
...***...
Rumah zera — 19.17 pm
Mataku masih menatap ke arah jam dinding di kamarnya sejak tadi. Aku melihat jarum jam terus berputar. Padahal sudah menunjukkan pukul tujuh malam tinggal menunggu fajar datang ke rumahku.
Seharusnya tadi aku berniat langsung pergi ke tempat tujuan. Berhubung fajar memberitahu kalau dia mengirimkan baju untuk aku kenakan jadi aku pulang lebih dulu.
Aku mematutkan diri di depan cermin lemari di kamar.
gaun putih dengan panjang selutut dan heels putih dengan tinggi yang tidak begitu tinggi, Rambut terurai rapi, make up yang sederhana. Itu semua melekat pada tubuhku. Dan lagi ini bukan diriku. Sangat bukan diriku. Rasanya tidak nyaman sekali.
"Cantik sekali anak ibu," seru ibu berdiri di ambang pintu kamar. Aku langsung berbalik ke arahnya.
"Ayo keluar fajar sudah menunggu" ucap lembut ibu lalu pergi meninggalkanku.
Ku ambil ponsel dan tas kecil yang biasa ku bawa. Mengecek sebentar isi tasku setelah itu aku keluar kamar.
Fajar langsung berdiri begitu aku keluar kamar. Dia diam sejenak menatapku.
"Ekhm.. jadi berangkat tidak?" Ujar ibu membuat fajar langsung salah tingkah.
"Jadi Bu, saya ijin membawa zera sebentar" ijin fajar.
"Iya, tolong jaga anak ibu jangan sampai lecet" kata ibu. Fajar mengangguk setuju. Menyalimi tangan ibu dan langsung pergi.
Aku menyalimi tangan ibu, "assalamualaikum" ucapku lesuh.
"Waalaikum salam, hati-hati dijalan ingat sampai disana kamu jangan omong aneh-aneh"
"Iya" sahutku lalu berjalan menyusul fajar.
****************
Hotel Arjuna..
"Kenapa bawa ke hotel?" Tanyaku begitu kami sampai ditujuan. Khawatir dan cemas.
"Hari ini ulang tahu kakekku yang di adakan disini. Beliau ingin bertemu denganmu," jelasnya. Panik. Sangat panik. Bahkan hawa dingin merasukiku.
"Kenapa tidak bilang dari awal?! Astaga.. bagaimana ini?" Kataku.
Fajar tertawa kecil, "Tenang, kakekku tidak makan manusia. Ayo keluar" ucapnya lalu keluar mobil.
'pala Lo santai!' batinku kesal. Lalu keluar mobilnya.
Kami memasuki hotel itu. Dan masuk ke arah lift yang kebetulan kosong. Aku mencoba untuk menetralkan diri.
Settt...
"Dingin sekali tanganmu" gumana fajar saat memegang tanganku. Kaget! Sungguh kaget!
't..tanganku! Cowok si*l!'..
Baru hendak ingin ku lepaskan. Pintu lift terbuka. Fajar membawaku keluar dari lift dan ramai sekali. Di lantai yang sekarang kami berdiri benar-benar ramai orang. Para wanita memakai gaun yang anggun dan cantik-cantik sedangkan para pria memakai stelan jas yang rapi. Sama halnya seperti fajar.
Ku eratkan genggaman tangannya, fajar menoleh kearahku.
"A..aku tidak bisa" kataku panik.
"Tenang, ada aku. Ayo.." fajar menarik tanganku dan berjalan melewati segerombolan orang disana.
"Itu dia! Sini sayang!" Teriak bundanya fajar.
Begitu aku sudah di depannya aku langsung menyaliminya. "Masyahallah cantik banget calon mantuku" ucap bunda fajar kagum. Aku tersenyum kiku.
"Perkenalkan ini calon mantuku, zera" ujar bunda fajar kepada para wanita yang tengah berkumpul bersamanya.
"Oh ini calonnya fajar," human para wanita disana. Aku tersenyum manis kepada mereka.
"Kakek dimana Bun?" Tanya fajar.
"Itu disana," tunjuk bundanya ke arah pria tua yang tengah duduk berdua dengan seorang wanita.
__ADS_1
Fajar langsung membawaku ke arah kakeknya.
Tap...
Deg!
Tap...
Deg!!
Setiap langkah ke arah kakeknya fajar hatiku berdebar beriringan dengan langkahku.
Begitu dekat.. aku terdiam.
Wanita yang tengah duduk bersama dengan kakek fajar. Ternyata Bu indah. Mamanya pak Arlen.
"Kakek" panggil fajar. Membuat kedua orang itu menoleh ke arah kami. Dan seketika tatapan Bu indah dan aku bertemu.
"Ini zera, calon istri fajar" ucap fajar. Bu indah terlihat kaget mendengar perkataan fajar.
***********************
Hampir tiga puluh menit acara masih berlangsung. Aku meminta ijin untuk mengambil makanan di belakang karena bosan dan juga sedikit lapar.
Aku mengambil piring kecil dan berjalan untuk memilih makanan catering yang tersaji. Sayangnya tak satu pun dari makanan di sana yang dapat ku makan kecuali desert itu pun cuman satu yang kuambil.
Byurrr..
Seseorang menabrak ku dari belakang dan aku merasakan di bagian punggungku panas.
"Upss sorry," ujar wanita dengan gaun putih bermanik emas yang menumpahkan supnya di gaunku.
"Auww panas" rintihku panas yang menjalar di belakang punggungku. Seorang pelayan cewek langsung sigap membantuku. Membersihkan gaunku dengan tisu. Sedangkan wanita yang menabrakku dia hanya diam menatapku.
"UNTUK PARA HADIRIN SEMUANYA DIMOHON UNTUK BERKUMPUL DI TENGAH-TENGAH KARENA SESI DANSA ROMANTIS AKAN SEGERA DIMULAI. DIHARAPKAN JUGA UNTUK MENGGANDENG PASANGAN MASING-MASING" Seru MC.
"Nona sepertinya noda ini tidak bisa hilang..—"
"Zera..— apa ini?! Kenapa gaunmu merah seperti ini?!" Ujar fajar sedikit kesal saat melihat gaunku.
Fajar langsung mencengkram kerah baju pelayan cewek itu dengan marah, "pelayan gak tahu diri!! Gak becus kerja!" di dorongnya tubuh si pelayan wanita itu untung gak sampai jadi ke lantai.
'ah ternyata begini sifatnya' batinku senang telah menemukan jiwa baru disini.
Ku dorong tubuhnya pelan dan ku tatap di tajam, "jangan kasar sama perempuan" kataku tajam.
"Zera acara dansa dimulai. bunda menyuruh kita untuk berdansa dan liat apa yang di perbuat oleh pelayan bodoh ini hingga membuat gaunmu kotor. Kenapa kamu malah membelanya?" Ujar fajar bernada agak tinggi. Mungkin kesal.
"UNTUK FAJAR DIMOHON UNTUK KE TENGAH-TENGAH INI PERINTAH BUNDA" Seru MC disana.
"Bagaimana ini?" Guman fajar bingung.
"Kan masih ada aku fajar, ayo.." sahut wanita cantik itu sambil memeluk lengan fajar.
"T..tapi—" jeda fajar sambil menatapku.
"aku mau pergi ke toilet." Kataku berbalik melengos ke fajar. Ku tatap pelayan wanita itu yang hanya menundukkan kepalanya.
"Mbak, bisa tunjukkan toiletnya dimana..?" Tanyaku. Pelayan itu menatapku sekilas.
"Mari saya tunjukkan" ujar pelayan itu lalu mengantarku ke toilet dan pergi ke ruangan itu.
******************
Toilet wanita...
Satu kata saat aku bercermin dan melihat punggungku. 'gila'. Noda sup itu benar-benar hampir menutupi seluruh punggungku.
"Gila bener tuh cewek nyiram gue sampai begini," gerutku.
Ceklek...
Pintu terbuka dan mendapati sosok pelayan tadi dengan membawa paper bag dan menyerahkan kepadaku.
__ADS_1
"I..ini baju..—"
Sret..
"Terima kasih.. bisakah keluar sebentar" selatku langsung ku ambil paper bag itu. Aku sudah tidak tahan dengan rasa lengket di punggung. Pelayan itu langsung keluar.
Aku membuka gaun sialan itu dan buru-buru menggantikan baju milik pelayan tadi. Bagus dan nyaman. Celana training abu-abu dan kaos putih. Mana ukurannya pas.
Setelah itu Ku hapus make up ku dan sempurna. Ini baru diriku. Saatnya full senyum.
Ku masukkan gaun itu ke dalam paper bag dan keluar dari toilet.
Begitu ku buka pintu dan ternyata pelayan itu berdiri bersama dengan Bu indah. Ibunya pak Arlen bosku.
"B..Bu indah, k.. kenapa disini?" Tanyaku kaget dan bingung.
"Bisa bicara sebentar, zera" kata Bu indah dengan ramah. Aku langsung mengangguk setuju. Bu indah menggandeng tanganku dan membawaku pergi dari sana. Entahlah aku dibawa kemana.
******************
Bar cafe hotel..
"Pesanlah apapun," kata beliau memberikanku menu cafe hotel tersebut. Ternyata Bu indah mengajakku ke bar cafe di hotel tersebut.
"Saya pesan latte tapi jangan manis sama cake blueberry" ucap Bu indah kepada pelayan itu.
"Kamu?" Tanya Bu indah kepadaku.
"jus blueberry aja Tante" kataku.
"Cuman minum?"
"I..iya,"
Bu indah mengangguk setuju dan pelayan itu pergi meninggalkan kami berdua. Bar cafe ini ya agak sepi. Cuman 5 orang di dalamnya itu sudah termasuk aku dan Bu indah. Pelayan itu dia mungkin kembali berkerja.
"Punggungmu baik-baik saja?" Tanya Bu indah terlihat khawatir.
"Baik tante," jawabku. Bu indah tersenyum lega.
"Tante selaku pemilik hotel ini meminta maaf kepada kamu atas tindakan ceroboh salah satu pegawai Tante tadi" ucap Bu indah.
'tu..tunggu jadi ini? Hotel milik Tante indah? Wow'. Batinku kagum saat mendengar perkataan Bu indah.
"Tidak.. tidak.. ini bukan salah pegawai Tante, tapi sepertinya seorang wanita dari salah satu tamu tak sengaja menumpahkan supnya ke saya. Atau mungkin saya yang gak sengaja menubruk." Kataku tak enak.
"Wanita itu namanya Stela, teman dekat fajar sekaligus rekan kerjanya Fajar, calon suami kamu, " kata Bu indah.
"Ternyata namanya Stela" kataku menanggapi.
"Tante tidak menyangka kalau kamu ternyata calon istrinya fajar. Jadi iri dengan Bu Rumi" Katanya.
"Saya manusia biasa Tante, gak ada yang dibanggakan. Justru saya merasa gak pantes buat fajar" kataku merendahkan. Memang itu real.
"Kenapa Tante gak dari dulu aja ketemu kamu? Ha.. lupakan itu?"
Aku hanya tersenyum kiku menanggapinya. Pelayan bar cafe tersebut datang memberikan pesanan kami dan setelah itu pergi lagi.
Aku dan Bu indah meminum minuman pesanan kami masing-masing.
"Boleh saya kepo sedikit tentang percintaan kamu dan fajar?" Ucap Bu indah meminta ijin. Aku mengangguk setuju.
"Sudah berapa lama kalian pacaran dan bagaimana perkenalan kalian berdua saat pertama kali berjumpa?" Tanya antusias bu indah.
"Kami baru saja menjalani hubungan ini dan untuk bagaimana perkenalannya? Kami dijodohkan"
"Apa?!! Dijodohkan!!"
Bersambung...
Maaf untuk para pembaca dan fansku.. Sorry kalau update lama karena seminggu ini saya ada acara keluarga. Terima kasih buat kalian yang masih stay menunggu... Aduhh kalian dihati pokoknya.. Insyaallah saya akan update ya seminggu mungkin dua kali kalau lebih Alhamdulillah buat kalian. Hehehe..
Maaf buat kalian kecewa menunggu.. Dan terima kasih karena sudah mau menunggu..
__ADS_1
tunggu next selanjutnya..
Love-love..