BERUBAH KARNA DIA

BERUBAH KARNA DIA
RENCANA MENGHINDARI PERJODOHAN


__ADS_3

Karna tidak mendapat balasan, Mita mengirimkan kembali pesan pada Aris.


"Kak Aris lusa Mita balik ke Korea, Mita akan lama di sana, jadi sebelum Mita balik, Mita mau ketemu dulu sama Kak Aris."


"Aku rindu Kak T_T"


dengan emot sedih di belakangnya.


"Kemarin memang Mita ketemu sama kak Aris tapikan kita belum sempat ngobrol kak, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan."


"Besok hari minggu kalau kak Aris tidak sibuk ayolah kak temui Mita dulu, masalah kak Rey tenang saja kali ini Mita tidak akan ketahuan."


" Kalau kakak tidak keberatan besok Mita akan bertamu ke rumahmu kak." Deretan pesan dari Mita.


Aris membaca semua pesan dari Mita tetapi satupun pesan Mita tidak di balas olehnya.


Aris menjatuhkan Handphone yang dia pegang di samping sofa yang dia duduki sekarang sambil menatap langit-langit kamarnya, membayangkan wajah Mita, perempuan mungil, imut, polos, cerewet, yang meyukainya dari dulu sampai sekarang.


"Anak itu sudah dewasa rupanya, sekarang dia berubah drastis, dulu tomboi sekarang feminim, dia tambah cantik, tapi sifat polos dan cerewetnya masih ada, aku suka itu." Batin Aris membayangkan sifat Mita dulu, terlihat senyum tipis di bibirnya.


****


Satu jam perjalanan Hendra sampai di rumah Rey. Dia langsung memencet bel rumah Rey.


"Kemana si bujang ini, sudah memaksaku kesini, pintu rumahnya juga lama di buka." gumam Hen lalu mengambil HP di dalam saku celananya untuk menelpon Rey.


"Hey, buka pintumu aku sudah ada di depan," Ucap Hendra setelah Rey mengangkat teleponya.


"Bodoh, makanya otak itu isinya jangan hanya mesum saja, kamu lupa setiap aku menyuruhmu kesini pintu rumahku sudah ku buka terlebih dahulu" Rey langsung mematikan teleponya.


"Seenaknya saja mematikan teleponya, akukan hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan lupa." Hen memegang handle pintu membukanya dan masuk kerumah Rey langsung menuju ruang kerja Rey. Dia sudah tau kalau Rey pasti ada di ruang kerjanya karna setiap dia membicarakan hal penting pasti selalu di ruang kerjanya.


"Kenapa lama," tanya Rey santai.


"kau pikir aku bisa menghilang, dari rumahku langsung kesini," sahut Hen kesal.

__ADS_1


"Hahaha, santai aku cuma mengetesmu saja ternyata puncak kesal mu sudah berputar di luar kepalamu." Ucap Rey sambil melihat kepala Hen seolah-olah dia melihat tulisan kesal yang berputar mengeliling disana.


"Sama tamu bukannya di beri minuman malah di beri candaan," gumam Hendra pelan namun masih bisa di dengar oleh Rey.


"Tamu kaya kamu ini tidak perlu di beri apa-apa entar haus pasti bisa ambil sendiri, sudah taukan di mana arah kulkasnya?" Tanya Rey namun tidak di gubris sama Hendra.


"Mau kemana," tanya Rey ketika melihat Hendra berdiri.


"pulang," sahut Hen sinis dan melangkah menuju kulkas yang dekat dengan arah pintu.


"Hey siapa yang menyuruhmu pulang sekar, omongan Rey terhenti saat melihat Hendra yang mengambil botol air mineral didalam kulkas untuk diminumnya.


"Tenang saja, aku tidak akan pulang lagian siapa yang berani melawanmu, yang ada nanti aku akan dipecat, diasingkan dari Jakarta, dibuat seperti anai-anai dan di buat tidak berguna di dunia ini," tutur Hendra membumbui dengan senyuman.


"Di larang mengkoppy paste omonganku," imbuh Rey.


"Oke Tuan Rey," pasrah.


"Mau," tanya Hendra dengan mengangkat sebotol air mineral lagi, menawarkan pada Rey.


"Tidak usah," Rey menjawab dengan nada tidak sabar.


"Kamu ini kalau di luar masalah pekerjaan sifat mu kaya perempuan yang lagi ngambek sama pacarnya. Kamu cewek nya dan aku cowonya, seruh juga tuh, Hahahaha," tutur Henda tertawa melihat kearah Rey.


"Aku tidak menyuruhmu bercanda," Ucap Rey tegas.


"Okey, ada apa? katanya ada hal penting yang ingin kau ceritakan," tanya Hendra serius.


"Papaku mau menjodohkan ku dengan anak temannya," Ucap Rey to the poin.


"Apa dia cantik," pertanyaan pertama yang di lontarkan Hendra.


"Itu masalahnya, melihat batang hidungnya saja belum pernah."


"Lalu apa kau menerima perjodohan itu," tanya Hendra serius.

__ADS_1


"Kamu pikir aku akan memerima perjodohan itu," Tanya balik Rey.


"Tidak," jawab Hendra singkat.


"Tapi kali ini aku sependapat sama om Arman, kamu harus menerimanya.


"Bodoh!! aku tidak akan memerima perjodohan itu," Ucap Rey sinis.


"Kenapa? kamu kan bujang, sifat dinginmu pada perempuan, pantas jika om Arman menjodohkan mu, karna kalau tidak kamu pasti akan membujang sampai tua."


"Aku bujang bukan karna tidak laku, tapi itu keinginanku, sekarang ini aku hanya ingin fokus mengurus perusahaan papaku, dan sifat dinginku ku tunjukan pada mereka agar mereka tidak berharap, aku tidak suka memberi orang harapan, tidak seperti kau yang suka beri harapan palsu pada perempuan, mempermainkan perempuan, semua perempuan di dunia ini kau permainkan." Tutur Rey.


"Hey, hey, tidak semua aku masih menyimpankan satu untuk mu," Ucap Rey tertawa.


Rey hanya terdiam melihat tingkah Hendra.


"Lalu aku harus apa? " Tanya Hendra.


"Cari tau tentang perempuan yang ingin di jodohkan denganku itu."


"Kenapa? apa kau akan mempertimbangannya," tanya Hendra.


"Tidak!! setelah kau tahu siapa dia, aku akan menyuruhmu menikahinya, kamukan pintar merayu perempuan, aku yakin dia pasti mau menikah dengan mu, dengan begitu aku terbebas dari perjodohan itu," sahut Hendra tersenyum licik.


"Gila!! hanya untuk lari dari perjodohan itu, kau menyuruhku untuk menikahi perempuan itu, apa tidak ada cara lain. apa om Arman tidak memberi mu kesempatan untuk mencari perempuan yang kamu inginkan, sehingga kamu harus menjadikan aku korban dari perjodohan mu itu."


"Papa memberiku waktu seminggu, kalau aku tidak bisa mendapatkan dalam waktu seminggu, papa tidak segan-segan akan menikahkan ku segera dengan anak temannya itu." Ucap Rey.


"Kalau begitu carilah, waktu seminggu itu menurutku lama, toh sedetik saja kauu bisa, kan banyak yang menyukaimu di luar, dikantor juga, kenapa kau tidak pilih salah satu saja, Lia juga boleh, diakan cantik," Hendra memberi saran.


"Masalahnya, tidak ada perempuan yang aku sukai sekarang ini, di kantor,maupun di luar."


"Kalau begitu jadikan saja pelarianmu untuk sementara, suruh mereka menjadi pacar pura-pura mu saja, kalau om Arman menyuruhmu menikahinya turuti saja, sehabis menikah ceraikan saja," Ucap Hendra dengan enteng.


"Jangan gila!! itu akan menyakiti perasaan mereka, lagi pula aku hanya ingin menikah sekali saja seumur hidupku dengan orang yang aku cintai, bukan malah pura-pura menikah lalu menceraikannya," Tutur Rey menatap tajam kearah Hendra.

__ADS_1


"Kalau begitu menikah saja dengan Amarah, aku tau kau masih mencintainya dan belum bisa melupakannya. Amarah pasti mau menikah dengan CEO muda di perusahaan Anjaya, perusaaan terbesar di Jakarta, toh dia juga perna menelponmu minggu lalu, katanya dia menyesal mencampakan perasaanmu dulu.


"Aku tidak mencintai Amarah lagi, aku sudah melupakannya, perasaanku padanya sudah di bawah terbang melayang oleh angin, dan aku tidak suka mengambil bekas orang lain, ingat itu!!" Imbuh Rey penuh penekanan, ia marah jika Hendra masih menganggap kalau Rey belum melupakan Amarah.


__ADS_2