Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan
Patroli


__ADS_3

Keesokan paginya, sesuai dengan rencana sebelumnya, Argeas mengikuti Marquis untuk berkeliling wilayah milik keluarga Lavis. Wilayah perbatasan timur.


Dengan berkuda, Argeas bersama Marquis, Julius, dan beberapa prajurit menuju ke kota dan desa sekitar.


Terlihat bangga Marquis memperkenalkan Argeas kepada Earl, beberapa Viscont dan Baron di wilayah tersebut sebagai calon menantunya.


Dan karena sikap sopan dan kelihaian Argeas dalam mengambil hati, pemuda itu pun mendapat respon positif dari setiap orang yang dikenalkan padanya.


Sedang bagi Argeas sendiri, meski apa yang dilakukan Marquis padanya ini cukup memberinya tekanan, namun di lain sisi hal ini juga adalah kesempatan yang bagus untuknya membuat serta melebarkan koneksi.


Karena tak sedikit ia menemukan diantara orang-orang yang dikenalkan Marquis padanya. Yang mungkin dapat membantunya saat ia memerlukannya di kemudian hari.


-


"Bagaimana Ar? Apa besok kau mau melihat dan melakukan patroli langsung ke garis depan perbatasan wilayah kegelapan?" Marquis membuka percakapan sesaat setelah selesai makan malam.


Yang kali ini tidak diikuti oleh Christina sang putri pertama dan juga suaminya. Karena mereka sudah kembali ke Kotaraja sejak sehari sebelumnya.


"Marquis?! Apa anda tidak keterlaluan bercanda seperti itu?" Julius menyahut. Karena merasa sang ayah cukup keterlaluan mengajukan tawaran tersebut pada bocah yang baru menginjak usia16 tahun.


"Hei, ini hanya tawaran. Dia bisa menolaknya kalau merasa keberatan," balas sang Marquis membuat pembelaan.


"Kau sudah keterlaluan, Morgan. Argeas mana mungkin menolak tawaran darimu." Istri sang Marquis ikut membenarkan.


Sedang Argeas hanya tersenyum sedikit canggung tanpa menjawab.


"Tapi aneh sekali kau tidak merespon Eve?" ucap Stephany, kakak kedua Evangeline seraya menatapnya heran.


"Apa kau tidak kuatir dengan calon tunanganmu?" lanjutnya bertanya dengan nada menggoda.


"Benar, dingin sekali. Apa kalian sedang bertengkar?" Istri Julius menambahi.


"Tidak. Aku hanya tahu kalau Argeas dapat menjaga diri bila untuk sekedar melakukan patroli saja." Evangeline menjawab dengan tenang. Ada rasa percaya diri dalam nada bicara gadis itu.


Kepercayaan diri yang didapatnya setelah melihat langsung bagaimana Argeas yang bisa dibilang seorang diri menaklukan sebuah labirin.


'Apa yang gadis itu pikirkan? Apa dia tidak merasa kuatir padaku?' Argeas setengah mengeluh dalam hati. Ada sedikit perasaan sedih karena calon tunangannya itu tidak mengkhawatirkannya. 'Tapi aku memang ingin melihat wilayah kegelapan juga sih,' batinnya lagi.


"Hanya 'sekedar' kau bilang? Wah, sejak kapan kau percaya pada calon tunanganmu sampai sebesar itu?" Kali ini Julius yang terlihat cukup terkejut dengan ucapan adik bungsunya itu.


"Bagus!" Tiba-tiba Marquis berseru mengejutkan yang lain. "Karena Eve sudah memberi ijin, berarti sudah diputuskan kita akan melakukan patroli besok pagi," lanjutnya kemudian membuat keputusan sepihak.


"Logika dari mana itu?" sahut istri Marquis terdengar tidak terima.


"Kau tidak merasa keberatan kan, Ar?" tanya sang Marquis tidak menghiraukan ucapan istrinya.


"Tidak, Marquis," jawab Argeas dengan senyum canggungnya.


Sedang Evangeline terlihat memasang wajah bangga sambil mengangkat kedua alisnya ke arah Argeas seolah ia sudah melakukan hal yang patut mendapat pujian.


'Kenapa ia malah bangga? Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan?' Argeas hanya mampu tersenyum masam sambil menggeleng pelan.


-


"Kenapa? Kau tidak suka melakukan patroli besok pagi?" tanya Evangeline merespon wajah kurang gembira Argeas saat mereka berdua tengah berjalan menuju kamar tamu.


"Bukan begitu. Tapi sebisa mungkin aku tidak ingin terlalu menarik perhatian." Argeas memberi alasan kenapa ia merasa setengah hati dengan rencana patroli ke wilayah kegelapan bersama Marquis.


"Bukankah itu sudah terlambat? Bahkan para bangsawan di wilayah ini sudah mengirimkan undangan untukmu secara pribadi," balas Evangeline dengan ringan.


Memang setelah Marquis memperkenalan Argeas ke para bangsawan, sore harinya banyak undangan datang dari para bangsawan tersebut untuk mengundang Argeas ke kediaman mereka.


Namun meski mendapat perlakuan khusus tetap tidak membuat Argeas merasa bangga atau merasa dirinya penting. Karena menurutnya itu adalah reaksi paling masuk akal dari para bangsawan tersebut.


Diluar Marquis yang dengan kentara menunjukan kebanggaan pada dirinya, class langka yang dimilikinya juga menjadi alasan para bangsawan itu berprilaku demikian.


Tapi akan lain ceritanya bila orang-orang tahu seberapa mahirnya ia bertarung dan menggunakan sihir.


"Ya, maksudku bukan menarik perhatian secara petempuran." Argeas mengutarakan keinginannya yang sebenarnya.


"Kupikir kau suka dengan pertempuran. Makanya aku berkata seperti itu," balas Evangeline jujur.


"Ya, tapi dengan sembunyi-sembunyi. Aku tidak ingin pihak yang lebih tinggi melihat keampuan bertarungku dan menggunakannya sebagai alat," balas Argeas juga dengan jujur.


"Kalau soal itu jangan dikuatirkan. Ayah pasti akan menjagamu dari orang-orang seperti itu," sahut Evangeline sambil menyenggolkan pundaknya ke lengan Argeas.


"Ya, kurasa kau benar. Kurasa besok aku harus meyakinkan Marquis agar tidak membiarkanku jatuh ke orang-orang berkuasa yang tidak bertanggung jawab," balas Argeas yang mencoba untuk berpikir positif.


"Tak perlu susah meyakinkan Marquis. Selama kau bersamaku, maka ayah tidak akan melepasmu," jawab Evangeline yang kali ini dengan candaan.


"Berarti aku harus berusaha meyakinkanmu untuk tidak melepasku." Argeas menanggapi candaan calon tunangannya itu.


"Ya benar. Itu tugas utamamu seumur hidup."


"Baiklah, akan kumulai dari melindungimu untuk penjelajahan malam ini."


"Ya... untuk yang itu, bisakah kita tidak melakukannya sama sekali?"


"Apa maksudmu? Kau perlu ganti class kedua sebelum kembali ke asrama akademi."


"Ah... " Evangeline melepas nafas pasrah.


"Sudah, tak perlu takut dan kuatir. Ayo kita bersiap," ajak Argeas seraya menarik tangan calon tunangannya yang kini berjalan dengan sangat pelan itu.


.


Dan kemudian malam harinya kembali Argeas bersama Evangeline melanjutkan penjelajahan mereka dalam Gua Labirin.


-


-


Esok paginya Argeas bersama rombongan Marques bertolak menuju garis perbatasan tak lama setelah selesai sarapan.


Dan tak sampai jam makan siang mereka pun tiba di sebuah gerbang besar yang kiri kanannya memanjang tembok benteng tak nampak ujungnya.


"Ini adalah pos jaga terluar, Ar. Jadi di seberang sana adalah wilayah kegelapan." Marquis berucap dari atas kuda di sebelah Argeas.


Sedang Argeas hanya mengangguk tanpa menjawab.

__ADS_1


"Siapa bocah itu?" Terdengar salah satu penjaga dengan busur menggantung di punggung bertanya pada rekannya dari atas gerbang saat melihat sosok Argeas diantara rombongan Marquis.


"Bocah itu adalah calon menantu Marquis. Calon suami nona Evangeline," jawab rekannya yang terlihat sibuk membersihkan tombak.


"Oh, jadi dia calon menantu yang sedang ramai dibacarakan itu? Tapi kenapa Marquis membawanya kemari? Ini tempat paling berbahaya dari seluruh wilayah perbatasan timur," ucap penjaga berbusur mempertanyakan keputusan atasannya.


"Kurasa Marquis sedang mengajaknya berkeliling wilayah ini." Penjaga bertombak tadi menjawab dengan santai.


"Tapi meski begitu, ini adalah perbatasan wilayah kegelapan."


"Kau jangan salah. Dari rumor yang kudengar, bocah itu memiliki class langka [Arcmage]. Dan kabarnya dia juga sangat hebat dalam bertarung. Jadi mungkin karena itulah Marquis percaya diri membawanya kemari," jelas penjaga bertombak kemudian.


"Oh... masuk akal kalau begitu. Class [Arcmage] ya? Jadi kemampuan bocah itu di atas rata-rata penyihir pada umumnya?" Penjaga berbusur terlihat mengangguk paham.


"Kurasa begitu."


.


"Kalau boleh saya bertanya, bagaimana cara para prajurit mempertahankan garis wilayah sepanjang dan seluas ini, Marquis?"


Masih di atas kudanya, Argeas dan rombongan Marquis berhenti di depan gerbang menatap ke hamparan luas tanah yang disebut dengan Wilayah Kegelapan.


"Ya, meski terlihat luas, tapi monster dari wilayah kegelapan hanya muncul di titik-titik tertentu saja. Jadi mempermudahkan mereka untuk berjaga," jawab sang Marquis.


"Namun sayangnya akhir-akhir ini frekuensi kemunculan mereka cukup sering." Putra sulung Marquis menambahi.


'Ya, itu menjelaskan kenapa ada banyak kesatria dan petarung dengan level cukup tinggi di tempat ini,' batin Argeas yang sedari tadi mengamati perlengkapan serta senjata para penjaga yang tergolong berlevel tinggi.


"Bagaimana, Ar? Kau ingin ikut berkeliling di sekitaran pos jaga ini?"


'Ya, sepercaya-percayanya kalian kepadaku, tetap sadarilah aku baru berusia 16 tahun,' batin Argeas yang sedikit kesal dengan Marquis dan putra sulungnya yang tidak menganggap dia seperti bocah pada umumnya.


'Tapi ya kapan lagi bisa melihat seperti apa wilayah kegelapan itu. Jadi kurasa ini kesempatan yang bagus,' lanjutnya yang penuh dengan kontradiksi.


"Kalau memang Marquis merasa saya boleh melakukannya, maka akan saya lakukan." Argeas menjawab.


"Hahaha.... seperti yang aku harapkan, Ar. Hahaha...." Terlihat Marquis sangat puas mendengar jawaban dari Argeas.


"Tapi saya mohon jangan terlalu berekspektasi tinggi terhadap saya, Marquis." Argeas meminta.


"Ya, ya, terserah apa katamu saja, Ar. Aku yakin kau akan melebihi ekspektasiku. Kalau begitu, ayo."


Marquis segera menarik kekang kudanya dan memimpin rombongan menuju keluar gerbang.


"Apa benar tidak apa-apa mengajah bocah itu berkeliling? Meski hanya perbatasan, tapi tetap saja ini Wilayah Kegelapan."


Salah satu dari prajurit dalam rombongan itu berbisik pada rekan di sebelahnya.


"Kurasa Marquis sangat percaya dengan calon menantunya itu. Kita lihat saja bagaimana kemampuannya nanti."


Prajurit yang lain menimpali.


"Ya, asal tidak merepotkan saja."


"Semoga."


-


'Wilayah Kegelapan ini terlihat seperti wilayah biasa pada umumnya. Tidak seperti bayanganku yang akan terasa mengerikan dan suram seperti yang sering digambarkan dalam film atau komik fantasy horor.'


Argeas tampak sibuk dengan pemikirannya sendiri saat kemudian sang Marquis bertanya.


"Bagaimana menurutmu, Ar?"


"Ah, menurut saya wilayah ini sama seperti wilayah pada umumnya Marquis," sahut Argeas spontan mengeluarkan apa yang ia pikirkan.


"Kau berharap apa? Wilayah gersang dan angker?"


Argeas hanya tertawa malu. Marquis tepat sekali menebak pemikirannya.


"Hanya namanya saja Kegelapan. Bukan berarti wujudnya benar-benar diselimuti kegelapan. Dinamakan begitu karena kemunculan monster di tempat lebih besar dari wilayah pada umumnya. Bahkan lebih besar dari sebuah reruntuhan atau labirin." Julius berinisiatif menjelaskan.


"Apa itu berarti terdapat Celah Kegelapan seperti yang ada pada sebuah Reruntuhan Kuno atau Gua Labirin di sekitar wilayah ini?" Argeas mencoba menebak.


"Ya tepat sekali. Aku tidak terkejut kau tahu tentang Celah Kegelapan, Ar," sahut Marquis membenarkan.


"Jadi pada dasarnya wilayah ini adalah Reruntuhan Kuno yang sangat besar." Argeas membuat kesimpulannya sendiri.


"Ya, bisa dibilang begitu. Dan akan terus melebar dengan Raja Kegelapan sebagai penggeraknya," ucap Julius kembali memberikan informasi kepada calon adik iparnya itu.


Namun tiba-tiba perbincangan Argeas terpotong oleh seruan salah satu kesatria yang berada di paling depan.


"Ada delapan monster mendekat dari arah depan!"


Seruan itu diteruskan ke belakang oleh prajurit lainnya.


"Monster apa?" Marquis bertanya. Terlihat mulai waspada.


"Sepertinya Fayht Revenant, Marquis." Seorang prajurit menjawab.


'Oh, jenis Dark Spirit? Mereka muncul di siang hari di ruang terbuka seperti ini? Benar-benar luar biasa wilayah kegelapan itu,' pikir Argeas.


"Sepertinya kita tidak mungkin melawan 8 Fayht Revenant itu hanya dengan rombongan kita sekarang ini, Marquis." Julius memberikan pendapatnya.


"Benar. Bersiap untuk bergerak, kita akan menghindar dari mereka," balas sang Marquis setuju dengan usulan putra sulungnya.


"Perhatian semuanya, bersiap bergerak. Jauhi Fayht Revenant di depan!" Teriak salah seorang prajurit memberi perintah.


Dan saat rombongan mereka hendak bergerak, tiba-tiba saja sesosok serupa hantu berjubah compang camping dengan sabit di tangan yang disebut dengan Fayht Revenant itu bergerak mendekat dengan cepat.


Sedang sisa dari monster hantu lainnya juga terlihat bersiap untuk ikut mendekat.


"Marquis, Fayht Revenant itu menyadari keberadaan kita dan mulai bergerak mendekat dengan cepat," seru salah satu prajurit yang menyadarinya.


"Perintahkan semuanya untuk segera mundur, kita kembali ke pos penjagaan!" seru Marquis memberikan perintah.


Namun tampaknya monster yang melayang di udara itu melesat dengan cepat mengalahkan kecepatan kuda para prajurit.


'Oh, tidak. Monster-monster itu terlalu cepat untuk kuda-kuda para prajurit. Aku harus bertindak sebelum terlambat.'

__ADS_1


Menimbang situasinya, Argeas merasa ia harus segera bertindak.


Dan dengan cepat pemuda itu mengeluarkan tongkat sihirnya seraya melompat turun dari kudanya.


"Ar? Apa yang kau lakukan?" Marquis terkejut mendapati Argeas melompat turun alih-alih melarikan diri.


"Kecepatan kuda-kuda kita tidak akan mampu bersaing dengan kecepatan para monster itu. Jadi kita harus melawannya. Segera lakukan persiapan untuk menyerang sementara saya akan coba untuk menghadang mereka," sahut Argeas membagi rencananya.


"Hei, apa maksudmu menghadang mereka? Jangan gegabah, Ar!" seru Marquis berusaha untuk mencegah.


Namun tidak menjawab, Argeas segera mengaktifkan skill yang tertanam pada sepatunya. [Skadi's Boots]


"Haste!" seru bocah 16 tahun itu sebelum kemudian melesat cepat ke arah para monster bersabit yang berada sedikit jauh di depan.


'Monster dengan dual atribut sihir [Dark] dan [Spirit] itu rentan dengan atribut sihir [Holy] atau [Lightning]. Meski aku tidak begitu yakin apakah Wilayah Kegelapan ini memiliki efek Buff-Debuff yang akan mempengaruhi serangan atau tidak, tapi setidaknya harus kucoba.'


"Dual Cast! Brave! Light Shield!"


Dan terlihat tubuh Argeas mulai terbungkus oleh cahaya tipis yang berpendar putih.


"Multi Cast! Grande Purify!" serunya kemudian seraya mengarahkan tongkat sihirnya ke 8 lawan yang kini sudah cukup dekat di hadapannya.


Nyaris tanpa jedah cahaya terang juga mulai membungkus tubuh para monster tersebut sama seperti yang baru saja terjadi padanya.


Dan kemudian kedelapan Fayht Revenant itu lenyap begitu saja tanpa sisa. Bahkan sebelum mereka sempat melancarkan serangan.


"Oh... mereka lenyap?" Argeas terlihat sedikit terkejut karena tidak mengira akan dengan mudah mengalahkan monster-monster itu.


"Kurasa Wilayah Kegelapan tidak memberi tambahan efek atau status apapun baik terhadapku maupun monster-monster itu," ucapnya kemudian mencoba menganalisa.


"Tapi syukurlah mereka hanya Fayht Revenant biasa." Argeas kembali menggantungkan tongkat sihirnya kesamping pinggang dengan lega.


"Ah, benar... mereka," tambahnya lagi dengan sedikit lesu saat melihat rombongan patroli ketika ia berbalik.


"Sepertinya kita tidak perlu melakukan persiapan untuk apapun, Ar," ucap Marquis saat melihat Argeas yang berjalan balik setelah berhasil mengalahkan 8 monster tersebut.


"Delapan Fayht Revenant sekali serang?"


"Fayht Revenant itu termasuk monster tingkat B, kan?"


Kasak-kusuk para prajurit mulai terdengar.


"Maaf telah membuat Marquis dan yang lain merasa kuatir karena tindakan gegabah saya." Argeas berucap seraya menekuk wajahnya.


"Kurasa aku yang salah bicara. Kau tidak gegabah sama sekali, Ar. Kau seorang petarung alami," ucap Marquis yang terlihat bangga dan juga puas.


"Terima kasih telah menyelamatkan kami, Ar." Kali ini Julius yang berucap.


"Saya hanya bertindak tanpa berpikir," ucap Argeas terlihat malu dan canggung karena pujian dan ucapan terima kasih itu.


"Ayo semua, pertunjukan sudah selesai. Kembali ke posisi kalian masing-masing. Kita lanjutkan patroli kita," perintah sang Marquis kemudian.


"Ayo kita lanjutkan, Ar," tambah pria bangsor itu sambil memukul punggung Argeas yang baru saja kembali duduk di atas pelana kudanya.


Meski masih banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan aksi Argeas sebelumnya, namun para prajurit tetap kembali membentuk barisan dan melanjutkan perjalanan berkeliling wilayah sekitar.


"Seperti yang sudah kukatakan sebelum ini. Bahwa kau pasti akan melebihi ekspektasiku, dan ternyat benar," ucap Marquis kemudian.


"Anda terlalu berlebih memuji saya, Marquis. Saya hanya beruntung saja. Bahkan saya tidak melakukan apapun selain mengeluarkan 3 Magic Spell tadi. Itupun Sihir Pelindung." Argeas berusaha untuk merendah.


"Aku juga sependapat dengan Marquis, Ar. Justru karena Sihir Pelindung itulah, kami sadar bahwa kemampuan bertarungmu luar biasa." Julius ikut menambahi.


"Secara alami manusia akan merasa ketakutan dan kabur ketika melihat cukup banyak monster yang hendak menyerang mereka. Terlebih tingkatan B. Tapi kau malah bertindak sebaliknya," lanjut putra sulung keluarga Lavis itu kemudian.


"Benar ucapan Julius. Hanya petarung berpengalaman yang memiliki reaksi untuk membaca situasi dan menyusun rencana menyerang dalam kondisi seperti itu tadi. Seperti yang baru saja kau lakukan." Kali ini Marquis yang berucap.


"Meski aku tak terlalu paham tentang Magic Spell, tapi aku masih dapat mengenali sihir [Brave] dan [Light Shield] hanya dari cahayanya saja. Dan juga [Purify]." Pria kekar itu melanjutkan.


"Kecuali kau pernah menghadapi Fayht Revenant sebelumnya, tak mungkin untuk bisa mengetahui kelemahan monster itu hanya dari wujud fisiknya saja," susulnya kemudian.


"Ya, saya memang pernah menghadapi monster varian dari jenis Revenant sebelum ini. Jadi saya tahu apa kelemahan monster tersebut," jawab Argeas berbohong.


"Itu berarti kau pernah melakukan penjelajahan sebuah labirin atau reruntuhan sebelumnya?" Julius segera menyambar jawaban Argeas dengan pertanyaan.


"Y-ya, saya pernah melakukan penjelajahan labirin di sekitar wilayah Danae." Argeas mulai kehabisan ide untuk berbohong.


"Hahaha.... Seperti yang diharapkan darimu, Ar. Berarti kita bisa lanjutkan patroli kita ini secara rutin selama kau berada disini," ucap sang Marquis sambil tertawa bahagia.


'Melakukan patroli secara rutin setiap harinya?' Argeas terlihat mengeryitkan dahi mendengar ucapan dari calon ayah mertuanya itu.


"Marquis, saya harap anda jangan berlebih. Meski bagaimanapun juga Argeas masih tamu kita sekarang ini." Julius memotong untuk mengingatkan sang ayah.


"Oh... benar-benar. Kalau begitu dua hari sekali."


"Apa anda mendengar ucapan saya barusan, Marquis?"


-


Malamnya kisah keberhasilan Argeas mengalahkan 8 Fayht Revenant itu diceritakan kembali ke anggota keluarga Lavis lainnya disaat acara makan malam bersama.


Dan Argeas pun menuai lebih banyak pujian.


-


-


Setelah melakukan patroli disela berkeliling ke desa dan kota selama 5 hari berturut-turut, kini nama Argeas mulai terkenal di wilayah perbatasan. Bahkan sebelum ia benar-benar resmi menjadi tunangan Evangeline.


Sementara setelah 3 malam melakukan penjelajahan di Gua Labirin, level Evangeline meningkat sampai 35 level. Hingga kini gadis itu sudah mencapai level 52. Dan sudah berganti class menjadi [Alchemist] bersamaan dengan Argeas yang akhirnya mendapatkan [Elemental Sword] setelah berhasil membersihkan Gua Labirin {El-Asa} secara menyeluruh.


Namun demi ketenangan mereka berdua, mereka setuju untuk merahasiakan hal tersebut dan tidak membicarakan tentang penjelajahan dan juga level mereka kepada siapapun. Termasuk keluarga.


Lalu kemudian sisa malam berikutnya Argeas gunakan untuk melatih Evangeline dasar-dasar bertarung. Agar setidaknya gadis itu bisa bertahan dari serangan monster tingkat menengah, ataupun membela diri dari para bandit di kemudian hari.


Dan meski awalnya enggan, tapi pada akhirnya Evangeline pun mulai terbiasa dan menikmati pelatihan tersebut.


Hitung-hitung meluangkan waktu berdua dengan Argeas. Meski tidak bisa dibilang sebuah kencan juga.


-

__ADS_1


__ADS_2