Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan
Familiar


__ADS_3

Argeas sudah masuk cukup jauh ke dalam hutan saat kemudian ia berpapasan dengan seekor rubah berekor 4 yang ukurannya sebesar kerbau pekerja.


"Oh, Elemental Fox? Bukannya Vermilion?"


Ujung dari keempat ekor rubah itu memiliki warna samar yang berbeda, yang mewakili 4 sihir elemental. Merah, Biru, Hijau, Kuning. Mewakili Api, Air, Angin, Tanah.


"Seingatku Mythical Beast dalam event ini adalah Burung Api Vermilion." Argeas kembali mengingat-ingat.


"Mungkin perubahan detailnya dipengaruhi oleh waktu diaktifkannya event ini. Baiklah, tidak jadi masalah buatku. Sini maju. Karena kau hanya bisa dijinakkan setelah sudah dikalahkan, bukan?"


Dan Argeas pun segera bersiap. Seluruh perlengkapan sihirnya dalam keadaan aktif.


Namun tanpa peringatan dan tanda-tanda sama sekali, bola api tiba-tiba saja muncul di hadapan rubah itu dan meluncur cepat ke arah Argeas.


Dengan cekatan Argeas membalas serangan bola api itu dengan peluru es.


Namun sang rubah kembali mencoba menyerang Argeas yang kali ini dengan serangan yang sama, yaitu sihir peluru es.


Dan Argeas kembali bisa menahannya.


Serangan sihir elemental yang kemudian dikeluarkan oleh sang rubah, semuanya dapat ditahan oleh Argeas dengan cukup baik.


Sihir api dilawan dengan sihir es, sihir angin dengan sihir tanah, dan seterusnya.


"Meski dalam seperti ini, pola gerakan rubah itu sama seperti saat melawannya sebagai mini bos di Menara Jurang {El-Asa} dalam game nya," ujar Argeas yang mulai paham akan pola serangan lawannya itu.


"Berarti setelah lompatan, maka akan ada celah untuk melakukan serangan."


Argeas menunggu kesempatan itu dengan sabar.


Tak lama kemudian seperti yang telah diprediksi sebelumnya, rubah itu melompat ke sebuah dahan pohon dan mulai bersiap mengeluarkan sihir tingat tingginya ke arah Argeas.


Jedah sihir tingkat tinggi itulah celah yang dimaksud Argeas untuk melakukan serangan. Dan dengan cepat, pemuda itu mengeluarkan Magic Spell tingkat sedang tepat ke arah perut rubah itu.


"Javelin Frost!"


Dan sebuah tombak es meluncur menembus perut rubah ekor empat itu hingga terpental ke belakang.


Tak menunggu lagi, Argeas kembali bersiap dengan serangannya yang lain.


"Flare Orb!"


Ledakan pun terjadi saat bola-bola api yang Argeas keluarkan menghantam tubuh rubah tersebut.


Namun sebelum sempat Argeas mengeluarkan sihir ketiganya, tiba-tiba terdengar suara yang tidak datang dari telingannya.


'Cukup. Hentikan. Aku bisa mati bila kau terus menyerangku.' Suara seperti suara perempuan itu menggaung dalam kepala Argeas.


"Oh... Pertarungan kita sudah selesai?" Argeas memastikan.


'Ya. Aku mengaku kalah. Ampuni nyawaku,' ujar suara itu. Yang merupakan suara dari sang rubah.


"Baiklah. Aku juga tidak berniat untuk membunuhmu," balas Argeas kembali menggantungkan tongkat sihirnya di pinggang belakang.


'Baru kali ini aku bertemu manusia sekuat kau. Dan sebagai ganti dari pengampunan atas nyawaku, maka terimalah pengabdianku."


"Baiklah. Aku menerima pengabdianmu," jawab Argeas tanpa pikir panjang. Karena ia memang menginginkannya.


Kemudian secara mendadak sosok rubah itu mulai bersinar putih. Bersamaan dengan pergelangan tangan kanan Argeas yang juga ikut bersinar.


Dan terlihat sebuah simbol Rune tertulis mengelilingi pergelangan tangan Argeas seperti sebuah tatto gelang melingkar berwarna hitam.


...<>...


...<>...


...<>...


...<>...


...<<>>...


Kemudian secara tiba-tiba sosok rubah yang bersinar itu berubah menjadi cahaya murni yang kemudian memasuki simbol Rune milik Argeas seolah terserap ke dalamnya.


Setelah sang rubah benar-benar sudah menghilang, terlihat sebuah jubah hitam terjatuh entah dari mana.


'Panggil saya saat anda memerlukan, Tuan,' ucap sang rubah yang kemudian terdiam.


"Sebentar. Tapi bagaimana aku memanggilmu? Apa kau punya nama? Siapa namamu?" tanya Argeas kemudian.


Namun tidak ada jawaban.


"Status!" seru Argeas memanggil Jendela Statusnya.

__ADS_1


"Tidak ada Skill aktif untuk memanggilnya seperti dalam game. Hanya ada dan Special Skill pasif," ucapnya setelah memeriksa Jendela Status itu dengan seksama.


"Lalu bagaimana caraku memanggilnya?"


Argeas berjalan memungut jubah pelindung pundak yang ukurannya tak lebih panjang dari sikunya itu.


...<>...


"Sepertinya kucari saja jawabannya di rumah nanti. Aku sudah cukup lama berada dalam hutan. Ayah mungkin akan mengkhawatirkanku."


Dan Argeas pun bergegas kembali ke bibir hutan.


-


Setibanya Argeas di perkemahan di mulut hutan, segera ia mengeluarkan seluruh hasil buruannya dari Spatial Storage, karena ia adalah peserta yang paling akhir tiba.


"Sejak kapan kau punya Spatial Storage itu?" tanya sang ayah yang baru tahu putranya memiliki benda itu.


"Baru beberapa bulan ini," balas Argeas cepat. Ia lupa bahwa ia tidak memberi tahukan tentang Storage itu ke keluarganya.


"Kau membelinya sendiri?"


Argeas mengangguk.


"Seharusnya kau meminta pada kami. Bukankah harganya mahal?"


"Bukan masalah, Yah. Tabungan Ar masih cukup untuk membelinya."


"Ya, meskipun begitu..." Terlihat tatapan sedikit kecewa dari sang ayah.


.


Dan setelah penghitungan hasil buruan selesai dilakukan, diumumkanlah Argeas sebagai pemenang Festival Berburu kali ini. Dengan jedah perbedaan yang cukup besar dengan posisi duanya. Yaitu 25 banding 260.


Yang jelas menarik pehatian dan pembahasan semua orang yang hadir.


"Sudah ayah bilang, 'sekedarnya saja', Ar," ucap sang ayah menatap putranya dengan tatapan marah.


Yang hanya dapat Argeas balas dengan senyuman bersalahnya.


-


Malamnya Argeas pun menuju perpustakaan untuk mencari buku tentang bagaimana cara memanggil Familiarnya.


Wujudnya yang cukup besar itu membuat barang-barang dalam perpustakaan berjatuhan karena tersenggol saat rubah itu bergerak


"Woa... Akhirnya kau keluar. Bagaimana tadi caranya?" Argeas tampak terkejut namun juga merasa senang senang.


"Apa kakak sudah gila mengeluarkan Mythical Beast di dalam Perpustakaan? Dia akan mengacaukan ruangan ini." Suara terdengar dari belakang Argeas.


"Woa... Luxia?!" Argeas terkejut mendapati adik perempuannya sudah berdiri di hadapannya di depan pintu masuk perpustakaan.


Argeas mencoba menghalangi pandangan Luxia dari Rubah Ekor Empatnya. Namun binatang itu terlalu besar untuk ia sembunyikan di balik punggung.


"Ini... ini... " Argeas terlalu panik untuk mencari sebuah alasan.


"Dimana kakak menemukannya?" tanya sang adik tak terlihat terkejut sama sekali mendapati rubah raksasa di tengah perpustakaan itu.


Gadis yang hendak berusia 11 tahun itu mengarahkan tangannya ke depan dan berjalan mendekati rubah itu tanpa rasa takut.


"Lux... hati-hati...."


Argeas tampak was-was ketika melihat adik perempuannya mencoba untuk menyentuh kepala rubah berekor empat tersebut. Karena ia merasa masih belum dapat mengendalikan binatang mitos itu secara penuh. Ia kuatir kalau-kalau Luxia terluka bila tiba-tiba rubah itu mengamuk.


"Oh, Lushu?" ucap Luxia setelah menyentuh kepala rubah itu. Atau lebih tepatnya sang rubah yang membiarkan Luxia menyentuhnya.


"Apa itu Lushu?" Argeas bertanya tidak mengerti.


"Nama rubah ini," jawab Luxia yang kini mulai mengusap lembut kepala rubah itu.


"Nama Rubah Elemental ini?" Argeas bertanya memastikan.


"Benar," balas Luxia cepat.


Kini rubah bernama Lushu itu melangkah mendekat seraya mengusapkan kepalanya ke lengan dan tubuh Luxia. Terlihat ramah dan bersahabat.


"Kau bisa berkomunikasi dengan Mythical Beast?" Argeas kembali dibuat terkejut oleh adik perempuannya itu.


-


"Benar." Luxia menjawab cepat. "Aku juga punya satu," lanjutnya.


"Keluarlah Garra."

__ADS_1


Dan tiba-tiba dari tatto di pergelangan tangan Luxia yang tersembunyi di balik pakaian lengan panjangnya muncul sinar putih yang kemudian berubah wujud menjadi seekor naga mungil yang berdiri di atas meja.


"Woaw!! Ini... Naga?" Argeas kembali terkejut.


"Bukan. Dia Wyvern," sahut Luxia mengkoreksi.


Mythical Beast serupa naga itu menggoyangkan ekornya, dan merenggangkan sayap mungilnya seperti seekor ayam.


"Sejak kapan kau memilikinya? Terlebih, sejak kapan kau bisa berhubungan dan berbicara dengan Mythical Beast?" tanya Argeas yang sangat penasaran.


"Memiliki apa? Garra? Entahlah, aku lupa. Mungki sekitar usia keenam ku?" jawab Luxia yang kini ganti membelai kepala naga mungil itu.


"Semuda itu?" Argeas terdengar kagum. Ia memang tidak pernah mendengar cerita tentang keluarga Danae dalam game. Jadi ini kali pertama ia mengetahui tentang hal ini.


"Apa itu juga penyebab kenapa perawakannya terlihat semungil itu?" tanyanya lagi murni penasaran.


"Aku menyesuaikan wujudnya agar pas berada dalam ruangan ini," balas gadis mungil itu. "Kalau wujud aslinya, ya sebesar Wyvern pada umumnya," lanjutnya.


"Kau bisa mengatur wujud dari Mythical Beast?"


Luxia mengangguk.


"Sejak kapan kau bisa melakukannya? Maksudku berhubungan dengan para Mythical Beast itu?" Argeas kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Kurasa sejak lahir. Aku diberkahi atribut sihir [Spirit] yang cukup dominan," balas Luxia.


"Atribut sihir [Spirit]? Berarti tidak hanya terhadap Mythical Beast saja?" Sang kakak memastikan.


"Ya. Fairy juga. Aku juga telah melakukan Aura pact dengan Fairy," jawab sang adik.


"Kontrak dengan Fairy?"


Terlihat Wyvern mungil Luxia tengah bermain-main dengan ekor rubah elemental Argeas seperti seekor kucing.


"Kenapa tidak pernah kau beritahukan pada kami? Apa ayah dan ibu tahu?"


"Mereka semua tahu. Hanya kakak saja yang tidak tahu. Karena tidak mau tahu," balas Luxia tanpa basa-basi.


"Oh, kurasa kau benar," balas Argeas cepat.


'Ya, aku dulu memang hanya mementingkan diri sendiri. Dan tidak mau tahu dengan sekelilingku,' batinnya dalam hati.


"Maafkan kakak," ucap Argeas lagi dengan sedikit malu dan merasa bersalah.


"Ayah menyarankanku untuk tidak sering-sering mengeluarkan Garra sebelum aku bisa mengendalikannya," ucap Luxia tidak terlalu mementingkan ucapan bersalah saudaranya itu.


"Dan apa kau sudah bisa mengendalikannya sekarang?" tanya Argeas yang terlihat benar-benar kuatir.


"Jangan kuatir. Aku sudah benar-benar menguasai pengendalian Mythical Beast sejak usia 8 tahun," balas Luxia.


"Benarkah? Kau luar biasa sekali, Lux."


"Itu hanya berkah bawan seperti class kakak yang [Arcmage] itu."


"Ya, meskipun begitu.... Oh, benar!" Tiba-tiba Argeas berseru seolah baru mendapatkan sesuatu.


"Bagaimana kalau kau ajari kakak tentang pengendalian mahluk mitos ini?" lanjutnya dengan sebuah permintaan kepada Luxia.


"Kakak ingin belajar dari ku?"


Argeas mengangguk cepat. "Ya. Apa kau keberatan?" tanyanya memastikan.


"Kau boleh meminta sesuatu sebagai gantinya," tawarnya kemudian.


"Tapi aku lebih muda dari kakak." Luxia menjawab dengan tatapan yang benar-benar tidak paham.


"Lalu kenapa? Apa aku tidak boleh belajar dari yang lebih muda? Lagi pula aku juga tidak tua-tua amat. Hanya selisih 4 tahun denganmu," balas Argeas mencoba meyakinkan adiknya.


"Bagaimana? Kau mau apa sebagai gantinya? Buku? Kakak akan coba dapatkan untukmu. Makanan? Sebutkan saja."


"Baiklah..." balas Luxia kemudian dengan sedikit ragu. "Aku hanya ingin lentera yang kakak punya," lanjutnya meminta.


"Lentera? Apa yang kau maksud [Lantern of Path]? Dari mana kau tahu kakak memilikinya?"


"Lentera itu memiliki sihir [Spirit] yang sangat kuat. Aku dapat merasakannya saat sesekali kakak mengeluarkannya dari Spatial Storage kakak." Luxia menjawab.


"Oh, kau bisa merasakannya? Luar biasa sekali." Argeas benar-benar kagum mengetahui kemampuan yang dimiliki adik perempuannya itu.


Dan tanpa berlama-lama, pemuda itu segera mengambil benda yang dimaksud sang adik dari tempat penyimpanannya.


"Baiklah kalau begitu, lentera ini milikmu," ujarnya seraya menyerahkan lentera aneh dengan pegangan seukuran panjang sebuah pedang itu kepada Luxia.


-

__ADS_1


__ADS_2