
Beberapa minggu kemudian akhirnya Argeas berhasil menguasai pengendalian [Familiar]nya. Dan bahkan beberapa tambahan sihir [Spirit] yang mungkin belum ia butuhkan sekarang. Hanya sekedar mempersiapkan untuk hal-hal di kedepannya.
Sedang orang-orang di kediaman Danae, terutama sang ayah dan sang ibu, terlihat sangat senang mendapati Argeas yang mulai akrab dan sering menghabiskan waktunya bersama Luxia.
Dan kini kepribadian Luxia pun mulai terlihat semakin ceria dan terbuka. Layaknya anak seusianya. Baik kepada Argeas, juga kepada orang-orang di sekelilingnya.
"Baiklah, Lux. Sekarang ajari kakak tentang Fairy dan Aeon. Bagaimana cara membuat kontrak dengan mereka?" tanya Argeas saat ia dan Luxia berjalan kembali dari hutan pekarangan belakang kediaman mereka.
Dua kakak beradik itu baru saja berlatih tanding dengan kedua [Familiar] mereka. Menguji seberapa mampu Argeas mengendalikan Mythical Beast nya.
"Fairy dan Aeon?" Luxia mengulang pertanyaan kakaknya.
"Benar. Bagaimana mengikat kontrak dengan mereka?" Argeas mengulang pertanyaannya.
"Keduanya yang menentukan apakah mereka ingin membuat kontrak atau tidak. Kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu," jawab sang adik.
"Yang Fairy jauh lebih mudah dibanding Aeon, karena mereka memiliki pemikiran seperti kita. Jadi masih mungkin untuk kita bujuk," lanjut Luxia menjelaskan.
"Ya, kakak tahu itu. Aeon lebih seperti kekuatan alam kan dibanding mahluk hidup," balas Argeas.
'Aeon memang diperlakukan seperti sebuah skill dalam game nya. Yang hanya dipanggil untuk melakukan sesuatu, dan setelah itu hilang,' lanjutnya membatin. 'Sedang Fairy atau peri itu lebih seperti karakter.'
"Ya. Bisa dikategoriak seperti itu juga sih," ujar Luxia membenarkan ucapan kakaknya.
"Lalu bagaimana cara untuk berhubungan dengan para Fairy itu? Dari yang kakak dengar mereka tidak pernah menampakkan diri kepada manusia. Atau bahkan mendekati manusia terlebih dahulu." Argeas melanjutkan rasa penasarannya.
"Ya, dulu kalau aku, Atomos datang sendiri karena tertarik dengan kemampuan sihirku." Sang adik menjawab sambil terlihat mengingat ingat.
"Atomos? Apakah itu nama Fairy yang melakukan kontrak denganmu?" tanya Argeas lagi tepat ketika mereka tiba di depan pintu masuk rumah.
"Benar. Dia adalah penguasa dari langit dan angin," jawab Luxia sembari memasuki koridor depan.
"Oh, [[Ruler Tier]]? Tingkat Penguasa?" Terlihat Argeas mengangguk salut menatap gadis mungil itu. "Kurasa aku pernah mendengar tentang Atomos, Fairy King of Sky and Wind."
"Benar. Namun berbeda dengan Mythical Beast, Fairy itu meskipun sudah menjalin kontrak, mereka tetap akan berada di dunia mereka sendiri. Mereka sangat jarang berkunjung kalau tidak dipanggil, atau bila mereka sedang butuh bantuan," ujar Luxia panjang lebar menjelaskan.
"Meski itu [[Nature Tier]] sekali pun. Tingkatan Fairy paling bawah," tambahnya lagi saat sudah memasuki ruang tengah.
"Mereka memerlukan bantuan kita manusia?" Argeas tampak tidak mengerti.
"Fairy perlu aura manusia untuk berada di dunia manusia. Semakin besar auranya semakin kuat ia di dunia ini." Luxia yang sudah duduk di sofa ruang tengah tersebut mulai menjelaskan.
"Mereka ke dunia ini biasanya untuk mencari mineral atau tumbuhan yang berguna untuk dibawa kembali ke dunia mereka. Di luar keinginan untuk bermain-main tentu saja. Karena pada dasarnya mereka mahluk yang ceria dan cinta damai."
Penjelasan Luxia terjedah oleh masuknya pelayan yang membawakan mereka makanan ringan dan teh.
"Terima kasih, Brigite." Argeas berucap setelah pelayan perempuan itu selesai mengeluarkan makanan dan minuman dari dalam troli dan menyajikannya di atas meja.
"Selamat menikmati hari ini, Tuan Argeas, Nona Luxia," balas pelayan yang dipanggil Brigite itu dengan sopan.
Dan kemudian pelayan perempuan berusia 30an tahun itu pamit meninggalkan ruang tengah tersebut.
"Lalu bagaimana tadi? Apa yang menyebabkan seorang Penguasa meminta bantuan?" Argeas melanjut pembicaraan yang sempat terpotong sebelumnya.
"Biasanya Atomos memerlukan bantuan untuk membagikan sambungannya ke aura milikku dengan para bawahannya saat harus melakukan tugas yang cukup berbahaya ketika berada di dunia ini." Luxia menjawab.
"Membagikan sambungan aura?" Argeas memastikan.
"Benar. Karena bagi Fairy yang belum memiliki ikatan dengan manusia, mereka hanya akan mengambil aura dari tumbuhan dan hewan disekitar mereka.
"Dan dengan jumlah aura itu tidaklah cukup untuk mengeluarkan sihir yang dapat menjatuhkan lawan." Gadis itu menjelaskan.
"Jadi karena itu Penguasa membagikan sambungan auranya dengan mu untuk mereka?" sela Argeas mencoba kembali memastikan.
"Benar. Agar mereka cukup kuat untuk dapat mempertahankan diri saat harus berhadapan dengan monster yang bisa mengancam nyawa mereka. Bahkan untuk [[Bishop Tier]] dan [[Knight Tier]] sekali pun."
"Ya, aku mengerti sekarang." Argeas mengangguk-angguk kecil.
"Dan sebagai gantinya, mereka akan memberi kita pengetahuan dan bantuan saat kita membutuhkannya," ucap Luxia kemudian.
"Aku banyak belajar tentang sihir Spirit juga dari Atomos," lanjut gadis itu yang kini sudah mengangkat gelas tehnya.
"Pantas saja. Kau sangat berpengetahuan di usia mu sekarang, Lux." Argeas benar-benar kagum sekaligus bangga terhadap adik perempuannya itu.
"Lalu bagaimana? Apakah kau bisa mempertemukan ku dengan salah satu dari mereka? Tidak apa bila tidak sampai membuat kontrak." Argeas pun melanjutkan tujuan awalnya mempelajari seluk beluk Fairy.
"Ada perbatasan antar dunia yang sering terbuka di pinggiran Hutan Terlarang sebelah timur," ucpa Luxia setelah meneguk minumannya.
"Di sana kita akan sering sekali menemui Fairy tanpa sengaja," lanjut gadis itu.
"Oh, baiklah-baiklah. Aku akan coba kesana nanti." Argeas mulai terlihat bersemangat.
"Gunakan lentara yang kakak berikan padaku waktu itu. Kesempatan kakak bertemu dengan mereka akan jadi lebih besar." Luxia menyarankan.
"Oh, begitukah? Kalau begitu boleh kan kakak pinjam lentera itu sebentar?"
"Boleh. Dan juga perbatasan antar dunia itu seringnya terbuka pada saat pergantian hari," ucap sang adik kembali memberi informasi untuk Argeas.
"Terima kasih, Lux. Kau memang adik yang luar biasa."
Argeas terlihat bersemangat. Karena bahkan pemikiran dewasanya pun juga sangat tertarik dengan keberadaan Fairy tersebut dan ingin melihatnya secara langsung meski hanya sekali.
-
Malam menjelang paginya, Argeas mengendap-endap meninggalkan kediamannya menuju ke Hutan Terlarang.
Kini ia sudah tidak menggunakan kuda lagi untuk mengantarnya berpergian secara rahasia.
Ia menunggangi Lushu yang jauh lebih cepat dan praktis.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang telah diberitahukan Luxia, Argeas pun mulai menyalakan [Lantern of Path] nya dan berjalan memasuki hutan. Bersama Lushu di sampingnya.
Rubah Elemental itu dalam wujud aslinya yang sebesar kerbau pekerja.
Tak lama kemudian Argeas mulai mendengar sesuatu dari arah depan. Dan terlihat cahaya redup berkedip di kejauhan.
...<<>>...
"Oh, benar. Special Event ini. Ternyata memang hanya kondisi saja yang diperlukan untuk mengaktifkan sebuah event tertentu. Dan tidak harus sesuai dengan alur cerita dalam gamenya." Argeas berbicara sendiri.
"Ayo, Lu. Kita kesana," ajaknya kemudian seraya berlari menuju ke arah kerlip cahaya yang berada cukup jauh di hadapannya itu.
"Dengan begini berarti aku bisa mengaktifkan Special Event lain yang memang aku perlukan tanpa harus menunggu sesuai alur cerita. Baguslah." Argeas terlihat bahagia di tengah-tengah ia berlari.
'Tuan, di depan ada seekor Basilik dan Mirilith,' ucap Lushu memberi informasi.
"Eh...Apa?!"
.
"Sepertinya ku tarik kembali ucapanku tadi. Special Event memang bisa diaktifkan kapan saja. Tapi tetap aku perlu waktu untuk mengimbangi bos-bos nya," ucap Argeas setelah tiba di tempat tujuan.
Terlihat di hadapannya seperti seorang pria tua bersayap capung tengah tersudut di sebuah pohon terkepung oleh 2 monster.
Yang disebut Basilik adalah seekor bunglon sebesar kuda dengan 6 kaki dan ekor yang memiliki duri.
Dan yang disebut Mirilith adalah mahluk serupa perempuan berambut panjang berlidah ular dengan 6 tangan membawa 6 pedang. Sedang bagian pinggang ke bawah serupa dengan tubuh ular.
"Oh, benar sekali. Nagas."
Argeas mengenali wujud dari Mirilith itu serupa dengan ras 'Nagas'. Salah satu ras Beastman dalam gamenya.
"Manusia! Tolong selamatkan aku!" Tiba-tiba pria tua tadi berseru saat melihat kehadiran Argeas dan Lushu. Memohon untuk diselamatkan.
"Yak, saatnya kita bersungguh-sungguh, Lu," ucap Argeas seraya mengambil tongkat sihirnya dari pinggang.
'Saya bersiap tuan,' balas Lushu cepat.
"Jangan kuatir tuan Fairy. Aku akan menyelamatkanmu!" seru Argeas sebelum kemudian melakukan serangan ke arah monster-monster di hadapannya itu.
-
"Sekarang. Lu!" seru Argeas memberi perintah untuk Lushu menyerang saat ia berhasil membuat Basilik terjatuh tak berdaya.
Dan tanpa jawaban, rubah berekor empat itu segera mengeluarkan sihir pamungkasnya. Serangan dengan menggabungkan keempat elemen yang dimilikinya. [Plasma Blast].
Seperti sebuah sinar laser berwarna ungu terang menghujam telak ke tubuh monster bunglon itu. Dan membuatnya mati seketika.
...<>...
...<<560 XP Obtained>>...
"Berarti satu lagi, Lu," ucap Argeas tidak memperdulikan pemberitahuan dalam benarknya itu. Karena masih ada satu monster lagi yang cukup kuat yang harus ia kalahkan secepatnya.
Dan meski dengan ukuran tubuh monster berkaki ular yang cukup besar itu, Argeas masih dapat mengimbanginya.
Bocah 15 tahun itu mampu menahan pergerakan juga 6 lengan Mirilith dengan sihir pembeku dan sihir pengunci yang ia punya.
Dan setelah cukup lama berusaha untuk bertahan akhirnya monster itu pun mulai tersudut.
"Sekarang, Lu," perintah Argeas saat melihat adanya celah.
Dan kembali tanpa jawaban, Lushu mengeluarkan sihirnya [Plasma Blast] ke arah Mirilith yang sudah kesulitan untuk mengelak.
Namun sayangnya serangan Rubah Elemen itu tidak berhasil melukai monster tersebut.
'Sepertinya serangan Elemental tak mempan terhadap Mirilth, tuan.' Lushu memberi informasi.
"Tidak mempan?" Argeas sedikit terkejut.
"Oh benar, aku baru ingat. Mirilith memang pada dasarnya adalah Nagas. Mereka harus dikalahkan dengan Attribute turunan [Lightning]," lanjutnya yang baru menyadari hal tersebut.
"Dan untung saja aku sudah punya atribut [Holy] yang juga sudah tingkatan S."
Argeas terlihat tersenyum.
Sama seperti Attribute [Gravity], Attribute [Lightning] memang tidak termasuk dalam 9 Attribute dasar.
Karena pada dasarnya kedua atrribute itu adalah pencampuran dari ketiga kategori dari Attribute Magic dengan tingkatan setidaknya S ke atas.
Attribute Magic [Gravity] akan tercipta setelah menggabungkan Attribute [Earth] dari kategori Elemental Magic + [Dark] dari kategori Karma Magic + [Spirit] dari kategori Aether Magic.
Sedang Atrribute Magic [Lightning] akan tercipta setelah menggabungkan Attribute [Fire] dari Elemental Magic + [Holy] dari Karma Magic + [Spatial] dari Aether Magic.
'Apa anda dapat menggunakan atribut petir, tuan?' Lushu bertanya memastikan.
"Ya, untungnya nyaris seluruh Attribute Magic yang ku punya sudah berada pada tingkat S ke atas. Jadi Magic Skill [Combine Attribute] sudah terbuka dari jauh-jauh hari," jawab Argeas memberi penjelasan yang tidak perlu kepada [Familiar] nya.
"Baiklah kalau begitu. Tolong sibukkan dia dulu, Lu, selagi aku menciptakannya."
'Siap, tuan.' Dan Lushu pun segera melompat maju menyerang monster berlengan enam itu.
"Parallel Cast! Incarnation Magic! Combine Attribute, Fire, Holy, Spatial!" seru Argeas seraya menutup mata tampak sedang berkonsentrasi.
Tak lama kemudian muncullah pemberitahuan dalam benak pemuda itu.
...<<>>...
...<>...
__ADS_1
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
"Baiklah, Lu. Sekarang giliranku," ucap Argeas setelah sudah membuka matanya.
'Baik, tuan.'
Dan rubah itu pun melompat mundur kebelakang.
"Aku yakin kau tidak akan kalah hanya dengan [Lightning Spark] saja, kan?" ujar Argeas yang sudah menyiapkan tongkat sihirnya.
"Jadi kita akan mengakhiri semua ini dengan meriah," lanjutnya seraya memasang kuda-kuda. "Dragonic Flash!" serunya kemudian.
Dan perlahan tubuh Argeas mulai terlihat diselimuti kilat berwarna putih kebiruan. Bergerak naik dari ujung kaki ke ujung tangan yang menggengam tongkat sihir. Berkumpul seolah menunggu untuk dilemparkan.
Melihat hal tersebut monster bertubuh setengah ular tadi segera bergerak maju melakukan serangan.
Dan setelah dirasa cukup dekat, Argeas menebaskan tongkat sihirnya seolah sebuah pedang.
Dan mengikuti gerakannya menebas, kilatan petir yang berkumpul di tangan kanannya tadi melompat keluar dan membentuk sebuah bilah pisau petir yang melaju cepat ke arah monster tersebut.
Pisau petir itu meninggalkan suara berdecit-decit saat melewati udara sebelum kemudian menebas tubuh monster setengah ular itu menjadi dua.
...<>...
...<<620 XP Obtained>>...
"Ya! Akhirnya," sahut Argeas puas setelah mendapati lawannya sudah berhasil dikalahkan.
"Storage." Dan segera ia menyimpan tubuh kedua monster yang baru saja ia kalahkan itu ke dalam penyimpanannya.
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
...<>...
Kemudian Argeas bergegas mengambil sebuah cincin dan sepatu berwarna hitam dari tempat dimana monster-monster tadi berada.
...<>...
...<>...
"Apa kau baik-baik saja, tuan Fairy?" tanya Argeas setelah menyimpan tersebut.
"Oh, terima kasih, terima kasih." Sosok munggil bersayap yang berwujud seperti pria tua berjanggut panjang itu berucap dengan suara seraknya.
"Pangil aku Ascian," ucapnya kemudian.
"Ascian? Apakah mungkin kau Ascian The Fairy King of Land and Forest?" Argeas memastikan.
"Oh, kau memiliki pengetahuan yang cukup luas untuk seorang manusia muda," jawab Ascian. "Benar. Aku Fairy penguasa tanah dan hutan," lanjut mahluk bersayap itu kemudian.
"Wah, luar biasa sekali." Argeas terlihat sangat gembira.
'Seingatku dalam game nya event ini akan mempertemukan player dengan Fairy kelas Bishop, Dryad. Fairy Bishop of Woods,' batinnya kemudian.
"Tapi tak apa. Yang ini jelas jauh lebih baik," lanjutnya dengan sedikit berseru seraya menggenggamkan tangan kanannya dengan bersemangat.
"Bagaimana kau bisa berada di tempat ini, manusia? Di perbatasan dunia seperti ini? Manusia biasa tidak mungkin tanpa sengaja berada di tempat ini. Ditambah kau seorang tuan dari Mythical Beast."
Ascian terlihat membersihkan pakaiannya dan memungut beberapa barang miliknya yang terserak di sekitar.
"Ya, jujur aku memang sengaja datang kemari berharap bertemu dengan Fairy secara langsung. Dan bila beruntung bisa membuat kontrak dengan salah satunya," jawab Argeas jujur.
"Oh, begitu kah? Kalau begitu maukah kau membuat kontrak denganku?" ucap Ascian tanpa basa-basi.
"Oh, benarkah?" Terlihat Argeas benar-benar tak percaya. Sekaligus sangat gembira.
"Benar. Disamping kau adalah penyelamatku, kau juga memiliki Aura yang sangat kuat dalam dirimu. Hal itu aku perlukan." Fairy itu melayang rendah mendekat ke arah Argeas. "Jadi bagaimana? Apakah kau mau membuat Aura Pact denganku?" tanyanya lagi mengulang penawarannya.
"Ya, aku mau," sahut Argeas tanpa pikir lagi.
Dan setelah itu Ascian menyentuhkan tangannya ke punggung tangan kanan Argeas. Sebelum kemudian sebuah simbol mulai terbentuk dan bersinar dengan terang.
...<>...
...<>...
...<>...
...<<>>...
__ADS_1
-