
Kediaman rumah zera...
Ku lihat sekilas penampilanku dikaca sebelum aku beranjak pergi. merasa sudah rapi aku pun keluar dari kamar.
Begitu keluar. Hening. Tak ada ibu dan sepertinya tidak ada sarapan kali ini. Aku hanya menghela nafas kasar.
Drrttt... Drrttt...
Ponselku berdering. Segera ku liat siapa yang menelfon. Ternyata nomor tak dikenal.
"Assalamualaikum zera?" Begitu panggilan ku angkat.
"Waailakumsalam, iya?" Kataku.
"Saya Bu Sri, hari ini kamu masuk kerja kan?"
"Ah.. Bu Sri, iya saya masuk kerja. Kenapa ya Bu?" Tanyaku heran.
"Hari ini saya ijin, tiba-tiba saya gak enak badan. Kamu tidak masalahkan kerjain tugasnya sendirian?"
"Tidak masalah kok, Bu Sri gak usah khawatir. Semoga lekas sembuh ya Bu"
"Amiinn, saya bisa minta tolong kamu?"
"Minta tolong apa Bu?"
"Begini, hari ini biasanya pak Arlen akan lembur. Jadi saya minta tolong kamu untuk tidak pulang cepat ya. Takutnya pak Arlen butuh apa-apa. Bisa kan zera?"
"Bisa bu," Jawabku tegas.
"Alhamdulillah, ya sudah ibu tutup dulu. Nanti kalau kamu bingung kamu bisa telfon Bu Sri".
"Iya Bu,"
Tuttt..
Sambungan terputus setelah Bu Sri menyampaikan salamnya.
"Sarapan gak ada, kerja lembur, uang gue tinggal 100k.. kalau hari ini gue habisin besok gue bangkrut. Sepertinya gue harus puasa.." dengan lesung aku berjalan ke pintu keluar.
"Semangat Ra.." gumanku menyemangati diri sendiri.
*************
Bubur ayam pak Soleh.
Tuhan memanglah maha pengertian dan segalanya. Hari ini aku tidak jadi puasa karena Rian mentraktirku.
"Yakin gak mau makan sini" kata Rian memastikan.
"Gue udah mau telat, yan" kataku. Satu bungkus bubur ayam di berikan kepada Rian.
"Ini gak pakai ayam kan pak?" Tanya Rian sambil memberikan uangnya.
"Sesuai mas, gak pakai ayam.. saya tambahin telurnya" kata si penjual. Setelah bayar membayar. Kami pun melanjutkan perjalan kami menuju tempat kerjaku.
10 menitan akhirnya kami sudah sampai di perusahaan A.R group. Aku turun dan melepaskan helm lalu memberikannya pada Rian.
"Nanti gue jemput" kata Rian.
"Hm.. gue kabarin kalau mau pulang" kataku. Rian mengangguk paham.
"Jangan lupa dimakan" kata Rian sambil menyalahkan mesin motornya. Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau ada apa-apa segera telfon gue" katanya lagi yang mau pergi.
__ADS_1
"Cerewet Lo" cibirku langsung pergi masuk ke kantor.
***************
Pantry kantor — pukul 01.25 Pm..
"Sumpah wajah Lo pucet atau Lo kelebihan pakai bedaknya?" Kata Kris melihatku duduk penuh keringat. Berat juga tugasnya Bu Sri selama ini. Bersihin kantor sebesar ini. Belum lagi kalau ada yang minta ini-itu. Kris mah enak.. sudah beres-beres istirahat. Staff kantor juga gak pernah nyuruh dia. Aneh sih?
Sangking sibuknya. Bubur yang tadi dibelikan Rian sampai gak ke makan. Ku ambil bubur yang dibelikan Rian tadi.
"Oh itu punya Lo? Aneh bener bubur ayam tapi gak pakai ayam" kata si Kris melihat buburku tanpa ayam.
"Alergi ayam," kataku lalu melahap bubur ayam itu.
"Kok hambar ya?" Kataku setelah merasakan bubur itu.
"Mungkin udah kelamaan, sini gue cicip dikit" kata Kris mencicipi bubur milikku.
"Enak kok," gumam Kris setelah mencicipi buburku.
"Nih makan aja kalau gitu," kataku menyerahkan bubur ayam itu kepada Kris.
"Terima kasih" kata Kris langsung melahap dengan senang bubur ayam itu. Ku ambil gelas dan ku isi dengan air putih. Setelah itu ku minum sampai habis.
"Lo punya alergi ayam, Lo sehari-hari makan lauk apa?" Tanya kris di sela makannya.
"Ikan, telur, tahu, tempe, daging.. kalau ikan dan daging tergantung. Yang lebih aman telur, tahu, sama tempe" jawabku.
"Emang Lo gak bosen makan itu muluk"
"Mau gimana lagi? Cuman itu aja yang bisa dimakan dari pada bentol-bentol sebadan malah bikin repot" Kris hanya mengangguk paham mendengar perkataanku.
Kring! Kring!
Telfon genggam berbunyi. Aku segera mengangkat.
"Zera, bisa ke ruangan pak Arlen sekarang" kata asisten pak Arlen.
"Baik Bu, saya kesana sekarang"
"Terima kasih"
"Sama-sama"
Tuttt.. tututt..
Ku letakkan kembali ganggang telfon itu dan bergegas pergi ke ruangan pak Arlen selaku CEO di perusahaan ini.
***********
Ruangan CEO..
"Permisi pak," kataku begitu masuk dengan sopan ke dalam ruangan pak Arlen yang dimana pak Arlen tidak sendirian. Dia sedang berdiri di hadapan bayi yang berumur 8 bulan.
"Bisa ganti popok dia?" Ujurnya sambil melihat bayi yang tengah tidur di kereta bayi.
"Bisa pak" kataku. Pak Arlen memberikan tas bayi kepadaku.
"Hari ini sementara kamu jadi baby sisternya,"
"Maaf pak bukannya saya nolak, kalau staff butuh saya bagaimana pak?"
"Ada Kris kan? Kalau ada yang nyuruh kamu tolak bilang disuruh saya"
Aku mengangguk paham, "saya ijin permisi dulu pak, mau bawa bayinya ke toilet" pamitku dan membawa pergi bayi itu setelah dapat anggukan dari pak Arlen.
__ADS_1
***************
Pantry kantor...
"Lucu ya anaknya mbak Sandra ini" ucap kagum Kris melihat bayi itu yang sedang duduk di pangkuanku setelah ku gantikan popoknya. Malah sekarang gak mau di taruk di kereta bayinya.
"Mbak Sandra siapa?" Tanyaku heran.
"Mamanya bayi ini, mbak Sandra itu adik sepupunya pak Arlen. Tapi gue heran kenapa bayinya di titipkan disini?" Kata Kris.
"Emang biasanya gak pernah?" Tanyaku balik.
"Gak pernah," kata kris. Aku hanya mengangguk pelan.
Kring!! Kring!!
Kris bangkit untuk mengangkat telfon genggam tersebut. Setelah berbicara Kris menatapku.
"Lo disuruh ke pak Arlen, botol susunya dia ketinggalan di sana" kata Kris.
"Gue titip dia bentar ya..—"
"Bawalah, nanti dia nangis gue yang repot." Tolaknya. Aku menghela nafas berat dan pergi bersama bayi tersebut.
"Om kamu benar-benar bikin pusing, kenapa tadi gak sekalian ya kan? Pakai acara botol susu ketinggalan" Gumam ku bersama dengan bayi yang sedang gendong. Respon bayi itu hanya tersenyum. Lucu banget pengen bawa pulang.
Begitu sampai di ruangan pak Arlen. Aku masuk setelah mengetuk pintu.
"Kenapa seragam kerja kamu?" Tanya heran pak Arlen sambil memberikan botol susu. Info aja, seragamku tadi kenak pipisnya si bayi. Karena gak ada seragam cadangan jadi terpaksa aku pakai baju yang tadi aku pakai.
"bayinya tadi pipis dan gak sengaja kenak baju saya tadi. Maaf jika baju saya kurang sopan," kataku sopan.
"Dia sudah bersih?" Tanyanya melihat bayi di gendonganku.
"Sudah pak,"
"Beri dia susu dan tidurkan dia di sini" katanya.
"Baik pak,"
"Jam 4 sore mamanya akan datang kesini buat ambil dia. Kamu jangan keluar dari ruangan ini sampai mamanya datang atau gak saya balik kesini lagi. Butuh apa-apa telfon Kris suruh dia kemari dengan catatan Kris boleh ke ruangan ini hanya membawa barang yang kami perlukan untuk bayi ini. Saya akan pantau lewat cctv" kata pak Arlen. Aku mengangguk paham.
"Bapak balik kesini jam berapa? Maaf jika saya lancang bertanya." Kataku hati-hati.
"Gak lama jam 3 an saya akan balik..—"
Brak!!
"Babe, kita jadi pergi kan?!" Tiba-tiba seorang wanita anggun masuk di ruangan pak Arlen tanpa mengetuk pintu.
"Lo!" Tunjuk wanita itu kaget melihat ku di sana. Sebaliknya begitu. Sosok wanita yang buat pesta di sana ricuh. Stela. Wanita itu sedang berdiri kaget menatapku.
"Kenapa dia disini babe?! Dan siapa bayi itu?!" Tanya heboh stela kepada pak Arlen.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu kemari lagi? Bukankah sudah jelas perkataanku kemarin." Tanya Arlen balik dengan datar.
"Babe! Fajar itu cuman sahabat aku. Asal kamu tahu calon istrinya fajar itu dia" seru stela sambil menunjuk kearah ku. Kini pak Arlen menatapku bingung.
Dan sialnya tiba-tiba aku jadi gugup seperti ketahuan selingkuh.
"Benar kan? Zera?" Sindir stela dengan senyuman iblisnya.
Bersambung...
mohon maaf lahir batin ya para pembaca setia ku. maaf kalau telat ngucapin dan telat juga updatenya.. maaf banget.. ya.. baru update. kemarin saya habis sakit. maaf banget ya.. insyaallah saya tetap update meski agak lama ya.. kalau aku lagi mood nanti aku update cepet..
__ADS_1
jangan lupa untuk dukung author ya.. biar tambah semangat ini.. terima kasih atas komentarnya yang membangun.. thanks for you all..
salam A/D.