
"Benar kan? Zera?" Kata stela sambil menyingir.
Aku tidak bisa berbicara. Mendadak aku panik. Sedangkan pak Arlen menatapku sekilas lalu kembali ke arah stela disana.
"Keluar kamu" usir pak Arlen pada stela masih dengan nada halus.
"Babe..—"
"Keluar" ucap pak Arlen agak ngegas. Stela menghentakkan kakinya kesal lalu pergi dari ruangan.
Pak Arlen menatapku lagi, "Saya tinggal. Kalau ada masalah hubungi saya segera, Nomor saya ada di meja kerja." Pamit beliau lalu keluar dari ruangan. Meninggal aku bersama bayi yang tengah ku gendong sekarang.
Ting!!
Ponselku mendapat notifikasi pesan masuk. Segera ku bukan dan ternyata pesan dari fajar.
Fajar : Kamu sekarang dimana? Dan lagi apa?
"WUEKKK....uweekkkk.." baru aku ingin membalas pesan itu. Bayi yang ku gendong nangis. Ku masukan lagi ponselku dan berfokus pada pekerjaanku.
***************
Pukul 4 sore..
Pak arlen dan mama bayi ini belum juga kelihatan batang hidungnya. Bahkan bayi gemol ini sudah makan, bersih, dan wangi.
"Mama kamu sama om kamu kok lama ya?" Ujarku kepada bayi yang tengah bermain di sofa sana.
"Da-da-da-da".. guman bayi itu sambil memukul mainannya dan itu lucu.
"Gemes banget kamu,"
Ceklekk..
Pintu ruangan terbuka aku langsung bangkit dan terlihat pak Arlen yang sudah datang.
"Maaf saya telat balik, dia sudah mandi?" Tanya pak Arlen sambil membuka jasnya.
"Sudah pak,"
"Makan?"
"Sudah,"
"Bagus" pak Arlen hendak ingin menggendong bayi itu. Tiba-tiba.. bayi itu nangis kencang. Buru-buru ku gendong bayi itu.
"Kenapa dia menangis? Padahal saya belum gendong?" Tanya bingung pak Arlen.
"Cup.. cup.. cup.. cup anak pintar" bukan malah tenang makin jadi.
"T.. tenangkan dia di sini," pak Arlen membuka. Pintu disana. Semacam pintu rahasia disana. Entahlah aku baru liat disana ada pintu. Aku masuk ke ruangan itu dan ternyata didalam ada kasur.
"Sekalian tidurkan dia disana," ucap pak Arlen lalu menutup pintu ruangan itu.
"Anak pintar jangan menangis ya.." gumanku dan perlahan-lahan tangisnya mulai meredam. Membenamkan wajahnya di dadaku dan matanya mulai tertutup. Ku tepuk halus bokongnya agar cepat terlelap.
"Aneh sekali, apa iya pak Arlen ke tempelan?" Gumanku bingung.
**********************
Pukul 5 sore...
__ADS_1
Ceklekk...
Pintu ruangan yang saat ini aku tiduri bersama dengan bayi menggemaskan itu terbuka dan mendapati sosok pak Arlen.
Aku bangkit dari tidurku pelan agar bayinya tidak terbangun oleh gerakanku.
"Gendong dia, kita akan kembali bayi itu ke mamanya" ucap pak Arlen.
"T..tapi dia baru tidur pak,"
"Nanti kan ada mamanya, ayo" seru pak Arlen lalu pergi. Aku hanya menghela nafas kasar lalu perlahan-lahan menggendong bayi itu agar tidak kebangun dan berhasil. Setelah itu aku keluar dari ruangan itu dan mendapati sosok apk Arlen yang sudah siap disana.
"Ayoo" ujarnya lalu pergi membawa barang bayi itu. Aku pun mengikuti
nya dari belakang.
Kantor sudah sepi sejak satu jam yang lalu mungkin hanya meninggalkan dua satpam yang bertugas disana. Kami turun menggunakan lift setelah itu berjalan ke arah pintu keluar yang sudah ada mobil yang terparkir disana.
Pak Arlen membawa masuk terlebih dulu barang-barang si bayi lalu membantuku untuk membuka pintu mobilnya.
"Terima kasih" kataku lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia menutup pintu mobil dengan pelan lalu dia masuk ke dan duduk di sampingku. Mobil bergerak meninggalkan kantor.
*****************
Hotel group AR.
Kami berdua di hotel untuk mengembalikan bayi yang tengah ku gendong ini kepada mamanya.
Tok.. tok..
"Masuk" seru dari dalam begitu pak arlen mengetuknya. Kami berdua pun masuk.
"Oh kalian sudah datang" seru sosok wanita berambut panjang hitam dengan memakai dress putih. Dia berjalan ke arahku.
"S..sudah," ucapku. Dia tersenyum senang dan perlahan mengambil alih bayi itu dari gendonganku.
"Zera mengurus anakku dengan baik, terima kasih" ucap lembut mbak Sandra. Mamanya si bayi.
"Mama dimana?" Tanya pak Arlen kepada mbak Sandra.
"Pulang, oh.. omong-omong tadi aku bertemu dengan fajar. Sapalah dia sebentar.." kata mbak Sandra.
Deg!
Aku terkejut mendengar namanya.
"Dimana kau melihat?"
"Di ruangan...—"
****************
Kami berdua berdiri di dalam lift. Hanya berdua.
"Kamu ingin bertemu dengan calon suamimu?" Ujar pak arlen. Aku menatapnya sesaat sambil berfikir.
"Untuk apa?" Tanyaku balik.
"Ya.. mungkin kamu ingin sekedar menyapanya?" Kata pak Arlen.
Deg..! Deg..!!!
__ADS_1
Seketika perasaanku resah.
'kenapa rasanya seperti akan terjadi sesuatu?' batinku heran.
"Boleh saya minta tolong tunjukkan ruangannya, pak? Saya ingin menyapanya" kataku. Pak Arlen mengangguk pelan. Dan kami kembali naik ke ruangan yang di pesan fajar.
**************
Kamar 768. Kami berdiri tepat di ruangan itu. Dan nampaknya pintu kamarnya terbuka sedikit.
"Masuklah," ujar pak Arlen.
Aku mengangguk pelan, "terima kasih" ucapku. Dia mengangguk dan pergi. Setelah itu aku masuk ke kamar hotel yang di pesan fajar.
"Fajar.." seruku begitu masuk dan tak ada balasan. Aku cek kamar mandi juga tak ada orang.
"Apa dia sudah pergi? Tapi kata resepsionis dia ada dikamar..—"
"Kamu kenapa lama sekali aku kan jadi nunggu lama" ucapanku terpotong saat aku mendengar suara stela dari luar. Aku panik dan langsung bersembunyi di lemari sana.
"Maaf sayang tadi aku sedang mandi sebentar" itu jelas suara fajar. Aku langsung membungkam mulutku sendiri. Jantungku berdetak sangat kencang.
"Kamu sudah dapat balas dari cewek buruk itu?" Tanya stela disana.
"Belum,"
"Itu artinya dia takut atau dia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu"
"Aku rasa begitu," aku menyalakan ponselku, mematikan semua volume dan langsung menyalakan kamera belakang. Ku buka pintu lemari itu sedikit untuk bisa mendapatkan gambar dan benar. Itu benar-benar mereka berdua terpapar jelas di layar ponselku.
"Jadi kapan kamu memutuskan hubungan dengan si buruk itu?" Tanya stela sambil duduk manja di pangkuan fajar yang sedang asik merokok disana.
"Bersabarlah," ucap fajar.
"Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu, aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku cemburu" kata stela. Fajar tertawa kecil.
"Tunggulah sedikit lagi, hubunganku dengan dia tidak akan bertahan lama sayang. Mamaku tidak akan Sudi memiliki menantu yang berkerja sebagai tukang bersih di kantor musuhnya"
Deg!!
"Waktu pesta itu saja, mamamu sangat marah saat mengetahui cewek buruk itu bersama dengan musuhnya. Apalagi dia mengetahui kabar ini? Aku benar-benar tak sabar untuk menikah denganmu. Tapi kenapa mamamu mau menjodohkan mu dengan cewek buruk itu? Padahal aku sangat tahu mamamu itu tidak suka dengan kelas rendahan"
"Karena kasihan, mamaku berhutang Budi dengan neneknya gara-gara dulu pernah menolong mama saat mama hampir bangkrut. Kamu tahu, mama dan neneknya itu sampai memohon kepada mamaku dan aku agar bisa menerima cewek buruk itu dan sok pintar itu. Dengan ini mama punya alasan kuat untuk mengakhiri hubungan ini. Jadi aku bisa mempermalukannya termasuk keluarganya. Aku tidak sabar untuk memiliki anak denganmu"
Stelan tersenyum miring, "kamu ingin sekarang membuatnya?" Kata stela dengan menggoda. kemudian mereka berciuman dan melakukan hal yang memalukan.
Aku hanya bisa diam menyaksikannya adegan senonoh itu layar ponselku dengan waktu merekam yang masih berjalan.
'gue yang bakal, bikin Lo pada malu.. semalu-malunya' batinku marah.
Bersambung....
halo guysss... hehehehe
tunggu nextnya...
jangan lupa klik suka, love, subscribe, komentar dan simpan cerita ini di perpus kalian. biar tidak ketinggalan.. yuk.. aku tungguin...
terima kasih kakak cantik dan ganteng...
biar author tetap semangat buatnya..
__ADS_1
salam.AD