
Kembali ke upacara penerimaan.
Argeas duduk dengan tenang di barisan saat kemudian kepala Akademi naik ke atas mimbar untuk melakukan pembukaan acara dan menyambut para murid ajaran baru.
Tak lama setelah itu giliran perwakilan murid baru dipanggil ke depan untuk melakukan pelantikan secara simbolik. Dan murid itu adalah Bellatrix. Murid dengan hasil Uji Masuk terbaik di seluruh angkatan.
Gadis itu terlihat lebih cantik saat tersenyum ramah sebelum memulai pidato pendeknya. Dan memang gadis itu berwajah ketus hanya saat menatap Argeas.
.
Setelah selesai upacara penerimaan, Argeas pun menuju ke kelasnya yang mana adalah : Kelas B dari tingkatan Bangsawan.
Memang murid Akadami selain dibagi menjadi 3 jurusan, yang mana adalah Penyihir, Kesatria, dan Pengerajin, juga dibagi menjadi 2 tingkatan. Rakyat biasa dan bangsawan.
Jadi setiap jurusan memiliki 2 tingkatan sosial yang juga dipisah secara tempat. Murid bangsawan berada di komplek Akademi sisi utara, sedang murid dari rakyat biasa berada di komplek sisi selatan.
Yang kedua komplek itu dipisahkan oleh gedung Tata Usaha, ruang guru, perpustakaan, dan lapangan pelatihan yang berjajar di tengah-tengah. Dari ujung timur ke ujung barat.
Argeas mengambil tempat duduk di kursi paling belakang dekat jendela menghadap ke lapangan pelatihan.
Meski cukup banyak murid yang sudah mengenalnya, namun tidak ada yang berani menyapanya. Mereka hanya melirik sambil bergunjing.
'Ya, tidak mengherankan juga mereka bergosip. Anak dengan class langka, yang sekaligus calon menantu seorang Marquis berada di kelas B. Alih-alih Kelas Elit,' batin Argeas memaklumi sikap para temannya itu.
Dan tak lama kemudian seorang perempuan baya berambut pirang kemerahan disanggul anggun ke atas, memasuki ruang kelas. Yang membuat semua anak bergegas kembali ke bangku mereka masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak, perkenalkan namaku Rosalia," ucap perempuan itu memperkenalkan diri.
"Aku adalah wakil kelas kalian. Kelas B. Kalian akan berada di bawah tanggung jawabku selama setahun ke depan," tambahnya kemudian.
"Dan sebagai awalan, hari ini kita akan saling berkenalan. Ibu akan memanggil nama kalian satu persatu, dan kalian akan memperkenalkan diri," ucap wali kelas bernama Rosalia itu melanjutkan.
.
Dan setelah melakukan perkenalan yang cukup membosankan bagi Argeas, pelajaran hari pertama itu diisi dengan berbagai pengenalan tentang seluk-beluk Akademi. Mulai dari aturan, fasilitas, serta kegiatan kelompok di luar jam pelajaran.
Hingga kemudian jam istirahat makan siang pun tiba.
"Hei, Ar?" Terdengar teriakan memanggil Argeas saat ia sedang berjalan menuju ke kantin.
"Oh, kamu Luf." Argeas mendapati pemuda berperawakan mungil yang hanya setinggi bahunya itu berjalan mendekat.
"Di kelas mana kau? Kelas Elit, kan?" tanya Lufaine tanpa basa-basi.
"Bukan. Aku di kelas B," jawab Argeas dengan santai.
"Kelas B? Yang benar saja?" Lufaine tidak percaya dengan jawaban dari Argeas.
"Benar," jawab Argeas cepat. "Kalau kau di kelas mana?" tanyanya kemudian untuk menahan lanjutan pertanyaan dengan tema kelas itu dari Lufaine.
"Aku saja di kelas A." Lufaine menjawab dengan nada seolah tidak terima kelas Argeas lebih rendah dari kelasnya.
"Oh, hebat sekali kau." Argeas berbasa-basi memuji.
"Hebat apanya. Yang aneh itu malah kamu. Bagaimana bisa sampai di kelas B?" Lufaine terlihat masih tidak terima.
"Ya terjadi begitu saja," jawab Argeas yang mulai merasa sedikit jengkel Lufaine terlalu mebesar-besarkan masalah kelas tersebut.
Tapi diluar pemikiran Argeas yang memang tidak ingin menonjol, umumnya murid Akademi memang akan berlomba untuk dapat menempati kelas teratas. Yang secara keseluruhan ada 3 kelas diluar Kelas Elit. Kelas A, B, dan C.
Karena memang pembagian kelas dalam Akademi ini menganut sistem Meritokrasi. Dimana yang kuat akan menduduki posisi atas.
Sedang pembagian kelas tersebut akan dievaluasi dengan adanya Ujian Akhir setiap tahun untuk menentukan naik turunnya kelas di tingkat berikutnya.
"Hei Ar?!" Tiba-tiba dari jauh sosok yang Argeas kenal melambai sambil berjalan mendekat. Itu adalah Rodio.
'Tak ada perubahan sifat dari bocah itu meski pernah mengalami kejadian yang cukup membuatnya traumatis. Kurasa dia memang anak yang kuat,' batin Argeas setelah mengamati sosok pemuda yang sedang menuju ke arahnya itu.
"Oh, Luf? Kau disini?" ucap Rodio ketika mendapati sepupunya ada bersama Argeas. Namun tidak terlalu mengacuhkannya, pemuda itu langsung menyambung dengan pertanyaan kepada Argeas.
"Apa yang terjadi? Kudengar kau tidak masuk Kelas Elit?" tanya Rodio.
'Tema ini lagi?' batin Argeas mulai merasa sedikit kesal.
"Ya, itu... kurasa aku memang belum sehebat itu untuk dapat masuk ke Kelas Elit," jawabnya kemudian dengan asal.
"Ah, bicara apa kau. Mana mungkin." Rodio bersikap tak ubanya Lufaine, sepupunya. "Coba setelah ini aku tanyakan pada kepala Akademi," lanjutnya dengan rencana.
"Kumohon jangan," sahut Argeas buru-buru. Terlihat panik, kalau-kalau situasi malah menjadi semakin rumit.
"Aku... juga... masih punya harga diri. Jadi tolong, jangan buat aku bertambah malu," karang Argeas lagi sekenanya.
Rodio terdiam. Seolah sedang mencoba memahami maksud dari ucapan Argeas barusan.
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Apa saja. Mengerti?"
__ADS_1
'Kau mengerti? Apa yang kau mengerti?' batin Argeas terlihat tak habis pikir dengan cara berpikir Rodio.
"Baik. Terima kasih Ro," ucapnya kemudian berpura-pura.
"Ya, kalau begitu aku tinggal dulu," balas Rodio sebelum kemudian pergi meninggalakan Argeas dan Lufaine dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak apa maksudnya.
"Baiklah," balas Argeas cepat.
"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Lufaine kemudian. "Mau ke kantin barengan?" lanjutnya dengan undangan.
"Maaf, Luf. Tapi aku sedang menunggu seseorang." Argeas menolak ajakan tersebut.
"Ar!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari jauh. Dan tampak Evangeline melambai dari seberang area.
"Itu orangnya datang. Aku permisi dulu ya," ucap Argeas segera berpamitan dengan Lufaine.
"Oh, baiklah. Sampai jumpa," balas Lufaine.
Dan Argeas pun bergegas menuju kearah tunangannya sebelum lebih banyak orang mencegatnya hanya untuk sekedar mempertanyakan tentang kelasnya.
.
"Bagaimana Hari Pertama mu di Akademi?" tanya Evangeline saat ia dan Argeas berjalan menuju paviliun tepat di luar bangunan kantin.
Mereka berencana makan siang bersama. Evangeline telah membuat bekal untuk mereka berdua.
"Ya, tidak terlalu menghebohkan. Meski aku yang tidak masuk Kelas Elit itu cukup jadi perbincangan buat murid lainnya," balas Argeas seraya duduk di sebuah bangku taman di sekitar tempat itu.
"Tapi masih termasuk dalam tingkatan normal, kan?" tanya Evangeline lagi sambil mengeluarkan 4 susun kotak bekal dari Storage nya.
"Ya. Masih tergolong normal," balas Argeas.
"Baguslah."
Evangeline memberikan satu kotak bekal tadi kepada Argeas. Yang di dalamnya berisi dua potong roti lapis, beberapa iris daging asap, dan secawan kecil sup jagung kental.
"Oh iya, untuk asrama kau mendapat 1 kamar sendiri kan?" Evangeline menambahkan pertanyaan.
"Iya. Padahal Marquis tidak perlu sampai meminta hal seperti itu segala kepada pihak Akademi," balas Argeas yang merasa tidak terlalu nyaman dengan hal tersebut.
"Apa kau yakin bisa menutupi kemampuan ganjilmu itu dari teman sekamarmu?" Gadis itu kembali bertanya, yang kali ini seperti sedang memastikan.
"Ya, kurasa akan cukup sulit, sih," aku Argeas.
"Ayah sudah memperhitungkan akan hal itu. Makanya beliau meminta 1 kamar khusus untukmu." Evangeline menjelaskan.
"Ya, aku rasa juga begitu," balas Argeas.
'Memang peraturan tentang asrama dalam Akademi ini tidak pernah adil dan merata. Umumnya kaum bangsawan memang tinggal berdua dalam satu kamar. Setidaknya untuk kelas bangsawan Viscount ke bawah,' batinnya kemudian.
"Sedang untuk mereka yang tingkatannya lebih tinggi, biasanya mendapat kamarnya sendiri atau malah satu gedung terpisah. Seperti sebuah kondominium atau sejenis Villa,' lanjutnya seolah sedang mengingatkan diri sendiri akan situasi yang terjadi di sekitarnya saat ini.
"Kenapa? Merasa seperti anak manja yang mengandalkan kekuasaan calon ayah mertua?" Evangeline bertanya menggoda.
"Siapa coba yang anak manja?" balas Argeas sambil mengacak rambut perak tunangannya itu.
"Hei, hentikan Ar. Tatanan rambutku bisa rusak nanti," sahut Evangeline yang kemudian mencoba membalas mengacak rambut Argeas.
Dari luar pasangan itu memang terlihat cukup dekat dan mesra. Namun begitu Argeas masih belum benar-benar bisa memandang gadis itu secara romantis. Meski ia pernah menciumnya sekali.
.
"Lihat-lihat, ada yang sudah mengumbar kemesraan di hari pertama masuk. Apa dia ingin memamerkan bahwa dia tunangan keluarga Lavis, setelah gagal masuk Kelas Elit meski class nya [Arcmage]?" Seorang pemuda berkacamata berbicara dari jendela gedung lantai 2 di seberang tempat Argeas dan Evangeline duduk.
Itu adalah Gedung khusus Kelas Elit. Berada terpisah dari gedung kelas reguler.
"Ya, biarkan saja, Tus. Orang yang tidak memiliki kemampuan biasanya mencari perhatian dari hal-hal murahan." Pemuda lain menimpali dengan tak acuh sambil terlihat tengah membaca buku yang ukurannya dua kali besar kepalanya.
"Ya kau benar, Al." Pemuda berkacamata tadi setuju dengan ucapan temannya itu.
"Kalian salah kalau menganggap Argeas seperti itu." Kali ini Rodio yang menyahut dari tempat duduk di seberang pemuda berkacamata tadi.
"Oh, kau membelanya, Ro? Apa kau dekat dengannya?" Pemuda yang sedang membaca buku tadi mulai tertarik karena ucapan Rodio. Ia berhenti membaca dan mengangkat kepalanya menatap keluar jendela.
"Atau jangan-jangan kau sedang menjilatnya supaya bisa dekat dengan Marquis?" lanjut pemuda itu yang kini menatap ke arah Rodio. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah.
"Terserah kau mau berkata apa tentangku. Tapi aku yakin ada sesuatu yang menyebabkan dia tidak masuk Kelas Elit," balas Rodio tidak terpancing.
"Kau berbicara seolah sudah pernah melihat kemampuannya saja, Ro?" Pemuda berkacamata kembali berucap.
"Kak Jeda. Kak Jeda pernah menceritakannya padaku. Argeas mengalahkan kak Jack dalam sebuah duel hanya dalam waktu 3 detik saja," jawab Rodio jujur.
"Jack? Maksudmu Jack penerus keluarga Garland?" Pemuda berkacamata tadi memastikan.
"Benar."
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan kau. Bagaimana mungkin Kak Jack mengajak bocah yang belum masuk akademi itu untuk berduel?" Kali ini pemuda berambut panjang tadi yang berbicara. Merasa ucapan Rodio tidak masuk akal.
"Mereka datang saat ulang tahun Argeas ke 15 tahun. Tahun lalu. Kau bisa bertanya langsung pada kak Jack bila menganggap omonganku sembarangan."
"Benarkah? Kau serius?" Pemuda berkacamata tadi kembali memastikan.
"Buat apa aku berbohong? Dan buat apa pula Kak Jeda berbohong bahwa Kak Jack sudah dikalahkan?" jawab Rodio yang terdengar cukup masuk akal.
"Hm... Mendengar ceritamu, aku jadi ingin mencoba kemampuannya." Tiba-tiba seorang gadis berambut coklat gelap sepanjang dagu berucap dari sebelah Rodio.
Tampaknya gadis itu telah menyimak perbincangan tersebut sedari tadi. Dan baru tertarik setelah mendengar cerita dari Rodio.
"Mencoba kemampuannya? Apa kau juga ingin menantangnya berduel, Ill?" tanya pemuda berkacamata kepada gadis yang memiliki tatapan kuyu kurang bersemangat itu.
"Kalau memang harus seperti itu caranya, kenapa tidak?" balas gadis itu dengan santai.
"Mungkin kita bisa melihat kemampuannya dengan cara lain." Pemuda berambut panjang tadi berucap.
"Maksudmu, Al?" Pemuda berkacamata terlihat bingung dan penasaran.
"Empat bulan lagi akan ada Festival Musim Semi Akademi."
"Oh, benar juga. Tapi bagaimana kalau dia tidak ikut berpartisipasi?"
"Kau pikir pihak Akademi akan membiarkan seorang [Arcmage] melewatkan festival itu? Aku jamin pasti dia akan dipaksa ikut bila benar dia tidak mau berpartisipasi," jawab pemuda berambut panjang tadi dengan cukup percaya diri.
"Ya, berarti kita lihat nanti empat bulan lagi. Apa perkataanmu itu benar atau hanya sembarangan, Ro," ucap pemuda berkacamata dengan nada meremehkan.
"Ya, buktikan saja sendiri," balas Rodio tanpa perduli.
-
Setelah itu dimulailah keseharian Argeas dalam Akademi yang terasa membosankan.
Membosankan karena disamping materi-materi yang diajarkan sudah Argeas kuasai seluruhnya, juga karena ia tidak bisa melakukan penjelajahan di Reruntuhan sekitar Kotaraja.
Dan Argeas sengaja lakukan hal itu karena ia mencoba untuk berhati-hati.
Yang pertama berhati-hati agar tidak menaikan level nya tanpa sengaja, yang bisa berpotensi membuat orang semakin curiga. Dan kedua, agar tidak bertemu dengan seseorang yang mengenalnya saat berada di dalam Reruntuhan.
Karena berbeda dengan Reruntuhan di wilayah pinggiran seperti wilayah Danae, atau wilayah Lavis yang berbatasan langsung dengan Tanah Kegelapan, Reruntuhan di sekitaran Kotaraja sangat ramai dan aktif dikunjungi oleh Petualang dan Pemburu Harta.
Jadi memutuskan untuk tidak melakukan penjelajahan adalah tindakan paling aman dan tidak beresiko.
.
Dan sebulan pun berlalu.
"Bagaimana sebulan mempelajari ulang semua yang sudah kau kuasai?" tanya Evangeline bermaksud menggoda Argeas.
"Ah... sangat membosankan. Bahkan mulai dari kemarin, Bu Rosalia sudah tidak lagi memberiku pertanyaan, karena aku selalu bisa menjawabnya. Sepertinya beliau merasa sudah tidak ada gunanya memberiku pertanyaan," jawab Argeas yang malah berkeluh kesah.
Seperti biasa mereka berdua sedang makan siang bersama.
"Mungkin akan lebih baik kalau kau masuk Kelas Elit, bukan? Mereka sudah mempelajari hal lain sekarang ini. Dan dua bulan lagi mereka sudah mulai memasuki Reruntuhan di bawah komplek Akademi. Sedang kelas reguler harus menunggu sampai tengah semester nanti," ucap Evangeline kemudian.
"Ya, kalau boleh jujur memang sayang juga tidak bisa cepat-cepat memasuki Reruntuhan Bawah Tanah Akademi. Tapi tetap, kalau diminta untuk memilih ulang aku akan melewatikan Kelas Elit," balas Argeas jujur.
"Memang seperti itulah sifatmu, Ar." Evangeline menggeleng pasrah.
"Lalu sekarang apa yang sedang kau rencanakan untuk menghilangkan kebosananmu? Sudah sebulan ini kulihat kau tidak melakukan hal-hal yang menghebohkan," lanjut gadis berambut pirang platinum itu kemudian.
"Memang kau pikir aku orang yang suka membuat sensasi?" Argeas tampak tidak terima dengan ucapan tunangannya itu.
"Jadi kau anggap apa kericuhan [Meteor Come] dan rumor tentang adanya [Magus] itu kalau bukan sensasi, ku tanya?" balas Evangeline dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Berhenti berwajah menjengkelkan seperti itu," ucap Argeas sambil menoyor jidat tunangannya.
"Tapi saat ini aku memang belum merencanakan sesuatu karena masih ingin berjaga-jaga. Siapa tahu ada yang sedang memperhatikanku," ucap pemuda itu kemudian. "Ya, setidaknya sampai 3 bulan ke depanlah," lanjutnya lagi.
"Bukankah kau terlalu paranoid, Ar? Memang apa yang akan terjadi bila satu dua orang mengetahui kemampuanmu?" ucap Evangeline menanggapi.
'Ya, untuk saat ini lebih baik aku bertindak paranoid. Dari pada harus menyesal bila hal buruk terjadi,' batin Argeas.
"Oh iya, bagaimana kalau nanti sore antar aku ke tempat para pedagang dan pengerajin untuk mencari informasi tentang harga Item-item tertentu." Evangeline kembali berucap. Ia baru saja teringat akan hal tersebut.
"Apa kau membuat Item baru lagi?" Argeas selalu antusias setiap kali membicarakan tentang Crafting dengan tunangannya itu.
Karena ia merasa bangga dan kagum atas keahlian gadis itu dalam mencipta sesuatu.
"Nanti sore saja sekalian ku kasih tahu," balas Evangeline.
"Baiklah kalau begitu. Akan ku jemput setelah kelas berakhir," sahut Argeas.
Yang dijawab Evangeline dengan anggukan. "Aku tunggu di asramaku."
__ADS_1
.