BERPIHAK SIAPA

BERPIHAK SIAPA
9 : MENERIMA


__ADS_3

Rumah Tina pukul 17.20 pm..


Aku mengemas buku pelajaran milik Tina karena pelajaran les hari ini telah usai dan hari ini hari terakhir bagiku untuk mengajar les di Tina. Murid yang ku ajar 4 tahun ini.


"Belajar lebih giat lagi meski bukan gue nanti gak ngajar, kalau kamu butuh bantuan tinggal chat gue. Ngerti?" Kataku sebelum beranjak pergi. Tina diam hanya menunduk kepala.


Aku sudah berbicara dengan papanya Tina. Kata beliau, Tina tidak bisa les dirumah siapapun takutnya nanti Tina malah tidak fokus dalam belajarnya. Memang benar apa kata papanya Tina. Karena tipe Tina ini gak bisa fokus belajar kalau gak sendirian. Kecewa sih. Ya mau gimana lagi?. Benar kata Ryan. Harus lepas satu.


"Jangan sedih gue gak akan kemana-mana–"


Tiba-tiba saja Tina memelukku erat dan tak lama ada suara tangis. "A..aku gak mau guru les lain. Aku takut dia gak bisa ngajar kayak kakak.. aku nanti curhat sama siapa kalau lagi galau hiks.. hiks.."


"Guru semua itu sama aja, awal-awal gitu memang lama-lama nanti Lo udah kebiasaan. kalau Lo masih bingung tanya aja ke gue. Udah jangan nangis kayak gue pergi selama aja" kataku. Dia melepaskan pelukan ku dan menatapku dengan sendu.


"Belajar yang pinter, jangan pacaran muluk, oke? Udah ya gue pamit" pamitku. Kemudian aku bangkit dan berjalan keluar kamar Tina.


"Sudah selesai?" Tanya papanya Tina yang tengah duduk di sofa.


"Iya om, saya pamit pulang–"


"Tunggu!" Cegahnya dia bangkit dan menghampiriku dengan membawa paper bag. Di berikannya paper bag itu kepadaku.


"Terima kasih om," kataku.


"Sama-sama, hm... Omong-omong soal les. Saya mengijinkan Tina les dirumahnya Jihan," aku langsung kaget. Entah kenapa tiba-tiba papanya Tina berubah pikiran.


"BENERAN PA!" Teriak Tina entah kapan anak itu muncul di belakangku.


"iya, tapi papa pengen kamu harus masuk ke SMA favorit" Tina langsung memeluk papanya itu kesenangan sampai-sampai dicium wajah papanya itu. Untuk pertama kalinya aku melihat Tina dan papanya seromantis itu. Biasanya mereka berdua acuh dan dingin.


"Terima kasih pa, sayang banget aku sama papa"


"Iya.. belajar yang giat."


"Siap komandan!" Ujar Tina bersikap layaknya sebagai prajurit.


"Ya sudah om, saya pamit pulang. Besok saya akan jemput Tina sepulang kerja" kataku sebelum pergi.


"Iya, hati-hati.. dan terima kasih" kata papanya Tina tulus. Aku mengangguk lalu pergi ke pintu keluar rumah itu.


Senang. Pastilah. Perasaan ini tiba-tiba campur aduk. Senang dan haru. Dan aku harap hubungan papa dan anak itu baik-baik saja.


Dan sekarang mari kita menuju ke rumah si kembar.


****************


RUMAH SI KEMBAR.. PUKUL 17.45 PM


"Syukurlah jika papanya setuju," kata Rian saat memberikanku minuman.


"Alhamdulillah," kataku sambil melihat si kembar yang lagi fokus mengerjakan soal yang aku berikan.


"Mama pulang..— he lagi belajar, sorry" mbak Jihan kakak Rian baru pulang dari kantor.


"Mbak aku mau omong" kataku. Mbak Jihan duduk di sampingku.


"Omong apa?" Bisiknya.


"Mbak jadi gini..—"


"Dia mau ijin tina les dirumah ini bareng si kembar" potong Rian.


"Gpp kok, biar si kembar senang ada teman baru. Tapi kenapa? Kok Tina sampai les disini? Papanya gimana?" Tanya heran mbak Jihan.


"Aku..—"


"Dia dapat kerja tapi nggak mau berhenti ngajar. Gue kasih saran dia berhenti ngajar, dia nggak mau. Padahal kerja itu melelahkan apalagi kerja cleaning servis. Untungnya papa Tina ijinin anaknya buat belajar disini" lagi-lagi si sompral ini memotong pembicaraanku. Tubuhku tiba-tiba panas ingin rasanya ku tombak.


Mbak Jihan mengangguk paham, "oke mbak setuju, asal gak keganggu aja belajarnya." Kata mbak Jihan.


"Kakak gue setuju tuh," kata Rian.


"Gue gak gudeg!" Kataku kesal.

__ADS_1


"Ya sudah, mbak tinggal kalian jangan aneh-aneh" ucap mbak Jihan lalu pergi ke arah kamarnya.


"Nyamber muluk tuh mulut kayak api!" Sindirku kepada Rian yang tengah duduk santai.


"Lama," ucap cuek. Satu kata untuk diriku ini. Sabar.


Si kembar menyerahkan tugasnya padaku dengan serempak.


"Sekarang, buka buku bacanya. Mulai dari Dina dulu ya bacanya" perintahku. Dina mengangguk dan kedua kembar itu membuka buku bacaan mereka.


"Yang ini kak?" Tanya Dina menunjukkan jalan terakhir yang dia baca. Aku pun mengangguk.


Dina menghela nafasnya dan mulai membacanya dengan pelan-pelan. Maklum baru juga belajar. Sedangkan Dani fokus mendengar bacaan Dina sambil menunggu gilirannya.


"Kura-kura dan kelinci..—"


*******************


Rumah.. pukul 20.12 pm..


"Rara pulang" seruku lesuh begitu masuk rumah.


"Ra, sini duduk" pintah ibu negara. Dan ternyata ada tamu juga disana. Nenekku.


Aku berjalan dan duduk di hadapan dua orang itu. Ibu dan nenek. Menatapku dengan serius.


"Hari ini kamu bertemu dengan fajar?" Tanya nenek langsung to the poin.


'Oke, ayo selesai ini' batinku.


"Iya," jawabku singkat.


"Apa kamu mengatakan kepadanya kalau kamu menolak dia setelah kamu bertemu dengan ibunya?" Tanya ibu dengan nada tinggi. Untuk pertama kalinya. Ibu bernada seperti itu kepadaku.


"Iya, aku menolaknya" kataku tegas.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal bodoh itu?! Astaga.. aku tidak percaya ini" ibu terlihat frustasi, kesal dan marah.


"Kenapa kamu menolak? Jelas-jelas dia itu pria baik-baik dan dari keluarga yang baik-baik, Ra!" Kali ini nenek membentak ku.


Brak!!


"Tapi apa?! Kamu pengen pria yang seperti apa?! Rian? Temen kamu yang hampir bunuh orang itu?! Iya?!" Selat ibu marah.


"Jangan bawa-bawa orang lain, jika ibu gak tahu yang sebenarnya." Kataku tajam.


"Lalu katakan alasannya kenapa kamu menolaknya?" Tanya nenek.


"Karena aku sudah dapat pekerjaan. Bukankah nenek mengatakan 'lebih baik menikah saja dari pada kamu susah-susah cari kerja' , nyatanya aku sudah dapat kerja dan aku tidak ingin menikah." Jelasku menekan kata 'tidak' supaya jelas didengar olehnya. Kemudian aku pergi ke kamarku.


Ku kunci pintu kamarku agar tak ada yang masuk. Dan aku langsung embruk di kasur.


"Bagaimana bisa dia berkata itu Bu.. hiks.. hiks.."...


Aku mendengar perkataan ibu diluar sana. Ku tutup mataku dan mencoba untuk menetralkan emosiku.


"Jangan nangis... Jangan nangis Ra.." gumanku sendiri.


****************


"TIDAK AYAH!" Seruku terbangun dari mimpi buruk yang sama lagi. Ku lirik jam yang menunjukkan pukul setengah satu.


Ku usap keningku yang penuh keringat dingin.


Tok..tok..


"Ra.. kamu kenapa?" Aku kaget setengah mati mendengar seruan ibu dari luar. Entah kenapa ibuku masih belum tidur jam segini? Biasanya sudah tidur.


"Tidak apa-apa" seru balik.


"Keluar nak, ayo makan dulu" suruh ibuku.


Inilah ibuku. Meski dia marah pasti bakal kembali lagi seperti normal. Aku bangkit dan memutuskan untuk keluar kamar.

__ADS_1


Begitulah keluar aku melihat ibu yang sedang duduk minuman teh sambil menonton televisi seperti biasanya. Aku menghampirinya karena makanan yang disiapkan oleh ibuku ada didekatnya.


"Ibu tumben gak tidur?" Tanyaku begitu duduk di sana. Mengambil makanan itu dan langsung memakannya.


"Gak bisa tidur, kamu kenapa teriak manggil nama ayah?" Tanya ibu balik.


"Mimpi ayah," jawabku sedih. Memang siapa disini yang gak sedih. ditinggal ayah sejak kecil, terus nyebut nama ayah langsung ke ingat sedih. Hanya orang bodoh yang gak nangis.


Mendadak hening.


"Ibu minta maaf.." ibuku bersuara. Aku menghentikan makananku dan menatapnya.


"Maaf ibu tadi membentak kamu," lanjutnya terlihat sedih. Kalau udah begini, hati mendadak hancur.


"Kenapa ibu minta maaf? Ibu gak salah" kataku.


"Ibu melakukan itu demi masa depan kamu, Ra. Ibu capek dihina sana-sini sama orang-orang. Anaknya yang buruk rupa, malas kerja, dan lagi perawan tua. Ibu sakit hati anak ibu dihina seperti itu. Bukan itu saja, ibu ini juga sudah tua nak. Umur gak ada yang tahu. Jika nanti amit-amit ibu gak ada, ninggalin kamu disini sendirian. Gimana nasib kamu nantinya gak ada ibu? Hiks.. hiks..—"


"Ibu gak mau nanti kamu jadi gelandangan, ibu gak masuk Ra.. ibu gak mau anak ibu bernasib sama seperti ibu. Hiks.. hiks.." tangis ibu langsung pecah detik itu. Air mataku juga mengalir keluar dan dada ini rasanya sesak sekali.


"Kenapa ibu berbicara seperti itu?" Sungguh aku sangat bersalah diposisi ini. Sangat-sangat bersalah.


"Untuk itu ibu mohon kepadamu. Terima fajar nak. Ibu sangat yakin dia pria yang baik dan bisa membahagiakanmu kelak. Ibu mohon... Ibu tidak pernah meminta apa-apa kepadamu. Tolong ya.. tolong.." Ucap ibu memohon untuk pertama kalinya.


Kepalaku pusing. Aku tak bisa berfikir apa-apa.


'ya tuhan.. apakah ini jalanku?' batinku berdoa.


Ku ambil ponselku dan memencet tombol panggil di nomor fajar.


"Iyha? Zera?" Ucap fajar begitu telpon diangkatnya. Ku tatap ibu yang tengah terisak menangis di depanku.


"Maaf, mengganggu malam anda" kataku.


"Ah.. tidak masalah, ada apa?"


'ya tuhan jika memang ini jalanku maka ikhlas hatiku ini dan kuatkan hatiku, dan jika ini tidak benar maka tunjukkanlah padaku'..


Dengan sekali hembusan aku berkata, "Maaf atas perkataan tadi saat kita bertemu. Setelah saya berfikir-fikir.. maukah anda melanjutkan hubungan ini?" Kataku dengan penuh paksa.


"Ah?!.. apa kamu yakin? Astaga! Baiklah jika kamu menyetujuinya" katanya terdengar senang saat di telfon.


Ku lihat ibuku sudah mulai tersenyum diwajahnya sembabnya. Ku tarik piring makananku dan masuk ke dalam kamarku. Telfon masih menyala.


"Dan saya ingin mengatakan sesuatu lagi" kataku pelan sambil mengunci pintu kamar.


Aku berjalan kau dari pintu agar tak bisa didengar dari luar.


"Katakan saja,"...


"Ini pertama bagi saya maksud saya perjodohan ini. Untuk itu saya akan mencoba untuk membuka hati saya kepada anda, jadi saya harap anda bersabar." Ucapku.


"Aku tahu dan aku akan membuatmu membuka hati untukku. Jadi kita sama-sama belajar"


"Syukurlah anda bisa mengerti,"


"Jadi kapan kira-kira kita akan bertemu lagi? Aku sungguh tidak sabar" katanya terdengar girang.


"Nanti saya akan kabari jika ada waktu, terima kasih dan selamat malam"


Tut.. tutt..


Langsung saja ku putuskan panggilan itu secara sepihak. Dan kini kepalaku tiba-tiba pusing setelah mati hingga aku merosot duduk dilantai.


"Astaga.. kenapa jadi seperti ini?" Gumanku bingung dengan keadaan yang tidak berpihak padaku.


Mulai Sekarang aku percayakan kepada Tuhan. Takdir apa yang akan membawaku?


Bersambung...


**jangan ikut nangis ya? belum ke intinya ini.. oke.. semoga senang. maaf jika updatenya agak lama karena author juga bikinnya sambil mewek nangis..


dukung terus cerita ini biar tambah semangat. terima kasih...

__ADS_1


love**~


__ADS_2