
Argeas yang sudah berpindah tempat itu sekarang tengah mengamati situasi sebelum mulai bertindak.
Terlihat tak jauh dari tempatnya berdiri tiga ekor naga dengan bentuk yang nyaris serupa tengah melayang rendah.
"Hm... Bukannya yang dua itu Fafner dan Fasolt? Kenapa 2 naga bos dari event lain itu ada bersama Smaug, naga yang harusnya ada dalam ini?"
Argeas mengenali naga-naga itu dari warna motif di sayap mereka.Yang disebut Smaug memiliki motif berwarna merah di ujung sayapnya. Sedang Fasolt memiliki motif berwarna biru, dan Fafner berwarna putih.
Kemudian terlihat Argeas menghembuskan nafas panjang.
"Kalau sudah seperti ini tidak ada pilihan lagi. Aku harus mengalahkan mereka dengan sangat cepat. Yang berarti aku perlu MP tambahan," ucap pemuda itu membuat deduksi.
"Ya, sepertinya sudah saatnya kita gunakan skill pamungkas kita berdua, Lu," lanjutnya lagi seraya melirik kearah [Familiar]nya.
'Menunggu perintah tuanku,' sahut Lushu dengan sigap.
"Baiklah kalau begitu. Infuse Spirit!" seru Argeas kemudian.
Dan secara tiba-tiba sosok Lushu mulai terlihat bersinar dan berubah bentuk seperti benda cair yang kemudian menempel pada tubuh Argeas dan menjelma menjadi sebuah pakaian pelindung yang terbuat dari bulu berwarna oranye.
Terlihat pula 4 buah ekor menempel di bagian belakang lehernya menggantung di atas punggung.
[Infuse Spirit] itu adalah Ultimate Skill yang diperoleh setelah level bonding Mythical Beast dan Masternya mencapai tingkatan tertentu.
Dan dampak dari bergabungnya Mythical Beast dengan tuannya itu, membuat atribut sihir elemental tuannya meningkat dengan cukup drastis.
Memberi ketahanan pada serangan sihir elemen, dan juga menambahkan jumlah MP sang Mythical Beast ke MP tuannya.
Sebenarnya bagian itulah yang paling Argeas butuhkan. Jumlah MP yang cukup untuk ia gunakan. Karena tiga ekor naga tidak akan cukup bila hanya dilawan dengan menggunakan Magic Spell tingkat menengah ke bawah.
Terlihat Argeas dengan penampilan barunya mengeluarkan [Elemental Sword] dari dalam Storage.
Sebuah pedang yang dapat melipatgandakan sihir elemen yang dimiliki penggunanya.
Dan dengan mengenggam dua senjata di kedua tangannya, pedang di kanan dan tongkat sihir di kiri, Argeas mulai bersiap melakukan ancang-ancang.
"Multi Cast, Float, Aero!"
Dan dengan cepat setelah mengaktifkan Ability Magic dan 2 Magic Spell itu, Argeas meluncur ke atas menghadang langsung salah satu dari naga tersebut.
"Blood Sacrifice, Dual Cast, Thunder Slash!"
Dan bersamaan denga teriakannya, Argeas menebaskan pedangnya dua kali ke salah seekor naga yang terbang paling belakang. Yang memiliki motif sayap berwarna merah.
Dua buah petir berbentuk seperti bilah pisau raksasa tercipta dari gerakan Argeas menebaskan pedangnya. Meluncur dengan cepat memotong kedua sayap naga tersebut dengan seketika.
Belum kejadian itu dapat dicerna oleh sang naga, Argeas kembali berseru.
"Parallel Cast, Haste, Dragonic Flash!"
Dan tubuh Argeas yang diselimuti kilatan petir pun meluncur cepat menuju ke naga tanpa sayap yang hendak terjatuh ke bawah itu.
Sebelum kemudian menebaskan pedangnya lagi, yang kembali menciptakan bilah pisau raksasa dari petir, dan memenggal kepala naga tersebut.
...<>...
...<<17500 XP Obtained>>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
Hal tersebut segera menarik perhatian kedua naga sisanya. Namun sebelum keduanya sempat bereaksi, Argeas sudah kembali bersiap.
"Instant Cast, Arctic Dome!"
Dan Argeas berhasil mengurung naga dengan motif sayap berwarna biru dalam sebuah bola es yang sangat besar. Yang membuat suara berdebam dasyat, saat kemudian jatuh menghantam permukaan tanah.
Magic Spell tingkat tinggi itu memakan nyaris seluruh MP yang Argeas punya. Dan juga mempengaruhi staminanya saat ini.
Maka dengan cepat Argeas meraih botol Elixir dari dalam tas pinggangnya dan kemudian menghabiskan dalam sekali teguk sebelum kembali berseru,
"Blood Sacrifice."
Argeas mengaktifkan Magic Spell untuk merubah setengah HP nya saat ini menjadi MP.
Kemudian dilanjutkan dengan mengambil sebatang kayu seukuran 2 jari dari dalam tas, yang lalu mematahkannya.
"Item Casting, Instant Warp!" ucapnya menyusul.
Dan sosok Argeas pun sudah berada di belakang sisa naga yang tidak membeku. Yang memiliki motif sayap berwarna putih.
"Parallel Cast, Void Bind!"
Sebuah rantai cahaya berwarna ungu muncul dengan cepat dari sebuah celah di udara kosong yang kemudian mengikat sayap sang naga hingga terjatuh.
"Meteor Come!" lanjut Argeas berseru.
Pemuda itu kembali mengeluarkan Magic Spell nya yang untuk kali ini tidak langsung muncul seperti serangan-serangan sihir sebelumnya. Kali ini sihir yang dikeluarkannya mengalami jedah.
Namun jedah tersebut tidak terlalu berdampak karena kedua naga masih tidak dapat bergerak karena berhasil dikunci.
Naga yang terikat sayapnya masih bisa menyerang dengan menyemburkan nafas bekunya ke arah Argeas yang masih melayang di udara di atas para naga tersebut.
Namun karena jubah hitam yang dikenakan Argeas saat ini memiliki ketahanan terhadap 4 sihir elemental, ditambah dengan ketahanan elemental yang ia peroleh dari [Infuse Spirit] dengan Lushu, membuat serangan nafas beku sang naga tidak ada artinya sama sekali.
Dan tak berapa lama kemudian suara menggelegar mulai terdengar dari angkasa di atas posisi Argeas melayang. Seperti mendung gelap tiba-tiba saja terbentuk, dan terlihat sesuatu perlahan turun dari dalamnya.
Setelah melewati selubung awan hitam yang menggantung di langit, wujud asli benda itu pun mulai terlihat.
Beberapa batu berpijar yang besarnya nyaris sebesar tubuh para naga itu terlihat jatuh dari angkasa dengan suara gemuruh yang meresahkan.
Sihir itu bahkan terlihat dari kastil kediaman Marquis karena ukurannya yang cukup mengesankan.
"Ap-apa itu?"
"Bukankah itu Sihir Tingkat Tinggi [Meteor Come]? Siapa yang mengeluarkannya?"
"Apa ada [Magus] di tempat ini?"
Orang-orang yang melihat kejadian itu dari jauh tampak terkejut dan mulai penasaran.
Sementara Evengeline merasa yakin bahwa sihir itu pasti salah satu sihir yang dikeluarkan tunangannya.
.
Pada akhirnya kedua naga itu tidak dapat mengelak saat High Tier Magic Spell [Meteor Come] milik Argeas mengenai mereka.
Delapan batuan pijar yang turun dari langit itu meledak begitu menghantam permukaan tanah. Dan meninggalkan area hangus selebar beberapa hektar di sekelilingnya.
Dua naga itu tidak dapat bertahan dari dasyatnya kekuatan ledak bebatuan pijar tersebut. Yang saking dasyatnya, daratan terasa berguncang di tiap kali bebatuan pijar tersebut meledak.
Di akhir sihir, tidak banyak yang tersisa dari tubuh kedua naga itu. Hampir seluruhnya habis terbakar tak tersisa.
"Cancel Infuse Spirit," ujar Argeas setelah sudah kembali menjejakan kakinya di atas tanah.
Dan perlahan wujud jubah bulu rubah itu bersinar terang dan menjelma kembali menjadi sosok Lushu.
"Kembalilah, Lu," perintah Argeas kemudian.
Dan tanpa menjawab, rubah itupun kembali menjadi cahaya dan masuk ke dalam Insignia di pergelangan tangan Argeas.
Argeas segera mencari tempat bersandar karena kelelahan mulai terasa menyerang akibat jumlah MP nya yang sangat kecil saat ini.
Dan setelah menemukan sebuah batu untuknya duduk, pemberitahuan pun mulai membanjiri benak Argeas.
...<>...
__ADS_1
...<>...
...<<35000 XP Obtained>>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<<>>...
...<>...
...<>...
"Oh, benar. Reward nya." Argeas teringat sesuatu setelah pemberitahuan tersebut selesai muncul di benaknya.
Kemudian dengan tertatih Argeas menuju ke bangkai naga yang masih cukup utuh dibanding dua sisanya. Naga yang terpenggal kepalanya.
"Meski bagaimana pun, naga sangatlah berharga. Lebih baik aku mengamankannya," ujar pemuda berusia 16 tahun itu setelah berada di hadapan bangkai naga tanpa kepala.
"Storage," ujarnya kemudian. Dan tubuh beserta kepala naga yang terpisah itu tersedot masuk ke dalam Spatial Storage milik Argeas.
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
"Mereka pasti akan mengira ketiga tubuh naga itu musnah karena Meteor tadi. Dan tinggal sisa-sisa yang berserakan itu." Argeas memprediksi.
"Ya, kurasa sudah cukup. Aku akan beristirahat dulu sebelum kembali," ucap pemuda itu seraya mencari tempat yang lebih nyaman untuknya beristirahat. Memulihkan stamina sebelum kembali ke kediaman Marquis.
-
"Katakan dengan jujur. Apa itu tadi ulahmu, Ar?" tanya ayah Argeas saat mereka sedang berbicara berempat dengan ibu dan kakak sulungnya di ruang tamu setelah Argeas kembali.
Tampak Argeas membuat wajah kesulitan yang jelas mengisyaratkan bahwa memang dialah yang melakukan semua itu.
"Kenapa kau bisa ceroboh seperti itu, Ar? Bagaimana kalau orang lain sampai tahu? Ada Pangeran Alphonse di tempat ini. Kerajaan bisa saja mencurigainya."
Bukannya tidak percaya Argeas berhasil mengalahkan tiga naga seorang diri, sang ibu malah memarahi putranya itu karena bertindak ceroboh mengeluarkan sihir tingkat tinggi didepan banyak orang.
"Maaf, bu. Tapi Ar harus melakukan sesuatu. Kalau tidak akan banyak nyawa yang menghilang," jawab Argeas jujur.
"Maaf ibu mertua. Saya merasa kebaratan ibu menyalahkan Ar untuk apa yang telah ia lakukan." Terdengar Evangeline berucap dari ambang pintu masuk. Yang mengejutkan semua orang.
"Eve?!"
"Sebagai calaon istrinya, meski saya juga sangat marah dan cemas, namun saya merasa bangga akan tindakannya." Evangeline kembali berucap.
"Ibu tahu. Ibu tidak menyalahkan tindakan Ar melakukan semua ini. Ibu juga merasa bangga. Hanya saja ia harus berhati-hati," balas ibu Argeas yang mencoba meluruskan maksud dari ucapannya sebelum ini.
"Seperti yang mungkin sudah kau tahu, bahwa status bocah ini sudah setara dengan penjaga keluarga istana. Dan bahkan ia belum memasuki Akademi." Kali ini Viscount Danae yang berusaha menjelaskan.
"Jadi kami semua kuatir, bila hal ini sampai terdengar oleh istana, maka mereka akan mengambil Argeas. Dan Argeas akan kehilangan kehidupan normalnya," lanjutnya lagi.
"Oh, jadi itu sebabnya?" Tiba-tiba terdengar suara berat dari ujung pintu masuk. Dan terlihat sosok Marquis yang berjalan memasuki ruangan.
"Marquis?!"
"Ayah?!" Terlihat Evangeline terkejut. "Jangan berpikiran buruk dulu, Yah. Eve akan jelaskan." Segera gadis itu meminta kesempatan kepada sang ayah.
"Argeas beserta keluarga Danae tidak berniat untuk membohongi dan menyembunyikan sesuatu dari ayah," lanjut gadis itu mencoba untuk menjelaskan.
"Tak perlu kuatir, Eve. Ayah tidak merasa telah dibohongi. Dan ayah juga tidak akan menjual putra menantu ayah kepada istana. Pembicaraan ini tidak akan meninggalkan ruangan ini," balas sang Marquis menanggapi kepanikan putri bungsunya itu.
"Terima kasih, Yah." Evangeline terlihat lega mendengar jawaban dari ayahnya.
"Terima kasih, Marquis." Keluarga Danae yang lain pun ikut merasa tenang setelah mendengar tanggapan positif dari sang Marquis.
"Tapi sebagai gantinya, coba ceritakan semua padaku," balas Marquis seraya duduk di sofa paling ujung.
-
"Kau bahkan melakukan kontrak aura dengan Ascian Penguasa Tanah dan Hutan? Pantas bila kau berhasil mengalahkan tiga naga seorang diri." Reaksi Marquis setelah Argeas menceritakan hampir semua tentang dirinya.
"Yang itu aku juga baru mendengarnya," sahut ayah Argeas yang sudah tidak merasa heran lagi bila putranya melakukan sesuatu di luar batas kewajaran.
"Berarti saat ini levelmu pasti sudah meningkat lagi setelah berhasil mengalahkan ketiga naga itu, bukan?" ucap Marquis terdengar sangat tertarik. "Coba tunjukan statusmu sekarang," pintanya kemudian.
Merasa tidak perlu menutup-nutupinya lagi, Argeas pun menunjukan statusnya tanpa ragu.
"Status Shown," ucapnya kemudian.
Dan terlihat Jendela Status versi kecil muncul di hadapan banyak orang.
"Ha? Kenapa level mu hanya 41?" Sang Marquis terlihat bingung saat melihat Jendela Status milik Argeas itu.
"Benar. Tapi class mu sudah berubah lagi." Ayah Argeas ikut menambahi saat melihat kejanggalan pada Jendela Status milik putranya itu.
"Oh, maaf. Ar menggunakan ini untuk membatasi kekuatan," ucap Argeas yang baru saja ingat sedang mengenakan [Belphegor's Ring] di jari tengah tangan kirinya.
"Oh, kau mengenakan cincin pembatas kekuatan?" Sang Marquis terlihat cukup terkejut.
"Benar," jawab Argeas seraya melepas cincin tersebut dari jarinya.
Dan beberapa nilai pada status itu pun mulai bertambah.
.
[Argeas Danae] [16] [Laki-laki]
[Scions ArcMage] [Lv 82]
HP 126.200
MP 180.380
Stamina [Fresh]
••••••••••• [Auto-Regen]
••••••••••• [Auto-Reflect]
••••••••••• [Auto-Protect]
Title
__ADS_1
[Putra ke 4 Keluarga Danae]
[Dungeon Breaker]
[Path Finder]
[Grand Exploller]
[Mythical Beast Master]
[Fairy Envoy]
[Labyrinth's Eye]
[Aura Fighter]
[Brave One]
[Dragon Killer]
[Dragon Slayer]
.
.
"Ya, kurasa cincin itu bisa jadi pengaman yang cukup menjanjikan," ucap sang Marquis kemudian. Memecah keheningan yang terjadi karena keterkejutan semua orang akan tingginya level Argeas saat ini.
"Ya, kurasa Marquis benar," timpal Viscount Danae.
Kemudian terlihat wajah serius Marquis ke arah Argeas.
"Apa kau sudah memastikan dan yakin tidak meninggalkan jejak, Ar?" tanyanya kemudian.
"Saya yakin, Marquis." Argeas mengangguk pasti.
"Baiklah kalau begitu." Sang Marquis mengangguk kecil mempercayai ucapan Argeas. "Berarti setelah ini kita harus menyiapkan cerita untuk Pangerang Alphonse, dan memberi tahu Julius agar dia menuntun penyelidikan ke arah yang lain," ujar pria bongsor itu kemudian.
"Maaf telah merepotkan anda Marquis." Viscount Danae menunduk kecil meminta maaf karena merasa putranya telah merepotkan.
"Bicara apa kau, Ger? Kenapa kau meminta maaf. Ini hal yang lebih baik aku lakukan ketimbang mempersiapkan acar pemakaman ribuan warga wilayah ini," jawab Marquis dengan tegas.
"Dan maaf terlambat, Ar. Tapi, terima kasih telah mengelamatkan wilayah ini," ucap kepala keluarga Lavis itu kepada Argeas.
Argeas hanya mengangguk kecil tidak bisa membalas. Saat ini perasaannya tenggelam dalam suka cita dan haru. Tidak percaya, namun juga merasa bangga karena tindakannya dapat menyelamatkan banyak nyawa.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita keluar. Aku rasa kita perlu menenangkan orang-orang dan melanjutkan pesta yang sempat tertunda tadi," ajak Marquis kemudian seraya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Ya, saya rasa itu ide yang bagus." Viscount Danae juga berdiri mengikuti sang Marquis.
Dan kemudian semua orang kembali menuju tempat jamuan pesta.
.
Di tengah situasi yang cukup kacau dan mencekam di ruang perjamuan, sang Marquis tiba-tiba datang mengumumkan bahwa semuanya sudah aman dan pesta jamuan pun dilanjutkan.
Dia juga mengundang seluruh warga yang sudah terlanjur mengungsi dalam kastil untuk berpesta di ruangan lain.
Pertama terlihat para tamu dan para warga sedikit kebingungan dan masih merasa was-was. Namun setelah lewat beberapa waktu mereka pun mulai kembali rileks dan menikmati jamuannya.
.
Keesokan harinya Pangeran Alphonse dan Rodio kembali menuju istana untuk melapor. Setelah pulih dari serangan panik mereka. Karena pada dasarnya mereka berdua tidak mengalami luka parah.
Dan seminggu setelahnya pasukan investigasi pusat datang bersama Pangeran ke 3, Ferdinan, untuk menyelidiki kasus yang telah dilaporkan oleh Pangeran Alphonse sebelumnya.
Namun setelah 3 hari melakukan penyelidikan mereka tidak mendapat petunjuk apapun. Baik tentang rumor keberadaan sang [Magus] ataupun bangkai Naga. Dan misteri itu membuat pihak istana sedikit kuatir. Karena beranggapan bahwa kejadian itu mungkin saja ada sangkut pahutnya dengan pergerakan Raja Kegelapan.
-
Stage 1 Complete
•°•°•
.
.
.
Note :
• Penjelasan sihir yang digunakan Argeas untuk melawan para naga.
.
Magic Skill : Kemampuan dasar yang dimiliki seorang Penyihir. (Mekanis sihir)
*Mekanis sihir ini tergolong Magic Skill Pasif. Namun bukan berarti selalu Aktif. Status Pasif dalam mekanis sihir berarti dapat digunakan tanpa mengonsumsi MP. Namun tetap akan mengonsumsi Stamina dan memiliki syarat waktu pengaktifan.
•• [Multi Cast] > Mengeluarkan lebih dari satu Magic Spell secara bersamaan.
•• [Dual Cast] > Mengeluarkan dua Magic Spell yang sama secara beruntun dengan sekali pengaktifan.
•• [Parallel Cast] > Mengaktifkan Magic Spell dan Magic Skill nyaris bersamaan.
•• [Instant Cast] > Mengeluarkan Magic Spell secara langsung. Tanpa memperdulikan jedah.
*Biasanya untuk Magic Spell High Tier. Yang memang memerlukan jedah pengaktifan.
.
Magic Spell : Kemampuan sihir berdasar atribut yang dimiliki perorang. (Serangan/Bertahan)
•• [Float] > Attribute Gravity. Mid Tier. (Membuat pengguna melayang)
•• [Aero] > Attribute Wind. Mid Tier. (Menciptakan tekanan udara)
*Argeas mengunakan kedua Magic Spell itu untuk mengakali supaya dapat terbang. Karena tidak ada Magic Spell yang benar-benar membuat pengguna bisa terbang.
•• [Arctic Dome] > Combine Attribute (Water+Wind+Spatial) High Tier. (Menciptakan kubah es untuk mengurung)
•• [Void Bind] > Combine 3 Aether Attribute (Spirit+Spatial+Mind) (Mengunci lawan dengan rantai sihir)
•• [Meteor Come] > Combine Attribute (Fire+Earth+Spatial) (Memanggil meteor untuk menghancurkan lawan)
.
Ultimate Skill : Kemampuan sihir setelah memenuhi kondisi tertentu. (Serangan/Bertahan)
•• [Dragonic Flash] > Kemampuan yang didapat sebagai hadiah setelah berhasil mendapat Attribute Lightning. (Fire+Holy+Spatial) (Serangan berelemen petir)
.
Special Skill : Kemampuan yang berada pada sebuah perlengkapan sihir. (Tidak dapat digunakan jika perlengkapan sihir tersebut tidak dikenakan)
•• [Haste] > Dari [Skadi's Boots] (Mempercepat gerak dan proses aktifasi Skill penggunanya)
••÷[Blood Sacrifice] > Dari [Salomon's Ring] (Merubah setengah nilai HP pengguna menjadi MP)
*Kebalikannya, dengan Skill [Aura Sacrifice], akan merubah setengah MP pengguna menjadi HP.
•• [Thunder Slash] > Dari [Elemental Sword] (Skill menyerang dengan dasar sihir atribut petir)
.
Casting Item : Kemampuan dari peralatan sihir sekali pakai. (Instant dan bebas MP) Item ini tergolong dalam kategori Rune.
•• [Instant Warp] > Berpindah tempat dalam sekejap, tanpa perlu penggunaan MP dan menghiraukan syarat waktu pengaktifan.
__ADS_1
-
.