
Dua minggu pun berlalu semenjak pertemuan Argeas dengan Anastasia. Dan selama itu tidak ada hal penting atau hal menghebohkan yang terjadi.
Sedang Argeas kini sudah mendapat beberapa kemampuan Non-Combat ketika menemani tunangannya.
Seperti kemampuan [Fishing], [Coocking], dan [Skinning].
Disamping itu Item-Item buatan Evangeline juga sudah memiliki pembeli tetap dan cukup laku di pasaran.
Yang dengan meningkatnya permintaan akan Item-Item tersebut, maka permasalahan tentang material pun mulai terasa.
"Kemarin aku meminta bantuan pada Ascian untuk mengenalkan Fairy Nature Tier untuk kau jadikan pasangan kontrak," ucap Argeas kepada tunangannya saat mereka tengah makan siang bersama.
"Wah, benarkah? Aku merasa sangat beruntung memiliki tunangan sepertimu, Ar," balas Evangeline dengan gembira dan bersemangat.
"Aku jadi tidak perlu bersusah-payah mencarinya sendiri," tambahnya lagi.
"Tapi Ascian hanya akan mengenalkannya saja padamu. Semuanya tergantung padamu sendiri. Bagaimana caramu meyakinkan Fairy itu untuk menjalin kontrak denganmu." Argeas memperjelas situasinya.
"Ya, kurasa aku harus mencobanya. Aku punya cukup rasa percaya diri setelah berhasil menjinakan Snow," balas Evangeline dengan penuh keyakinan.
"Baguslah kalau memang begitu. Besok minggu kita bertemu Ascian di danau yang biasa," ucap Argeas kemudian.
"Aku sudah tidak sabar menantinya."
-
-
"Ruby!" seru seekor kelinci mungil berwarna putih dengan mata merah mengkilat serupa batu rubi, setelah tiba-tiba melompat dari belakang Ascian.
"Dandelion!" susul seekor kucing hitam yang juga melompat dari belakang peri tua itu hampir bersamaan dengan si kelinci.
Kucing itu memiliki warna mata yang berbeda di setiap sisinya. Kuning di sebelah kanan, dan Cyan di sebelah kiri.
"Mereka adalah Ruby dan Dandelion. Ruby adalah Fairy Mineral yang dapat dengan mudah menemukan segala jenis mineral di sekitarnya. Sedang Dandelion adalah Fairy Herb yang dapat menemukan segala jenis tumbuhan rambat serta jejamuran." Ascian memperkenalkan dua Fairy bawahannya itu kepada Evangeline.
"Wah. Aku ingin keduanya." Evangeline terlihat meminta. "Disamping kemampuan keduanya memang sangat aku perlukan, juga mereka berdua sangatlah imut dan lucu."
"Ya, mereka memang terlihat lucu." Argeas mengakuinya.
"Bagaimana? Apakah itu mungkin, Ar?" tanya Evangeline terlihat tak sabar.
"Membuat kontrak dengan keduanya?" Argeas memastikan maksud dari pertanyaan tuangannya itu.
Dan Evangeline mengangguk cepat.
"Melakukan Aura Pack dengan lebih dari satu Fairy itu sangat mungkin. Hanya saja apakah kau dapat melakukannya, itu pertanyaan yang sebenarnya," ucap Argeas kemudian.
"Tapi meski apapun hasilnya, aku harus tetap mencobanya terlebih dahulu, kan?" Evangeline terlihat sudah bertekat.
"Ya, benar. Aku suka semangatmu, Eve," ucap Argeas yang terlihat bangga kepada gadis di hadapannya itu.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Evangeline bertanya.
"Bagaimana, As?" Argeas melanjutkan pertanyaan itu ke Ascian.
"Berbeda dengan Fairy tingkat Penguasa sepertiku, Fairy tingkat Nature adalah Fairy paling rendah tingkatannya. Jadi kau tidak bisa menawarinya ikatan kontrak secara langsung." Peri tua itu mulai menjelaskan. Sementara Argeas dan Evangeline menyimaknya dengan seksama.
"Maka kau harus menggunakan sihir pengikat kepada mereka. Bila mereka tidak menyukaimu, maka sihir itu tidak akan bekerja. Tapi bila mereka juga menyukaimu, maka Aura Pack akan terjalin," lanjut Ascian.
"Sihir pengikat?" Evangeline terlihat bingung.
"Itu sihir [Charm] yang seminggu lalu kita pelajari bersama." Argeas menjawab kebingungan gadis itu.
"Oh, yang itu. Aku mengerti." Evangeline mengangguk cepat seolah tidak sabar.
"Baiklah, akan aku coba," lanjutnya kemudian.
Dan terlihat Gadis itu mengangkat kedua tangannya mengarahkan ke dua Fairy di hadapannya. Yang kanan ke arah si kelinci putih, dan yang kiri ke arah si kucing hitam.
"Charm!" serunya setelah ia sudah merasa cukup berkonstentrasi.
Dan beberapa detik kemudian terlihat sebuah simbol yang bersinar terang mulai terbentuk di kedua punggung tangan Evangeline yang mengarah ke Fairy-Fairy tersebut.
...<>...
...<>...
...<>...
Munculnya pemberitahuan dalam benak Evangeline menandakan bahwa kedua kontraknya telah berhasil dilakukan.
Dan kini Evangeline telah mendapat Achivement Titles [Fairy Kin]. Karena memiliki ikatan kontrak dengan lebih dari satu Fairy.
"Wah!!" seru gadis itu sangking senang dan tidak percayanya telah berhasil melakukan ikatan dengan dua Fairy secara sekaligus.
"Kau lihat itu Ar? Aku berhasil menjalin kontrak dengan dua Fairy sekaligus," seru Evangeline mencoba menyombongkan diri.
Meski menurut Argeas itu bukanlah hal yang luar biasa, karena dengan level dan jumlah MP yang dimiliki Evangeline saat ini, tidak akan susah untuknya mengikat lebih banyak lagi Fairy dengan tingkatan paling rendah seperti itu.
Tapi Argeas tidak ingin mengecilkan hati tunangannya. Ia benar-benar merasa senang untuk gadis itu.
"Ya, tunanganku memang luar biasa," balasnya kemudian dengan pujian.
Terlihat Evangeline segera meraih kedua Fairy yang telah mengikat kontrak dengannya itu, dan mendekapnya dengan gemas dalam pelukan.
-
-
Setelah itu Argeas dan Evangeline memutuskan untuk melakukan pencarian material di dalam salah satu Gua Reruntuhan yang terkenal sebagai tempat penambangan Mineral dengan kualitas tinggi. Yaitu Gua Kristal {El-Maya}
Namun tempat itu bukanlah tempat favorit untuk dikunjungi karena situasi dan kondisinya yang kurang mendukung.
Reruntuhan itu berisi monster-monster tingkat menengah yang cukup merepotkan untuk dihadapi oleh [Erudite]. Tapi tidak memberikan XP dan yang sepadan untuk mereka yang mampu melawannya.
__ADS_1
Ditambah lagi posisi mineral-mineralnya yang harus dicari terlebih dahulu, membuatnya jadi tempat yang tidak sepadan untuk dijelajahi.
Bahkan Argeas pun berpikiran seperti itu sampai kemudian Evangeline berhasil melakukan kontrak dengan Fairy Mineral.
'Memang Dungeon yang satu ini terkenal bikin dongkol para pemain karena Grinding dan Random Encounter monster-monsternya yang ga sepadan dengan hasil yang didapat,' batin Argeas saat ia dan tunangannya bersiap untuk memasuki Gua Kristal {El-Maya} tersebut.
'Tapi lain cerita kalau kita sudah punya pemandu yang akurat untuk menunjukan tempat-tempat dimana mineral itu berada,' lanjutnya lagi dalam benak.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Ar? Apa sebegitu rindunya kau melakukan penjelajahan sampai hanya memasuki Reruntuhan saja sudah membuatmu sesenang itu?" ucap Evangeline saat melihat wajah gembira tunangannya.
"Ya, bohong kalau aku bilang aku tidak merindukan penjelajahan dalam Reruntuhan," balas Argeas tidak menutupi perasaannya.
"Sekarang kau terlihat seperti bocah seusiamu." Evangeline kembali berucap.
"Keluarlah, Lu," seru Argeas tanpa terlalu memperdulikan tunangannya itu.
Rubah ekor empat terlihat melompat keluar dari Insignia di pergelangan tangan Argeas.
"Sudah lama kita tidak berolah-raga, Lu. Ayo kita kita gerakan tubuh kita!" seru pemuda itu yang dibalas kekehan tawa dari Lushu.
Sementara Evangeline di belakang terlihat hanya tersenyum kecil. Ikut gembira mendapati calon suaminya bertingkah seperti yang seharusnya.
.
Dan tampaknya perhitungan Argeas tidaklah meleset. Hanya dalam waktu 2 jam saja, mereka sudah berhasil mendapatkan mineral yang Evangeline butuhkan untuk seluruh proyek yang akan ia kerjakan. Termasuk material cadangan bila terjadi sesuatu yang tidak direncanakan di kedepannya.
Dan semua itu karena seekor kelinci yang dengan akurat menunjukan lorong-lorong yang memiliki mineral di dalamnya.
"Kurasa cadangan mineral ini terlalu banyak, Ar." Evangeline berucap saat memeriksa Jendela Inventory nya.
"Jangan kuatir. Kau masih bisa menjualnya secara mentah bila memang tidak diperlukan lagi. Pasti masih banyak yang berniat membelinya," balas Argeas.
Saat ini mereka berdua bersama Lushu dan Ruby berada di area paling ujung dalam Reruntuhan tersebut. Tepat sebelum area bos.
Argeas memang tidak berencana untuk melawan bos monster atau melakukan pembersihan dalam Rerutuhan tersebut agar tidak memicu kehebohan.
Karena sudah hampir 30 tahun sejak ditemukan, menurut yang Argeas dengar, belum pernah ada yang berhasil membersihkannya. Entah memang karena susah atau karena merepotkan dan tidak sepadan.
Dan karena itulah Argeas hanya berhenti sampai tempat itu saja.
"Ya, kurasa kau benar. Aku bisa menjualnya secara mentah," ucap Evangeline sependapat.
"Dan juga terima kasih buat Ruby!" Gadis itu segera memeluk Ruby dengan gemas. "Kau lah yang paling berjasa hari ini."
"Ru!" seru si kelinci menanggapi pujian Evangeline.
Memang Fairy tingkat rendah tidak dapat berkomunikasi secara verbal dengan manusia.
"Kalau begitu sudah saatnya kita kembali," ajak Argeas kemudian.
"Benar. Sebentar lagi juga jam makan siang," balas Evangeline seraya bersiap untuk menuju pintu keluar.
Saat tiba-tiba dari arah gerbang menuju ruang bos, terlempar keluar beberapa orang dengan suara ledakan yang mengejutkan.
Blaarrr!
'Apa lagi sekarang? Apa ini sebuah lagi?' keluh Argeas dalam hati.
Debu bekas ledakan tadi mulai menghilang saat terlihat sosok yang baru saja terlempar keluar. Lima orang yang dua diantaranya Argeas kenal.
"Bukankah itu kak Sophie dan kak Jack?" Evangeline juga mengenali mereka.
"Benar. Kak Sophie! Kak Jack!" Argeas segera menghambur menuju ke tempat senior-seniornya itu berada.
Disusul Evangeline yang masih memeluk Ruby, berlari kecil di sebelah Lushu yang memang bertugas untuk melindunginya.
"Ar?!" Jack dan Sophie berseru hampir bersamaan.
Baru kemudian jelas terlihat setelah Argeas tiba lebih dekat. Tiga orang yang meluncur keluar bersama Jack dan Sophie sebelumnya. Dua pemuda dan satu gadis.
Yang gadis tampak mengenakan pakaian pemburu dan mencangklong tabung untuk anak panah. Hanya saja tak terlihat busur di tangannya.
Pemuda yang satu seperti seorang penyembuh dengan perlengkapan yang dikenali Argeas untuk meningkatkan efek sihir atribut [Holy].
Dan pemuda yang kedua tampak memegang tameng dan tombak.
"Rubah Elemental?" seru kelima orang tadi nyaris bersamaan ketika mendapati Lushu yang datang menyusul di sebelah Evangeline.
'Ah, benar juga. Aku lupa tentang Lushu,' batin Argeas merasa kecolongan.
"Ya, itu Lushu. [Familiar]ku," ucapnya kemudian. Sudah malas untuk mengarang cerita.
"Oh... Baiklah. Kurasa sekarang bukan saatnya untuk terkejut." Jack menjawab dengan wajah penuh pertentangan.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, kak?" tanya Argeas yang memang benar-benar penasaran, disamping juga ingin buru-buru merubah topik pembicaraan.
Tapi belum pertanyaan itu mendapat jawaban, terdengar ledakan susulan dari arah yang sama seperti sebelumnya. Dari gerbang ruangan bos.
Blaaarrr!
Terlempar lagi dari dalam, yang kali ini 2 orang dengan pakaian kesatria dan petarung jarak pendek.
Namun tidak sampai disitu saja. Dari gerbang tadi juga muncul sesosok yang tingginya sekitaran 2 meter, berwujud seperti manusia dari batu karang dengan banyak sulur tumbuhan dan beberapa bunga di beberapa bagian tubuhnya.
Argeas mengenali monster itu sebagai Coral Orchid. Bos terakhir Reruntuhan Gua Kristal {El-Maya}.
"Itu bukannya Coral Orchid?" Evangeline juga mengenali monster itu. Karena sebagai seorang pengerajin, Coral Orchid terkenal sebagai monster yang akan menjatuhkan material langka bila berhasil dikalahkan.
"Benar, itu Coral Orchid." Sophie membenarkan.
'Tapi kenapa Bos Dungeon bisa keluar dari areanya?' batin Argeas yang lebih memikirkan tentang hal tersebut.
Belum mereka memahami apa yang tengah terjadi, kesatria yang tadi terlempar keluar segera berbalik arah dan berteriak,
"Awas! Coral Wave!"
__ADS_1
Dan terlihat tangan dari Coral Orchid tadi terangkat ke atas.
'Ah, sial! Dalam jarak ini jangkauan sihirnya tidak akan sempat untuk dihindari,' batin Argeas yang tahu benar apa yang hendak dilakukan oleh monster itu.
Dan tidak membuang waktu Argeas segera mengeluarkan senjatanya yang lain dari dalam Storage.
Tapi bukan pedang seperti sebelumnya, melainkan dua buah sarung tangan besi dengan desain angker dan mengintimidasi. Berwarna hitam dengan ornamen seperti retakan berwarna biru terang.
Itu adalah [Adrammelech's Wrath]. Senjata yang Argeas dapat setelah mengalahkan naga di wilayah perbatasan beberapa bulan lalu.
'Kurasa lebih baik memberi penjelasan pada rombongan kak Jack dari pada tidak selamat,' batin Argeas seraya memasang kedua sarung tangan tadi.
"Baiklah, saatnya beraksi," ucap pemuda itu setelah selesai memasang sarung tangannya dan membuat ancang-ancang berlari.
"Haste, Dash!" serunya kemudian sebelum tiba-tiba saja tubuhnya melesat maju dengan cepat.
Dan setelah melewati posisi si kesatria dan petarung jarak pendek tadi, Argeas kembali mengaktifkan Combat Move nya yang lain.
"Double Jump!"
Dan tubuh pemuda itu seolah terlempar ke atas dua kali mendekat ke bagian yang menyerupai kepala dari monster batu karang tersebut.
Yang kemudian dalam posisi itu Argeas kembali berucap, "Stunt Hit!" Dan lalu melayangkan pukulannya ke kepala monster tersebut dengan sekuat tenaga.
Lompatan kilat terlihat saat pukulan Argeas berhasil mendarat dengan telak di wajah mahluk itu. Yang berdampak dengan hilangannya keseimbangan monster tersebut dan membatalkan serangan yang hendak ia lakukan sebelumnya.
Dampak dari pukulan tadi juga mendorong tubuh Argeas ke belakang. Namun hal itu tidak membuatnya kuatir.
Karena serangan yang baru saja ia lancarkan tadi memiliki efek [Stunt] yang dapat membuat lawan kehilangan kendali atas saraf motorik mereka selama beberapa detik.
'Oh, apa bunga di kepalanya memang selalu terlihat seperti itu? Atau jangan-jangan dia bukan Coral Orchid yang biasa?' batin Argeas setelah menemukan adanya perbedaan pada bentuk kepala monster yang dilawannya itu saat ia tengah terdorong ke belakang.
'Apa karena itu juga dia bisa meninggalkan areanya?'
Argeas pun mendarat dengan mulus di atas kedua kakinya.
"Analys," ucapnya kemudian mengaktifkan sihir pendeteksi ke arah monster coral tersebut.
'Sebentar... Coral Orchid dengan atribut api? Aku baru tahu ada varian seperti ini? Bukankah jenis Orchid malah lemah terhadap atribut api?' Argeas terlihat kebingungan saat mendapati hasil dari sihir [Analys]nya itu.
"Apa yang baru saja terjadi?" Terlihat kebingungan di wajah pemuda bertameng, salah satu rekan Jack, setelah melihat aksi dari Argeas.
"Apa dia baru saja membatalkan serangan Coral Orchid dengan memukul kepala monster itu menggunakan sarung tangan?" tanyanya lagi seolah tengah mencari konfirmasi bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
"Apa dia seorang [Armamentalist]?" Kali ini pemuda penyembuh yang berucap memberikan dugaannya.
"Dia seorang penyihir." Sophie memberi jawaban.
"Penyihir? Yang benar saja? Siapa sebenarnya pemuda itu?" tanya pemuda bertameng tadi terlihat semakin tidak mengerti.
"Dia murid akademi tahun pertama." Kali ini Jack yang menjawab.
"Apa?"
Terlihat kini monster setinggi 2 meter tadi sudah kembali bisa bergerak. Dan mulai memasang kuda-kuda baru.
'Posisi ini? Jangan-jangan sihir milik bos monster lain, [Inferno Hell]?' Argeas yang mengetahui hal tersebut terlihat tidak percaya.
"Ar, monster itu kembali bergerak," seru Evangeline mencoba memberi peringatan.
"Semuanya jangan bergerak," larang Argeas yang langsung disambung dengan seruan, "Barrier!" Sambil menyahut tongkat sihirnya dari pinggang.
Dan hampir bersamaan dengan itu muncul dari bawah tanah secara acak pilar api yang menghanguskan semua benda yang ada di atasnya.
Itu adalah sihir tingkat menengah [Inferno Hell] yang dimaksud Argeas.
Namun meski rombongan Jack dan Evangeline tidak dapat menghindarinya, Argeas telah berhasil mengaktifkan sihir pelindung [Barrier] yang merupakan sihir area miliknya. Yang memiliki jangkauan cukup besar hingga dapat melindungi semua orang.
'Akan semakin berbahaya bila dibiarkan berlama-lama. Karena aku tidak memiliki informasi apapun tentang skill atau sihir yang dimilikinya,' batin Argeas membuat kesimpulan
"Berarti memang sudah saatnya untuk diakhiri," ucap Argeas sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Coral Orchid.
"Blood Sacrifice, Parallel Cast, Heavy, Instant Cast, Quagmire!" rentetnya kemudian dengan pengaktifan beberapa kemampuan secara sekaligus.
Dan tiba-tiba saja gerakan Coral Orchid tadi mulai melambat seolah sedang didorong oleh kekuatan tak kasat mata ke bawah.
Lalu secara bertahap, tanah yang dipijak monster itu mulai terlihat retak-retak. Yang mana dari sela retakan tersebut muncul air yang menggenang dengan sangat cepat.
Dan tak sampai hitungan menit, permukaan tanah di sekitar bos monster itu mulai berubah menjadi lumpur yang seolah menelan mahluk coral tersebut dengan cepat.
Argeas kembali memasukan sarung tangannya ke dalam Storage, saat rombongan Jack dibuat menganga tak percaya melihat secara langsung sebuah sihir tingkat tinggi tepat di hadapan mereka.
Tak lama kemudian tanah lumpur yang sebelumnya mulai kembali menjadi solid setelah sosok dari Coral Orchid tadi sudah tidak lagi terlihat. Lenyap ditelah bumi. Bahkan tidak hanya bangkainya saja yang hilang, namun nya pun juga ikut tak tersisa.
...<>...
...<<9000 XP Obtained>>...
...<>...
...<<>>...
...<>...
...<>...
.
'Oh, jadi itu tadi bukan varian dari Coral Orchid? Tapi apa itu Hellish Orchid? Aku belum pernah melihatnya di dalam game. Apa itu sesuatu yang hanya ada di dunia ini saja?' Argeas mencoba memecahkan misteri yang baru saja ia dapatkan itu.
"Ar?!" Terdengar seruan Evangeline kemudian.
"Oh, benar. Eve."
Dan saat berbalik terlihat selain tunangannya ada 7 orang yang menatapnya dengan wajah penuh ketertarikan dan juga rasa kagum.
__ADS_1
'Ya, kurasa aku harus kembali menggunakan kemampuan melobiku untuk menghadapi mereka,' pikir Argeas dengan senyuman canggung berjalan mendekat.
-