Bibiku Adalah Kekasihku

Bibiku Adalah Kekasihku
CHAPTER 21 – BUNGKAM


__ADS_3

Kania menindih tubuh Cassian dengan bibirnya menyentuh tepat di bibir pria paruh baya yang masih perjaka itu.


Seorang wanita yang memaksa seorang pria asing masuk ke kamarnya lantas menariknya ke atas tempat tidur lalu menindihnya


Bagaimanapun kamu melihatnya, Kania seratus persen kriminal.


Itu pastinya akan segera menimbulkan anggapan sebagai sebuah serangan dari seorang wanita serigala penuh nafsu kepada domba tersesat yang masih putih bersih tanpa pernah ternodai kesuciannya.


Menyadari hal itu, Kania berkeringat dingin.


Bagaimana dia akan menjelaskan kesalahpahaman itu kepada Cassian bahwa dia sama sekali tidak bermaksud menyerangnya?


Namun wajah pria itu terlalu tampan dan bau harum parfum yang dikenakannya di lehernya juga terlalu harum bagi Kania yang segera menghipnotis libido wanita paruh baya itu untuk sesaat.


Selama selang beberapa detik, Kania terperanjat di atas tubuh Cassian menikmati harum tubuh, kelembutan buah ceri, serta ketampanan pria paruh baya itu.


“Ah.”


Jika bukan karena suara rintihan Cassian yang disertai dengan sedikit linangan air matanya, pastilah Kania sudah akan bertindak lebih jauh.


“Ah, maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja melakukannya. Tidak, luka di lengan Anda!”


Kania segera semakin panik begitu aliran darah yang awalnya mulai melambat kini kembali mengucur deras pada luka-luka Cassian di lengannya tersebut.


“Aku baik-baik saja.”


Cassian segera menenangkan wanita yang panik itu.


Cassian lantas mengambil sendiri alkohol dingin yang sempat dijatuhkan oleh Kania tersebut untuk membasuh lukanya.


Kania akhirnya tersadar dari akal sehatnya dan mulai membantu Cassian melilitkan perban di area yang terluka itu.


Kania tak menyadarinya, namun di balik ekspresi datarnya, sang pria paruh baya merona.


Ada sedikit tonjolan di tubuh bagian bawahnya yang menegang yang walaupun paha Kania sempat bersenggolan dengannya, Kania hanya berpikir bahwa itu hanyalah kunci mobil semata yang Cassian tempatkan di balik saku celananya.


Tak hanya Kania, pikiran Cassian sebenarnya tak sesuci itu.


“Itu, soal tadi…”


Kania seketika tersentak persoalan ucapan Cassian.


Inilah saatnya wanita penuh nafsu itu akan diinterogasi atas perbuatan kriminal yang telah dilakukannya kepada seorang pria perjaka yang masih tingting.


Sayangnya berbagai alasan-alasan pembenaran untuk membenarkan tingkahnya itu belum sepenuhnya lengkap tersusun di benak Kania.


Akan tetapi, lampu hijau itu segera menyala di atas kepala Kania.


Kania segera mengingat kembali perkataan Cassian sebelum wanita paruh baya itu menindihnya.


“Lantas bagaimana dengan Dilan…”

__ADS_1


Itu benar.


Bagaimana mungkin pria yang terlalu ketat disiplin di hidupnya itu peduli tentang hal remeh-temeh seperti hubungan antara pria dan wanita.


Jika sedari awal pria paruh baya itu peka, pastilah dia sudah akan punya satu atau dua wanita simpanan dengan wajahnya yang teramat ganteng itu.


Pastilah yang ingin ditanyakan Cassian kepadanya adalah soal dirinya yang terlalu dekat dengan keponakannya yang usianya sangatlah jauh di bawah Kania itu.


Pastilah sang paman khawatir jika seorang tante-tante licik akan merusak masa depan sang keponakan.


Sang keponakan layak untuk memperoleh wanita yang jauh lebih baik sebagai pasangan hidupnya, bukanlah seorang tante-tante yang hampir lewat masa kadaluwarsanya meski belum pernah tercicipi rasanya itu.


Namun, sedari awal Kania memang tak pernah memandang Dilan dalam hal romantisme.


“Hahaha. Soal itu Anda tenang saja. Aku sama sekali tidak pernah menganggap Dilan sebagai pria kok. Bagiku, Dilan hanya seperti adik kecilku yang selalu ingin bermain-main dengan kakak perempuannya.”


Kania berusaha menjawab setenang mungkin agar sang pria yang menatapnya dengan pandangan datar yang membuat tubuhnya bergidik itu tidak akan lagi salah paham terhadap dirinya.


Di luar harapan Kania, sang pria hanya melongo seolah apa yang diucapkan Kania bukanlah jawaban yang dikehendakinya.


“Ehem.”


Menanggapi kesunyian sejenak itu, Cassian lantas berdehem.


“Ah, itu benar. Tadi aku sempat menanyakan soal Dilan ya.”


“Ya?”


Jika bukan itu yang tadi Cassian ingin tanyakan, lantas apa?


Namun tanpa memberikan Kania waktu untuk berpikir, Cassian segera melanjutkan ucapannya.


“Begitu rupanya. Itu bagus.”


Entah mengapa Kania merasa bahwa sejenak ekspresi datar pria itu terpelintir dengan sudut tawa di kedua ujung bibirnya.


Namun pandangan mata sang pria yang sedari awal sudah tajam terlepas dari intensi tatapannya itu, seketika bertambah tajam menatap Kania.


“Tapi apa Anda benar-benar tidak tahu sama sekali tentang siapa Dilan sebenarnya?”


“Apa?”


Terhadap perkataan Cassian itu yang diucapkannya dengan nada yang sangat serius, Kania terperangah sejenak.


Bingung ingin menjawab apa, ucapan standar mode kerjanya itu akhirnya keluar dari mulut Kania secara spontan,


“Anda tenang saja. Sebagai seorang hostess profesional, siapapun pelanggannya asalkan terikat dengan kontrak, kami pasti akan melayaninya dengan baik, tidak peduli siapapun mereka. Siapapun Dilan, itu tidak penting bagiku. Jadi Anda tidak usah khawatir kalau aku akan memanfaatkan anak itu untuk keuntunganku sendiri.”


“Kami mengambil uang dari pelanggan sebagai ganti jasa pelayanan kami, tetapi pantang bagi kami memoroti uang pelanggan lebih daripada apa yang layak kami dapatkan.”


“Ya?”

__ADS_1


Seakan sedari tadi obrolan mereka tidak nyambung, kali ini giliran Cassianlah yang bertanya-tanya.


Tanpa sengaja, bagian tangannya yang terperban yang tampak belum bisa dikendalikan pergerakannya dengan benar perihal ngilu-ngilunya itu, menabrak sesuatu di atas peti kecil yang terletak di samping tempat tidur Kania.


Sebuah bingkai foto terjatuh karenanya hingga kacanya retak.


Melihat Cassian yang segera panik, Kania tampak menenangkannya dengan berujar, “Tidak apa-apa kok, Tuan. Itu hanya sekadar bingkai fotonya yang retak, bisa diganti dengan yang baru kok.”


“Itu?”


Arah di mana ujung telunjuk Cassian menunjuk rupanya terletak pada seseorang yang berada di balik bingkai foto yang jatuh tersebut.


Ya, itu adalah foto Dilan sewaktu kecil, di sekitaran usia delapan tahunnya ketika Dilan memenangkan lomba lari kelereng.


Masih jelas di ingatan Kania di hari itu seolah itu baru saja terjadi kemarin tentang bagaimana Dilan yang masih polos dengan imutnya menenteng sebutir kelereng yang terletak di atas sendok yang digigitnya melalui mulutnya sambil berlari tanpa membuat sang kelereng tersebut terjatuh.


“Ah, ini keponakanku, Dilan. Namanya benar-benar sama ya dengan nama keponakan Anda. Sayangnya, kami sudah tidak bersama lagi karena dia ikut dengan keluarga ayahnya.”


Ujar Kania seraya tersenyum penuh arti sembari membayangkan kenangan nostalgia masa lalu itu.


Wajah Cassian seketika menegang setelah mendengarkan jawaban dari Kania.


“Apa Anda tidak tahu di mana keponakan Anda itu sekarang berada?”


Kania dengan polosnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak. Yang kutahu bahwa Dilan kini telah hidup bahagia bersama keluarga ayahnya di Jakarta.”


“Anda tidak pernah berniat menemuinya sekalipun?”


“Bagaimana aku bisa menemuinya sekarang? Aku terlalu malu dengan perbedaan status kami. Bahkan karena itu, aku lari ke Kota Makassar ini agar Dilan bisa hidup tanpa menanggaung malu punya bibi miskin sepertiku sekaligus berharap bahwa di kota kecil ini aku akan memperoleh penghasilan yang lebih baik lantas pada akhirnya bisa dengan percaya diri menemui Dilan keponakanku lagi di Jakarta.”


Di saat itulah Cassian benar-benar yakin.


Kania sama sekali tidak mengetahui identitas sang pemuda bernama Dilan yang selama ini menjadi pelanggan setia jasa hostessnya.


Entah itu karena Kania bodoh atau hanya terlalu polos.


Sang keponakan Dilan yang selama ini dirindu-rindukannya telah berada tepat di hadapan matanya selama ini.


Seorang gadis yang berada di usia remajanya yang ditemui oleh Cassian sewaktu menjemput Dilan di Kediri seketika tumpang tindih dengan wajah wanita yang kini berada di hadapannya itu.


‘Jadi gadis remaja bebal waktu itu kamu rupanya,’ gumam Cassian dalam hati.


Akan tetapi, entah mengapa Cassian merasa enggan untuk memberitahukan fakta itu kepada Kania.


Mungkin itu karena dia merasa tidak berhak terlalu ikut campur terhadap urusan pribadi sang keponakannya itu.


Cassian tidak menyadarinya, tetapi dia telah terlanjur terpincut oleh pesona Kania, terbukti dari senjatanya yang menegang hanya dengan Kania menyentuh tubuhnya sembari tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan.


Jadilah Cassian memilih bungkam tentang siapa identitas Dilan yang sebenarnya itu di hadapan sang bibi.

__ADS_1


__ADS_2