
Pukul 22.49 malam..
"Anj*Ng!!! Ah.. ah.." ngos-ngosan begitu berhasil keluar dari kamar dua manusia hina disana. Untung mereka gak sampai nginep bisa-bisa sampai besok aku terkurung di dalam lemari.
Drrttr.. drrtttr...
Rian.. satu nama yang tertera jelas di layar panggilan. Segera ku angkat.
"Lo sudah pulang?"..
"Iya, bentar gue share lock" ku kirimkan lokasi tempat aku berdiri sekarang tanpa mematikan panggilannya.
"Hotel?!"
"Gue jelasin nanti, cepetan susul gue" setelah mengucapkan kata aku langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Lalu ku masukan ponselku ke dalam saku.
"Zera?" Begitu ada orang yang menyebut namaku. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata mbak Sandra bersama dengan suami dan anaknya yang sudah bangun di gendongannya.
"Hehe iya Bu.." cingirku.
"Kamu belum pulang? Kemana Arlen?" Tanya mbak Sandra sambil celingukan.
"Sudah pulang Bu,"
"Kamu ditinggal sendirian?! Sialan memang si Arlen, anak orang main di tinggal aja. Sudah berapa lama kamu berdiri disini?" Tanya mbak Sandra terdengar agak ngegas.
"Saya tadi yang nyuruh pak Arlen pulang kok Bu, pak Arlen sempat menawarkan tumpangan tapi saya tolak karena saya gak sengaja ketemu teman SMA saya disini." elesku Bohong.
"baiklah, Ayo.. kita antar kamu pulang" tawar mbak Sandra.
"Terima kasih tawarannya, tapi saya sudah terlanjur nyuruh sahabat saya kesini untuk jemput kasihan kalau saya tinggal" tolakku halus.
"Kalau begitu aku akan tunggu disini sampai Sahabat kamu datang" kata mbak Sandra.
"Sebaiknya ibu pulang saja, saya gak papa disini kasihan anak ibu nanti masuk angin" kataku tak enak.
"Sayang bawa Anak kita masuk ke mobil. Aku akan menyusul nanti" kata mbak Sandra memberikan anaknya kepada suaminya.
"jangan lama-lama.." kata suaminya lalu pergi meninggalkan kami berdua.
"Duduk Bu.." tiba-tiba satpam sana memberikan bangku untuk kita berdua.
"Terima kasih" kataku begitu duduk dan mbak Sandra juga duduk.
"Kamu sudah tahu namaku?" Tanya Bu Sandra.
"Belum Bu," kata ku bohong. Padahal sudah tahu.
"Perkenalkan Aku Sandra, panggil kak Sandra kelihatannya kamu masih muda dari pada aku. Dan sudah tahu nama anakku?" Aku menggeleng.
"Nama anakku Gala dan suamiku Kevin."
"Ah.. ternyata nama anak ibu gala," Kataku.
"Ibu?" tegur kak Sandra.
"Hehe maaf.. iya kak Sandra."
"Apa tadi gala merepotkanmu?"
"Tidak sama sekali, malah saya sangat terhibur dan senang. Apalagi saat dia berbicara da-da-da-da, itu benar-benar menggemaskan." kataku. Kak Sandra tertawa kecil.
"Syukurlah dia tidak rewel" kata kak Sandra.
"Tadi nangis sebentar gara-gara pas pak Arlen mau gendong belum gendong keburu nangis tapi nangisnya gak lama."
"Gala memang seperti itu jika di dekati Arlen entahlah karena apa? Kata mama indah Arlen itu jelmaan iblis jadi anak kecil pada takut apalagi orang-orang seperti kita ini" aku mengangguk paham.
"Kamu sudah berapa lama kerja di kantor Arlen?"
"seminggu ini kak,"
"Gimana kerja sama Arlen? Dia kayak ibliskan? Marah-marah kan?"
"Iya, tapi marahnya beliau itu demi kebaikan bersama di kantor." Jelasku. Kak Sandra mengangguk paham.
"Aku dengar mama indah pernah kamu tolong saat dijambret"
aku mengangguk setuju, "Gara-gara itu saya dapat pekerjaan di perusahaan pak arlen".
__ADS_1
"Sebenarnya kamu tidak di tempatkan di kantor Arlen itu, seharusnya kamu berkerja jadi asisten mama indah. Karena Arlen terlalu posesif dan harus selalu sempurna jadi dia narik kamu ke kantornya. Tapi tenang.. kamu berkerja di kantor Arlen cuman masa training aja setelah kamu lulus dari seleksi Arlen. Nah.. baru deh.."
"Oh..jadi begitu. Tapi saya tidak masalah berkerja apapun asal itu baik bagi saya dan bermanfaat bagi sekitar saya"
Kak Sandra menepuk pelan pahaku, "terima kasih" katanya tulus. Aku mengangguk paham.
Brumm..
Sebuah motor berhenti tepat di depanku dan kak Sandra.
"Ayoo.." kata orang di balik helm itu. Rian. Dia sudah sampai. Aku dan kak Sandra bangkit.
"Saya pamit pulang dulu kak" pamitku dan tak lupa bersilaman dengannya.
"Iya hati-hati," kata kak Sandra. Aku tersenyum dan naik ke motor Rian.
"Pegangan" seru Rian. Aku memegangi perutnya dan kami bergerak meninggalkan hotel tersebut.
*************
30 menit kami sudah sampai di depan kediaman rumah kakaknya Rian. Mbak Jihan.
Hendak ingin aku masuk ke dalam rumah tiba-tiba Rian menahan tanganku.
"Ayo ke supermarket"
"Iya nanti gue mau ngajar Tina sama si kembar dulu"
"ayo.." Rian langsung menarikku dan membawaku ke arah supermarket langganan kami berdua.
10 menit berjalan kami akhirnya sampai di supermarket. Rian membelikan minuman dan makanan yang biasa ki pesan.
"Kenapa?" Tanyaku to the poin. Dari tadi cuman menatapku.
"Lo belum baca pesan gue?" Tanya Rian.
aku menghela nafas, "Gue lagi males buka chat, kenapa?" Tanyaku.
"Ibu Lo datang ke rumah mbak Jihan untung kakak gue pulang cepat" aku mengerutkan keningku bingung.
"Terus?"
"Ibumu bilang Lo udah gak ngajar les lagi,"
Deg!!
Dan benar...
Papa Tina dan kak Jihan mengechatku. sedangkan Pesan ibu tidak ada, hanya saja ada telfon yang tak terjawab dari ibu.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rian khawatir menatapku.
"Gue pulang" aku langsung bangkit dan berlari pergi dari sana menuju ke arah rumah.
***********
Rumah..
aku masuk ke rumah buru-buru..
"Bu." Panggilanku begitu sudah berdiri di depannya yang lagi nonton TV seperti biasanya.
"Ibu kenapa bilang ke mbak Jihan sama papanya Tina kalau Rara gak ngajar les lagi?" Tanyaku to the poin.
"Jawab dulu pertanyaan ibu. kamu kerja dimana? Dan kerja sebagai apa disana?" Tanya ibu dengan tatapan tajam dan agak berkaca-kaca.
Aku tersenyum miring mendengar pertanyaan ibu. 'Secepat ini?' batinku.
"Perusahaan group AR" jawabku tegas.
"Sebagai?" Tanya ibu.
"Ibu gak perlu tahu..—"
"IBU PERLU DAN HARUS TAHU! Apakah anaknya jadi staff atau jadi tukang bersih-bersih disana?" Kata ibu ngegas. Aku kaget.. sangat.
"Tukang bersih-bersih" kataku. Ibu terlihat kaget disana.
"Anakmu ini jadi tukang bersih-bersih di perusahaan group AR." Ulangku dengan tegas.
__ADS_1
"Juara satu olimpiade matematika, juara satu lomba IPA, lulusan dari sekolah negeri favorit. Sekarang bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Bikin malu! Besok resign, ibu gak mau tahu" ucap tegas dan sedikit meninggi.
"Kalau begitu, Rara juga akan memutuskan hubungan dengan fajar."
"Apa? Kamu mengancam ibu? Berani sekali kamu!" Maki ibu marah sampai wajahnya memerah.
Aku mencoba untuk tetap tenang, "bukan ancam, tapi impas" kataku.
"Tidak akan! Kamu akan tetap menikah dengan fajar, suka atau tidak suka hubungan ini tetap berlanjut" kata ibu.
"Dosa apa ibu sampai diberikan anak sepertimu?" langsung membuat hatiku tertusuk dan sakit.
"Memangnya Rara mau dilahirkan oleh ibu," sanggahku. Sungguh aku sudah tidak tahan ini. Aku berlari masuk ke kamarku dan tak lupa untuk menguncinya.
Ku rabahkan diriku di kasur. Menatap langit kamar menetralkan diri untuk tidak menangis.
"Cowok anj*Ng!" Makiku kesal.
**************
Pukul 4 subuh...
Semua masih tertidur pulas, aku malah berangkat kerja. Untung ada ojek online masih ada yang mau Anter.
Kami sudah sampai di tempat group AR.
"Ini pak," kataku memberikan uang kepada bang ojol.
"Terima kasih neng," ucap bang ojol setelah menerima uangku kemudian pergi.
"Loh.. zera? Kok berangkatnya pagi buta" kata pak satpam yang ternyata juga baru datang.
"Memang gak boleh ya pak?" Tanyaku balik.
"Boleh, bentar saya buka pintu kantornya" kata pak satpam berjalan ke arah pintu untuk membuka kantor.
Ceklekk..
Pintu terbuka, "silahkan masuk," ujar pak satpam mempersilahkan diriku untuk masuk. Aku pun masuk bersamanya.
"Sudah makan?" Tanya pak satpam di tengah perjalanan kami.
"Hehe belum pak,"
Pak satpam itu membuka tasnya, mengeluarkan kotak bekalnya lalu memberikannya padaku.
"Sarapan dulu," ucapnya.
"Maaf pak, nanti bapak makan apa kalau bekalnya kasih ke saya" tolakku halus. Namun pak satpam yang bernama pak Joyo itu tetap memaksa.
"Saya bawa dua kok," kata beliau. Pak Joyo ini orang yang mengantarkanku pertama kali masuk ke dalam kantor ini.
"Ya sudah bapak mau ke ruangan bapak, jangan lupa dimakan ya.."kata beliau lalu pergi ke arah yang berbeda denganku.
"Terima kasih pak" seruku. Beliau tersenyum dari jauh. Aku berjalan ke ruangan pantry lalu masuk ke dalam.
Ku taruk bekal yang diberikan pak Joyo tadi di meja lalu aku berjalan ke loker untuk berganti baju.
Setelah ganti baju aku pun duduk di sana lalu membuka bekal dari pak Joyo. Nasi goreng kecap dengan telur mata sapi. Aku tersenyum pasalnya makanan favoritku. Makanan yang menginginkanku pada masakan ayah.
Memberikanku bekal untuk dimakan saat sekolah. Sebab waktu itu ayahku takut dengan alergiku kalau aku makan sembarang bisa merah-merah badan. Jadi tiap hari makanannya nasi goreng kecap telur aja.
Ku ambil sendok disana lalu memakan nasi goreng itu.
Deg!!
Aku terkejut. Sangat. Rasanya sangat sama dengan nasi goreng buatan ayah.
"B.. bagaimana bisa?" Ucapku terkejut. Ku makanan lagi nasi goreng itu dengan lahap.
Tes.. tes..
Air mataku mengalir membasahi pipi. Aku menangis sambil makan. Mendadak aku merindukan ayah. Sangat merindukannya.
"Terima kasih makananya hiks.. ayah.." gumanku pelan disela tangisku sambil makan.
bersambung....
jangan lupa untuk vote, like, subscribe, dan komentar... kasih bunga juga gpp.. hehehe..
__ADS_1
terima kasih dan selamat membaca..
salam AD