
"Pakai krim ini setiap malam dan kalau yang warna putih ini di buat pagi—" pulang dari sana. semua tante-tanteku pada menyumbang barang-barang perawatan dari wajah hingga seluruh tubuh.
Ibuku sedari tadi bicara terus tapi aku diam tak peduli sambil main game moba di ponsel.
"Jangan lupa sebelum Memakai cuci dulu mukanya dan setelah bangun tidur juga cuci mukanya. mengerti Zera?"
"Hm.." sahutku malas.
"Bawa ini ke kamarmu, cuci muka, pakai krim, lalu tidur. ibu mau tidur dulu" pintah ibu lalu pergi ke kamarnya.
(Defete!)
"Ash.. si*!lan" makiku kesal. ku tarik ponselku ke samping dan melihat dua paper bag besar di depanku.
"Seberapa keras kalian membujuk gue dengan apapun semua akan sia-sia dan satu lagi gue akan buat cowok itu gak suka gue, lihat aja." gumanku pelan memikirkan rencana kedepannya.
Drtt.... Drtt....
ponselku bergetar karena ada panggilan masuk. Risa. nama yang muncul di layar ponsel.
Ku angkat telpon itu,
"Ra,Lo udah pulang ke rumah?" tanya Risa begitu ku angkat telfonnya terdengar tergesa-gesa.
"Iya, kenapa?" Tanyaku balik.
"Cepat datang ke toko gue, sekarang!"
Tut.. Tut.. tut....
Setelah itu si Risa memutuskan panggilannya. Aku menghela nafas berat dan ya aku harus pergi dari pada besok harus debat panas sama dia.
*************
"Itu dia!? Zera!" teriak om Surya berdiri bersama dengan seorang cowok tampan, tinggi, kulit putih.
"Ada apa om?" tanyaku kepada om Surya Begitu aku sudah berada di hadapannya. Risa membuka lengan bajuku yang terdapat luka jahitan.
"Kenapa Lo gak bilang kalau Lo habis dijahit ah?! Berantem lagi sama copet," Tanya Risa ngegas dan agak kesal.
'Kok tahu dia gue habis berantem sama copet? Apa Rian yang bilang?' batinku bingung.
"Tahu dari mana kalau gue habis berantem sama copet?" Tanyaku heran.
Risa menunjuk ke arah cowok yang berdiri di dekat Om Surya. Aku semakin bingung.
"Yang nyari kamu dia" kata Om Surya menatap sekilas ke arah cowok disampingnya.
"Siapa ya?" tanyaku kepada cowok itu.
"Om tinggal masuk ya? kalian bicara saja," kata om Surya menggeret anak perempuan untuk ikut masuk ke rumahnya. kini tinggal kami berdua yang tak saling mengenal.
"Saya anak dari Ibu Indah yang kamu tolong pas kejadian di pasar" katanya.
__ADS_1
aku mengangguk paham, "ah.. Tante itu namanya Bu indah Tapi bagaimana bisa anda tahu saya tinggal di daerah sini?" tanyaku.
"Supir saya yang memberitahu dan lagi kebetulan daerah sini dekat dengan om saya dan lagi supir saya foto kamu pas di rumah sakit. Jadi saya tanyakan saja ke om saya" jelasnya.
"Om? om Surya maksud anda?" tanyaku kaget tak percaya.
Dia mengangguk setuju, "Iya Om Surya adalah sepupu saya, kakak kandung ibu saya" jelasnya lagi.
"jadi begitu.. Omong-omong kenapa cari saya malam-malam begini? apa barang Tante indah ada yang hilang?" tanyaku khawatir.
"tidak-tidak, semua aman" katanya. aku bernafas lega.
Cowok itu memberikan sebuah paper bag kepadaku, "Itu dari saya sebagai ucapan terima kasih telah membantu mama saya, seharusnya kemarin saya kesini tapi berhubung saya ada urusan jadi baru sempat sekarang. Dan satu lagi saya ingin menawarkan pekerjaan kepada kamu di perusahaan kecil saya," jelasnya sambil memberikan kartu namanya kepadaku.
"Saya tunggu jam 8 —ah saya lupa, perkenalkan namanya Arlen" lanjutnya memperkenalkan diri.
"A..ah i..iya, saya Zera" kataku gugup membalas memperkenalkan diriku. dia tersenyum manis.
"Kalau begitu saya pamit pulang, jangan lupa besok langsung datang" katanya sekali lagi dan dia pergi memasuki mobil kerennya setelah itu pergi.
aku Mendadak kaku seketika melihat kartu nama Arlen di tanganku. tanganku sampai gemetaran. hatiku rasanya meledak seketika.
"K..kerja?! ahh!! yes!! auw.. auw.. Yes.. yes!!" teriakku bersemangatnya sampai lupa dengan luka yang baru saja di jahit.
"RA KENAPA LO?!" teriak Risa di atas rumahnya lebih tepatnya balkon kamarnya.
"GUE BESOK KERJA DI PERUSAHAAN COWOK TADI!" Teriakku senang.
"MAKSUD LO! DI PERUSAHAAN SEPUPU GUE?!"
"Akhirnya sahabat gue kerja ya tuhan!! akhirnya gue di traktir juga!!"
aku hanya bisa tertawa ngakak mendengar doanya. "GUE PULANG DULU," Pamitku.
"OKE HATI-HATI!"
aku segera pergi ke rumah mengabarkan berita menggembirakan ini kepada ibu tercinta.
"Akhirnya gue dapat kerja, semoga dengan kabar ini masalah perjodohan di batalkan. Ahhkk senangnya..—"
TUK!
"Argk!" Rintih ku tiba-tiba ada yang memukul kelapaku dengan gulungan kertas.
"Siapa tadi?" Tanya orang yang memukul kelapaku. Siapa lagi kalau bukan Rian. Tiba-tiba anak itu muncul ditengah perjalananku sambil bawa kertas gulung di tangannya.
"Oranglah awas gue mau pulang"
Sret!!
Rian menghentikan ku, "Temani gue makan batagor dulu" katanya langsung menggeretku dengan paksa.
*******************
__ADS_1
GAPURA KAMPUNG...
Biasa di jam-jam begini banyak banget penjual makanan. Dari nasi goreng, batagor, es cendol, dan tahu gejrot. Kalau sudah jam 12 malam. Mohon maaf, mereka sudah pulang.
Rian membeli batagor untukku dan untuknya. Dan satu lagi tak pula es cendol.
"Ayo cerita" katanya dengan wajah datarnya. Makan sambil menatapku.
"Cerita apa?" Tanyaku kesal sambil makan.
"Cowok tadi"
"Oh... Cowok itu anak dari yang gue tolong pas kejadian dipasar dan ternyata dia sepupunya Risa." Kataku.
"Terus?"
"Tujuan dia kesini cari gue buat ngasih ini sama gue di tawari kerja di perusahaan dia" kataku sambil memamerkan paper bag kepada Rian yang terlihat datar.
"Lalu?" Tanyanya lagi.
"Ya besok gue dateng setelah itu sudah," kataku senang dan bergembira.
"Ck, jangan seneng dulu. Lo kan belum tahu kerja apaan? Dulu gue tawarin di toko gue Lo gak seseneng ini, padahal kerjanya jadi sekertaris gue" kata Rian tajam.
"Lo pengen gue dibunuh ibu gue. Gue Deket sama Lo gini aja udah bersyukur, apalagi Lo sama gue satu kerja." kataku.
Rian menghela nafas kasar, "Ck," decaknya kesal.
"Bagaimana tadi acaranya?" tanya Rian mengganti topik pembicaraan, seketika langsung ingat lagi perjodohan itu.
"Bencana," kataku kesal.
Rian mengangkat alisnya, "Bencana? kebanjiran rumah nenek Lo?"
"Bukan ini lebih parah dari pada kebanjiran"
Rian mengerutkan keningnya bingung, "tsunami?" tebaknya.
"Kalau tsunami gue gak bakal duduk disini sama Lo," kataku kesal.
"Ya terus apa?" Rian mulai emosi.
"Gue dijodohin" kataku santai. Rian diam melotot.
"Ukhh.. ukhh J..dijodohin?" ulangnya kaget sambil terbatuk-batuk.
"Iya, gue dijodohin sama direktur gara-gara gue gak dapat-dapat kerja"
BREAK!
Rian memukul meja. untungnya gak rusak mejanya cuman getar aja. Sampai yang beli makanan pada natal dirinya.
"Bisa-bisanya mereka..— lalu Lo nolak kan?!" tanya Rian marah.
__ADS_1
"Y..—"
BERSAMBUNG...