
Jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lebih sekian, aku lekas bergegas bersiap dan berangkat menuju tempat interview. Setelah aku cek letak kantor pak Arlen memakan 45 menit dari rumah.
Ojek online yang ku tumpangi berhenti tepat di sebuah gedung besar tinggi yang bertuliskan AR group.
'Katanya perusahaan kecil? Kok ini besar?' batinku bingung sambil memastikan di internet dan kartu nama pemberian pak Arlen semalam.
"Permisi mbak? Mbaknya ngapain berdiri disini?" Tanya seorang satpam tiba-tiba berdiri di depanku.
"Ah.. gini pak, apa benar ini perusahaan AR group milik pak Arlen?"
"Ah! Zera ya?!" Ucap pak satpam itu langsung menyebut namaku. Aku mengangguk dengan gugup.
"Mari masuk bapak antar" ujar satpam itu mengantarkan ku untuk masuk ke gedung itu.
"Masih sepi?" Kataku heran karena kantor Segede ini masih dalam suasana sepi ya ada cuman Ob aja yang lagi bersih-bersih.
"Karyawan disini masuk jam 8-an, beda kalau ob sama satpam kayak saya Jam 6 pagi" jelas pak satpam itu. Aku mengangguk paham.
Kami masuk ke dalam lift lalu pak satpam itu memencet nomor 5 dan Kami menunggu sampai pintu lift terbuka.
Deg!
Deg!
Deg!
Setiap melewati lantai tiba-tiba jantung berdetak kencang. Tanganku mendadak berkeringat dan dingin. Aku gugup setengah mati. Maklumlah baru juga interview. Semoga saja hal-hal yang ku pelajari semalam tidak hilang pas interview. Semoga. Ku hembuskan nafasku dan berusaha menetralkan diri.
"Gugup ya?" Tanya pak satpam memecahkan keheningan.
"Ah.. iya pak hehe" jawabku mencoba untuk tertawa ditengah kegugupan.
Ting!
Pintu lift terbuka dan buru-buru kami berdua keluar dari sana. Setelah itu pak satpam berjalan lurus melewati beberapa ruangan disana dan aku mengekorinya dari belakang.
CEKLEK!
Pak satpam itu membukakan pintu dari salah satu ruangan sana. Begitu dibuka, wow. Sangat bagus. meja sekertaris yang lengkap, rak arsip yang tersusun rapi, bangku sofa untuk melayani tamu, dan disana juga terdapat pintu lagi didalamnya. Mungkin itu ruangan pak Arlen selaku bos pemilik perusahaan ini.
"Saya disuruh mengantarkan kamu kesini dan berhubung kamu datangnya kepagian jadi kamu tunggu saja disini Mungkin sebentar lagi Bu jiya datang" jelas pak satpam itu.
"Bu Jiya? Tapi saya disuruh ketemu sama pak Arlen?" Tanyaku bingung.
"Iya memang, pak Arlen-nya lagi ada diluar kota jadi Bu jiya sekertaris nya akan menangani kamu nanti. Ada yang ditanya lagi?"
Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban, "Silahkan duduk, saya tinggal kamu disini. Semoga sukses." kata pak satpam itu menyemangati ku.
"Iya pak terima kasih" balasku. Pak satpam itu tersenyum ramah dan pergi meninggalkanku sendiri di ruangan itu. Aku duduk di sofa sana. Ku teliti ruangan itu membuatku kagum tak henti-henti. Rapi, bersih, dan harum segar. Perfeksionis sekali sekertaris nya.
Ting!
Ponselku tiba-tiba mendapat pesanan dari Rian.
Rian : Sudah sampai sana?
Me : Sudah, ternyata perusahaan besar.
Rian : kenapa gak bilang gue kalau mau berangkat kan bisa gue antar?
Me : Emang Lo gak buka toko kue Lo?
Rian : kan ada pegawai gue, udah makan?
Me : mentang-mentang yang punya toko. gue belum makan tadi takut telat soalnya, eh ternyata malah gue kepagian. Ya gpp sih diet sekalian.
Rian : Dasar bodoh!
Me : dih kok ngamok! itu gak penting yang lebih penting sekarang adalah gue gugup parah. Gimana ini?!! Gue takut ditanya aneh-aneh nanti, gue takut gak bisa jawab.
Rian : Tarik nafas.
"Ehm.. huff.." aku melakukan seperti yang disuruh Rian sampai tiga kali dan Lumayan tenang.
Me : sudah.
__ADS_1
Rian : Bagus, tetap tenang dan fokus. Semangat... Setelah interview kabari aku nanti.
Me : oke,
Ting!
Ada pesan masuk lagi dari nomor yang tak dikenal.
+625388xxxxx : Pagi, saya fajar tolong save.
Me : ok,
Ku sava nomornya.
Fajar : hari ini bisa ketemu? Kamu ada waktu?
CEKLEK!
Pintu terbuka, segara ku matikan ponselku dan berdiri untuk menyambut yang datang. Wanita cantik, anggun, kurus, dan rambut pendek sebahu.
"Zera ya?" Tanyanya sambil menarik tasnya dimeja.
"i..iya saya zera" kataku agak duduk. Wanita itu tersenyum senang dan duduk di salah satu sofa yang kosong.
"Silahkan duduk," suruhnya. Aku pun duduk.
"Saya jiya sekertaris pak Arlen, maaf jika kamu menunggu lama disini" katanya memperkenalkan dirinya.
"S..saya baru datang kok Bu" kataku agak gagap.
"Bicara santai saja, kamu bawah lamaran?" Katanya. Aku langsung buru-buru mengeluarkan berkas lamaranku yang sudah ku persiapkan semalam. Lalu kuberikan ke Bu jiya untuk diperiksa.
"Lulusan SMA.. sebelumnya pernah kerja dimana?" Tanyanya sambil fokus membaca berkas ku.
"Saya belum kerja sama sekali Bu, ini baru pertama kalinya bagi saya."
"Lalu kegiatan kamu sehari-hari?"
"Saya membantu usaha warung makan ibu saya, sore sampai malam saya mengajar les privat di daerah rumah saya" jawabku. Bu jiya mengangguk paham.
"Saya dengar kamu menolong ibunya pak Arlen sampai kamu ditusuk sama pisau?" Tanyanya meletakkan berkas lamaranku dan menatapku.
"Beliau memang baik, oke.. jadi begini. Setelah Saya membaca berkas lamaran kamu dan ternyata kamu ini pintar, pekerjaan keras, dan Terutama juga kamu keliatannya jujur. Untuk itu.. saya akan tempatkan kamu di cleaning servis yang kebetulan juga disini lagi membutuhkan." Jelasnya to the poin.
Tunggu..
"Cleaning servis?" Tanyaku memastikan kalau yang kudengar itu salah. Bu jiya mengangguk setuju.
Mendengar itu mungkin sedikit kecewa di dalam hati.Tapi ya.. mau bagaimana lagi. Mungkin aku yang berharap tinggi dari awal. jadi admin atau pegawai kantor. Mana mau model cewek kayak gini mana lagi lulusan SMA.
"Maaf.. perkataan saya membuatmu kecewa. Tapi kalau kamu keberatan juga tidak masalah. Nanti saya akan bicarakan ke pak Arlen..—"
"Ja..jangan, Pak Arlen sudah baik kepada saya beliau rela ke rumah saya untuk menawarkan pekerjaan di perusahaan ini." Ujarku terdiam sejenak sambil berfikir.
"Jadi bagaimana?" Tanya Bu jiya.
Ku hembuskan nafas dan ku tatap wajah Bu jiya,
'Masa bodoh dengan pekerjaan,' batinku kesal.
*********************
"Sudah selesai?" Tanya pak satpam yang tadi mengantarkanku.
"Sudah pak, saya pamit pulang. Permisi" kataku. Pak satpam itu tersenyum mengangguk. Aku berjalan meninggalkan gedung perusahaan itu.
Ting!
Pesan masuk di ponselku.
Sasa (Risa) : Gimana? Lancar?
Me : lancar, Alhamdulillah..
Sasa : syukurlah, jadi Lo kerja di bagian mana?
__ADS_1
Ting!
Ada pesan baru yang muncul.
Fajar : mumpung saya lagi libur hari ini? Bagaimana? Kamu bisa kan? Oh saya juga sudah ijin dengan ibu kamu.
'Ibu?Ashh si*l!' gerut ku kesal dalam hati.
Me : ok, ketemu dimana?
Balasku ke fajar.
Fajar : kamu dimana? Di rumah kan? Saya jemput.
Me : saya lagi diluar, share lock.
Tak lama fajar mengirimkan sebuah lokasi.
Fajar : Yakin gak mau saya jemput?
Me : aku kesana sekarang.
Ku tutup pesan itu dan segera ku pesan ojek online untuk ke sana.
"Mari selesaikan ini," guman ku pelan.
***************
Caffe...
Aku berdiri di depan caffe itu. Sebenarnya aku pengen masuk tapi kalau masuk harus beli sedangkan yang gue sudah nipis.
15 menit aku menunggu dan ya si fajar itu akhir datang tergesa-gesa. "Maaf telat, ayo masuk" katanya. Kami pun masuk.
"Kamu pesan apa?" Tanyanya begitu masuk.
"Tidak usah, anda pesan saja" kataku datar.
"Ya sudah, sini duduk sini" katanya mempersilahkan aku duduk di bangku yang kosong dekatku.
Aku duduk dan dia pesan minuman.
Ting!
Segera ku keluarkan ponselku dan mendapati pesan Rian.
Rian : sudah selesai?
Me : sudah,
Rian : share lock, biar gue jemput.
Me : oke, nanti aku share lock
Rian : ku tunggu.
"Ini minum dulu" kata fajar memberikanku minuman entah minuman apa yang jelas warnanya merah. Sedangkan dia memesan minuman kopi.
Ku tutup ponselku dan ku tatap dia,
"Kamu habis dari mana?" Tanyanya untuk membuka percakapan kami.
"Ada urusan sebentar, jadi langsung to the poin saja. Tujuan saya bertemu ini ingin membahas hubungan ini, saya minta maaf dan saya tidak bisa" kataku lugas.
Dia tertawa menunduk, "Padahal saya hari ini mengajak ibu saya kesini untuk bertemu denganmu," katanya sedikit kecewa.
Seketika aku kaget, "Apa?!" Pakih ku kaget.
"Maaf.. tapi tolong pikirkan lagi ucapan kamu. Saya tahu ini mendadak tapi setidaknya kita harus mengenal satu sama lain baru setelah itu kita yang memutuskan kedepannya" Katanya. Aku hanya diam tak bisa berkata.
"Fajar!" Seru seoranh wanita paru baya baru masuk ke caffe.
'Tamat riwayatmu, Ra' batinku mengutuk diri sendiri.
"Bun, sini" seru fajar. Wanita itu berjalan menghampiri meja kami.
__ADS_1
Bersambung...
makasih buat yang masih stay baca disini.. love tunggu next selanjutnya..