauh di lorong koridor.
-
Di dalam kamar, alih-alih bersiap untuk istirahat, Argeas malah tampak sedang bersiap untuk keluar.
"Karena akan sayang sekali bila tidak menggunakan kesempatan yang hanya 2 minggu di tempat ini untuk melakukan penaklukan Dungeon," ucap Argeas setelah selesai memasang perlengkapannya.
"Lu!" seru Argeas yang kemudian terlihat seekor rubah keluar dari tato di pergelangan tangannya.
Dan kemudian tanpa buang waktu Argeas bersama Lushu segera keluar melalui jendela kamarnya menuju ke Gua Labirin yang berjarak setengah hari dari kastil keluarga Lavis tersebut sesuai dengan rencana sebelumnya.
__ADS_1
Yang dengan bantuan sihir berpindah tingkat tinggi milik Ascian, Argeas bisa tiba hanya dalam waktu sekejap saja.
-