
Rumah Zera... Pukul jam 5 pagi.
Baju sudah rapi, rambut juga, tas sudah ready. Tinggal berangkat.
"Ayo sarapan" seru ibuku dari luar kamar. Ku ambil tas kecilku lalu keluar dari kamar.
"Kamu yakin berangkat sekarang?" Tanya ibuku begitu aku duduk di sofa. Sedangkan beliau sedang menyiapkan makanan di dapur.
"Iya takut telat" jawabku.
Ting!!
Tak lama notifikasi ponselku berbunyi. Ku buka ponselku dan ternyata pesan dari Rian.
Rian : Jam berapa berangkat?
Me : habis ini sarapan dulu.
Rian : gue tunggu toko om Surya.
Me : oke.
Ku tutup ponselku dan kumasukkan ke dalam tas kecilku. Tak lama ibu memberikan sarapan yang dia buat kepadaku.
"Naik apa kamu?" Tanya ibu.
"Ojol," jawabku bohong sambil makan.
"Gak minta jemput fajar, siapa tahu dia mau?"
"Masih tidur" kataku bohong lagi.
Ibuku menghela nafasnya kasar, "Lain kali mintalah dia jemput, sekalian pendekatan. Ya udah ibu mau ke warung kasihan mbak Yanti sendiri, jangan lupa kunci pintu rumah kalau mau berangkat." Aku langsung menyalimi tangannya dan ibu negara pergi.
Ting!!
Ku ambil ponselku lagi dari tas dan ternyata pesan dari orang yang baru saja dibicarakan.
Fajar : pagi~, Zera..
Fajar : sudah bangun?
"Kok geli ya?ihh" gumanku sendiri berdidik ngeri. Sampai-sampai bulu kakiku berdiri membaca pesannya.
Ting!
Rian : gue udah di toko.
notif Rian langsung membuatku bergegas menyudahi makanku dan segera pergi. Tak lupa untuk mengunci rumah.
******************
Perusahaan AR Group.. (05.49 am)
Aku turun dari motor Rian begitu sudah sampai ditempat kerjaku.
"Nanti pulang jangan lupa kabarin gue" kata Rian saat aku melepaskan helm miliknya lalu ku berikan kepadanya.
"Gak usah, gue pulang sendiri nanti sekalian mampir ke rumahnya Tina" kataku. Rian menghela nafasnya kesar sambil menyalakan mesin motornya.
"Hati-hati" kataku sebelum dia pergi. Rian mengangguk pelan. Menepuk kepalaku seperti biasanya.
"Lo yang hati-hati, gue pergi" ucapnya lalu dia pergi.
"Pacarannya?—"
"Ya tuhan!" Pakihku kaget tiba-tiba ada suara dari belakang dan ternyata itu pak satpam yang kemarin mengantarkanku masuk ke dalam kantor ini.
"Bukan pak, dia sahabat saya." Kataku sambil menetralkan jantung.
Pak satpam mengangguk paham, "Ayo masuk saya antar kamu menemui Sri" kata pak satpam itu. Aku mengangguk dan kami berdua masuk ke dalam kantor tersebut.
"Bu Sri itu siapa pak?" Tanyaku di tengah perjalanan kami.
"Dia kepala cleaning servis disini, orangnya itu baik kok." Jawab pak satpam itu. Aku mengangguk paham.
Tak lama kami berhenti di depan pintu yang bertuliskan "pantry".
Pak satpam itu mengetuk dulu sebelum membuka pintu tersebut.
Ceklek..
"Assalamualaikum Bu Sri" sapa pak satpam itu. Kepada sosok wanita mungkin berumur 40 an, tubuhnya berisi, memakai baju biru seperti seragam. Dia tengah duduk membenarkan sepatunya.
Pantrynya sangat bagus, rapi, dan bersih. Ada loker, ada dapur, laci, ada krisbow trolly, kamar mandi, dan meja bundar di tengah-tengahnya. Kursi ada empat melingkar dimeja.
"Ini Zera Bu, OG baru" kata pak satpam itu memperkenalkan diriku. Bu Sri itu memandangku dari atas sampai kebawah.
"Selamat pagi Bu saya Zera OG baru disini, mohon bimbingannya Bu" ucapku sopan dan ramah. Bu Sri itu mengangguk paham.
"Ya sudah tinggalkan kami pak Joyo, terima kasih sudah mengantarkannya" kata Bu Sri. Aku memandang pak satpam itu yang ternyata namanya pak Joyo. Beliau tersenyum lalu pergi meninggalkan kami berdua. Hanya kami berdua.
"Duduk sini," suruh Bu Sri. Aku langsung duduk di kursi kosong dekat dirinya.
"Umur kamu berapa?" Tanyanya.
"22 Bu," jawabku ramah.
"Masih muda. Oh ini.." tiba-tiba beliau memberikan sebuah kunci padaku.
"Ganti bajumu di kamar mandi lalu saya akan jelaskan mengenai pekerjaan kamu" kata beliau. Aku mengangguk paham, mengambil kunci itu lalu pergi ke loker sana yang ditunjuk oleh Bu Sri.
(ZERA). Segera ku buka disalah satu loker sana yang bertuliskan Zera. Loker itu tidak banyak hanya tiga saja yang berjajar. Ada yang namanya Sri dan yang satu lagi namanya Kris. Selain ibu Sri ternyata ada ob lain. Mungkin dia telat.
Setelah ku buka loker itu, ternyata ada baju berwarna biru sama persis dengan baju Bu Sri. Fix itu seragam. ku ambil seragam itu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Senang dan bahagia saat memasang seragam itu. Meski pekerjaannya seperti ini tapi aku bahagia. Akhirnya aku bisa bekerja.
Tak sampai lima menit aku selesai dan keluar.
"Astaga!" Aku terpelonjak kaget hingga mundur selangkah kebelakang. Begitu juga dengan laki-laki di depanku saat ini.
Kulit putih, badannya kurus, dan rambut berwarna coklat tua.
"S..siapa Lo?!" Tanyanya Gaguk.
"Namanya Zera anggota baru kita," balas Bu Sri.
__ADS_1
"Halo saya Zera," kataku memperkenalkan ulang. Dia menghela nafas lega.
"Ah dia Zera, hai nama gue Kris" ucapnya. Seperti dari lagaknya agak sedikit ehm... Seperti Joko. Pegawai om Surya.
Aku mengangguk dan berjalan ke loker untuk menarik bajuku dan tas kecil milikku. Si Kris itu dia masuk ke kamar mandi.
Ku kunci loker milikku setelah barang-barang ku masuk dan berjalan ke arah Bu Sri dengan tengah mendorong krisbow trolly. Kayak trolly tapi isinya Alat-alat bersih-bersih lengkap.
"Sudah siap?" Tanyanya. Aku mengangguk semangat. Beliau tersenyum senang.
"Mari kita kerja" serunya. Dan kami pergi dari ruangan itu dan mulai bekerja.
**********************
Benar apa kata pak Joyo. Bu Sri ini orang baik. Beliau menjelaskan semuanya tugasku dengan sabar dan halus.
Tugasku sama seperti pekerjaan dirumah. Mengelap meja sama jendela, ambil sampah, nyapu, ngepel, nyiram tanaman, dan lain-lain. Pesan Bu Sri adalah jangan pernah menyentuh kertas dimeja meski itu berantakan. takutnya kertas itu penting.
Ku lirik jam dinding sana yang masih menunjukkan pukul 7 pagi. Dan kami sudah mengerjakan dua lantai di perusahaan itu.
Kami berdua memasuki lift lagi untuk menuju ke lantai berikutnya.
"Tinggal satu lantai lagi," kata Bu Sri.
Aku mengerutkan keningku bingung, "satu? Lalu sisanya 2 lagi Bu?" Tanyaku bingung.
Kantor ini memiliki lima lantai, seperti informasi yang ku dapatkan dari internet.
"Sisanya Kris, bagian kamu dan saya sama. Maklum saya udah tua, sering sakit pinggang sama lutut." Kata beliau sambil tertawa kecil.
Benar juga. Saat tadi bekerja, ku liat Bu Sri ini sering pegang pinggangnya pas lagi nyapu.
Ting!!
Lift terbuka kami keluar dan Bu Sri memberikan tugas lagi kepadaku. Sedangkan Bu Sri dia pergi ke ruangan yang pertama kali ku masuki, Saat aku bertemu dengan Bu jiya selaku sekertaris pak Arlen.
Ruangan Staff marketing. Tempat dimana aku bersih-bersih saat ini. Ku pakai sarung tangan dan mulai bekerja.
****************
"Ahhh... Leganya" seruku lega begitu selesai bersih-bersih tepat pukul delapan pagi, yang dimana semua para pekerja di kantor ini mulai berdatangan. Tinggal menunggu telfon jika ada yang butuh sesuatu.
"Ini minum" ujar Bu Sri memberikanku secangkir minuman.
"Terima kasih" kataku sopan mengambil minum itu dan langsung meneguknya hingga habis.
"Berapa umur Lo?" Tanya Kris duduk di samping Bu Sri.
"22 tahun," jawabku.
"What?!" Pakihnya kaget.
"Kenapa? Tua ya?" Kataku.
"Tua gimana? Lo itu muda disini, gue aja 25 sama kayak umurnya bos oppa" katanya dengan nada centil.
"Bos oppa?" Tanyaku bingung.
"Ih masak gak tahu bos oppa, gimana sih?" Kata Kris kesal. Bu Sri tertawa kecil.
"Sudah Bu," jawabku.
"Gimana pendapatmu tentang bos oppa saat pertama kali bertemu? Ganteng kan? Kayak Jungkook bities" ujar Kris antusias.
"Memang ganteng" kataku menyingir paksa. Kris mengangguk setuju.
"Tapi Lo jangan suka sama dia, itu sudah milik gue" tiba-tiba berubah mengancam dia. Aku mengangguk paham.
'Ya kali, pak Arlen suka laki.' batinku.
Kring!!
Telfon berbunyi, Bu Sri langsung mengangkat telfon itu dan berbicara disana. Tak lama telfon ditutup.
"Siapa Bu?" Tanya Kris.
"Pak Arlen, butuh kopi" kata Bu Sri. Lali pergi ke dapur.
"Aku yang antar ya?" Tawar antusias Kris.
"Mau dipecat? Zera saja yang antar, kamu bisa kan?" Ujar Bu Sri lagi sibuk membuatkan kopi.
"Bisa," kataku.
"Memang tahu ruangannya?" Tanya Kris terlihat kesal.
"Lantai terakhir yang kita bersihkan..—"
"Saya tahu Bu, saya juga pernah keruangan itu" selat ku saat Bu Sri mau menjelaskan.
Tak lama Bu Sri memberikan kopi yang dia buat tadi kepadaku.
"Hati-hati jangan tumpah!" Kata Kris. Hendak aku mau pergi.
"Beres," ujarku lalu pergi keluar dari pantry.
*********************
Tok... Tok...
Ku ketuk pintu itu sebelum aku masuk, "iya masuk aja Bu Sri" seru dari dalam.
Ku buka pintu itu dan ternyata ada Bu jiya disana yang lagi kerja.
"Oh Zera, masuk-masuk" kata Bu jiya. Aku pun masuk ke ruangan itu.
"Ini kopinys pak Arlen, saya yang berikan atau ibu jiya?" Tawarku sopan. Ku lirik ke ruangan lain di ruangan itu yang menampakkan pak Arlen yang lagi fokus memandang komputernya.
"Hm... Kamu saja, maaf ya saya lagi repot." Katanya. Aku mengangguk paham dan berjalan ke arah ruangan pak Arlen. Ku ketuk pintu itu sebelum masuk, sambil melihat pak Arlen di jendela sana.
Mendengar ketukan ku pak Arlen langsung melihat ke arahku yang lagi melihat dari luar.
Deg!
Deg!
Jantungku tiba-tiba merasa aneh. Pak Arlen tersenyum ke arahku dan menyuruhku masuk.
__ADS_1
"Permisi pak, ini kopi pesanan pak arlen" kataku begitu masuk ke ruangannya.
"Sini," kata beliau. Ku berikan kopinya.
"Gimana kerjanya Ra?" Tanyanya padahal aku baru hendak pamit pergi.
"Saya suka pak, terima kasih sudah memberikan saya pekerjaan ini" kataku.
"semoga kamu Beta disini. Gimana kondisi luka kamu?" Tanyanya terlihat agak khawatir.
"Tidak masalah pak, semuanya baik." Jawabku. Pak Arlen menghela nafasnya lega.
"Syukurlah,"
"Baik pak, saya mau ke balik ke pantry. Permisi" pamitku. Beliau mengangguk pelan. Kemudian aku pergi dari ruangan itu.
"Sudah?" Tanya Bu jiya saat aku keluar dari sana.
"Sudah Bu, permisi saya mau balik ke pantry"
"Iya, semoga Beta ya"
"Iya Bu, permisi" aku langsung buru-buru keluar dari ruangan itu dan bergegas untuk kembali ke pantry.
Keluar dari sana jantungku kembali normal. Ini aneh. Benar-benar aneh.
******************
Pukul 17.45 pm.
Aku sudah pulang kerja dan kini tengah menjemput Tina dirumahnya.
"Ayo kak," ujar Tina semangat yang sudah siap untuk belajar di rumahnya si kembar.
"Ayo" kataku. Lalu kami berjalan menuju ke rumah kembar.
*************
Rumah si kembar...
"Assalamualaikum" seruku begitu masuk.
Dan kami sampai di rumahnya si kembar yang sudah disambut oleh si kembar dan Rian yang tengah menyiapkan sesuatu di dapur.
"Kak Tina!" Seru si Dina langsung merangkul Tina lalu menyeretnya untuk duduk bersamanya. Sedangkan Dani, bocah itu lagi fokus membaca buku pelajarannya.
"Capek?" Tanya Rian memberikanku minuman seperti biasanya. Dan tak lupa cemilan yang dia buat di dapur. Rian ini jago masak, apalagi jeni kue dan roti. Dia jago dari pada aku yang cuman bisa makanan rumah biasa.
"Ya capek bener" kataku loyo. Rian tertawa kecil sambil menepuk kepalaku pelan. Aku langsung duduk bersama para bocil-bocil sana.
Seketika suasana menjadi serius. Tina, Dina, dan Dani membuka buku pelajarannya.
"Hari ini ada pr?" Tanyaku.
"Tidak!" Seru ketiganya. Rian duduk di sampingku lalu mengambil buku Tina.
"Gue bantu, Lo fokus ngajar si kembar gue ngurus si Tina" kataknya. Aku tersenyum senang mendengarnya.
"Makasih" kataku tulus Dan belajar pun mulai.
*************
Pukul menunjukkan jam 20.20 pm.
Kegiatan ngajar sudah usai. Tina sedang beres-beres sambil berbincang-bincang dengan Dina. Maklum sesama cewek yang bocil cowok anteng nonton TV.
Si Rian dia senyam-senyum ngeliat para bocil yang asik di dunia mereka.
"Gila Lo! senyam-senyum sendiri" sindirku. Dia malah tertawa kecil.
"Gue lagi membayangkan" katanya.
"Bayangin apa? Jangan aneh-aneh Lo" kataku.
"gue lagi membayangkan masa depan gue kayak gini, Ra" katanya.
"Idih... cari pacar Sono biar cepat terealisasi" ucapku sambil tertawa remeh.
"Sama gue yuk" ajaknya tanpa rasa dosa dan beban, mana menatapku dengan tatapan berharap.
PIYARRR!!
suara pecahan tapi pecahan harapan.
"Lo mau mati" kataku serius dan tajam.
Rian menghela nafas kasar, "Ck, tadi disuruh di ajak gak mau" ucapnya kesal.
"Ya jangan sama gue set*n! Cari cewek lain sana! Gue kepret juga nih" ucapku kesal juga.
"Gue hamilin juga nih" kata Rian tak kalah kesal.
"He! Kurang ajar Lo! Istighfar Lo!" Ucapku ngegas.
"Ayo kak pulang" kata Tina di tengah-tengah perdebatan kami. Untunglah, jika tidak dihentikan maka akan semakin menjadi gila.
Aku bangkit lalu menggandeng tangan Tina, "gue pulang, Kakak pulang ya kembar" pamitku.
"Hati-hati bunda!" Teriak si kembar.
"Eh? Kok bunda disuruh siapa bilang gitu?" Tanyaku heran. Si Rian tertawa ngakak.
"Kurang ajar!" Makiku. Ku ambil bantal sofa di sana lalu ku lemparkan ke arahnya.
"Wah.. kdrt ini! Gue laporin ya?!" Tuduh Rian tak terima.
"Gila Lo! Yuk Tina pergi sebelum gila gue disini" langsung ku tarik Tina untuk segera keluar dari rumah itu. Dan berjalan menuju ke arah rumah Tina setelah mengantar Tina aku langsung pulang ke rumah.
BERSAMBUNG....
(**diriku ini minta maaf karena telat untuk updatenya... untuk itu kali ini lumayan panjang. maaf ya.. kakak2 yang sudah gak sabar menunggu.)..
terima kasih masuh stay di sini jangan bosan-bosan menunggu ya.. kakak2.. jangan lupa untuk like dan berikan komentar. vote, share, dan beri gift nya biar semangat ini authornya bikin wkwkwk... terima kasih/arigato/kamsahmamidah/ Shukor...
bye.. bye
love♥️**
__ADS_1