
"Drrrttt..Drrtt.. Drrtt," terdengar dering telepon dari handphone Hendra.
Hendra yang saat itu berada di kamar mandi tidak mendengar dering handphone nya.
"Kemana si mesum ini, di telpon berkali-kali pun tetap tidak di angkat," Ucap Rey kesal dengan melemparkan handphone nya ke kasur lalu melangkah menuju ke kamar mandi.
Drrttt, drrrtt, Rey yang saat itu sudah berada di depan pintu kamar mandi dengan memegang handle pintu, berbalik kembali ke kasur karna mendengar telponnya berdering.
"Itu pasti Hendra, dari tadi di telpon tidak di angkat," Batin Rey lalu melangkah menuju kasur dan mengambil handphone nya.
Tertera nama Hendra di layar handphone nya sigap Rey langsung mengangkat telepon itu.
"Ada apa meneel," belum selesai Hen berbicara Rey sudah memotong pembicaraanya.
"Hen, apa kau tuli? atau kau sengaja tidak mengangkat telepon ku, jangan mempermainkan ku, aku bisa membuat mu seperti anai-anai," Ucap Rey setelah Hen mengangkat telponya.
"Ada apa dengan anak ini, mengoceh kaya cewek yang di permainkan sama cowok saja, kalau menelpon ku hanya untuk mengoceh mending tidak usah menelpon," Batin Hen dengan mengeryitkan dahinya.
"Siapa yang mempermainkan mu, tadi aku lagi di kamar mandi, aku tidak tau kalau kau menelpon ku, ada apa? bukan kah tadi kita baru saja selesai bicara dan kau mematikan telepon ku sepihak, apa kau menyesal sekarang dan ingin meminta maaf, aku tau kau pasti merindukanku iyakan sayang, " Imbuh Hen tertawa menggoda Rey.
"Hey, jaga bicara mu apa kau lupa dengan siapa kau berbicara, dasar mesum sesama lelaki pun kau masih bisa menggoda," Ucap Rey kesal.
"Oke, maafkan saya tuan, saya mengaku saya salah," Sahut Hen dengan menahan tawa.
"sedang apa kau sekarang," Tanya Rey serius.
"Baru selesai mandi, kenapa,apa ada masalah?" Tanya Hen balik.
__ADS_1
"Kerumah ku sekarang, ada hal penting yang harus ku ceritakan," Ucap Rey tegas.
"Memangnya ada apa? hal penting apa? apa ini masalah pekerjaan?, bukankah semua pekerjaan sudah aku handle dengan baik, dan aku sudah mengirimkan ke Emailmu dan semuanya baik-baik saja," Tanya Hen bingung.
"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi masalah kenapa tadi aku tidak kekantor," Ucap Rey.
"Heh, tadi memang aku pengen menanyakan itu padamu tapi karna kau mematikan telepon ku sepihak, rasa kepo ku sudah hilang, dan sekarang aku tidak pengen tau lagi masalah itu," Batin hen kesal.
"Rey sepenting apa itu? bukan kah bisa kalau kau menceritakan ku lewat telepon saja, atau besok atau kapan kitta ketemu di kantor juga bisa kau menceritakan ku, itu juga kan bukan masalah pekerjaan, tadi aku pulang telat karna menunggu mu di kantor, ternyata kau tidak datang dan sekarang kau menyuruh ku datang kerumah mu, apa kau tidak merasa kasihan padaku," Ucap Hen dengan suara di buat semanis mungkin agar Rey simpati padanya.
"Hey, beraninya kau mengeluh, aku atasan mu kesini sekarang atau aku akan memecatmu dan mengasingkan diri mu jauh dari Jakarta, membuat mu menjadi gembel, jangan mentang-mentang aku sahabatmu kau bisa melawan ku," Sahut Rey mengacam Hendra.
"Si sombong ini, permintaannya tidak bisa di tawar," Batin Hen.
"Oke aku kesana tapi selesai aku memakai baju dulu," Ucap Hen pasrah.
"Ya iyalah masa kau datang kesini tidak memakai baju," Ucap Rey tersenyum licik.
"Cepat jangan buat ku menunggu," Sahut Rey lalu mematikan teleponnya.
"Kebiasaan!! apa dia pikir aku ini punya kekuatan super, sudah capek mengurus pekerjaan kantor, menunggunya sampai jam kerjaku selesai tapi dia tak kunjung datang, terus menyuruhku kerumahnya sekarang, Cepat jangan buat dia menunggu, cuihh, perjalanan dari Apartemenku kerumahnya saja butuh waktu 1 jam dan dia menyuruhku untuk cepat," Gerutu Hendra sambil memakai baju.
Selesai memakai baju Hendra mengambil kunci mobil dan berlalu menuruni anak tangga menuju ke mobilnya, setibanya di mobil ia langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Rey.
****
"Apa benar Vesya adalah tunangan Rey, dan sebentar lagi mereka, akan menikah, tidak.. kayanya itu cuma tipuan Rey saja, jelas-jelas Rey kan belum bisa melupakan Amarah, secara Amarah kan cinta pertamanya, walaupun belum sempat Rey pacaran dengan Amarah, tetapi sikapnya yang waktu itu sudah membuktikan kalau dia sangat mencintai Amarah," Batin Aris memikirkan omongan Rey tadi siang. karna kejadian tadi siang melibatkan Amarah membuat Aris mengingat kejadian 6 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Dasar p********t sahabat macam apa yang menikung sahabatnya sendiri, aku menyesal memperkenalkan Amarah pada mu," Ucap Rey marah sambil menonjok wajah Aris.
"Cuihh, p********t, menikung, siapa yang menikung siapa? apa begitu bisa di bilang penikung sementara kau dan Amarah saja belum jadian, lagian bukan aku yang berusaha merebut Amarah darimu tapi Amarah sendiri yang memilihku," Ucap Aris sambil mengelap ujung bibirnya yang berdarah.
"Jelas kau menikungku, kau kan tau aku menyukai Amarah, dan aku berencana untuk mengungkapkan perasaanku padanya waktu itu, tapi kau mencegah ku dengan alasan jangan terburu-buru ini bukan hal sepele bagaimana jika Amarah menolak mu, aku mengikuti semua perkataan mu, karna kau adalah sahabat ku, tapi ternyata aku salah menilai sikap mu selama ini, kau mencegah ku bukan karna peduli padaku tapi karna kau juga menyukai Amarah, dasar penge**t," Ucap Rey marah dan berniat menghajar Aris tapi tindakannya terhenti karna teriakan Amarah.
"Stooopp," Amarah yang mendengar kabar bahwa di depan gerbang sekolah ada keributan, dan yang membuat keributan itu adalah Rey dan Aris yang sedang memperebutkan Amarah sigap Amarah langsung menuju gerbang sekolah untuk memberhentikan dua orang yang sedang berkelahi yang tak lain adalah Aris dan Rey.
"Kak Rey stoopp kenapa kak Rey bisa sekasar itu, kak Aris kan sahabat kak Rey, kenapa kak Rey tega memukulnya, apa masalahnya sampai-sampai kak Rey memukul kak Aris? Tutur Amarah.
"Sahabat, dia bukan sahabat ku lagi sekarang ini, mana ada sahabat tega merebut cewek yang sahabatnya suka," Imbuh Rey tersenyum sinis melirik Aris.
"Kak Rey siapa yang merebut siapa? kalau ini masalah tentang aku kakak salah, Aris tidak merebutku dari mu tapi aku memang yang mau sama kak Aris, memang sebelum mengenal kak Aris aku menyukai kak Rey, tapi setelah mendengar asal usul keluarga kak Rey yang tidak jelas dan melihat sifat kakak yang sekarang aku jadi ilfeel sama kak Rey," Ucap Amarah lantang membuat guru yang kebetulan lewat mendengar suara Amarah dan melihat ada apa yang terjadi.
"Hah, aku kira kamu cewek baik-baik ternyata kamu hanya sam**h yang bertumpuk pada miliaran uang, ternyata kamu cewe matre, aku tau karna sekolah ini milik Papanya Aris kamu jadi mau sama dia iyakan," Imbuh Rey emosi.
"Aris, Reyhan, Hendra,Amarah, ada apa ini kenapa ribut-ribut," Tanya Bu susi selaku guru di sekolah Amarah.
"Ngak papa Bu," Sahut Amarah tersenyum menutupi keterkejutanya melihat kehadiran Bu Susi yang tiba-tiba.
"Kalau ngak ada apa-apa kenapa tadi kamu berbicara lantang sekali seperti sedang memarahi seseorang, terus kalian bertiga bikin apa disini bukan kah acara perpisahan kalian akan di adakan dua hari kedepan," Tanya Bu Susi.
"Ngak bikin apa-apa Bu, cuma kebetulan lewat saja dan tadi melihat Aris berada disini ya kami samperin Bu," Tutur Hendra. Kami pamit ya Bu ada urusan Hendra menarik tangan Rey untuk pergi dari keributan itu.
"Amarah..Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyesali perbuatan mu, dan kamu Aris aku tidak akan menganggap mu sebagai sahabatku lagi," teriak Rey sambil mengimbangi penarikan dari Hendra.
Sibuk dengan lamunanya, tiba-tiba notif pesan masuk membuat Aris tersadar dari lamunannya. Dan Aris membuka isi pesan itu yang ternyata dari Mita.
__ADS_1
"Kak Aris sedang apa," isi pesan Mita.
Dan Aris hanya membacanya tanpa berniat untuk membalas pesan dari Mita entah hari itu dia lagi tidak mood untuk melakukan apa pun.