Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan
Akademi


__ADS_3

"Ar?!" Terdengar seruan Regina memanggil begitu Argeas keluar dari kereta kuda.


Ia kini sudah berada di pelataran luar komplek Akademi.


"Oh, kak Re," balas Argeas yang kemudian setengah berlari menghampiri kakak perempuannya yang sedang berteduh di bawah bayang-bayang pohon.


Memang tugas untuk menemani dan membantu Argeas selama berada di Kotaraja di tengah proses pendaftaran Akademi ini adalah Regina. Kakak perempuannya yang baru saja lulus.


"Hei, Ar?!" Seorang gadis menyapa Argeas dengan ceria dari sebelah sang kakak.


"Selamat siang, kak Sophie, Kak Ashley. Lama tidak bertemu." Argeas mengenali 2 gadis yang sekarang berada bersama kakaknya itu. Mereka pernah datang ke perayaan ulang tahunnya.


'Wah, baru juga mau masuk Akademi. Udah ada aja koneksi ke si Alexa,' batin Argeas memaksudkan kepada Ashley yang ia tahu adalah sahabat Alexandra.


"Kau terlihat lebih gagah sekarang, Ar. Andai saja kau belum bertunangan, aku pasti akan meminta keluargaku untuk menjodohkan kita," ucap Sophie dengan nada menggoda.


Yang dibalas Argeas dengan tersenyum tanpa tahu harus menjawab apa.


"Sudah jangan menggodanya, Soph. Lagi pula aku pasti akan menolak mentah-mentah bila Ar benar dijodohkan denganmu," sahut Regina menimpali seloroh temannya itu.


"Uh, jahat sekali sih Re." Sophie terlihat memanyunkan wajahnya mencoba untuk bertingkah imut.


"Kita harus jalan sekarang. Takutnya terlambat melakukan pendaftaran nanti." Ashley gadis yang seingat Argeas juga memakai bando di pertemuan pertama mereka, tiba-tba saja memotong mengingatkan.


"Oh, benar, benar, ayo Ar," ajak Regina yang segera menyudahi perbincangannya dengan Sophie dan mulai berjalan memasuki pelataran dalam komplek Akademi.


"Kalau begitu nanti setelah selesai Uji Masuk, kita kumpul lagi ya, Ar. Kita cari perlengkapanmu bersama-sama," ucap Sophie mengajak setelah keempat orang itu melewati Gerbang Dalam Akademi.


Argeas tampak ragu untuk menjawab. Dan hanya menatap ke arah sang kakak seolah meminta arahan.


Sedang Regina hanya mengangguk kecil seperti memberi persetujuan.


"Baik, kak," jawan Argeas lalu dengan sedikit enggan.


'Sebenarnya kenapa sih mereka ingin bergaul denganku? Meski ya, aku senang-senang saja bisa memiliki banyak teman dan koneksi. Tapi kalau harus terhubung dengan si Alexa ya males juga,' lanjutnya membatin.


.


Dan setelah memasuki area tengah Akademi, Regina sekalian memperkenalkan beberapa tempat penting kepada Argeas sembari menuju ke gedung pendaftaran, sebelum kemudian meninggalkannya disana untuk mengikuti Uji Masuk Akademi.


Uji Masuk itu sendiri terdiri dari uji tertulis tentang teori sihir, uji ketrampilan sihir, dan pengukuran Aura yang berfungsi sebagai faktor penentu penempatan kelas.


Uji tertulis itu dibagi menjadi 3 kategori. Incarnation, Spells, dan Attribute, yang masing-masing memiliki 20 pertanyaan.


.


Terlihat wajah serius Argeas yang tengah mengetuk-ketukan jari telunjuk ke atas meja tempatnya mengerjakan ujian bersama calon murid yang lain.


Tapi itu bukan karena ia menemukan soal yang sulit, namun karena ia sedang menimbang apakah harus menjawab semua pertanyaan itu dengan benar, atau menyalahkannya beberapa agar tidak terliihat menonjol.


Karena materi soal dalam Uji Tertulis itu sudah sangat dikuasai oleh Argeas yang memang selama ini telah mempelajari tentang bagaimana sistem dan mekanisme sihir bekerja.


'Kalau aku mendapat nilai sempurna, pasti pihak Akademi akan membuatku menjadi Murid Perwakilan. Hal itu tetap bisa berakibat buruk meski aku tidak masuk ke Kelas Elit,' batin Argeas membuat penilaian.


'Lagi pula tujuanku sekarang adalah memasuki Akademi dengan cara senormal mungkin. Jadi kurasa aku tidak boleh mendapat nilai sempurna,' lanjutnya kemudian yang terlihat sudah menentukan sikap.


Dan sambil mengangguk-angguk kecil seolah baru saja mengingat sesuatu, Argeas mulai mengerjakan soal Uji Tertulis tersebut dengan menyalahkan 10 jawaban dari 20 per kategorinya. Dan berharap akan mendapat nilai rata-rata yang tidak terlalu menonjol.


.


Beberapa saat setelah Uji Tertulis selesai dilakukan, para murid mulai diarahkan menuju ke Lapangan Penguji. Mereka akan langsung melakukan Uji Ketrampilan.


Serupa dengan Uji Tertulis, Uji Ketrampilan juga dibagi menjadi 3 kategori. Kecepatan, Kekuatan, dan Keragaman. Yang mana Kecepatan adalah untuk menilai kecepatan merapal sebuah Magic Spell,  kemudian Kekuatan adalah untuk menilai seberapa besar kekuatan Magic Spell yang dikeluarkan, dan terakhir Keragaman adalah untuk menilai seberapa banyak jenis Magic Spell yang dikuasai.


Terlihat calon murid dibagi menjadi beberapa kelompok kecil oleh beberapa Penguji. Kemudian satu persatu dipanggil secara bergiliran.


Para Penguji meminta calon murid untuk mengaktifkan Magic Spell yang paling mereka kuasai dan menembakannya ke sebuah papan sasaran yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


Setelah itu Penguji meminta calon murid untuk mengaktifkan Magic Spell mereka yang lain dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


Umumnya para Penguji hanya meminta calon murid mengaktifkan 2 Magic Spell saja. Namun di beberapa kasus terkadang juga meminta untuk mengaktifkan lebih banyak Magic Spell.


.


Tak lama kemudian giliran Argeas yang dipanggil maju oleh Penguji.


"Argeas Danae," panggil seorang pria yang masih cukup muda dengan kacamata tanpa pegangan telinga bertengger di batang hidungnya.


Argeas segera berjalan mendekat.


"Sekarang coba keluarkan Magic Spell yang paling kau kuasai dan lempar ke sasaran itu," perintah sang Penguji kemudian.


'Ya, ini masalahnya. Kalau aku menggunakan sihir elemental tingkat rendahku, maka aku akan kesulitan untuk mengatur kekuatannya karena grade sihir-sihir itu sudah maksimal semua. Tapi kalau aku menggunakan sihir tingkat menengah, maka Penguji tetap akan memberiku nilai tinggi meski grade sihir itu rendah, dan aku tidak menginginkan hal itu,' batin Argeas sebelum kemudian menghembuskan nafas panjang. Terlihat seolah sedang bersiap-siap.


Padahal kenyataannya ia tengah frustasi karena harus mencari cara untuk mengakali Uji Ketrampilan kali ini.


'Jadi aku akan mengambil pilihan lain, dengan menggunakan sihir tingkat rendah yang jarang ku gunakan,' putusannya kemudian.


Dan setelah itu Argeas berucap, "Hard Light." Sembari mengayunkan tongkat sihirnya ke arah papan sasaran.


Terlihat seperti sebuah kristal bercahaya putih terang keluar dari ujung tongkat sihir Argeas dan kemudian meluncur mengantam papan sasaran dengan sedikit kurang bertenaga.


"[Hard Light]? Pilihan yang unik," respon sang Penguji seraya menulis sesuatu pada kertas berpapan yang ia bawa. "Sekarang lakukan hal yang sama namun dengan Magic Spell lain yang kau miliki," pintanya kemudian.


"Hm... maaf, pak. Tapi sihirku yang lain tidak dapat digunakan dengan metode seperti ini," sela Argeas memberi tahu.


"Eh? Maksudmu?"


"Magic Spell lain yang ku miliki ber-Attribute [Mind]." Argeas mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Oh, menarik sekali. Sihir apa?" Pria Penguji itu mendorong kacamatanya ke belakang. Terlihat mulai menaruh minat terhadap sihir milik Argeas.

__ADS_1


"[Sleep]." Argeas menjawab cepat.


"Oh, baiklah. Kau bisa gunakan pada..." Terlihat Penguji itu mengedarkan pandanganya ke sekitar. "Ah, ke burung yang sedang bertengger di atas dahan itu," lanjutnya kemudian setelah menemukan sasaran yang ia cari.


"Baiklah." Argeas mengangguk paham. Segera ia mengarahkan tongkat sihirnya ke seekor burung berbulu kuning-merah yang sedang bertengger di pohon di belakangnya.


"Sleep," ucapnya setelah itu.


Dan tanpa pertanda apapun, burung tersebut tiba-tiba menutup matanya dan kemudian jatuh ke atas rumput dengan begitu saja.


"Oh, kau cukup ahli menggunakannya," ucap sang Penguji seraya kembali menulis sesuatu di atas kertas berpapannya. Terlihat semakin antusias.


"Terima kasih." Argeas menjawab sopan.


"Apa kau masih memiliki jenis sihir lain yang ingin kau tunjukan padaku?" Terlihat sang Penguji bertanya karena rasa ketertarikannya pada Argeas.


"Tidak ada pak. Dua itu adalah sihir yang paling aku kuasai," jawab Argeas berbohong.


"Hm... Baiklah kalau begitu. Kau boleh pergi sekarang," ucap sang Penguji kemudian terlihat sedikit kecewa.


"Terima kasih." Argeas pun berjalan kembali ke barisan para calon murid di belakang.


"Oh, dan jangan lupa bangunkan burung itu," tambah sang Penguji sambil menunjuk ke arah burung yang kini sedang terkulai tak sadarkan diri di atas rumput.


"Oh, benar." Argeas terlupa akan hal itu. "Wake," ucapnya kemudian untuk membatalkan sihir sebelumnya.


Dan terlihat secara tiba-tiba burung itu melompat berdiri, menggerakan kepalanya ke berbagai arah dengan bingung, sebelum kemudian melesat terbang.


Burung tersebut sempat mengejutkan seorang gadis calon murid yang tengah bersiap untuk mengeluarkan sihir.


Ujung dari keterkejutan itu adalah melesetnya sihir yang gadis tadi keluarkan dari sasaran awalnya.


Sebuah bola pijar [Flare Orb] melesat cepat ke arah samping dan menghantam sihir milik calon murid yang lainnya, [Ice Shard], yang menyebabkan terjadinya ledakan yang cukup besar.


Menilai bahwa ledakan tersebut terlalu dekat dan mungkin akan melukai calon murid yang mengeluarkan sihir [Ice Shard] tadi, maka Argeas pun segera bertindak.


"Dash." Argeas secara rahasia mengaktifkan Combat Moves nya.


Dan dengan cepat ia berlari mendekat ke arah calon murid tadi, seorang pemuda dengan perawakan mungil, yang lalu dirangkulnya dari belakang, dan kemudian kembali mengaktifkan Combat Moves nya yang lain.


"Double Jump."


Argeas melakukan lompatan ganda namun ke belakang. Sambil menarik tubuh pemuda berperawakan mungil tadi menjauh dari ledakan.


Argeas dan pemuda itu berakhir dengan posisi terjungkal di depan barisan calon murid yang sedang menunggu. Meski cukup memalukan, namun pemuda itu berhasil selamat dari ledakan.


"Kau tidak apa-apa?" Argeas yang sudah berdiri terlebih dulu mengulurkan tangannya membantu pemuda tadi.


"Ah, iya. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut dan lebih banyak malunya," balas pemuda berambut ikal coklat kemerahan itu dengan sedikit gurauan.


"Maafkan aku." Argeas merasa bersalah.


"Hei, tak perlu meminta maaf. Kau baru saja menyelamatkanku," balas pemuda itu sambil memungut tongkat sihirnya.


"Ya, kami tidak apa-apa, pak. Jangan kuatir," jawab pemuda itu sambil tersenyum lebar.


"Hei, apa-apaan itu tadi?" Seorang gadis terlihat berjalan cepat kearah Argeas dan pemuda itu. Dia adalah calon murid yang terkejut saat hendak mengeluarkan [Flare Orb] tadi.


"Maaf itu tadi kesalahanku." Argeas segera meminta maaf. Karena merasa dialah penyebab dari semua kejadian itu.


"Apa kau sadar bahayanya melakukan hal itu?" Terlihat gadis tersebut semakin tidak terima begitu mendengar permintaan maaf dari Argeas.


"Dan aku juga jadi kehilangan kesempatanku untuk mendapat nilai sempurna di Uji Ketrampilan kali ini," lanjutnya lagi kesal.


"Tak perlu kuatir Bellatrix, kau bisa mengulangnya lagi. Ujian sebelumnya tidak akan dihitung." Seorang Penguji perempuan mendatangi dan mencoba untuk menenangkan gadis yang dipanggil Bellatrix itu.


Gadis itu mendecakan lidahnya masih merasa tidak terima. "Tapi gara-gara dia aku jadi tidak bisa tampil dengan sempurna dan harus mengulangnya," sungutnya kemudian.


"Argeas tidak salah. Aku yang tadi memintanya untuk membangunkan burung itu setelah menerima sihir [Sleep] tanpa memastikan situasi terlebih dahulu." Kali ini Penguji Argeas yang angkat bicara mencoba untuk meluruskan.


"Oh? Apa kau putra keluarga Danae?" Tiba-tiba pemuda tadi menyahut saat mendengar nama Argeas disebut.


"Benar?" Argeas menjawab dengan sedikit ragu.


"Oh, aku mendengar cerita tentangmu dari Rodio. Aku Lufaine Nurtei, sepupu Rodio." Pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Lufaine itu segera menyahut tangan Argeas dan menjabatnya.


'Hah? Memang Rodio bercerita apa tentang aku? Perasaan kami hanya bertemu sekali saat aku menyambutnya di kediaman Lavis,' batin Argeas sedikit bingung.


Namun tetap ia membalas sapaan pemuda itu sebagai bentuk dari kesopanan.


"Oh, salam kenal Lufaine," ucapnya seraya tersenyum.


"Jadi apa benar classmu [Arcmage]?" tanya Lufaine kemudian.


Dan pertanyaan itu pun memicu kasak kusuk dari para calon murid yang lain. Bahkan di antara beberapa Penguji.


"Ya... benar." Argeas membalas dengan senyuman canggung.


Dan suasana pun menjadi semakin ramai dengan bisikan-bisikan yang bertambah santer diantaran anak-anak calon murid yang ada di tempat ujian tersebut.


"Sudah, sudah, ayo segera kembali kalian." Salah seorang Penguji segera memotong dan memerintahkan Argeas kembali ke barisan, juga Lufaine dan Bellatrix untuk kembali mengulang ujian mereka.


Namun terlihat Bellatrix masih merasa kesal dan tidak dapat melupakan hal tersebut dengan begitu saja. Terbukti dari tatapan tajamnya ke arah Argeas meski ia sudah mulai bersiap untuk mengulang ujiannya.


Tapi bukan karena itu saja alasan mengapa Bellatrix sangat kesal hingga terbawa sampai pertemuan mereka setelahnya.


Itu karena Bellatrix merasa Argeas yang tidak kompeten itu telah berlaku curang mencuri kesempatannya bersinar menggunakan Class langka yang dimilikinya sejak lahir.


Sementara Argeas sendiri tidak terlalu menghiraukan sikap Bellatrix tersebut. Ia merasa itu hanya sikap kemanak-kanaan gadis usia 16 tahun saja. Tak ada habisnya bila diladeni.


.

__ADS_1


Kemudian setelah selesai Uji Ketrampilan, para calon murid mulai melakukan pengukuran Aura di gedung yang lain lagi.


Dan rencana untuk mengakali alat pembaca nilai MP yang telah disiapkan oleh Argeas sebelumnya, sukses berjalan sesuai dengan harapan.


Tidak ada kehebohan dari hasil pengukuran Aura miliknya. Memang jumlahnya masih lebih tinggi dari para calon murid yang lain, tapi semua itu masih masuk akal mengingat classnya yang [Arcmage].


Dan setelah semua Uji Masuk Akademi selesai dilakukan, Argeas pun kembali ke kediaman keluarga Danae yang ada di Kotaraja untuk menemui sang kakak dan mempersiapkan hal-hal lain yang ia butuhkan.


Tak lupa ia juga menyempatkan waktu untuk bertemu dengan tunangannya, Evangeline.


\=


Sementara itu di gedung Tata Usaha Akademi, beberapa waktu setelah Uji Masuk selesai dilakukan.


"Kenapa wajahmu seperti itu, Balr?" Seorang pria tua berjubah merah Maroon dengan logo Akademi terbordir di bagian dada kanannya, bertanya saat mendapati salah satu rekannya memasang wajah serius menatap lembaran kertas di atas meja.


"Aku merasa ada yang aneh dengan bocah ini Fa," Pria berkumis dan berjenggot tebal yang memasang wajah serius tadi menjawab.


"Siapa?"


"Argeas Danae."


"Danae? Apa maksudmu putra keempat Viscount Danae?" Pria berjubah merah tadi bertanya memastikan.


"Benar," balas pria berkumis tadi dengan singkat.


"Ku dengar dia terlahir dengan class [Arcmage]. Jadi bukan hal aneh juga kalau hasil Uji Masuknya diluar ekspektasi. Apa dia masuk dalam kandidat Kelas Elit?" Pria berjubah tadi mencoba memberi rekannya alasan untuk apa yang mungkin dianggap aneh.


"Itulah kenapa aku bilang ada yang aneh. Hasil Uji Masuk bocah itu di bawah ekspektasi." Pria berkumis tadi menjawab.


"Di bawah ekspektasi?"


"Ya, bisa dibilang nilainya rata-rata."


"Maksudmu rata-rata itu seperti apa?"


"Bocah itu punya nilai Uji Tertulis tepat di tengah-tengah."


"Di tengah-tengah?" Pria berjubah tadi masih tidak mengerti dengan maksud dari jawaban rekannya itu.


"Ya, dari 20 pertanyaan 10 benar dan 10 salah," balas Pria berkumis mencoba memperinci jawaban.


"Mungkin karena dia memang tidak terlalu berbakat dalam bidang teori?" Pria berjubah menebak.


"Tapi itu untuk semua kategori Uji Tertulis. Kategori Spell benar 10 salah 10. Kategori Attribute benar 10 salah 10. Bahkan kategori Incarnation juga benar 10 salah 10," balas si pria berkumis dengan lebih terperinci lagi.


"Seolah ia tahu semua jawabannya dan sengaja menyalahkan setengahnya," susulnya memberi dugaan.


"Jangan bercanda kau, Barl. Apa maksudmu dia sengaja ingin mendapat nilai rata-rata? Untuk apa coba?" Pria berjubah tadi terlihat tidak percaya.


"Tapi bukankah ini terlalu aneh untuk jadi sebuah kebetulan." Si pria berkumis masih terlihat curiga.


"Lalu bagaimana dengan jumlah Aura dan hasil Uji Ketrampilannya?" tanya pria berjubah yang kali ini mulai terlihat tertarik.


"Hasil dari Pengukuran Aura mencatat jumlah MP nya 65.000," jawab si pria berkumis setelah memeriksa laporan dari atas mejanya.


"Ya, kurasa cukup normal memiliki jumlah MP di atas rata-rata class [Mage]. Mengingat class [Arcmage]nya," respon pria berjubah yang terlihat tidak terkejut.


"Tapi hanya selisih 1000 dari rata-rata MP class [Mage] itu terlihat sedikit meragukan buatku. Terlebih untuk seorang [Arcmage]. Harusnya selisih MP mereka di atas 5000 atau bahkan 10.000." Pria berkumis tadi memiliki pendapat yang berbeda.


"Mungkin dia orang yang malas dan jarang berlatih. Jadi jumlah MP nya tidak berkembang dengan seharusnya." Pria berjubah tadi masih memiliki alasan logis dibalik hal tersebut. "Lalu bagaimana dengan Uji Ketrampilannya?" tanyanya berlanjut.


"Itu juga yang membuatku merasa selisih 1000 MP jadi terasa aneh. Karena hasil Uji Ketrampilan bocah itu cukup baik. Meski dia menggunakan Attribute yang jarang dipakai, dan belum memiliki Magic Spell tingkat menengah, tapi Penguji memberinya penilaian 'Ahli' untuk Magic Spell tingkat dasarnya." Pria Berkumis itu kembali memberi rincian dari hasil laporan yang diterimanya.


"Bukankah itu pertanda bahwa dia rajin berlatih?" lanjut si pria berkumis itu mencoba mencari persetujuan.


"Hm... begitukah? Lalu attribute apa yang digunakannya?" Pria berjubah tadi mulai terlihat penasaran.


"[Holy] dan [Mind]," jawab pria berkumis dengan singkat.


"Oh? Dia menggunakan Magic Spell apa dari dua attribute itu?"


"[Hard Light] dan [Sleep]."


"Pemuda itu menggunakan [Hard Light] di Uji Masuk Akademi? Menarik sekali." Terlihat kini pria berjubah itu tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya kepada Argeas.


"Dan tambahan lagi, bocah itu juga menguasai beberapa Combat Moves." Pria berkumis kembali membagi informasi tambahan.


"Combat Moves? Apa dia mendaftar Akademi untuk kelas Hybrid?" tanya pria berjubah tampak terkejut dan juga antusias.


"Tidak. Bocah itu mendaftar sebagai Penyihir. Informasi tentang Combat Moves itu didapat dari salah satu Penguji yang melihat langsung bocah itu menggunakannya saat sempat terjadi insiden di Lapangan Penguji," jelas si pria berkumis.


"Hm... kalau memang seperti itu, berarti memang ada yang aneh dengan bocah itu," ucap pria berjubah yang akhirnya sependapat dengan rekannya.


"Siapa yang aneh?" Tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk, seorang perempuan dengan rambut pirang dipotong cepak sedang membawa tumpukan buku bersampul usang.


"Argeas Danae." Pria berjubah menjawab.


"Oh, putra ajaib keluarga Danae? Kalau tidak salah dia calon menantu Marquis Lavis," balas perempuan itu setelah meletakan buku-bukunya di atas meja.


"Oh, dia calon menantu keluarga Lavis?" Pria berjubah itu tampak baru mengetahui tentang hal tersebut.


"Benar. Yang aku dengar acara pertunangannya dilakukan bertepatan dengan kejadian munculnya sihir tingkat tinggi [Meteor Come] di perbatasan timur." Kembali perempuan itu membagi informasi yang ia miliki.


"Hm... kebetulan yang cukup mencurigakan." Pria berjubah tadi mulai merasa semakin curiga terhadap Argeas.


"Lalu bagaimana kita akan menangani bocah ini?" tanya pria berkumis kemudian.


"Untuk sementara tangani berdasar dari hasil Uji Masuknya. Kita awasi dulu saja bocah itu."


"Baiklah."

__ADS_1


.


__ADS_2