Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan
Pertunangan


__ADS_3

Empat bulan sebelum Argeas resmi memasuki Akademi, Pesta pertunangannya dengan Evangeline pun diadakan di kediaman keluarga Lavis.


Namun tidak sebesar pesta perayaan ulang tahunnya, mengingat status dan ketenaran yang dimiliki sang Marquis.


Acara tersebut hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak dan beberapa keluarga bangsawan istana, selain penduduk setempat dan para pejabat serta bangsawan bawahan sang Marquis.


Itu semua dikarenakan wilayah perbatasan timur terlalu jauh untuk dihadiri oleh bangsawan pusat. Juga dipandang tidak terlalu aman mengingat posisinya yang bersebalahan langsung dengan Wilayah Kegelapan.


Namun beberapa hari sebelum perayaan, dua orang penting datang ke kediaman keluarga Lavis.


Mereka adalah Pangeran ke 8 dari keluarga Istana. Dan juga putra pertama Duke Zachary, salah satu keluarga bangsawan berpengaruh, yang sepantaran dengan Evangeline.


Kedatangan mereka tidak untuk menghadiri pertunangan Argeas dan Evangeline, melainkan untuk melaksanakan tugas Pembersihan rutin pada wilayah perbatasan.


.


"Oh, selamat datang Pangeran Alphonse, bagaimana perjalanan anda sekalian?" Marquis menyambut sang Pangeran dan rombongannya tepat setelah turun dari kereta kuda.


Hanya sang Marquis, Julius, dan juga Argeas yang menyambut kedatangan sang Pangeran.


Karena keluarga Argeas dan keluarga kakak-kakak Evangeline masih belum tiba.


Argeas memang datang seminggu lebih awal dibanding tamu undangan.


'Pangeran Alphonse? Bukankah dia karakter pemicu special event?' Argeas mengenali nama tersebut. 'Nasibnya naas sekali, karena harus menghadapi seekor naga di sebuah pembersihan,' batinnya lagi dengan sedikit iba menatap pemuda tampan berambut kuning terang dengan mata biru dan tubuh yang proposional di hadapannya itu.


"Seperti biasa Marquis. Perjalanan ke 3 kali ku ini sudah mulai membuatku terbiasa." Sang Pangeran menjawab.


"Senang mendengarnya." Marquis menimpali.


"Oh, Perkenalkan ini adalah Rodio putra sulung Duke Zachary. Kali ini dia yang akan menemaniku melakukan misi pembersihan," lanjut sang Pangeran mengenalkan seorang pemuda di sebelahnya.


'Sebentar. Rodio dari keluarga Zachary? Pembersihan dari pasukan utama kerajaan?' Argeas terlihat sedikit terkejut saat mendengarnya.


'Bukankah ini terlalu cepat satu tahun? Apa aliran waktu berubah karena kini aku sudah bertunangan? Atau jangan-jangan Pembersihan ini bukanlah Pembersihan dengan event khusus seperti yang aku kira?' batin pemuda itu dalam diam.


"Ya, kami sudah pernah bertemu sebelumnya." Marquis menepuk ringan pundak pemuda yang dikenalkan sebagai Rodio Zachary oleh sang Pangeran.


Pemuda itu terlihat sepantaran dengan Argeas. Bahkan tinggi mereka pun hampir sama. Wajahnya terlihat antusias dengan rahang tegas, hidung sedikit besar, dan rambut sedikit ikal berwarna coklat terang. Sewarna dengan pupil matanya.


"Selamat siang Marquis, tuan Julius." Rodio memberi salam.


"Bagaimana kabar Duke Zachary?" tanya Marquis kemudian.


"Kabar beliau baik, Marquis."


"Kau sudah menjadi seorang kesatria gagah sekarang, Ro. Kau bahkan sudah mulai melakukan tugas Pembersihan, berapa usiamu sekarang?" Marquis memuji yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan.


"Saat ini saya berusia 17 tahun, Marquis." Rodio menjawab dengan wajah sumringah. Merasa senang dan bangga mendapat pujian dari sang Marquis.


"Wah, muda sekali. Kau sepantaran dengan putri bungsuku. Duke Zachary pasti bangga denganmu."


"Oh benar juga." Tiba-tiba Pangeran Alphonse memotong. "Mengenai putri anda, maaf bukan ingin berlaku tidak sopan, tapi sepertinya kami tidak dapat menghadiri acara pertunangan putri bungsu anda Marquis. Karena bertepatan dengan jadwal Pembersihan yang akan kami lakukan," lanjutnya meminta pemakluman.


"Jangan kuatir Pangeran Alphonse. Lagi pula ini hanya upacara sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja." Marquis buru-buru menjelaskan.


"Oh, dan apakah ini calon menantu anda Marquis? Putra kebanggaan Viscount Danae yang terkenal itu?" Rodio bertanya dengan nada sok akrab ketika melihat Argeas berdiri di belakang Marquis bersama Julius.


"Perkenalkan, dia Argeas. Argeas, beri salam pada Pangeran Alphonse dan putra Duke Zachary, Rodio," ucap Marquis seraya menarik tubuh Argeas sedikit maju ke depan.


"Salam Pangeran Alphonse, tuan Zachary. Saya Argeas Danae," ucap Argeas memperkenalkan diri dengan sopan.


"Panggil saja Rodio. Atau Ro. Toh usia kita tidak terpaut jauh. Aku akan memanggilmu, Ar," balas Rodio ramah dan bersahabat.


Argeas mengangguk, "Baiklah, Ro..." ucapnya sedikit canggung.


"Kudengar kau memiliki class langka [Arcmage], apakah itu benar?" sambung Rodio kemudian. Pertanyaan yang sudah diprediksi oleh Argeas.


"Ya, benar. Beruntung saya dikaruniai class tersebut sejak lahir." Argeas membalas dengan mencoba untuk tidak bersikap sombong, atau terasa sedang merendah.


"Tapi class seseorang bukan jaminan untuk menentukan kemampuan orang tersebut, kau tahu itu, bukan?" Pangeran Alphonse menimpali.


"Benar Pangeran. Saya juga setuju dengan ucapan Pangeran. Sebesar dan sehebat apapun karunia yang diberikan, bila tidak mampu menggunakannya, tetap saja akan menjadi hal yang sia-sia." Argeas mengerahkan segala kemampuannya memuji dan menarik simpati.


"Kau akan memasuki Akademi tahun ajaran depan bukan?" sang Pangeran kembali bertanya.


"Benar, Pangeran."


"Kalau begitu belajarlah lebih keras saat berada di Akademi nanti. Dan buat keluargamu dan juga keluarga Marquis bangga." Sang Pangeran memberikan wejangannya.


"Saya akan ingat ucapan Pangeran dan berusaha dengan kemampuan yang saya miliki untuk melakukannya," balas Argeas.


"Baguslah." Pangeran Alphonse tampak mengangguk puas.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Marquis," ucapnya kemudian meminta ijin untuk pergi.


"Oh, jangan sungkan Pangeran Alphpnse. Silahkan," balas Marquis yang terlihat jauh lebih senang karena Argeas baru saja mendapat penilaian baik dari sang Pangeran.


"Sampai bertemu lagi di Akademi, Ar." Kali ini Rodio yang berucap sebelum kemudian pergi mengikuti Pangeran Alphonse.


.


"Putra keluarga Zachary itu memang memiliki kemampuan yang cukup luar biasa. Di usianya yang sepantaran denganku, dia sudah memiliki banyak prestasi dan pencapaian." Evangeline berucap saat ia dan Argeas sedang berbincang di pinggiran hutan sisi timur kastil sore harinya.


Mereka berdua berada di tempat itu untuk mengunjungi Snow dan kawanan Fenrir lainnya.


"Bukankah dia juga di tingkatan yang sama denganmu dalam Akademi?" Argeas bertanya.


"Tidak juga. Dia berada di Kelas Elit di Akademi. Kelas itu punya tingkatan yang jauh lebih tinggi dari kelas-kelas lainnya." Evangeline menjawab di tengah kegiatannya menggaruk lembut kepala [Partner]nya, Snow.


"Oh, Kelas Elit? Aku pernah mendengarnya dari kak Regina dan kak Raynold. Kelas khusus yang berisi murid-murid berprestasi tanpa membedakan Class mereka, bukan?" Argeas memastikan informasi yang pernah ia terima.


'Ya, keberadaan kelas ini juga salah satu dari banyak hal yang tidak pernah ada dalam game nya. Jadi cukup menghawatirkan juga. Karena aku tidak memiliki informasi apapun tentang Kelas Elit itu. Semoga saja kelas ini tidak punya andil apapun dalam pergerakan cerita, sehingga tidak dimasukan dalam narasi game nya,' batin Argeas.


"Ya, itu benar." Tiba-tiba Evangeline menjawab. "Murid dari semua Class, baik itu [Mage], [Vigor], maupun [Erudite] disatukan dalam kelas yang sama dengan pengajaran yang berbeda dari kelas biasa," lanjutnya menjelaskan.


"Kak Raynold pernah berkata kalau mereka langsung diajari cara untuk bertempur tanpa harus belajar tentang dasar-dasarnya terlebih dahulu." Argeas kembali berucap.

__ADS_1


"Mungkin saja, aku juga tidak begitu yakin. Tapi seperti yang kau lihat sekarang, Rodio sudah dikirim untuk melakukan tugas Pembersihan. Meski hanya sebatas pendamping Pangeran Alphonse saja." Gadis itu menjawab sambil masih bermain dengan telinga serigala putih di sebelahnya.


"Mungkin saja levelnya sekarang setara denganku di sekitaran 60. Yang berarti Class nya kini antara [Mystic Knight] atau kalau tidak [Divine Knight]." Evangeline melanjutkan ucapannya.


"Begitu ternyata." Argeas mengangguk pelan.


'Jadi Rodio itu lagi semacam magang prakter lapangan dengan mengikuti Pembersihan ini. Dan kalau memang benar perkiraan levelnya setara dengan Eve, berarti aku tidak perlu terlalu kuatir bila saja Pembersihan ini adalah seperti yang kukira. Karena meski berjedah 15 level di bawahku, harusnya bukan masalah menghadapi seekor naga bersama beberapa prajurit dan juga Pangeran Alphonse yang sudah cukup berpengalaman dalam sebuah pembersihan,' batinnya kemudian.


"Kenapa? Apa kau juga ingin masuk ke Kelas Elit itu?" Tiba-tiba Evangeline bertanya setelah mendapati wajah serius Argeas yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak. Aku tidak berniat untuk menonjol di Akademi nanti." Argeas membalas cepat.


"Apa kau takut pihak Akademi akan mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya?"


"Ya, yang itu sudah jelas. Tapi aku memang tidak ingin berhubungan dengan orang-orang berpengaruh seperti Pangeran Alphonse," jawab Argeas jujur.


'Karena resiko bertemu dengan Tokoh Utama akan sangat besar kalau aku menonjol dan punya hubungan dengan karakter-karakter penting,' batinnya lagi.


"Kau ini aneh sekali, Ar. Umumnya orang akan merasa bangga dan bahkan berebut untuk dapat menjadi bagian dari lingkungan mereka. Atau setidaknya mendapat perhatian mereka." Evangeline membalas.


"Sedang kau yang sudah pasti bisa melakukannya malah menghindar, dan memilih untuk hidup dengan biasa saja," lanjut gadis itu dengan tertawa kecil.


"Ya, kurasa kau benar. Aku memang orang aneh, sih." Argeas tidak menampik anggapan calon tunangannya itu.


"Tapi aku tetap menyukaimu. Meski kau seorang kesatria sihir terbaik, atau hanya putra keempat dari keluarga Viscount yang biasa saja," balas Evangeline seraya menyandarkan tubuhnya manja ke tubuh Argreas yang duduk di sebelahnya.


Sedang Argeas hanya tertawa kecil. "Terima kasih untuk itu," ucapnya kemudian seraya mengacak rambut calon tunangannya itu dengan gemas.


-


-


Beberapa hari kemudian rombongan Pasukan Pembersih bersama Pangeran Alphonse dan Rodio meninggalkan kastil kediaman Lavis tepat sehari sebelum acara pertunangan digelar.


-


-


Hari perayaan pertunangan Argeas dan Evangeline pun tiba.


Di halaman depan kastil keluarga Lavis, yang sekarang berubah lebih cantik dan meriah dengan adanya hiasan di beberapa tempatnya, terlihat kursi-kursi tamu dijajar rapi di ruang terbuka. Mengapit jalur kecil berujung altar dengan kanopi kain putih sederhana menutupi bagian atas di sepanjang jalannya.


Terlihat wajah-wajah bahagia dan antusias dari para tamu yang mengisi kursi-kursi tersebut. Yang membuat Argeas yang tengah berdiri di altar menunggu calon pendampingnya masuk itu, merasa sedikit gugup.


Memang sebagai Arga dulu dia sering sekali berada di atas panggung, atau menjadi pusat perhatian dari puluhan orang saat sedang membawakan presentasi atau pelatihan. Namun tidak dengan kondisi sekarang.


Ini situasi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Menunggu Evangeline untuk melakukan seremoni pertunangan, yaitu pertukaran cincin.


Terlihat pula seorang Klerus berdiri mendampingi Argeas di panggung kecil itu. Dia adalah Klerus yang bertugas mengesahkan seremoni tersebut atas nama Kuil Suci.


.


Dan tak terlalu lama menanti terlihatlah Evangeline keluar dengan pendampingan ibundanya menyusuri jalan kecil di antara para tamu.


Suasana tiba-tiba saja menjadi tenang. Pada tamu terlihat antusias menatap ke arah gadis yang tengah berjalan menuju altar itu.


'Gadis itu terlihat cukup dewasa untuk ukuran gadis usia 17 tahun,' batin Argeas. 'Dan sangat cantik.'


"Kenapa?" bisik Evangeline saat sudah berdiri di sebelah Argeas.


"Kau terlihat cantik," jawab Argeas jujur.


"Apa kau berharap aku terlihat biasa saja di acara penting seperti sekarang?" Evangeline terdengar sewot


"Iya, kurasa kau benar," balas Argeas sambil tertawa kecil.


"Kau juga terlihat tampan."


"Terima kasih."


Dan kemudian acara pun dimulai. Seremoni pertunangan ala Kerajaan Pusat ini mengikutkan pertukaran cincin. Meski masih belum cincin dengan imbuhan sihir pengikat seperti cincin pernikahan.


Argeas mengecup kening Evangeline setelah menyematkan cincin di jari manis tangan kiri gadis itu.


"Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya, Ar. Tapi sepertinya kau tidak terlalu peka akan hal ini." Tiba-tiba Evangeline berucap tanpa konteks.


"Peka apa? Apa aku melupakan sesuatu?" tanya Argeas berbisik. Terlihat mulai sedikit panik kalau-kalau tanpa ia sadari ia telah mengacaukan acara tersebut.


"Selama ini aku menunggumu berinisiatif. Tapi sepertinya kau tidak akan melakukannya terlebih dahulu. Maka sebagai tunangan resmimu sekarang, aku sudah berhak melakukannya terlebih dahulu," ucap gadis itu kemudian.


"Memang melakukan apa?" Argeas terlihat benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan Evangeline.


"Ini," ucap Evangeline seraya menarik kerah baju Argeas turun mendekat.


Kemudian dengan lembut menyentuhkan bibirnya ke bibir bakal suaminya itu.


Segera tepukan meriah dari para tamu undangan mengaung di seluruh ruangan.


Argeas terkejut mendapati tindakan Evangeline tersebut. Namun karena perasaannya yang sudah sedikit berubah setelah melihat sosok Evangeline yang tampak dewasa itu, membuat Argeas tak segan lagi membalas ciuman calon istrinya tersebut.


Dan kini Argeas dan Evangeline sudah resmi bertunangan.


-


Tak lama setelah acara pertukaran cincin itu selesai, dan semua tamu undangan tengah berbincang sambil menikmati perjamuan, tiba-tiba saja muncul Pangeran Alphonse bersama Rodia di tengah halaman depan kastil, tempat acara pertunangan digelar, dengan menggunakan milik kastil keluarga Lavis.


Dua pemuda itu terlihat compang-camping dengan wajah panik penuh ketakutan.


"Pangeran?!" Marquis segera menghampiri sang Pangeran dengan wajah kuatir.


"Gawat! Gawat!" balas Alphonse dengan panik.


"Tenanglah Pangeran." Marquise berucap dengan tegas mencoba menenangkan sang Pangeran. "Apa yang sedang terjadi? Dimana pasukan yang lain?"


"Mereka.. naga... di garis perbatasan..." Pangeran Alphonse terlihat sudah tidak mampu lagi membuat kalimat utuh karena rasa paniknya.


"Naga? Apa baru saja pangeran berkata naga?"

__ADS_1


Orang-orang yang mendengarnya mulai terlihat panik.


'Naga? Jadi ini memang yang kukira. Tapi kenapa mereka tidak mampu menghadapinya? Harusnya dengan level setara Eve, mereka bisa dengan mudah menaklukan naga tersebut. Apa lagi pasukan yang mereka bawa berjumlah 30 prajurit.' Argeas tampak tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sekarang ini.


"Tenanglah pangeran. Ceritakan semuanya dengan perlahan." Sang Marquis masih mencoba untuk menenangkan sang Pangeran. Karena ia memerlukan informasi untuk dapat membuat rencana dan mengambil tindakan.


"A-ada naga di perbatasan. Tiga naga. Se-semua pasukan Pembersih habis dibantai." Kali ini Rodio yang berucap. Tatapannya terlihat nanar dan penuh dengan kengerian.


'Hah? Tiga naga? Bukankah seharusnya hanya ada satu saja? Apa ini pengaruh dari waktu pengaktifan event yang terlalu cepat seperti saat aku bertemu Lushu dan Ascian?' Argeas terlihat semakin kuatir.


"Apa saat ini naga-naga itu sudah melewati tembok Benteng Perbatasan, atau mereka masih berada di pegunungan? Dari mana kalian menggunakan itu?" Kali ini Julius yang bertanya kepada Rodio.


"Pe-pegunungan," balas Rodio dengan suara bergetar.


"Berarti masih ada waktu untuk bersiap, Marquis," ucap Julius kemudian.


Dan dengan segera Marquis mulai memberikan perintah.


"Matiu, siapkan pasukan tingkat dua untuk berjaga di tembok Benteng Perbatasan dengan Balistik."


"Siap, Marquis!"


"Phil, peringatkan penduduk untuk segera mengungsi ke dalam tembok kastil."


"Siap, Marquis."


Dan kemudian Marquis sendiri berjalan memasuki kediamannya. "Julius, bersiaplah," perintahnya kemudian kepada putra sulungnya.


"Siap, Marquis." Dan kakak sulung Evangeline pun berjalan mengikuti sang Marquise.


Di tengah kesibukan Marquis mengatur para prajuritnya untuk mempersiapkan perlindungan,


...<<>>...


Argeas mendadak mendapat pemberitahuan yang tidak lagi mengejutkannya.


'Ya, semua ini sudah pasti sekarang. Jadi aku harus segera bertindak sebelum jatuh lebih banyak korban. Pasukan Marquis tidak akan mampu mengahadang tiga naga tersebut. Apa lagi mengalahkannya,' pikir Argeas.


Dan dengan segera pemuda itu mencari tempat bersembunyi di halaman belakang area perjamuan.


"Ascian," panggil Argeas setelah ia merasa sudah cukup tersembunyi.


Tak berselang muncul sebuah sulur di sekitar semak bunga di pinggiran taman, yang dengan cepat membentuk sebuah gerbang dimana kemudian Ascian muncul dari dalamnya.


"Ya, Ar?" tanya peri tua itu dengan suara paraunya.


"Bisakah kau membantuku?"


"Kau butuh bantuan apa?"


"Apa benar saat ini ada 3 naga yang sedang menuju kemari?" Argeas mencoba memastikan.


"Benar, aku bisa merasakan keberadaan mereka." Ascian menjawab dengan tenang.


"Kalau begitu bawa aku mendekat ke naga-naga itu," pinta Argeas kemudian.


"Membawamu mendekat ke naga-naga itu? Apa kau serius?" Ascian bertanya memastikan namun tidak terlihat terkejut atau pun kuatir.


"Ya. Aku perlu menghadang mereka," jawab Argeas tanpa ragu.


"Baiklah bila kau memang serius," balas peri tua itu tanpa berpikir dua kali.


Dan kemudian muncul dari dalam tanah gapura [Gate] milik Ascian.


"Ini saja?" Ascian bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Ya, terima kasih," balas Argeas.


"Baiklah kalau begitu. Panggil aku lagi bila kau perlu untuk melarikan diri," tambah Ascian sambil kembali memasuki gerbang sulur tempatnya keluar tadi dan kemudian menghilang.


'Baiklah, sekarang saatnya bersiap. Tiga Naga mungkin terlalu berbahaya untuk di lawan secara bersamaan. Jadi aku harus mengalahkan mereka satu persatu dengan cepat,' pikir Argeas sambil mengeluarkan jubah hitam dari Storage dan mengenakannya.


Sebelum kemudian Evangeline muncul dari arah tempat perjamuan. Terlihat gadis itu memang sedang mencari-cari Argeas.


"Ar?! Mau kemana kau?" Melihat Argeas yang sedang bersiap-siap, dan sebuah pintu batu yang ia kenali sebagai High Tier Magic Spell [Gate] berdiri di hadapannya, membuat Evangeline merasa bahwa tunangannya akan melakukan sesuatu yang berbahaya.


"Eve, aku harus pergi," balas Argeas tidak berusaha untuk menutup-nutupi rencananya.


"Kau akan pergi ke tempat naga-naga itu?" tebak Evangeline yang berharap Argeas menjawab tidak atau bukan.


"Benar," balas Argeas cepat.


"Itu naga Argeas. Ada tiga. Jangan buat aku kehilangan tunanganku beberapa saat setelah pertukaran cincin." Evangeline berusaha untuk mencegah rencana bakal suaminya itu.


"Jangan kuatir, Eve. Kau tahu bukan, bahwa aku selalu sadar akan kemampuanku. Aku akan berhati-hati," balas Argeas mencoba menenangkan kekuatiran gadis di hadapannya itu.


"Tapi, Ar..." Evangeline segera memeluk tubuh Argeas. Seolah sedang menguncinya agar tetap tinggal di tempat.


"Eve, dengarkan aku. Aku harus menghentikan naga-naga itu agar tidak melewati Benteng Perbatasan. Kau mengerti alasannya, kan?" ucap Argeas seraya membelai rambut tunangannya itu dengan lembut.


"Dan aku harus bergegas sebelum jatuh lebih banyak korban lagi," tambahnya kemudian seraya menarik diri dari pelukan Evangeline.


"Kau tak perlu kuatir. Aku tidak benar-benar sendirian. Benarkan Lu?" Dan terlihat Rubah Elemental keluar dari pergelangan tangan Argeas.


'Benar, tuan tidak sendirian,' sahut sang rubah langsung dalam benak Argeas dan Evangeline.


Sedang kini terlihat kepasrahan dalam wajah Evangeline. Ia sadar ia tidak akan bisa merubah keputusan Argeas yang sudah bertekat seperti itu.


"Kalau begitu, berhati-hatilah Ar. Ingat, kau harus kembali," ucap gadis itu kemudian. Dengan wajah tidak rela. "Jaga tuanmu baik-baik, Lu," lanjutnya yang kali ini kepada [Familiar] Argeas.


'Akan saya lakukan, nyonya." Lushu menjawab.


"Oh, dan kalau ada yang mencariku, bilang saja aku sedang ke kamar kecil karena sakit perut," ucap Argeas mencoba membuat lelucon untuk merubah suasana hati tunangannya.


Namun hanya dibalas Evangeline dengan anggukan tanpa kata.


Setelah itu Argeas bergegas memasuki gerbang sihir di hadapannya, yang tak lama kemudian gerbang itu mulai tenggelam ke dalam tanah dan menghilang tak bersisa.

__ADS_1


-


__ADS_2