BERPIHAK SIAPA

BERPIHAK SIAPA
13 : perang!


__ADS_3

"Apa?! Dijodohkan?!" Sentak Bu indah kaget. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Wah, tapi apa alasannya? Umur kamu masih terbilang masih muda?".


"Namanya juga orang tua Tante gak mau anaknya salah jodoh. Mungkin menurut orang tua saya dia baik dan bisa membahagiakan saya kelak." Kataku agak sedih.


"Benar juga. Fajar juga orangnya sudah mapan, apalagi keluarganya. Tapi bagaimana dengan kamu? Ah.. pasti kamu suka dengan fajar, kalau tidak mana mungkin kamu datang kesini. Iya kan?" Aku tersenyum sedih menanggapi pertanyaan Bu indah.


"Kenapa kamu sedih? Perkataan Tante ada yang salah ya?" Ujar Bu indah tak enak hati saat dia melihat reaksiku.


"Tidak-tidak" senggahku langsung.


Drrttt... Drrttt....


Ponselku berdering menandakan kalau ada yang telfon. Saat ku liat. Ternyata fajar dan segera ku angkat telfon itu.


"Iya?" Kataku.


"Kamu dimana?" Tanya fajar terdengar agak panik.


"Apa acaranya sudah selesai?" Tanyaku.


"Apa kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ku lebih dulu?!" Bentaknya di telfon. Sampai Bu indah juga kaget.


"Saya di bar cafe hotel" jawabku.


"Tunggu disana" setelah itu fajar menutup telfonnya sepihak.


"Keras juga suaranya fajar, apa dia akan kesini?" Tanya Bu indah.


"Iya, dia akan kesini" jawabku.


"Zera!" Tak lama seruan dari suara fajar terdengar di bar cafe itu. Aku dan Bu indah lalu berdiri dari duduk. Fajar berjalan ke arahku.


"Ternyata disini? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya fajar heran begitu dia ada di sampingku.


Deg!


'mampus! Gue lupa omong ke Bu indah untuk merahasiakan pekerjaan gue dari makhluk ini. sial... Semoga Bu indah gak omongin masalah kerjaan gue. Bisa-bisa makhluk ini ngadu ke ibu gue terus gue di suruh berhenti kerja.' batinku cemas dan berharap.


"Cuman membicarakan sesuatu hal" ucap Bu indah langsung membuat ku bernafas lega.


"Apa kalian membicarakan tentang pelayan yang membuat gaun calon istri saya rusak?" Tanya fajar dengan nada songongnya. Bu indah sambil tertawa kecil.


"Iya, kami membicarakan itu" jawab Bu indah ramah.


"Bagus, Saya harap anda memecatnya" kata fajar tegas.


"Jangan Bu! Itu bukan kesalahannya, dia malah menolong saya" senggahku langsung. Fajar menatapku jengkel.


"Apa-apaan kamu?! Kenapa kamu malah membela pelayan itu yang sudah jelas salah!" Bentak fajar.


Aku menghela nafas berat, "saya sudah jelaskan semua yang terjadi pada Bu indah. Pelayan itu tidak salah" Kataku mencoba untuk tetap tenang.


"Benar, zera sudah menjelaskannya pada saya.", Tanggal Bu indah.


"Kamu pakai baju siapa?" Tanya fajar menelitiku dari bawah ke atas.


"Baju saya lebih tepatnya baju anak saya arlen yang kebetulan ada di mobil. Jadi saya berikan ke zera, untung saja pas", jelas Bu indah.


'ini baju pak Arlen! Pantas saja kok kayak baju cowok' batinku kaget.

__ADS_1


"Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" Tanya fajar terlihat murung.


"Sudah, kami sudah selesai" kata Bu indah. Dan tiba-tiba saja fajar langsung menggeretku pergi tanpa berkata apapun.


Keluar dari bar cafe hotel itu, berjalan tergesa-gesa sampai aku hampir jatuh karena tak bisa mengimbangi.


"Lepas sakit!" Rintihku sambil memberontak tapi cengkraman tangannya sangat kuat hingga tak aku tak bisa melepaskannya.


Dia berhenti disalah satu pintu kamar sana, membuka pintu itu dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.


Akhirnya Fajar melepaskan genggamannya. Ku liat tanganku memerah akibat cengkramannya.


"Berikan" kata fajar. Tapi bukan berbicara kepadaku melainkan kepada seorang disana bersama kami.


Saat ku toleh ternyata Stela tengah berdiri disana. Melemparkan baju ke arah fajar dan fajar memberikanku.


"Ganti bajumu dengan ini, kita masih ada pertemuan dengan keluargaku" perintah fajar.


Aku Mengambil baju itu dan membuangnya lagi ke lantai. Kedua orang itu kaget atas tindakan ku.


"Zera!" Teriak marah fajar kepadaku.


"Saya mau pulang..—" baru hendak berbalik fajar menahan ku dengan mencengkram bahuku. Dan itu lumayan sakit.


Ku pegang tangannya yang memegang bahuku dan..


Bruk..!!


Ku sikut perutnya hingga dia mundur kesakitan menahan perutnya. Stela. Cewek itu langsung sigap membantu fajar yang tengah merintih.


"Lemah" kataku singkat lalu keluar dari kamar hotel itu. Ku buka ponselku dan segera ku telfon salah satu nomor kontak sahabatku. Rian.


"Lo dimana?" Tanya gue begitu telfonku tersambung ke Rian.


"Sibuk?"


"Tidak"


Segera ku kirim lokasi tempat dimana aku sekarang tanpa menutup telfonku.


"Jemput gue, sekarang" ucapku lalu memutuskan telfonku sepihak. Dan bergegas keluar dari hotel ini.


*******************


Mini market...


"Alhamdulillah, kenyang.." ucapku setelah selesai makan makanan di minimarket biasanya. Dengan di temani Rian. Sekalian di traktir. Heheh.. ya.. meski dia sedari tadi cuman melotot ke arah tangan gue yang merah bekas cengkraman cowok brengs*k tadi.


Drrtt... Drrttt...


Drrttt.... Drrttt...


Entahlah sudah berapa kali ibu mencoba untuk menelfonku. Pasti si fajar brengs*k itu mengadu. Auto sampai rumah perang lagi sama ibu negara tercinta.


"Mau sampai kapan Lo berhenti melototi tangan gue? Udahlah gue juga udah balas dia" kataku.


Rian menghela nafas kasar, "Lo sudah selesai kan? Sana pulang" usirnya datar.


"iya ini gue mau pulang, bye.." kataku kesal. Bangkit dan berjalan keluar dari mini market itu. Berjalan sendiri seperti biasanya menuju ke arah jalan rumah.


Drrt.... Drrtt...

__ADS_1


Mana telfon dari dari bunyi muluk. Dengan kesal ku angkat panggilan itu.


"DIMANA KAMU?!" Seketika suara menggelegar dari ibu tercinta.


"Ini mau pulang"


"BAGUS, CEPAT PULANG! KALAU GAK IBU BUANG BAJU KAMU"


Tutt.. tutt...


Aku hanya menghela nafas panjang, "kan bakal perang lagi nih, awas aja Lo fajar brengs*k! Gue doain kita putus" gerutuku marah. Dan bergegas berlari. Takut bajuku keburu di buang.


*******************


Di rumah...


Dan benar peperangan terjadi. Antara aku dan ibu negara tercinta.


"Ibu kan sudah bilang! Jangan bertingkah aneh-aneh cukup kamu diam dan menurut! Kelakukanmu itu bikin ibu pusing" Teriak ibu marah. Dan aku hanya diam dan mendengar.


Kondisi sudah cukup tenang, ibu sudah berhenti ngomel-ngomel dan kini waktuku untuk omong.


"Rara gak bakalan ngelakuin ini kalau dia bisa jaga sikap bu," kataku tenang.


"Masih nyalain fajar! Dia itu malah melindungi kamu, bela kamu! Memang dasarnya kamu gak suka aja sama fajar jadi nilai fajar negatif terus" kata ibu marah.


"Padahal dia itu baik sama kamu dari pada temen kamu rian-rian itu yang hampir bunuh anak orang." Lanjut katanya.


Aku tersinggung, "Ibu ini setiap kita berbicara soal fajar kenapa bawa-bawa Rian?!" kataku agak ngegas.


"Biar kamu tahu mana yang buruk mana yang baik?! Jika sudah begini ibu malu Ra sama ibunya fajar. Masak belum-belum anaknya di hajar di permalukan seperti itu. Kamu ini nggak ngerti ibu apa gimana sih?!"


"Ngertiin ibu?! Rara gak kurang-kurang nurut sama ibu. Apapun yang ibu mau Rara turutin. Dan ibu masih bilang Rara nggak ngerti perasaan ibu?!..—" aku menjeda perkataannya. Menatap ibu kecewa.


"Ibu benar Rara memang gak suka sama fajar. Tapi Rara tetap ngelakuin semua ini itu demi siapa? Demi ibu. Demi ibu gak dihina sama orang, biar ibu bahagia liat anaknya nikah. Semua itu demi ibu." Lanjutku. Mataku sudah mulai berkaca-kaca.


"Sekarang Rara tanya. Apa ibu pernah ngerti Rara?" Tanyaku sedih. Ibu hanya diam menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Enggak kan? Asal ibu tahu, ibu itu sangat berubah sejak nenek datang kesini. Kita berdua dulu hampir tak pernah bertengkar, tapi sekarang akhir-akhir ini kita selalu bertengkar hanya masalah fajar dan fajar!! Liat ini.." ku tunjukkan bekas cengkraman fajar yang ada di tanganku. Ibu terlihat kaget saat melihat bekas cengkraman itu yang masih merah.


"Bagaimana rara bisa diam dan menurut kalau dia kasar? Ini baru pacaran bagaimana kalau nanti aku menikah dengan dia? Apakah aku bahagia seperti kata ibu dan nenek?"


"Kamu tidak sedang berbohong kan?" Kata ibu yang masih tak percaya.


Aku hanya bisa tertawa kecewa, "masih tak percaya? Terserah ibu mau percaya atau gak? Setidaknya Rara sudah berbicara jujur. Selamat malam.." setelah mengatakan itu aku langsung melesat ke kamarku. Menutup pintu kamar dan menguncinya.


Ku senderan tubuhku di pintu itu sambil menghembuskan nafas. Menetralkan emosiku sejenak.


Drrttt... Drrttt...


Ponselku berdering. Setelah ku liat ternyata fajar. Langsung saja ku matikan ponselku dan ku masukkan dalam laci.


"Cowok breng*ek!" Makiku kesal.


Bersambung....


biar author semangat.. Jangan lupa like/vote/subscribe/share/kasih rating bintang/ dan komentar saran yang baik....


Terima kasih sudah mampir.. Jangan bosan-bosan..


See you next bab..

__ADS_1


Love love


__ADS_2