BERPIHAK SIAPA

BERPIHAK SIAPA
8 : tolak


__ADS_3

"Maaf bunda agak telat— ah ini Zera?" Ujar menunjukku.


Aku berdiri, "Iya benar, silahkan duduk Tante" kataku sambil mempersilahkan duduk.


"Terima kasih, nak" katanya begitu duduk. Kemudian aku duduk.


"Kalian bisa bicara dulu, aku ingin memesan minuman lagi" kata fajar lalu beranjak pergi. Kini tinggal aku bersama dengan ibunya.


"Maaf ya nak tadi bunda agak telat datang," kata bundanya fajar merasa tak enak kepadaku.


"Tidak masalah Tante, saya juga baru sampai" kataku. Dia menatapku sambil tersenyum senang.


"Akhirnya bunda bisa bertemu langsung dengan kamu, seharusnya bunda datang ke acara nenek kamu tapi bunda dan urusan penting. Jadi fajar yang mewakilkan. Ternyata kalau di lihat langsung jauh berbeda" ucapnya pandangannya sampai tak lepas dariku.


"Maaf, tapi bukannya Tante hanya diceritakan saja oleh nenek saya..?" Tanyaku. Ibunya fajar menggelengkan kepalanya sambil menunjuk fotoku di ponselnya.


"Nenek kamu yang mengirimkan foto kepada bunda. Omong-omong panggilan bunda saja ya.. kan sebentar lagi kamu jadi menantu bunda" katanya.


'Maaf Tante, seperti itu tak terjadi' batinku cemas. Aku tertawa kecil untuk menanggapi. Tawa pengen nangis sih.


Tak lama fajar datang membawa minuman untuk ibunya kemudian dia duduk kembali.


"Bunda sudah tahu mengenai dirimu, tentang umurmu dan keseharianmu dirumah. Nenek kamu itu menceritakan semua hal. Jadi... Apa kamu sudah tahu tentang fajar?" Tanyanya dengan nada sedikit menggoda. Mana alisnya naik turun.


"Ma..maaf Tante, saya belum tahu. Hehe.." kataku canggung.


"Tidak masalah, bunda akan ceritakan semuanya mengenai fajar..— jadi fajar ini umurnya 26 tahun singel, kerjanya adalah direktur yang menggantikan papanya, dia ini tidak suka merokok, kalau habis pulang kerja langsung pulang gak kemana-mana, lalu masakan..—"


"Bunda ini memperkenalkan anaknya atau malah mempromosikan anaknya" potong fajar. Bundanya tertawa tanpa dosa. Aku pun juga ikut tertawa. Pura-pura lah.


"Tapi Tante.. eh maaf bunda, fajar ini kan direktur. Apa tidak masalah semisal menikah dengan perempuan seperti saya? Maksud saya.. jika diluaran sana ada yang lebih baik kenapa harus saya yang serba kekurangan ini" tanyaku.


Ibunya fajar menggenggam tanganku dan Suasana mendadak menjadi hangat.


"Ini soal hati nak, sulit untuk bunda jelaskan. Memang banyak yang diluaran sana yang lebih menarik, tapi saat melihat foto kamu tiba-tiba hati bunda tergerak. Untuk itu.. kapan kira-kira kalian akan segera melaksanakan pernikahan?"


"Bunda.." tegur fajar melihat sikap ibunya yang terus menggodaku.


"Maaf-maaf.. siapa tahu Zera langsung mau, kan?"


Aku menatap fajar sekilas dan menatap ke ibunya, entah tiba-tiba mendengar perkataan ibunya fajar mendadak hati dan pikiranku berperang.


"Baiklah, bunda pergi dulu. Kalian bisa berbicara berdua lebih luasa." Bunda fajar berdiri untuk bersiap pergi. Aku pun dan fajar ikut berdiri.


Bunda fajar memelukku sebelum pergi,


"Jika kamu menikah dengan fajar nanti, Bunda adalah ibumu ya, Nak!" Bisiknya setelah itu melepaskan pelukannya. Fajar menyalimi bundanya lalu aku dan setelah itu bunda fajar pergi meninggalkan kami berdua lagi.


Akhirnya aku bisa bernafas lega dan aku tak sengaja fajar tersenyum bahagia melihatku.


"Kenapa Anda terlihat bahagia?" Tanyaku datar.


"Saya kira bakal kacau saat kamu bilang tadi menolak saya." Katanya.


"Jika anda berbicara baik dengan keluarga saya maka saya akan membalas dengan baik." kataku. Fajar hanya menunduk kepala, entah apa yang dipikirkannya.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Kata fajar mendadak serius. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Apa kamu sudah memiliki kekasih? Pacar?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, kenapa?" Tanyaku balik. Dia tersenyum tersirat seperti ada sesuatu.


"Kalau begitu, apakah aku boleh mencoba kesempatan itu? setidaknya kita jalani dulu pelan-pelan," Katanya menatapku dengan tatapan berharap.


Aku tersenyum sinis, "Bukankah saya menolak anda dari awal tadi, untuk apa anda mencoba kalau hasilnya bakal sama. Itu akan membuang-buang waktu anda" kataku.


"Aku yakin pasti akan berubah, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Untuk itu beri aku kesempatan," mohonnya.


"kenapa anda begitu menginginkan hubungan ini?"


"Begini umurku sudah 26 tahun, kerja dan semuanya sudah aku penuhi. Hanya seorang istri yang belum. Keluargaku juga ingin aku segera menikah dan memiliki keturunan. Terkadang aku iri dengan teman rekan kerja yang sudah berumah tangga, memiliki anak yang lucu-lucu. Dan ya.. umurmu yang sudah cukup untuk menikah, bukankah kita sama" jelasnya. Aku tertawa kecil. Sungguh aku baru pertama kali bertemu dengan seorang direktur seperti dia.


"Sepertinya anda harus belajar lagi pak direktur yang terhormat. Saya minta maaf.. saya tidak bisa memberikan kesempatan kepada anda, karena jawaban anda itu salah besar. Saya akan berikan saran juga kepada anda. Setahu saya, direktur yang rata-rata umurnya sama dengan anda. Mereka hanya fokus berkerja dari pada sibuk melihat kehidupan rumah tangga rekan kerjanya. Anda ini sangat polos" jelasku. Dia tertawa kecewa.


"seperti sudah jelas, maaf jika ini membuang-buang waktu anda. Saya pamit" pamitku mengakhiri percakapan ini.


"Biar saya antar," tawarnya begitu aku bangkit duduk.


Ting!


Pesan masuk dari ponselku. Segera ku buka pesan itu dan ternyata dari Rian.


Rian : Lo dimana? Bukankah ini tempat kerja Lo?


Dia mengirim pesan sambil memberikan foto perusahaan milik pak Arlen. Segera ku balas dengan mengirimkan sebuah lokasiku saat ini.


"Terima kasih tawarannya tapi saya dijemput sahabat saya. Maaf.." kataku lalu meninggalkannya.


Ting!


Rian : tunggu 5 menit gue akan sampai.


**********


Warung mie ayam...


Rian akhirnya menjemputku dan membawaku ke tempat tongkrongan yang biasanya kami kunjungi saat SMA.


Mie ayam Budhe nur yang selalu ramai setiap saat. Kami berdua sering banget kesini, sangking seringnya setiap datang di kasih tempat duduk khusus porsi mie ayamnya juga khusus.


"Dasar bodoh" Ujar Rian saat ku ceritakan masalah hari ini yang menimpaku.


"Siapa? Gue?" Tanyaku memastikan.


"Lo dan dia,"


"Lo kok gue juga sih?" Gerutku tak terima.


"Lo kalau nolak langsung ke ibunya biar cepat kelar dan dia juga bodoh sekali jadi cowok mau-maunya dijodohin model cewek begini"


"Sembarangan kalau omong! Gue gak enak nolak langsung melihat respon ibunya kek gitu."


Tak lama mie ayam pesan kami berdua datang.


"Ayam gak ada nih?" Kataku melihat porsi mie ayam ku yang polos hanya ada pentol sebagai pengganti ayam.


"Mau ayam? Nanti gatel-gatel jangan nyalahin gue" omel Rian mengalahkan ibu Dewi. Emak gue.


"Iya tahu, gak usah di ingetin" decakku kesal. Ku tuang saos dan sambel sebagai pelengkap mie ayamku. Setelah itu ku aduk hingga merata dan hap!. Memakannya.

__ADS_1


Sruppp!!


Ku seruput mie itu bodoh amat dengan cipratan saosnya. Sangking enaknya.


"Pelan-pelan kalau makan, liat baju lo ini astaga.." Rian mengambil tisu lalu membersihkan noda saos di bajuku.


Rian begitu. Selalu mengalahkan ibu Dewi. Emak gue.


"Maaf mami Rian," godaku.


"Ngejar les Lo gimana? Masih lanjut?" Tanya Rian.


Plak!!


Ku tepuk jidatku. "Iya njir lupa gue? Kasih saran bos" kataku lalu lanjut makan.


"Lo harus berhenti ngajar"


Langsung ku hentikan makanku dan ku tatap tajam Rian, "Gak bisa! Mengajar itu sudah hidup gue" kataku ngegas.


Rian menghela nafasnya, "Lo yakin? Kerja cleaning servis itu banyak menguras tenaga" kata Rian.


"Bener juga, tapi sayang banget gue harus berhenti ngajar." Kataku memelas.


Rian berfikir sejenak, "Lo kan ngajar cuman dua orang, si Tina sama si kembar. Tapi Lo harus pilih salah satunya."


"Itu sama saja! Mereka itu penghiburku dikalahkan lelah, letih, lesuh, loyo, dan lemah"


"Ya sudah, gabung saja jam ngajarnya. Lo sanggup?"


"Sanggup sih..—" aku berfikir sejenak, "Tapi ngajar dimana? Si Tina bisa aja ke rumah gue, si kembar gimana? Gak mungkin kan Lo datang ke rumah gue" lanjutku. Rian mengangguk paham.


"Gak ada saran lain kecuali pilih salah satu atau ngajar di rumah kembar dan Tina. Itu tergantung Tina, mau atau tidak. Kalau si kembar bebas.. gue bisa antar"


Aku mengangguk paham dengan saran Rian. "Nanti gue coba buat omong sama orang tuanya Tina dan kakak Lo" kataku melanjutkan makan lagi.


**********


Di rumah...


"Ah.. leganya" ujarku mendudukkan diri di sofa yang empuk. Ku lirik sekilas jam didinding yang menunjukkan pukul 1 siang. Cukup lelah tapi lega.


Beban perjodohan hampir hilang di pikiranku. Tinggal menunggu respon ibuku. Dan aku harap semua lancar dan aku bisa fokus pada pekerjaan baruku.


Omong-omong masalah perkerjaan, aku terima tawaran itu. Mungkin ini bakal sulit dilalui mengingat ibu negara tercinta yang gak bakal rela anaknya diperkerjakan sebagai cleaning servis. Meski begitu aku membutuhkan pekerjaan ini dengan beberapa alasan.


Yang pasti untuk penghasilan dan yang paling utama adalah agar aku mendapat alasan untuk menolak perjodohan ini.


Karena aku tidak berkerja aku dijodohkan, maka saat aku berkerja aku bisa menolak. Begitulah. Meski nanti aku akan berbohong masalah perkerjaanku. Tidak masalah asal tidak ketahuan saja.


Kalian pasti mengira. kenapa tak di terima padahal dia baik? Padahal kalian belum saling kenal. Kenapa tidak coba dulu?


Memang dia baik, kalian benar tak kenal maka tak sayang. Untuk coba? Perjodohan apalagi ini bakal langsung ke jenjang menikah. Sorry.. itu bukan lagi coba. Itu harus memikirkan hal yang sudah benar-benar matang dan serius.


Aku hanya tidak mau menyesal di kedepannya. Aku belum bisa memberikan apa-apa kepada ibuku. Ya memang dia berkata dia hanya ingin aku menikah. Tapi.. perkataannya itu tidak dari hati. Matanya saat ku liat seolah tidak rela. Aku tahu ibuku dan aku sangat mengenalnya.


Lupakan itu dan fokus merangkai kata untuk melaporkan kejadian ini kepada ibu negara tercinta. Semoga tidak perang hari ini. Dan kedepannya.


Bersambung...

__ADS_1


next gak?!!! like dulu dong hehehe..


__ADS_2