
Suasana di kota itu, sangat ramai. Terutama di jalan raya. Banyak pengendara, yang berlalu lalang, membuat jalan semakin macet.
"arrghh, lampu merah. Mana ini perut sudah konser, minta di isi. Semua salah Papa." Bantin Rey menggerutu, menyalahkan Papa nya, atas kelaparan nya. Karna memang sedari pagi Rey belum sarapan. Ia menunda sarapan pagi, dan langsung menuju ke rumah mama nya, untuk menjemput Mita.
Ketika APILL(Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas) berganti warna dari Merah, ke Hijau. Rey langsung melajukan mobil nya, menuju restoran untuk makan terlebih dahulu, sebelum Ia ke kantor nya.
Setiba nya Rey di tempat tujuan, Ia melihat Pak Surya, berdiri tegap di Samping mobil yang tak lain adalah milik Mita.
Pak Surya yang menyadari kedatangan Rey, Ia langsung memberi hormat pada Rey.
"Siang Tuan muda, Saya kesini mengantar Non Mita." Ucap Pak Surya, sembari menundukan kepala memberi hormat.
"Pak Surya pulang saja, Mita nanti saya yang antar pulang." Ucap Rey tegas, dan langsung berlalu masuk ke dalam restoran tanpa bertanya terlebih dahulu, keberadaan Mita, karna Ia tau Mita pasti berada di dalam Restoran itu.
"P********T." Ucap Rey berteriak saat melihat siapa orang yang di temui Mita. Orang yang di temui Mita adalah Aris.
Karna suara teriakan Rey sangat lantang, membuat semua orang yang berada di restoran menengok pada asal suara itu.
"Kak, Rey." Mita terkejut saat melihat pemilik suara itu ternyata Rey. Dan Ia tahu teriakan Rey pasti di tunjukan untuk Aris. Aris juga tau teriakan itu pasti untuk diri nya. Tapi Ia biasa saja mendengar perkataan Rey.
"Aku sudah bilang jangan perna bertemu P********T ini lagi." Ucap Rey marah langsung menarik tangan Mita dengan kasar, dan melangkahkan kaki keluar meninggalkan Aris.
"Jangan menyebutku P********T." Ucap Aris geram.
Rey yang mendengar perkataan Aris, langsung menghentikan langkah nya, dan menoleh ke arah Aris.
"Haha! kenapa, apa kau tak suka? lalu aku harus memanggil mu apa? bukan kah sebutan itu cocok untuk orang yang lebih memilih perempuan yang masuk dalam kehidupan nya baru sebulan, dan memilih meninggalkan sahabat nya yang sedari kecil sudah bersama-sama." Imbuh Rey dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Cih...ternya Itu alasanya kenapa kau masih memanggil ku dengan sebutan itu. Bukan kah itu masa lalu. Masalah yang sudah kau kubur dan sekarang kau menggali nya kembali. Hahaha..Aku baru sadar, seorang pemilik perusahaan terbesar di Jakarta ternyata penikmat masalalu." Ucap Aris mengejek.
"Dasar.. Penge**t..Tutup mulut mu atau aku akan menghabisimu sekarang." Imbuh Rey marah mendengar penuturan Aris.
"Kak Rey, sudah lah, lebih baik kita pulang sekarang. Masalah nya tidak usah di perbesar. Apa kakak tidak malu di pelototin sama banyak orang begitu, apa lagi mengingat jabatan kakak sebagai Ceo di perusahaan Anjaya. Bagaimana jika mereka beranggapan bahwa Ceo di perusahaan Anjaya sifat nya pemarah, suka mengelurkan kata-kata yang tidak pantas, itu kan akan berdampak negatif untuk perusahaan kak." Tutur Mita menghentikan Rey yang sudah mulai melampaui batas kesadaran.
"Dengar itu Tuan Rey. Tidak sepantas nya Tuan berbicara kasar. Aku mendengar gosip bahwa Ceo di perusahaan Anjaya itu, bersikap sopan. Tapi kenapa pada ku Tuan tidak sopan. Malah berbicara kasar pada ku." Ucap Aris mengejek, dengan wajah penuh kemenangan karna merasa telah menemukan titik lemah untuk membalas Rey.
"Tutup mulut mu sekarang, sebelum aku yang menutup mulut mu pakai pukulan." Sahut Rey geram mendengar penuturan Aris.
"Yang seharus nya di tutup itu mulut mu, bukan mulut ku." Imbuh Aris membalas.
"Dasar." Rey semakin marah.Ia berniat akan memukul Aris, Tapi Mita melerai Rey, agar Rey tidak jadi memukul Aris.
"Ayo Kak,, kita keluar sekarang." Ucap Mita sambil menarik-narik tangan Rey.
"Yang seharus nya keluar itu dia bukan kita. Restoran inkan milik ku." Ucap Rey sombong.
Sepeninggalan Aris. Rey dan Mita juga langsung berlalu pergi meninggalkan restoran itu, menuju mobil milik Rey untuk mengantar Mita pulang kerumah.
"Kak Rey, Pak Surya dimana? tadikan aku kesini sama Pak Surya, tapi kok malah ngak ada, mobil juga ngak ada." Tanya Mita pada Rey ketika tidak melihat Pak Surya di area parkiran.
"Sudah pulang."Jawab Rey santai.
"Apa, berani nya dia meninggalkan ku." Imbuh Mita kesal.
"Aku yang menyuruh nya. Masuk sekarang atau aku akan meninggalkan mu dan kamu pulang sendiri jalan kaki. Ucap Rey tegas.
__ADS_1
"Yaudah, Kak Rey pulang aja, aku kan bisa naik taksi." Timpal Mita.
"Lagian aku malas pulang di antar sama Kak Rey sekarang. Karna pasti Kakak akan memarahi ku di mobil nanti mengenai hal tentang pertemuan ku dengan Kak Aris.
"Masuk sekarang." Imbul Rey mulai geram,menatap Mita dengan tajam.
"Oke... oke.." Mita langsung masuk mobil dengan cepat. Ia takut melihat tatapan Rey sudah seperti harimau yang akan memangsa binatang buruanya.
Di perjalanan Rey tak henti-henti nya membahas perihal pertemuan Mita dan Aris.
"Aku sudah bilang jangan perna temui orang itu lagi." Ucap Rey, enggan untuk menyebut nama Aris.
"Aku sudah bilang aku tidak berencana menemuinya, tadi cuma kebetulan kita bertemu di Restoran itu." Sahut Mita membela diri.
"Jangan coba membohongi ku, kamu pikir aku ini bodoh. Tadi saja kau berpamitan pada Mama dan Papa, kau bilang kau akan menemui seseorang." Timpal Rey.
"Benaran Kak Rey, Mita ngak bohong Itu kebetulan. Memang Mita berencana untuk menemui Kak Aris di rumahnya, dan sebelum kerumah nya, Mita singgah di restoran sebentar untuk makan, karna mita lapar. Eh, ternyata Kak Aris juga ada di sana lagi makan juga. Mita lihat Kak Aris, yah Mita samperin." Minta menjelaskan perkara pertemuan nya sama Aris untuk membela diri.
"Sudah salah masih juga berani membela diri. Setidak nya kamu sudah berniat untuk menemui nya itu sudah menjadi suatu kesalahan yang bisa membuat ku marah." Tegas Rey.
"Lagian kenapa sih, Kak Rey menyuruh ku untuk menjauhi Kak Aris. Aku kan suka sama Kak Aris sejak aku masih SMP dulu, dan Kakak tau itu. apa salah nya kalau aku mendekati Kak Aris. Dia kan ganteng, baik juga sama Mita. Apa karna masalah Amarah dulu? Itu kan sudah lewat Kak. Dan itu juga masalalu, kenapa kemarahan Kak Rey sampai sekarang tidak perna memudar, toh itu juga cuma masalah kecil. Dan kenapa masalah Kakak harus di tanggung juga sama Mita." Oceh Mita panjang lebar sehingga Ia tak menyadari kalau mobil sudah berhenti tepat di depan rumah Mama nya.
"Sana turun, simpan tenaga mu, jangan mengoceh terus." Ucap Rey.
Mita pun turun tanpa berkata sekata pun pada Rey. Ia kesal karna Rey tdak menanggapi oceha nya.
"Satu lagi, jangan perna membohongi ku lagi, siapa pun yang menyuruh mu." Ucap Rey penuh penekanan.
__ADS_1
"Mita tidak menanggapi perkataan Rey. Ia langsung masuk ke dalam rumah, dengan kaki di sentak-sentak.
Rey pun menyalakan kembali mesin mobil nya untuk pergi ke kantor.