
Dan lawan Argeas di tahap penyisihan pertama itu adalah perempuan tahun pertaman dari kelas C tingkatan bangsawan.
Yang hanya bertahan beberapa detik saja. Karena Argeas menggunakan Magic Spell [Sleep] dan kemudian membopong gadis yang telah lelap itu keluar arena.
Memang dalam pertandingan ini peserta diperbolehkan untuk menggunakan semua kemampuan yang mereka miliki. Entah itu Magic Spell dengan attribute apapun, Combat Move, dan bahkan Item juga peralatan lainnya asal itu adalah buatan mereka sendiri.
Untuk perlengkapan yang bukan buatan sendiri, dilarang digunakan saat pertempuran. Akademi akan menyediakan tongkat sihir atau senjata tempur lainnya. Sedang pakaian, mereka diwajibkan mengenakan seragam Akademi.
Disamping itu mereka juga diperbolehkan untuk mengikut sertakan [Partner] atau [Familiar] dalam pertarungan bila memang memilikinya.
"Apa kau sengaja tidak mengikut sertakan elemen hiburan dalam pertarunganmu, Ar?" Tiba-tiba terdengar ucapan dari samping Argeas saat pemuda itu menuruni arena.
"Oh, kalian?"
Terlihat rombongan kelompok Bintang Api bersama Jeda, Ashley, dan Rodio tengah berjalan mendekat.
"Kenapa kakak-kakak sekalian kemari?" Argeas tampak sedikit terkejut melihat mereka.
"Jelas untuk melihat pertandinganmu, lah. Festival ini kan memang dibuka untuk disaksikan oleh umum." Gustave yang menjawab.
"Ah, benar juga." Argeas mengangguk kecil. Ia baru mengingatnya.
"Padahal aku menantikan pertarungan yang menarik darimu, Ar," sahut Jeda menimpali.
"Maaf, aku memang tidak terlalu pandai membuat pertarungan yang bisa dinikmati," balas Argeas jujur.
"Apa maksudmu? Terakhir kau memberikan pertunjukan yang sangat menghebohkan pada kami." Jack menyahut begitu mendengar ucapan Argeas barusan.
"Ah, benar itu."
"Ya, jelas menghebohkan."
Rekan-rekan sekelompok Jack membenarkan.
"Ha? Pertunjukan apa? Apa kalian melakukan penjelajahan bersamanya? Kenapa kalian tidak cerita padaku?" Jeda terlihat tidak terima karena tidak diikut sertakan.
"Haha.. itu karena rahasia," jawab Jack yang sengaja menggoda.
"Awas saja kau Jack." Jeda terlihat tidak terima.
"Sepertinya lawanmu setelah ini cukup menarik, Ar. Mungkin ini akan jadi pertunjukan yang lebih menghibur dari sebelumnya." Kali ini Rodio yang berucap.
"Memang siapa?" Jeda yang teralihkan bertanya penasaran.
"Marlie dari kelas A tahun terakhir." Rodio menjawab.
"Ah, Marlie? Kurasa kita akan mendapat pertarungan yang seperti sebelumnya," ucap Gustave terlihat percaya diri setelah mengetahui siapa yang akan dilawan Argeas.
"Ya, aku juga setuju." Sophie tampak sependapat.
"Eh, apakah menurut kalian Marlie tidak cukup hebat untuk melawan Argeas?" Kali ini Jeda yang bertanya. Terlihat Rodio juga sependapat hanya saja tidak berkomentar.
Sedang Sophie hanya membuang nafas malas. "Kita lihat saja nanti," celetuknya kemudian.
Sementara mendengar orang lain membicarakan dirinya secara langsung di hadapannya, membuat Argeas merasa sedikit canggung.
'Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang? Kenapa mereka seperti sudah sangat mengenalku begitu?' batinnya tidak mengerti.
.
Dan seperti perkiraan Sophie dan Gustave, pertandingan Argeas melawan pemuda bernama Marlie itu berakhir dengan cukup cepat.
Argeas hanya mengeluarkan dua sihir saja. [Hard Light] untuk mendorong tubuh lawan ke belakang, dan [Rock Wall] untuk menjegal kaki lawan agar terjatuh keluar Arena.
.
"Benarkan? Apa kubilang." Sophie berucap seolah baru saja merasa diremehkan.
"Dan sepertinya sisa 2 pertandingan Argeas hari ini tidak akan ada yang menarik." Kali ini Sylvi yang berucap saat memeriksa bagan turnamen di papan pengumuman tak jauh dari arena tempat Argeas bertarung.
"Baru di hari kedua dia memiliki lawan yang mungkin bisa menahannya sedikit lebih lama," lanjut gadis itu kemudian.
"Ah, benar. Rata-rata murid Kelas Elit baru akan bertemu Argeas di penyisihan ke 5." Gustave membenarkan setelah ikut memeriksa bagan turnamen tersebut.
"Kalau begitu kita sudahi saja hari ini dan kembali lagi besok," ajak Jack spontan.
"Ya, aku setuju."
"Kurasa itu akan menghemat waktu."
Yang lain tampak menyetujuinya.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Ar." Sophie berucap. "Ketemu besok pagi. Semangat pertandingannya hari ini," lanjut gadis itu seraya berjalan pergi bersama rombongannya dengan begitu saja.
'Mereka ini benar-benar... Seenaknya saja," pikir Argeas seraya menggelengkan kepala menatap rombongan Jack itu pergi.
'Tapi senang rasanya memiliki orang-orang seperti mereka. Mungkin tidak terlalu berlebih bila aku menyebut mereka teman,' batinnya lagi merasa senang dan juga brsyukur.
"Mereka berharap banyak padamu, Ar." Evangeline berucap dari sebelah Argeas.
"Ya... Sayangnya memang seperti itu," balas Argeas dengan malas dan terkesan masa bodoh.
"Aku juga berharap banyak padamu," ucap Evangeline menambahi dengan nada menggoda.
"Kau jangan ikut-ikutan mereka." Argeas mengacak rambut tunangannya itu.
.
Dan sepeninggalan rombongan para seniornya, dua pertarungan Argeas setelahnya juga seperti yang sudah diperkirakan.
Pertarungan ketiga Argeas melawan gadis tahun kedua dari kelas A. Yang juga berakhir tak butuh waktu lama.
Argeas menggunakan sihir [Bind] untuk mengunci gerak gadis itu dan kemudian sama seperti pertandingan sebelumnya, dengan santainya ia membopong gadis itu dipundak, kemudian menurunkannya di luar arena dengan perlahan.
Dan mulai sejak pertandingan tersebut cara bertarung Argeas yang tampak tidak normal itu mulai menarik minat banyak penonton.
Dan juga beberapa gadis yang merasa bahwa Argeas adalah orang yang lembut dan baik hati. Karena meski di sebuah pertarungan ia masih mencoba untuk sebisa mungkin tidak menyakiti lawannya.
.
Kemudian di tahap penyisihan keempat Argeas kembali melawan seorang gadis. Kali ini dari kalangan rakyat biasa. Kelas A tahun ketiga.
Dan tampaknya gadis itu lebih agresif dibanding lawan-lawan Argeas sebelumnya. Dengan mengeluarkan rentetan sihir tingkat rendah beratribut api dan es hampir tanpa sela.
Namun meski begitu, hal tersebut tidak terlalu berarti buat Argeas. Ia hanya menahan serangan tersebut dengan sihir [Light Shield] sambil bergerak maju mendekat. Sebelum kemudian menyerang dengan sihir [Hard Light] tepat di perut gadis itu.
Besarnya kekuatan dari sihir Argeas itu berhasil melempar si gadis ke belakang hingga ke luar arena. Namun tepat sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah, Argeas dengan cepat mengaktifkan sihir [Cover] kepada gadis itu.
Sihir [Cover] merupakan sihir tingkat rendah yang menyelimuti tubuh sasarannya dengan pelindung tipis yang dapat menahan serangan tingkat rendah. Seperti halnya benturan.
.
Dan setelah seluruh pertandingannya untuk hari ini selesai Argeas pun bergegas pulang meninggalkan Akademi. Ia tidak tertarik dengan pertandingan murid lain atau penasaran dengan lawannya di tahap penyisihan berikutnya.
"Ehem!" Evangeline berdeham kencang saat sedang berjalan berdua dengan Argeas menuju asrama.
"Apa kau memang sengaja melakukan semua itu tadi agar terlihat keren?" tanya gadis itu kemudian.
"Melakukan apa?" Argeas tidak mengerti maksud dari pertanyaan tunangannya itu.
"Itu yang setiap kali kau melawan perempuan," jawab Evangeline yang hanya sepenggal.
"Memang apa yang ku lakukan?"
"Kau sengaja tidak membuat mereka cidera," jelas Evangeline kemudian.
"Apa kau mengeluh karena aku sudah bersikap baik?" Argeas bertanya seolah tidak percaya dengan ucapan tunangannya barusan.
"Benar. Kenapa kau bersikap baik kepada mereka?" Evangeline menjawab dengan tegas.
"Mereka mengikuti pertandingan ini sadar bahwa mereka akan cidera. Jadi kau tidak perlu bersikap baik terhadap mereka. Itu akan menimbulkan kesalah pahaman," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Oh, begitu kah?"
"Ya, begitu. Meski aku suka kalau kau terkenal di kalangan murid Akademi ini, tapi aku tidak suka kalau kau terkenal karena citra seorang don juan."
"Aku? Seorang don juan?" Argeas terlihat tak percaya ada orang yang akan menganggapnya seperti itu.
"Meski aku tahu kau bahkan tidak mengetahui bagaimana ciri seorang don juan itu, tapi orang-orang akan mengganggapnya begitu ketika melihat lakumu yang seperti tadi." Evangeline kembali dengan tegas menjelaskan.
'Benarkah begitu? Apa aku terlalu tidak perduli sampai tidak menyadari hal seperti itu?' Argeas membantin.
"Baiklah. Mulai besok aku akan mencoba untuk tidak bersikap lunak pada lawanku. Meski itu perempuan," jawab pemuda itu kemudian.
"Baguslah kalau memang begitu." Evangeline terlihat puas Argeas mau mendengarkan perkataannya.
"Aku bukannya ingin mengaturmu. Hanya saja ini demi kebaikanmu sendiri. Aku juga bukannya cemburu dengan perempuan-perempuan itu," tambahnya memberikan penjelasan.
"Iya-iya, aku tahu," balas Argeas sambil kembali mengacak rambut gadis itu.
.
"Sepertinya apa yang diucapkan Rodio kemarin memang benar. Bocah [Arcmage] itu memang cukup hebat dan terkesan menyembunyikan kemampuannya," ucap gadis berwajah lesu dan tidak bersemangat dari dalam ruangan kelasnya di gedung khusus Kelas Elit.
"Kau berpikir seperti itu?" Seorang pemuda berambut panjang terlihat tidak menyangka temannya akan menilai Argeas setinggi itu.
"Ya. Dan itu berarti kecil kemungkinan dia akan menggunakan seluruh kemampuannya bila tidak dipaksa," jawab gadis itu dengan nada tidak bersemangat.
"Apa kau berencana untuk melawannya?" Pemuda berambut panjang tadi bertanya. Mencoba untuk memastikan.
"Bagaimana ceritanya? Kau bahkan tidak mendaftarkan diri untuk ikut berpartisipasi dalam Festival tahun ini." Kali ini pemuda berkacamata yang berucap.
"Ya, aku akan meminta nona Emilia untuk mengusahakannya." Gadis berwajah lesu tadi menjawab tanpa beban.
"Kau ingin mengikuti Festival secara susulan di hari kedua?" tanya pemuda berkacamata tadi memastikan.
"Kalau memang harus seperti itu, apa mau dikata. Meski aku maunya sih langsung saja melawan bocah itu." Si gadis berwajah lesu menjawab.
"Sepertinya akan susah bila kau ingin langsung melawannya. Karena belum tentu bocah itu akan menyetujui bertarung denganmu." Pemuda berambut panjang berpendapat.
"Ya. Itu benar. Maka dari itu akan kugunakan kesempatan kali ini untuk melawannya." Gadis berwajah lesu itu mengangguk seperti sedang mengantuk.
"Sepertinya kau sudah bertekat, Ill," balas pemuda berambut panjang kemudian.
\=
Sementara di dalam ruang Tata Usaha.
"Calon menantu Marquis Lavis itu benar-benar sangat menarik." Seorang pria berjubah merah berucap kepada rekan-rekannya saat setelah seluruh pertandingan untuk hari pertama selesai dilakukan.
"Benar. Dia memenangkan pertandingan sampai tahap keempat ini hanya dengan sihir attribute [Mind] dan [Holy]," sahut seorang perempuan berambut sedagu.
"Dan juga attribute [Earth]. Aku sempat melihatnya menggunakan [Rock Wall] saat ia membuat Marlie terjungkal tadi." Kali ini pria berkumis dan berjengkot tebal yang berucap menambahi.
"Benar. Padahal semua atribut itu bukanlah jenis sihir serangan. Tapi dia dapat menggunakannya untuk memenangkan pertarung." Pria berjubah kembali berucap.
"Tapi melihat bagaimana bocah itu bertarung, aku yakin dia pasti sudah berpengalaman. Dan sengaja menyembunyikan lebih banyak kemampuannya." Si perempuan ikut berpendapat.
"Benar. Dia bahkan tidak menggunakan Combat Move nya sama sekali. Aku yakin dia tidak merasa bahwa lawan-lawannya tadi layak atau sepandan dengannya. Hingga dia hanya bermain-main saja." Kali ini pria berkumis yang berucap.
"Tapi mulai di tahapan kelima nanti bisa dipastikan lawannya adalah anak-anak dari Kelas Elit," ucap pria berjubah menimpali.
"Oh, benar. Bahkan Illaria meminta padaku untuk menyusulkannya sebagai peserta di hari kedua besok. Karena ia ingin melawan pemuda Danae itu." Si perempuan membagi informasi.
"Oh, sampai Illaria yang tidak tertarik dengan banyak hal itu ingin melawannya?" Pria berjubah tampak sedikit terkejut tapi juga terlihat senang mendengarnya.
"Ini akan jadi pertandingan yang sangat menarik," tambahnya kemudian.
"Ya, kita lihat apakah bocah itu memang tidak layak masuk, atau memang sengaja menghindari Kelas Elit." Pria berkumis berucap.
"Aku jadi tidak sabar," sahut si perempuan.
-
-
Banyak orang-orang dari luar Akademi yang datang untuk menyaksikannya.
Tidak hanya orang awam yang datang untuk menyemangati teman atau sanak keluarga mereka, tapi juga beberapa utusan resmi dari serikat-serikat Petualang. Yang memang datang untuk melakukan pencarian bakat muda guna ditarik menjadi anggota dari serikat-serikat mereka.
Sedang untuk hari kedua ini pendukung Argeas bertambah lebih banyak dari hari sebelumnya. Karena selain Evangeline dan rombongan Jack, kini kedua kakaknya, Regina dan Raynold juga datang.
"Kak Re dan kak Ray juga datang?" Argeas tampak terkejut mendapati kedua kakaknya itu hadir.
"Ya, aku gagal di tahap ke empat kemarin. Jadi aku punya banyak waktu luang hari ini." Raynold menjawab.
"Ya, kurasa tahapan kelima memang lebih layak buat ditonton." Kali ini Regina yang berucap. Gadis itu juga datang bersama tunangannya. Yohan Ismirr. Calon penerus Earl Ismirr.
"Aku juga datang karena ingin mendukungmu, Ar." Pemuda tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung itu berucap.
"Terima kasih sudah datang mendukung Ar, kak Yohan," balas Argeas bersikap sopan.
"Ya, tunjukan pertarungan yang menarik hari ini, Ar." Yohan berucap.
"Haha... Akan Argeas usahakan," jawab Argeas dengan tawa dan senyum menggantung.
'Ya, tak bisa disalahkan juga mereka mengharap hal itu dariku. Aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini sekarang," batinnya kemudian.
.
Tak lama kemudian pertandingan hari kedua pun dimulai.
Hari ini ada 2 tahapan yang harus Argeas lewati sebelum babak final untuk jurusan Penyihir besok paginya bila ia lolos.
Lawan pertama yang harus Argeas hadapi adalah seorang penyihir laki-laki dari Kelas A tahun terakhir bernama Russel.
"Kudengar kau memiliki Class [Arcmage]? Lalu kenapa kau bisa sampai berada di kelas B?" Russel bertanya saat ia dan Argeas baru saling berhadapan di atas arena.
Pemuda dengan potongan rambut cepak itu terlihat benar-benar penasaran.
"Sepertinya class bukanlah sesuatu yang menentukan kelas kita di Akademi." Argeas menjawab.
"Kurasa itu karena kau yang tidak berusaha untuk berlatih dengan benar. Dan aku tidak akan bersikap lunak terhadap orang sepertimu," balas pemuda berambut cepak itu sebelum kemudian wasit meneriakan aba-aba mulai.
Dan tanpa berbasa-basi, Russel segera memasang kuda-kuda menyerang.
"Speed Cast, Flare Orb, Flare Orb, Flare Orb, Flare Orb!"
Rentetan sihir bola api keluar dari ujung tongkat sihir Russel ke arah Argeas dengan cepat.
"Multi Cast, Light Shield, Cover," sahut Argeas segera mengantisipasi serangan mendadak itu.
'Bagaimana aku harus melawanya kali ini? Jelas dia cukup berpengalaman meski bukan dari Kelas Elit.' Argeas berpikir disaat tengah bertahan dari bombardiran bola api lawannya itu.
'Apa aku harus menggunakan sihir dengan atribut lain yang belum ku gunakan?
'Ah, lebih baik jangan. Akan jauh lebih aman bila orang tahu sedikit tentang kemampuanku.
'Dan sepertinya aku juga harus menerima serangan bila ingin dianggap normal. Benarkan?'
Dan setelah itu Argeas mulai bergerak maju dengan cepat sembari berusaha untuk menghindar dari bola-bola api lawannya.
"Dual Cast, Javelin Frost." Russel mengeluarkan sihirnya yang lain setelah melihat Argeas yang mulai mendekat ke arahnya.
"Bind!" Argeas mengaktifkan sihirnya tepat setelah Russel selesai dengan sihirnya.
Itu karena Argeas paham akan mekanisme sihir yang membuat penyihir rentan untuk beberapa detik setelah menggunakan Magic Spell nya. Apa lagi secara beruntun seperti [Dual Cast] yang baru saja dilakukan lawannya.
"Rock Wall!" susul Argeas dengan sihir yang lain.
Lantai arena yang dipijak Russel tiba-tiba saja mencuat ke atas dengan cepat dan melemparkan tubuh pemuda itu ke angkasa.
Dan disaat yang bersamaan Argeas menerima serangan 4 tombak es secara beruntun hingga tersungkur jatuh ke belakang karena memang sengaja tidak menghindar.
__ADS_1
Namun meski terasa sedikit nyeri, Argeas segera bangkit berdiri dan segera mengeluarkan sihirnya.
"Hard Light!"
Dan kristal cahaya keluar dari ujung tongkat sihir Argeas menghujam ke arah Russel yang masih berada di udara.
Kemudian belum tubuh pemuda berambut cepak itu sempat menyentuh lantai, Argeas kembali mengaktifkan sihirnya.
"Dual Cast, Rock Wall."
Dan muncul pilar batu dari atas lantai yang kembali menghantam tubuh Russel hingga mendorongnya kembali ke udara.
Namun karena dampak dari Magic Skill [Dual Cast] yang mengaktifkan satu sihir secara beruntun sebanyak dua kali, jadilah dari ujung pilar pertama muncul lagi pilar baru yang kembali mendodong tubuh Russel lebih tinggi ke udara. Kali ini keluar dari area arena.
Sedang tampaknya Russel kini sudah mulai terbebas dari efek sihir pengikatnya. Dan mulai bersiap mengarahkan tongkat sihirnya ke bawah.
"Inferno," serunya kemudian.
Namun tidak langsung terlihat sihir apa yang baru saja Russel gunakan.
Karena tanpa bantuan [Instant Cast] sihir tingkat tinggi memang memiliki jedah saat dikeluarkan.
'[Inferno]? Apa dia berencana mengeluarkan sihir tingkat tinggi di tempat ini? Apa sihir pelindung untuk para penonton akan kuat menahannya?' batin Argeas tak habis pikir dengan apa yang tengah dilakukan lawannya itu.
"Brave, Cover, Light Shield." Dengan segera Argeas mengaktifkan beberapa sihir pelindungnya untuk bersiap.
Dan meski tidak terlalu jelas namun terdengar pula para penonton mulai gaduh karena masalah sihir tingkat tinggi tersebut. Beberapa orang tampak risau dan kuatir sihir pelindung tidak akan mampu menahannya.
Namun sepertinya Russel tidak menggunakan sihir tingkat tinggi itu seperti yang diperkirakan oleh orang-orang.
Karena begitu tubuhnya sudah berada beberapa meter di atas tanah, ujung dari tongkat sihirnya tiba-tiba mengeluarkan pilar api yang kemudian mendodongnya ke atas.
Dan dengan memanfaatkan momentum tersebut, Russel meluncur kembali ke dalam area arena yang sekaligus mengarahkan pilar api tadi untuk menyerang Argeas.
'Wah, idenya kreatif sekali. Dia menggunakan sihir tingkat tinggi sebagai roket pendorong untuk kembali ke dalam arena," batin Argeas yang benar-benar terkesan oleh ide dari lawannya itu.
"Tapi, tak segampang itu," ucapnya kemudian seraya melakukan ancang-ancang.
Bukannya mengelak Argeas malah berlari mendekat. Dan dengan mengandalkan beberapa sihir pelindung dan juga ketahanannya terhadap sihir elemen yang sudah cukup tinggi, Argeas membiarkan tubuhnya terkena serangan untuk kedua kalinya.
Dan kali ini luka yang diterimanya cukup besar. Mengingat serangan itu dari sihir tingkat tinggi.
Sedang Russel yang mengira Argeas akan berlindung karena harus berhadapan dengan sihir tingkat tinggi itu, tidak mengantisipasi tindakan tersebut.
"Apa dia sudah gila menghadang sihir tingkat tinggi seperti itu?"
Russel terlihat mulai sedikit panik karena disamping durasi sihir [Inferno]nya yang sudah akan selesai, jumlah MP nya saat ini juga sudah terkuras habis.
"Bukankah itu cara bertarung yang cukup ceroboh?" Yohan, tunangan Regina, berkomentar ketika melihat Argeas yang tengah menghadang sihir lawannya itu secara langsung.
"Ceroboh? Bocah itu memang gila. Tapi ceroboh bukanlah sifatnya." Raynold yang berada di samping Yohan menanggapi.
"Benar. Dia melakukan hal itu pasti setelah menilai bahwa dia bisa menerimanya." Kali ini Regina yang berucap. Setuju dengan sang adik.
"Maksudmu menerima sihir tingkat tinggi hanya dengan [Cover] dan [Light Shield]?" Yohan merasa itu tidaklah masuk akal.
"Haha... Anda baru pertama kali melihat Argeas bertarung, tuan Yohan? Tidak masuk akal kan? Dia memang seperti itu." Kali ini Jack yang berucap menimpali.
"Dari yang kutahu, dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan," sahut Regina yang cukup paham dengan kelakuan adiknya yang satu lagi itu.
"Benarkah?" Yohan masih mencoba untuk menerima ucapan yang lain.
Sedang kembali ke arena, setelah sihir pilar api milik Russel mulai menghilang, dengan cepat Argeas mengeluarkan sihirnya.
"Multi Cast, Bind, Rock Wall."
Dan kejadian sebelumnya pun berulang. Russel kembali dibuat tak dapat bergerak, dan kemudian dilempar ke atas sekali lagi.
Namun kali ini saat posisi Russel tengah berada di udara, Argeas mengeluarkan sihirnya yang lain.
"Speed Cast, Hard Light, Hard Light, Hard ,Light, Hard Light,"
Kristal cahaya yang keluar dari ujung tongkat sihir Argeas menghantam tubuh Russer bertubi-tubi, dan mendorongnya hingga keluar dari arena.
Namun tak terdengar apapun ketika tubuh Russel menyentuh tanah. Penonton terdiam sesaat, tampak terkesima menyaksikan pertarungan yang cukup unik tersebut.
"Pemenang pertempuran kali ini adalah Argeas Danae dari Kelas B Tahun Pertama."
Pengumuman tersebut memecah kesunyian dan menicu riuh tepuk tangan para penonton.
Ada pun beberapa penonton masih belum percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
"Apa? Bocah itu dari kelas B? Mengalahkan Russel? Yang benar saja?"
"Apa aku tidak salah dengar? Murid kelas B tahun pertama mengalahkan Russel?"
"Apa pihak Akademi salah melakukan penilaian saat Uji Masuk bocah itu?"
Terdengar para penonton mulai sibuk membahas kejanggalan Argeas yang semakin jelas terlihat.
"Ya, memang bocah itu tidak masuk akal. Mengalahkan penyihir yang digadang-gadang akan jadi penerus Tuan Lim, Penyihir Perang Istana, hanya dengan [Bind], [Rock Wall], dan [Light Hard]?" Gustave berucap.
"Pikirkan bagaimana malunya si pemuda Russel-Russel itu," sahut Sylvi asal.
"Hahaha... dulu saat aku dikalahkan bocah itu hanya dalam waktu 3 detik saja juga malunya terasa sekali," ucap Jack menertawakan pengalamannya.
"Kau pernah bertarung melawan Argeas?" Yohan bertanya pada Jack.
"Pernah. Duel," jawab Jack.
"Dan kau kalah darinya?" Yohan kembali bertanya.
"Ya. Tak lebih dari 3 detik," jawab Jack lagi. Terlihat tidak merasa malu oleh hal tersebut.
"Mana saat itu Argeas belum masuk Akademi lagi." Jeda menyeletuk menambahi.
Dan semua rekan Jack tertawa.
"Hahaha..."
"Tapi sepertinya untuk yang kali ini dia berhasil membawa serta unsur hiburan dalam pertadingannya." Gustave berucap.
"Benar-benar. Aku setuju." Jack juga sependapat.
"Setelah ini siapa lawannya?" Kali ini Jeda yang bertanya.
"Oh, pertandingan setelah ini pasti bakalan lebih seru." Tiba-tiba terdengar suara Lufaine dari sebelah Jeda.
"Luf? Kau disini? Bagaimana dengan pertandinganmu?" Jeda bertanya.
"Aku kalah di tahap ke empat kemarin."
"Oh.. begitu."
"Iya, sial saja lawanku murid Kelas Elit."
"Memang siapa lawan Argeas setelah ini? Kenapa kau bilang akan lebih seru?" Kali ini Jack yang bertanya memotong.
"Oh, itu karena lawannya setelah ini adalah gadis yang sangat membencinya sedari awal memasuki Akademi ini." Lufaine menjawab dengan penjelasan menggantung.
"Memang siapa?" Jeda terlihat penasaran.
"Peraih nilai Uji Masuk terbaik seangkatan tahun pertama, murid Kelas Elit, Bellatrix." Lufaine kembali menjawab.
"Maksudmu Bellatrix Lumine? Cucu dari Penyihir Legendaris Ballam Lumine?" Sophie yang kali ini bertanya memastikan.
"Benar." Lufaine mengangguk dalam membenarkan.
"Ya, sepertinya itu memang pertandingan yang patut dinanti."
.
__ADS_1