Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan
Berburu


__ADS_3

"Sekarang hanya tinggal Reruntuhan Kuno {El-Aran} di wilayah ini yang belum dijelajahi."


Argeas sedang menatap ke arah peta hologram di hadapannya suatu hari. Yang kini sebagian besar porsinya sudah dipenuhi dengan keterangan dan tanda-tanda yang lebih rinci.


"Reruntuhan itu punya [Sigil of Thaumaturge]. Eve akan memerlukannya bila dia ingin menjadi [Platinum Alchemist] nanti. Karena ia butuh [Magitech Archetype] untuk dapat membuat Casting Item," ujar pemuda itu pada diri sendiri.


"Hanya saja jarak reruntuhan itu cukup jauh dari sini. Akan jadi lebih susah untuk mengelabuhi orang rumah nantinya," ujar Argeas yang seperti pasrah bila suatu saat nanti keluarganya mengetahui apa yang ia lakukan selama ini.


-


-


Beberapa hari kemudian Argeas pun berangkat ke reruntuhan tersebut. Dengan berkuda dari subuh sebelum matahari terlihat.


Dan selepas tengah hari, Argeas sudah berhasil membersihkan sepertiga dari Reruntuhan Kuno tersebut. Dengan berhasil dikalahkannya seekor monster banteng yang cukup kuat. Yang menjaga area pertamanya.


...<<250 XP Obtained>>...


...<>...


Tidak menunggu lama, Argeas segera memasukan tubuh monster itu ke dalam Storage nya.


...<>...


...<>...


Kemudian pemuda itu memunggut sebuah sarung tangan tanpa jari dari tempat dimana monster banteng tadi berada.


...<>...


"Untungnya Reruntuhan Kuno {El-Aran} ini jauh lebih pendek dibanding reruntuhan {El-Bara}. Meski tingkatannya sedikit lebih susah," ujar Argeas seraya mengenakan sarung tangan tersebut.


Sarung tangan yang memiliki kemampuan menambah nilai MP pengguna sebanyak 30% dari aslinya.


"Kalau menurut game nya, pemain kasual akan mengalami kesulitan menyelesaikan Dungeon ini di level 50 ke bawah. Amannya memang level 55 sepertiku sekarang ini. Tapi dengan 3 orang paling sedikit," lanjutnya seraya berjalan menuju pintu masuk.


"Jadi, kurasa perlu dua kali penjelajahan lagi untuk menyelesaikan reruntuhan ini," tambahnya lagi.


-


-


-


Seminggu kemudian setelah penjelajahan keduanya di Reruntuhan Kuno tersebut, Argeas tiba-tiba dipanggil untuk menemui sang ayah di ruang kerjanya.


Ternyata sudah ada ibu dan kakak sulungnya di ruangan tersebut ketika Argeas tiba.


Wajah mereka bertiga terlihat serius, yang membuat Argeas mulai merasa kuatir.


"Para pelayan melaporakan bahwa pakaianmu sering rusak karena terbakar atau kalau tidak karena terkoyak." Sang ayah membuka pembicaraan. "Kau juga selalu terlihat lusuh saat kembali dari kegiatanmu mengelilingi bukit akhir-akhir ini."


'Ah, benar juga. Karena jaraknya jauh, aku selalu pulang nyaris saat makan malam. Hingga aku tidak sempat berbenah dan lupa tidak memeriksa pakaianku,' Argeas hanya membatin.


"Jadi aku ingin kau jujur, Ar. Apa yang sedang kau lakukan di bukit sana?" tanya sang ayah kemudian.


"Hm..."  Argeas terlihat ragu dan bimbang untuk bicara.


"Jujurlah. Ayah tidak akan memarahimu. Apa kau berlatih sihir berbahaya yang tidak bisa kau latih di rumah?" Sang ayah menduga.


"Atau kau telah melakukan hal memalukan sampai kau tidak mau memberitahukan keluargamu ini?" sahut sang ibu ikut menambahi.


"Bukan begitu, bu, yah. Ar hanya tidak ingin membuat kalian semua kuatir. Karena selama ini Ar tengah menjelajahi Reruntuhan Kuno," jawab Argeas kemudian. Yang memutuskan untuk berkata jujur pada keluarganya.


"Apa?! Reruntuhan Kuno?!"


Dan kemudian Argeas pun mulai menceritakan segala yang telah ia lakukan selama ini.


"Jadi sebelum ini kau menjelajahi Reruntuhan Kuno {El-Abu}?" Sang ayah mengejapkan mata mencoba untuk menerima ucapan putranya itu.


"Dan kemudian {El-Bara}?" Maximus menambahi.


Dan Argeas hanya mengangguk.


"Seorang diri?" tanya Maximus memastikan.


"Ya, seorang diri," jawab Argeas memastikan.


"{El-Bara} seorang diri?" Sang ibu segera menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi karena merasa hampir pingsan mendengar jawaban anaknya yang terkesan tidak masuk akal itu.


"Apa batasan logikamu bermasalah, Ar? Bahkan hanya orang dengan level 30 ke atas yang berani memasuki Reruntuhan Kuno {El-Abu}," ucap Maximu seraya menggeleng.


"Tadi kau bilang 'sebelum ini', apa itu berarti kau telah menyelesaikan penjelajahan di kedua Reruntuhan Kuno itu?" Sang ayah mencoba menanggapinya dengan setenang mungkin.


"Ya, benar." Argeas menjawab cepat.


"Bahkan Reruntuhan Kuno {El-Abu}?" Sang ibu cukup terkejut memastikan.


"Benar. Kesepuluh areanya," jawab bocah 15 tahun itu kemudian.


"Kau telah menyelesaikan area kesepuluh? Bahkan para Petualang dan Pemburu Harta di wilayah ini saja hanya mampu sampai area kedelapan." Sang ayah mulai tidak dapat menjaga ketenangannya.


"Dan kau hanya seorang diri?" lanjut Maximus memastikan untuk jesekian kalinya.


"Benar. Karena itulah Ar tidak ingin memberitahukannya pada kalian. Karena kalian pasti kuatir."


"Jelas kami akan kuatir. Kau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu," sahut sang ibu yang mulai pecah emosinya.


"Dan sekarang kau sedang menjelajahi reruntuhan mana? Jangan bilang {El-Aran}?" Kakak sulung Argeas bertanya lagi. Berharap dugaan gilanya meleset.


"Benar. Sekali penjelajahan lagi maka Ar akan menyelesaikan reruntuhan itu," jawab Argeas tanpa beban.


"Baiklah, kurasa aku tidak ingin membicarakannya lagi." Maximus menarik nafas dan menyandarkan tubuhnya.


"Aku tahu kau terlahir dengan bawaan class tinggi, Nak. Tapi aku tidak berpikir kau bisa menaklukan Reruntuhan Kuno seorang diri di levelmu sekarang." Sang ayah kembali berucap.


Bangsawan Viscount itu tidak tahu harus berlaku seperti apa dalam situasi seperti sekarang ini. "Bahkan 3 Reruntuhan Kuno," tambahnya menggeleng.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong soal level, memang berapa levelmu sekarang? Harusnya levelmu sudah bertambah setelah kau berhasil menaklukan reruntuhan tersebut, bukan?" tanya Maximus yang terlihat penasaran ingin mengetahuinya.


"Benar. Coba perlihatkan statusmu." Kali ini sang ayah yang memerintah.


Argeas tampak ragu-ragu.


"Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu? Apa kau berbohong pada kami?" tanya sang ayah merespon keraguan Argeas.


"Bukan begitu," ujar Argeas menyanggah.


"Status Shown," ucapnya kemudian yang disusul dengan munculnya Jendela Status yang sedikit berbeda dari format Jendela Status yang biasa dilihatnya.


Kini hanya ada bagian kepala dari keseluruhan Jendela Status yang tampak untuk dapat dilihat keluarga Argeas.


 


[Argeas Danae] [15] [Laki-laki]


[Battle ArcMage] [Lv 55]


HP 83.800


MP 120.365


Stamina [Fresh]


••••••••••• [Auto-Regen]


••••••••••• [Auto-Reflect]


••••••••••• [Auto-Protect]


Title


[Putra ke 4 KelUarga Danae]


[Dungeon Breaker]


[Path Finder]


.


 


"Apa?! Level 55?!" seru sang ayah tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Kau bahkan sudah melebihi levelku sekarang ini, Ar," sahut Maximus seraya menggeleng pelan. "Sangat jauh melebihi levelku."


"Dan lagi, sekarang classmu sudah bukan lagi [Arcmage]. Melainkan [Battle Arcmage]." Sedang sang ibu berbicara dengan terlihat bangga dan juga kagum.


"Bukankah itu setingkat dengan [Mystic Knight]? Kesatria pelindung keluarga Kerajaan?" Maximus terlihat memastikan.


Terlihat sang ayah menutupkan tangannya ke wajah. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. "Kau tidak memberitahukan level dan class barumu ini kepada siapapun, kan?" tanyanya kemudian kepada Argeas.


"Tidak. Hanya pada kalian saja sekarang ini," jawab Argeas cepat.


"Baguslah. Bila sampai kerajaan pusat mendengar hal ini, maka kau pasti akan langsung dipanggil untuk mengabdi ke istana sana," ujar sang ayah terdengar sedikit lega.


"Ya, selama hal ini tidak diketahui yang lain, maka kerajaan pusat tidak akan mendengarnya."


"Kau harus merahasiakannya setidaknya sampai kau lulus dari akademi, Ar," ucap sang ibu menasehati Argeas dengan serius dan bersungguh-sungguh.


"Ya, bu. Argeas mengerti," balas Argeas cepat. Karena dia juga tidak ingin pergi ke istana diusianya sekarang.


-


-


-


Beberapa hari kemudian setelah Argeas berhasil membersihkan Reruntuhan Kuno {El-Aran}, dan berhasil mendapatkan benda yang ia incar-incar, yaitu [Sigil of Thaumaturge], kabar mengenai Festival Berburu pun tiba.


Festival Berburu itu adalah acara berburu tahunan yang diselenggarakan di Hutan Terlarang yang berada di perbatasan 3 wilayah Viscount.


Wilayah Danae, Calegia, dan Bennett.


Yang akan diikuti oleh orang-orang dari ketiga wilayah Viscount tersebut.


Latar dari festival pemburuan itu dulunya adalah untuk membunuh Mytical Beast yang kerap mengganggu wilayah sekitar.


Namun sekarang dilakukan tiap tahunnya lebih untuk membatasi populasi hewan buas dalam hutan tersebut. Sekaligus untuk acara persahabatan 3 wilayah bertetangga itu.


-


"Festival Berburu?" Argeas bertanya saat ia dan ayahnya sedang berbincang di ruang kerja sang ayah sore harinya.


"Benar. Bagaimana, apa kau mau ikut? Kurasa dengan level mu sekarang, berburu tidak lagi jadi masalah, bukan?" Sang ayah menawarkan.


'Sebenarnya aku juga ingin melakukan penjelajahan ke hutan tersebut. Karena tempat itu memiliki untuk mendapatkan seekor Mythical Beast yang bisa dijadikan [Familiar] dalam gamenya,' pikir Argeas.


"Bagaimana?" Sang ayah kembali bertanya.


'Tapi sekarang masih belum waktunya. Dan lagi tidak ada hewan buas dengan tier tinggi untuk dapat menaikan level dalam hutan itu,' batin Argeas malas.


"Tapi bukankah batas usia peserta adalah 16 tahun," jawabnya kemudian mencoba untuk membuat alasan.


"Kurang lebih. Kau juga sebentar lagi 16 tahun, kan?" balas sang ayah.


"Masih 10 bulan lagi," sergah Argeas.


"Jangan terlalu dipikirkan. Bagaimana?" Kembali sang ayah meminta jawabannya.


Argeas tahu bahwa ayahnya menaruh kebanggaan padanya. Dan ingin memamerkannya pada Viscount yang lain.


'Kurasa tidak ada salahnya membuat ayah membanggakan anaknya ke orang-orang,' pikir Argeas.


"Baiklah bila hal itu bukan penghalang. Ar akan mengikutinya," jawab pemuda 15 tahun itu kemudian.

__ADS_1


"Bagus. Ayah tahu kau pasti berminat mengikutinya," sahut sang ayah yang terlihat senang dan bersemangat.


"Ar akan berusaha untuk melakukan yang terbaik saat acara nanti," ucap Argeas yang juga ikut merasa bersemangat.


"Jangan. Jangan terlalu berlebih. Cukup sekedarnya saja," larang sang ayah dengan tiba-tiba, yang mulai terlihat kuatir.


"Baik, yah. Ar mengerti." Argeas menjawab dengan senyuman canggungnya. Ia mengerti apa yang dimaksud ayahnya untuk tidak terlalu berlebih dan hanya cukup dengan sekedarnya saja.


-


-


-


Dan beberapa hari kemudian Argeas menghadiri Festival Berburu itu bersama Ayah dan kakak sulungnya.


Para bangsawan dan peserta perburuan berkumpul di sebuah perkemahan sementara yang dibangun di mulut hutan.


Namun meski hanya sementara, tenda-tenda dan perlengkapan di dalam perkemahan itu terlihat mewah dan nyaman.


"Oho... mentang-mentang sudah memasuki usia dewasa kau membawanya mengikuti acara ini, Ger?" Seorang pria berpakaian mewah dengan kumis tipis melintang berucap saat melihat sosok Argeas di sebeleh ayahnya.


"Sudah saatnya, Van. Lagian aku juga sudah tak sabar untuk melihat kemampuan dari orang yang terlahir dengan class langka seperti itu." Pria lain masih dengan pakaian mewah menyahut. Perutnya terlihat menyembul seolah hendak melompat keluar dari balik jas mewah tersebut.


"Ya, sudah saatnya dia memulai hal-hal seperti ini. Jangan terlalu memberi beban padanya. Ini pemburuan pertamanya." Ayah Argeas menjawab dengan tenang. Namun terlihat kebanggaan di wajah pria itu.


"Apa kau sedang berbasa-basi, atau kau terlalu memanjakan anakmu, Ger?" Pria berkumis tipis yang bertanya dengan nada sedikit jengkel.


"Sudah biarkan saja, Van. Kita kemari untuk menikmati festival ini. Bukan untuk cemburu dengan putra orang lain." Pria berperut buncit menimpali seraya berjalan meninggalkan tempat.


Pria yang dipanggil Van itu terdiam setelah mendengar ucapan tersebut. Kemudian membuang muka dan berjalan pergi ke arah yang berlawanan. "Yah, terserahlah," gerutunya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Viscount Calegia dan Viscount Bennett memang selalu begitu." Ayah Argeas berucap.


Sedang Argeas yang benar-benar tidak memperdulikan kedua bangsawan tadi hanya mengangguk.


"Sekarang pergilah ke tempat peserta lainnya," perintah sang ayah kemudian.


"Baik, Yah." Dan Argeas pun meninggalkan ayahnya.


-


"Hei, Ar. Perkenalkan aku Yuber. Putra kedua keluarga Calegia." Seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan kakak perempuan Argeas menyapa dengan santai saat mereka berada di lapangan tengah tempat para peserta perburuan berkumpul.


'Oh... lagi.' Argeas mengenali pemuda itu.


"Salam kenal. Aku Argeas. Mohon bantuannya. Ini pemburuan pertamaku," jawab Argeas tak sepenuhnya benar.


"Tak perlu sungkan dan tak perlu tegang," ucap pemuda yang mengenalkan diri sebagai Yuber itu kemudian.


"Aku juga seperti itu dulu saat pertama mengikutinya. Yang terpenting jangan panik saat melihat buruan dan terburu-buru menyerang. Atau kau akan melewatkannya," lanjut pemuda itu lagi.


"Baiklah, akan selalu kuingat. Terima kasih atas masukannya, tuan Yuber," jawab Argeas dengan sopan.


'Dia memang seorang Petualang dan Penjelajah Reruntuhan yang handal. Nantinya dia akan berperan penting dalam menggalang kekuatan Petualang dan Pemburu Harta untuk mempertahankan wilayah Kerajaan Pusat dari serangan mendadak para monster," batinnya menambahi.


"Kubilang jangan sungkan. Panggil saja Yu. Dan semoga kita bisa akrab setelah ini." Yuber mengarahkan tangannya untuk dijabat Argeas.


"Baiklah kalau begitu. Yu..." ucap Argeas yang merasa canggung seraya menjabat tangan Yuber.


"Wah-wah-wah, pemandangan yang sangat langka. Seorang [Archer] memberi petuah pada seorang [Arcmage]. Mengesankan sekal, Yu. Sampai dia mendengarkanmu seperti itu." Seorang pemuda dengan pakaian kesatria bangsawan berucap saat berjalan mendekat.


"Jangan terlalu sinis seperti, Ant. Meski memiliki class lebih tinggi, tetap ini pemburuan pertamanya. Sudah sewajarnya sebagai senior yang lebih berpengalaman untuk memberikan masukan." Yuber menjawab.


'Ant? Bukankah dia Anthon Bennett karakter dari ? Sub-plot tentang perang saudara yang akan terjadi 5 tahun dari sekarang?' Argeas kembali mengenali sosok yang baru saja muncul di hadapannya itu.


'Kurasa aku juga harus jauh-jauh darinya. Nasibnya juga akan mati di tangan salah satu anggota dari jagoan utama.' Argeas kembali membatin.


"Ya, terserah kau saja. Menurutku dia tidak membutuhkan nasehat kita. Lihat saja di akhir pemburuan nanti. Dia pasti akan mendapatkan buruan paling banyak. Seperti para penyihir pada umumnya," ucap kesatria muda itu seraya berjalan menjauh. Terdengar kegetiran dalam nada bicaranya.


"Tak perlu diambil hati ucapan Anthon tadi, Ar. Dia memang selalu sinis terhadap para penyihir. Terlebih kau yang lebih tinggi tingkatannya dibanding penyihir biasa," ucap Yuber mencoba membuat Argeas mengerti.


"Iya. Aku tidak akan mengambil hati ucapan tuan Anthon tadi," balas Argeas jujur.


"Kau tidak seperti reputasimu yang beredar dari mulut orang-orang, Ar," ucap Yuber kemudian. Menatap Argeas dengan senyum.


"Ya, mungkin reputasi itu muncul saat aku masih kecil dulu," jawab Argeas mencarikan alasan.


"Hahaha... benar-benar. Sekarang kau sudah memasuki usia dewasa. Aku juga yakin pasti karena itu." Yuber tertawa seraya menepuk ringan pundak Argeas.


-


Setelah melewati acara pembukaan dan beberapa kata sambutan dari beberapa orang penting, pemburuan pun dimulai.


Argeas memasuki hutan bersama Yuber. Namun setelah beberapa waktu, Yuber pun meninggalkan Argeas. Memberi waktu untuk Argeas berburu sendiri. Setidaknya itulah yang ia pikirkan.


Sedang bagi Argeas sendiri pemburuan itu tidak menantang sama sekali. Karena hewan yang ada di sekitar Hutan Terlarang itu terlalu mudah untuk diburu.


Kemudian setelah mendapat cukup banyak buruan, Argeas pun berinisiatif untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan. Berharap siapa tahu ada hewan yang lebih menantang.


Hingga tiba-tiba Argeas melihat seekor monster yang seharusnya tidak berada dalam Hutan Terlarang.


"Bagaimana Oversoul bisa berada di tempat ini?" Argeas terlihat heran mendapati monster serupa kucing dengan sayap kelelawar yang tengah melayang berputar di tempat tepat di hadapannya.


Dan tanpa basa-basi lagi Argeas pun segera mengalahkan monster itu. Membakarnya hingga tak tersisa sama sekali.


Namun tiba-tiba saja muncul sebuah pemberitahuan dalam benak Argeas setelah berhasil membunuh monster tersebut.


...<>...


"Oh? ? Apakah hal ini bisa terjadi padaku yang bukan player?" Argeas terlihat terkejut mendapati pemberitahuan tersebut.


"Dan lagi, apa tidak memerlukan waktu tertentu untuk mengaktifkannya? Apa hanya perlu kondisi saja?" lanjutnya masih terlihat tidak percaya.


"[Familiar] yang akan didapat seingatku Vermilion, bukan?"


Senyum Argeas mulai terlihat memenuhi wajahnya.

__ADS_1


"Wah, tidak ada salahnya untuk dicoba," ujarnya kemudian seraya berjalan memasuki hutan lebih dalam.


-


__ADS_2