
kediaman rumah zera.. pukul 21.13 malam.
Ceklek!
"Zera pulang" seruku lesuh begitu masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah sofa yang dimana ada ibuku yang sedang menonton TV.
"Leganya.." guman ku sambil duduk santai di sofa. Nyaman sekali. Jujur saja semua tulangku rontok, padahal hari ini masih hari pertama kerjaku.
"Kenapa chat fajar gak kamu bales?" Tanya ibu serius tapi tatapannya melihat TV.
'Si tukang ngadu' batinku.
Aku bangkit dari dudukku, "Rara mau tidur" pamitku lalu berjalan ke arah kamar. Malas menanggapi pertanyaan ibu.
"Ra..—"
"Apa?! Aku capek Bu," bentakku kesal.
Blam!!
Sangking kesalnya ku tutup pintu kamarku dengan keras. Ku usap wajahku sambil menghela nafas berat.
"Anak pulang kerja bukannya di sambut, di tawarin makan, malah ditanya begitu. aishh!"
Brak!!
Ku banting tas kecilku di ranjang lalu ku banting juga tubuhku yang remuk ini.
"Agkk!!" Teriakku kesal menatap dinding atap. Aku mulai stress.
************************
Keesokan harinya....
Jam menunjukkan pukul 6 pas. Sedangkan aku masih lari masuk ke kantor buru-buru. Hari ini aku bangun kesiangan, semua serba buru-buru. Sampai tak sempat makan.
"Pagi Bu Sri, pagi bang Kris.. Ah.. ha.." sapaku kepada Bu Sri dan Kris yang sudah mau siap-siap berkerja.
Aku langsung ke loker mengambil seragam dan bergegas ganti.
"Jangan buru-buru, Ra" kata halus Bu Sri melihatku yang buru-buru ganti baju.
"Lo kesambet apa sih?" Ujar kesal Kris melihatku.
Setelah berganti pakaian aku langsung berdiri bergabung dengan dua orang itu yang masih bengong.
"Maaf saya kesiangan, heheh" cingirku. Bu Sri tertawa kecil dan Rian menyingir bingung.
"Ngelawak nih anak, gue aja baru Dateng. udah ah..." ucap Kris lalu pergi untuk bertugas.
"Ayo.." suruh Bu Sri kepadaku. Dan kami berdua pergi untuk mengerjakan tugas kami..
**********************
Pukul jam 10 pagi. Semua orang berkerja sedangan untuk tim cleaning servis waktuku istirahat sebentar.
Ki selonjoran kepalaku ini dia atas meja menghadap ke arah ibu Sri yang lagi ngolesin balsem pinggangnya. Sedangkan Kris lagi makan di sebelah Bu Sri.
Kalau dilihat-lihat Bu Sri ini agak sama dengan ibu negaraku. Bodynya juga sama. Sayangnya Bu Sri gak pakai kerudung.
"Bu Sri punya anak ada berapa?" Tanyaku tiba-tiba. Bu Sri mendadak berhenti bergerak dan si Kris kaget. Wajah ibu Sri mendadak sedih. Di letakkannya balsem miliknya.
"L..Lo gak ada pertanyaan lain apa?" Ucap Kris sambil memberikan kode tidak ku mengerti.
"Ibu.. tidak memiliki anak" kata Bu Sri sedih. Seketika, ku angkat kepalaku.
"Maaf Bu.." kataku merasa tak enak.
"Tidak apa-apa," kata Bu Sri halus. Suasana mendadak hening, bahkan si Kris juga tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku pun juga.
"Meski ibu tak memiliki anak tapi ibu masih memiliki suami yang sangat sayang kepada ibu. Menerima semua kekurangan ibu ini yang tak bisa memberikan anak. Ibu sangat bersyukur mendapatkan suami seperti dia" Lanjut katanya. Aku tersenyum menanggapinya. Perkataannya itu menandakan sangat jelas bahwa beliau sangat bahagia.
Brak!!
__ADS_1
Kami bertiga kaget dan langsung menatap ke arah pintu. Yang ternyata Bu jiya tengah berdiri di ambang pintu sambil ngos-ngosan.
"Tolong!! Di ruangan pak Arlen ada serangga!!" Seru Bu jiya panik.
Kris langsung berdiri panik, "Baik Bu saya akan ke san—".
"Tidak! Ayo Zera kita kesana" ujar Bu Sri. Aku mengangguk paham.
Bu jiya, Bu sri dan aku. Kami bertiga langsung bergegas ke ruangan pak Arlen.
*****************
Sudah sepuluh menit Bu Sri dan aku mencari seekor kecoa di berbagai sudut ruangan itu.
"Bapak tadi melihat kecoanya pergi ke arah mana?" Tanyaku yang mulai frustasi karena tidak menemukan kecoanya.
"Di daerahmu berdiri, kamu itu bisa cari atau tidak?! Cari yang betul!" Sentak pak Arlen dia terlihat panik. Aku sungguh tak percaya. Pak Arlen ternyata takut dengan kecoa. Dan tahu dimana beliau sekarang. Ya, beliau naik ke atas meja kerjanya sambil ngomel-ngomel sama kecoa yang belum ketemu keberadaannya.
"Itu kecoanya!" Teriak Bu jiya menunjuk kearah bawah kakiku.
"Akhh!! Serangga si*lan! Pergi-pergi! Huss.. hus...!"
Hap!!
Sekali tangkap langsung dapat lalu ku buang di sampah. Bu jiya dan pak Arlen mulai lega.
"Akhirnya.." guman lega pak Arlen.
"Pak turun pak" kataku kepada pak Arlen. Beliau langsung turun dari meja dan duduk di kursinya.
"Siapa yang membersihkan ruangan ini?" Tanya pak Arlen. Entah itu di tujukan kepada siapa.
"Saya pak," jawab Bu Sri sambil menundukkan kepalanya dengan wajah penuh keringat dan pucat. Pasti pinggangnya sakit.
Brak!!
"Dasar tidak becus! Mulai besok kamu tidak usah berkerja lagi disini" seru pak Arlen emosi.
'tunggu? Pecat?' batinku kaget.
"Teliti?! Kalau teliti kenapa bisa ada kecoa diruangan ini?!" Potongnya marah.
Aku kaget. Ternyata sifat pak Arlen seperti ini. Tak disangka.
"Bapak jangan seenaknya pecat orang dong! cuman karena seekor kecoa. Gak adil ini pak!" Kataku tak terima. Sangat jelas tak terima. Bu Sri ini sudah berapa tahun mengabdi kerja disini? Cuman karena kecoa beliau dipecat. Kecoa. Astaga..
"Kamu baru kerja disini sudah berani membentak saya! Itu kecoa! Binatang paling saya benci dan kamu bilang itu cuman! Astaga.. kamu mau saya pecat juga?"
"Saya rela pak dipecat! Biar Bu Sri tetap berkerja disini. Asal bapak tahu Bu Sri itu pinggangnya sakit. Dia mati-matian tahan rasa sakit itu biar bisa menemukan kecoanya. Dan bapak dengan enaknya pecat dia karena kesalahan yang bukan berasal darinya. Dasar tidak punya hati nurani" kataku.
"Siapa yang tidak punya hati?" Seru seorang wanita di belakangku.
'sepertinya suara ini tidak asing?' batinku.
"Bu indah!" Pakih kaget Bu jiya.
Deg!!
'mampus!! Ibunya datang!'..
Glekk!!
Aku menekan air ludahku.
**************
"Oh jadi begitu ceritanya.." ujar Bu indah selaku orang tua dari pak Arlen. Wanita yang pernah ku tolong dari pencopetan.
Seperti biasanya. Anggun dan cantik.
Bu jiya selaku sekertaris menjelaskan semua kejadian seekor kecoa tadi. Dan respon beliau. tertawa.
"Maafkan anak itu, dia memang penakut soal serangga. Bu Sri besok dan seterusnya tetap berkerja namun untuk Zera. Maaf.. kamu harus berhenti kerja" jelas Tante indah.
__ADS_1
Mendengar itu aku pasrah. Ya, tidak masalah.. mungkin bukan rezeki.
"Bu Sri dan Bu jiya bisa tinggalkan saya dengan Zera, kalian boleh berkerja lagi" kata Bu indah. Bu Sri dan Bu jiya langsung berdiri dan pergi meninggalkan kami berdua.
"Bagaimana kabar kamu? Sudah membaik lukanya?" Tanya Bu indah.
"Alhamdulillah Baik Tante, lukanya sudah membaik" jawabku.
"Syukurlah, Tante sempat marah sama Arlen masalah perkerjaan kamu ini. Seharusnya Tante menyuruh Arlen untuk memperkerjakan kamu yang gak berat-berat, Malah dia memperkerjakan kamu sebagai cleaning servis. Tante merasa bersalah banget" kata bu indah.
"S..saya tidak apa-apa kok Tante. Buktinya saya baik, luka saya juga gak kenapa-kenapa. Mungkin pak Arlen memposisikan saya yang sesuai dengan pendidikan saya." Kataku.
Tante Indah hanya tersenyum memandangku, entah apa yang dia pikirkannya.
"Omong-omong kamu kenal Risa? anaknya Surya?"
"Iyha kenal Tante! Risa sahabat saya kalau om Surya itu sahabat almarhum ayah saya. Tante siapanya om Surya?" kataku antusias.
"Tante adiknya om Surya, Almarhum? Ayah kamu..–" kata Tante Indah menjeda ucapannya. Aku keceplosan.
"Ayah saya sudah meninggal sejak saya kecil," kataku. Tante indah diam sambil membelai pipiku.
"Ayah kamu pasti sangat bangga punya anak seperti kamu. Om Surya sudah menceritakan semua kepada Tante."
"Ah jadi seperti itu," tanggapku.
"Zera.."
"Iyah Tante,"
"Mulai besok kamu saya perkerjaan sebagai asis—"
"Tidak bisa! Zera akan tetap bekerja disini!" Potong pak Arlen tiba-tiba muncul di belakangku.
"Kamu sudah memecatnya jadi mama berhak atas Zera" kata Tante indah ngotot.
"Tetap tidak bisa, dia harus tetap kerja disini minimal tiga bulan. Bagaimana?" Ujar pak Arlen.
"Satu bulan" tawar Tante indah. Pak Arlen diam sejenak.
"Deal, Zera kembali bekerja" suruh pak Arlen. Aku langsung bangkit dan berpamitan sebelum pergi meninggalkan anak dan ibu disana.
Tapi radak aneh. Aku seperti barang yang ditawarkan. Bodohlah.. yang penting kerja dapat uang.
Hehe.. yukk semangat!
*****************
Pukul 18.11 pm.
Jam kerja telah selesai, semua karyawan sudah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu. Aku, Bu Sri, dan Kris baru pulang karena harus bersih-bersih dulu.
"Naik apa kamu, Ra?" Tanya Bu Sri di perjalanan menuju pintu keluar kantor.
"Naik ojol Bu," jawabku.
"Ya sudah hati-hati ya kamu," ujarnya begitu kami sudah keluar dari kantor. Aku mengangguk. Bu Sri berjalan ke arah suaminya yang menjemputnya disana.
Ku buka ponselku dan ternyata. Banyak sekali pesan masuk dan tahu dari siapa. Fajar. Manusia satu itu. Astaga..
Ku baca semua pesannya sampai di akhir yang bertuliskan.
Fajar : ayo kita bertemu, aku ingin sekali mengajakmu berkencan. Sekali saja. Katanya kamu pengen membuka hati untukku. Maka dari itu terimalah ajakkan ku ini.
Fajar : kamu sudah pulang kerja? Kirim alamatnya biar aku jemput kamu.
Aku menghela nafasku, 'pasti ibu' batinku.
Me : Kencan dimana?
Setelah mengirimkan pesan untuk fajar kini aku berahli ke nomor papanya Tina. Untuk memberitahu bahwa les sementara diliburkan dengan alasan lembur kerja. Bohong. Dan ku kirimkan juga kepada mbak Jihan selaku bocil kembar.
Tak lama pesan fajar masuk dengan memberikan lokasi kencan pertama kami.
__ADS_1
Me : Saya segera kesana.
Bersambung...