
"Y....— t..Trisna!" pakih ku panik melihat Trisna musuh bebuyutan ku berlari ke arahku.
aku buru-buru bangkit dan...
Hap!!
"Sakit-sakit!" Terlambat Trisna sudah menjambak rambutku.
"Mau kabur kemana Lo? ahahaha" tawanya senang seperti iblis.
"Sakit woy!! lepasin" rintih ku berusaha mencoba melepaskan diri namun Trisna malah menambah tarikannya dari rambutku.
"Lepas" pinta Rian menatap tajam ke arah Trisna.
"CK, selalu saja" decak kesal Trisna dan akhirnya dia melepaskan cengkramannya dari rambutku.
Omong-omong Trisna ini anak rantauan yang ngekos di sini. kerja sebagai buruk pabrik dan Umurnya seumuran dengan Rian yang beda sebulan sama aku.
PUK!!
Ku pukul lengannya hingga dia meringis sakit. "Sakit bod*h!" makiku. Trisna tertawa sakit lalu duduk di sebelahku.
"Bang batagor satu, Nih bocah yang bayar" kata Trisna sambil menunjuk diriku.
"Anj*Ng Lo! gak tahu diri" makiku kesal.
"Makasih" ucap Trisna tanpa rasa dosanya.
"kenapa ibu Lo tutup hari ini? gue sampai bingung cari makan?" tanya si iblis ini.
"No comen~ itu sih derita Lo~ masa bodoh gak mau tahu~" kataku sambil bernada seperti bunda corla. bunda gue!
tak lama pesanan batagor si iblis datang dan tanpa ba-bi-bu makanlah dia kek babi. mana bumbunya sampai tumpah ke meja, kan sayang.
"Lo kalau makan santai ngapa? noh tumpah bumbunya"
"Hehe laper gue" cengirnya sambil makan.
Rian menghela nafasnya kasar, "Ayo pulang" seru Rian dia bangun sambil menarikku berdiri.
"Kenapa buru-buru? gue masih makan ini tungguin Napa?" cegah Trisna yang masih makan.
Rian menatap tajam seperti elang ke arah Trisna, "urus—"
"Oke-oke, pergi sana" potong Trisna terlihat ketakutan. Rian membayar makanan kami dan juga makanan Trisna dan pergi dari sana.
"Lo jangan gitu Napa sama Trisna?" kataku di tengah perjalanan kami berdua.
"Gitu gimana?" tanya balik tanpa menatapku.
"Cara bicaramu dan ekspresi wajahmu itu bikin orang takut."
Langkah Rian terhenti, lalu menatapku "Dia pengganggu" katanya setelah itu lanjut berjalan lagi. aku masih diam di tempat sambil menatapnya yang mulai agak jauh dariku.
__ADS_1
****************
Flashback...
****************
SMA...
BRAK!!
BRAK!!
*Rian tengah menghajar temannya dengan bruntal seperti seorang ke setan. semua murid yang melihatnya takut untuk melerainya.
"Rian, stop!" ujarku begitu sampai disana. segera melindungi anak yang dihajar oleh Rian.
"Tolong bawa dia pergi," suruhku pada Risa untuk membawa anak yang dihajar oleh Rian pergi. dan seketika itu juga semua murid langsung bubar meninggalkan kami berdua.
Rian berdiri menatapku marah dengan kondisi yang berantakan. aku berjalan ke arahnya*.
GREP!
*ku cengkraman kerah bajunya, "Lo hampir membunuhnya, set*n! Lo mau masuk penjara ah?!" bentak ku emosi. dia tersenyum seperti psikopat.
*di pegangnya pipiku yang baru diobati tadi. dia menatapku dengan sendu. "Sekarang tidak ada lagi yang gangguin Lo atau nyakitin Lo" gumannya.
Dadaku sesak. ku lepaskan cengkraman ku dan ku letakkan kepalaku di dadanya. setelah itu aku menangis, sejadi-jadinya*.
GREP!
"Bod*h! bod*h! hiks.. gue takut hiks.." gumanku di sela tangis.
"Tidak usah takut, ada gue disini"
****************
DANAU... — Pukul 16.30 wib..
drap! drap!
*aku tersenyum melihat siapa yang datang menemukan tempat persembunyianku. Rian
"Houss.. houss*..." ku berikan botol air yang sengaja aku beli di alphamidi sebelum ke danau. Rian mengambil air itu, duduk di sampingku lalu meminumnya hingga habis.
"Maaf karena gue Lo harus bertengkar sama ibu Lo, si*l! seharusnya tadi Lo bisa bela diri pas di kepsek tadi. persetan dengan olimpiade," Decak dia kesal.
ya benar. akibat pertengkaran Rian tadi membuat ibuku harus dipanggil menghadap ke kepsek lalu pulang dari sana aku langsung di dempak dari rumah. sebenarnya bukan Rian yang salah, tapi aku. semua bermula dariku dan Regil. anak cowok yang sering menggangguku. dia korban dari baku hantam Rian.
kejadiannya bermula saat Regil dengan kebiasaannya selalu hadir untuk menggangguku, tapi aku selalu acuh selagi masih bisa di toleransi dan tidak menyakitiku.
Entah dia bagaimana badmood nya tiba-tiba dia melempari ku dengan garpu yang untungnya meleset meski terkena sedikit goresan di pipi kiriku hingga mengeluarkan darah. aku balas dia dengan ku siram air sirup dan pergi meninggalkannya.
Aku baru selesai diobati oleh ibu penjaga UKS. aku diberitahu kalau Rian dengan adu mekanik alias tinju dengan Regil. dan begitulah kejadiannya...
__ADS_1
Rian memang seperti itu sejak SD, lebih tepatnya sejak ditinggal pergi oleh sahabat kami satunya. kita rahasiakan dulu hehe.. Dan sejak saat itu Rian mulai overprotektif.
dan maksud olimpiade itu adalah Rian besok akan di lombakan olimpiade sains tingkat internasional. gara-gara pertengkaran tadi kemungkinan Rian akan gantikan dan nama baiknya akan buruk. karena semua ini bermula karena aku, jadi diriku ini rela di tendang ibu negaraku, tercinta. meski aku dilarang ketemuan sama Rian, setelah kejadian ini.
"Mulai besok Lo jangan ke rumah gue sampai selamanya kalau bisa," kataku.
"Kenapa?" dia terlihat panik.
"Gpp sih sebenarnya, asal Lo punya 9 nyawa aja untuk menghadapi ibu negara gue" kataku. dia menghela nafas lesu.
"Tenang aja, kita bisa ketemu diluar kayak gini. gue juga gak akan kemana-mana tapi Lo harus janji sama gue" Rian menatapku dengan serius.
"Jangan lakukan lagi hal-hal yang seperti tadi, jangan campuri urusanku, cukup Lo ada disamping gue, dan satu lagi Lo harus belajar bersikap biasa sama gue..—"
"Jika Lo langgar itu sekali aja. cukup sudah pertemanan ini. jangan temui gue dan jangan bicara lagi sama gue. ngerti Lo?" lanjutku penuh penekanan.
Rian terdiam sebentar lalu dia mengangguk setuju dengan janji yang aku berikan padanya. akhirnya aku bisa bernafas lega..
"Jika Lo keberatan. mulai sekarang lo bisa pergi, Lo bisa gak temenan lagi sama gue. Lo bebas." kataku.
"Gue gak akan pernah ninggalin Lo" katanya tegas.
"Terima kasih," kataku tulus. dia tersenyum lalu memelukku erat. bahkan aku bisa merasakan nafasnya di telinga ku.
"Jangan tinggal gue, gue akan gila bila itu terjadi" gumannya pelan.
ku balas pelukannya, "Selama Lo pegang janji itu, gue akan selalu sama Lo"
****************
OFF
****************
WOOSSS...WOSS....
"Ra, ayo jalan malah ngelamun" Seru Rian di depan sana menunggu. aku langsung bergegas lari menyusulnya.
"Jangan lari nanti jatuh" Tegurnya.
"Tenang, gue bukan anak kecil lagi"
Dia tertawa kecil menepuk pelan kepalaku. "Bagi gue Lo masih kecil yang masih ceroboh"
ku pukul tangannya, "Jangan suka nepuk kepala orang. gak sopan! nanti otak gue bergeser bagaimana? terus amnesia" ucapku kesal.
"Bicara yang bener, ucapan adalah doa"
"Bertengkar aja yok, by one kita. capek bener gue adu omong sama Lo" kataku mulai memasang kuda-kuda buat nyerang Rian.
"Males," ucap Rian dan berjalan agak cepat hingga aku tertinggal olehnya. .
"Rian tunggu! Si*lan!" seruku berlari menyusulnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....